Derap Langkah MAKREK 2 PPDM - Hari 02

Sabtu, 09 September 2017

Acara hari ini diawali dnegan senam pagi untuk menyambut hari dengan kesegaran baru.  Dilanjutkan dengan doa dan meditasi bersama.  Semua nampak antusias dan terliat lebih segar.  Sebagai pemandu kegiatan pagi ini adalah Asti PPDM dan Natan PPDM.

Setelah sarapan, Sr. M. Ludgardis, OP dan Sr. M. Norbertine, OP mengisi sesi tentang panggilan untuk mencintai.  Cinta bukan sekedarrasa dan emosi tetapi relasi yang tulus dan tak bersyarat.  Cinta adalah panggilan Allah yang harus ditanggapi oleh manusia dengan cinta pula yang mewujud dalam mencintai sesama.  Sesama adalah manifestasi Allah yang harus kita cintai.  Rahasianya terletak pada sikap rendah hati, terbuka dan percaya.  Paus Santo Yohanes Paulus II, Santa Teresa dari Kalkuta dan St. Eugenius de Mazenod adalah pribadi yang memiliki cinta tanpa syarat yang layak menjadi teladan.  Merenungkan lebih jauh tentang panggilan untuk mencintai, dilakukan sharing kelompok dengan 3 pertanyaan panduan: (1) Pengalaman cinta yang pernah dialami selama menjadi seorang Kristiani; (2) Kesulitan untuk mewujudkan cinta; (3) Apa yang akan dilakukan untuk mewujudkan cinta.

Meditasi Bersama di Pagi Hari

 

 

Setelah relaksasi sejenak, acara hari ini dilanjutkan dengan sesi tentang seorang yang telah menghidupi cinta tanpa syarat, yakni St. Eugenius de Mazenod.  Materi ini dibawakan oleh Pak Rondang dan Bu Etty, pendamping PPDM Yogyakarta.  Uraian bermula dari Allah yang mengasihi manusia dan ditanggapi oleh St. Eugenius.  Ia menemukan bahwa Allah yang begitu mengasihinya nampak dalam diri Yesus Kristus tersalib.  Meski ia merasa berdosa tetapi dia dicintai oleh Tuhan dan harus terwujud dalam mencintai sesama.  Pilihannya adalah melayani mereka yang tak terlayani.  St. Eugenius juga begitu mecintai Gereja. PPDM adalah anggota Gereja yang juga tubuh mistik Kristus. Gereja bagaikan ibunda yang mengasuh kita, anak-anaknya.  St. Eugenius berjuang keras untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, meski kadang ada keraguan dan rasa tak berdaya.  St. Eugenius menimba kekuatan dari Ekaristi dan berkarya bersama dalam komunitas.  PPDM adalah komunitas yang meneladan St. Eugenius.  Yang tidak boleh dilupakan dari St. Eugenius adalah relasi devosinya pada Bunda Maria.  Dalam konteks PPDM Yogyakarta, apa yang bisa dilakukan untuk melayani sesama yang tidak terlayani sesuai dengan spiritualitas St. Eugenius de Mazenod?  Siapakah sesama yang tidak terlayani itu?  Pertanyaan ini direnungkan dalam sharing kelompok.

 

Dalam Pleno ditemukan bahwa yang tak terlayani itu adalah orang kecil yang tidak diperhatikan dan terlupakan, yang miskin secara materi maupun rohani, yang sakit dan menderita, yang terpenjara dan kaum muda yang punya kerinduan besar untuk mengekspresikan dirinya.  Lalu yang bisa dilakukan adalah membangun kebersamaan dalam komunitas kecil untuk menjangkau yang lebih luas lagi, melalui hal-hal kecil dan sederhana untuk melakukan yang lebih besar lagi, memperlakukan sesama secara lebih manusiawi, memberi perhatian dan bantuan yang diperlukan.

 

Dipandu oleh Redwan PPDM dan Carolina PPDM, acara terus dilanjutkan.  Intinya tak kenal maka tak sayang.  Untuk menjadi PPDM harus berkenalan.  Ada beberapa hal yang dibuat, pertama, Fr. Wendi, OMI memperkenalkan St. Eugenius de Mazenod.  Laras PPDM dan Hana PPDM memperkenalkan seluk-beluk PPDM, Pengurus PPDM dan personel Angkatan I.  PPDM adalah kaum muda ekslusif OMI dengan visi-misi, kegiatan, spiritualitas dan sejarahnya.  Anggota PPDM membagikan pengalamannya selama hidup dalam komunitas sebagai bentuk kesaksian.  Ada sukacita dalam komunitas.  Dengan bermain, bernyanyi, menari, dan relaksasi, mereka membangun kebersamaan, kesatuan, dan keakraban.

Setelah makan siang dan istirahat, dirayakan Ekaristi.  Dalam permenungannya, Pastor Antonius Sussanto, OMI mengajak PPDM untuk menghidupi spiritualitas, komunitas, dan karitas sebagai ciri khas keberadaan PPDM guna memenuhi kerinduan batin setiap pribadi dalam berbagi cinta kasih.  Rekreasi dan relaksasi juga diperlukan untuk senantiasa menjaga api sukacita.  Setelah Ekaristi, semua mempersiapkan makan malam dalam kelompok dengan memanggang ikan bandeng dan sosis.  Semua menikmati santap malam dengan gembira.  Lalu dilaksanakan Doa Cahaya sebagai rangkaian penyalaan api unggun.

Perayaan Ekaristi


Dengan diiringi lagu "Lilin-Lilin Kecil", upacara ini berlangsung dengan khidmat.  Dalam suasana hangat dan terangnya api unggun, dibuatlah acara "PPDM Got Talent" yakni penampilan kreatif dari setiap kelompok.  Acara berlangsung dengan meriah dan semua nampak bahagia.  Semakin larut, semakin asyik, namun acara harus diakhiri karena besok pagi masih ada acara yang lebih menantang dan menarik.  Syukur atas berlangsungnya acara hari ini dengan lancar dan sukacita.

(Penulis: Pastos Antonius Sussanto, OMI, Magister Novis, Novisiat OMI "Beato Joseph Gerard", Blotan, Yogyakarta/Dokumentasi: Panitiaa MAKREK 2 PPDM)

 

Semua Sukacita, Semua Nampak Bahagia

Penyalaan Api Unggun

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.