Kerendahan Hati

Bacaan Injil: Lukas 14:1, 7-11

Dalam perikop Injil ini Tuhan Yesus tidak sedang berbicara tentang tata tertib ke undangan, tetapi Beliau sedang berbicara tentang godaan eksis atau godaan ingin populer, salah satu godaan yang tanpa disadari membuat kita menjadi orang-orang yang kurang rendah hati.

Godaan seperti itu pada zaman ini tampaknya makin marak karena demam medsos (media sosial). Sedikit-sedikit orang ingin berfoto selfie, wefie, atau bahkan ada juga orang yang menyewa tukang foto untuk datang pada saat mereka arisan.  Foto dibuat bukan untuk sekedar kenangan atau bukti sejarah tetapi untuk diunggah di grup komunikasi atau di laman Facebook, Instagram, dan lain-lain.  Foto dipasang di sana bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga dipamerkan dan inginnya di “Like” oleh banyak orang.  Pertanyaan refleksinya: apakah ambil bagian dalam tren atau demam ini membuat orang bahagia?  Tentu saja.  Tetapi saya kira hal itu hanyalah kebahagiaan yang dangkal. Koq bisa? Karena hal ini bisa membuat orang yang bersangkutan ketagihan.   Dia lalu gonta-ganti foto yang dipamerkan.  Tetapi lama-kelamaan hal ini akan membuat penontonnya menjadi bosan juga.  Penonton akan berpikir, “Koq sepertinya orang ini tidak punya pekerjaan lain selain membuat foto postingan, ya..?!”

Mari kita kurangi acara fota-foto diri.  Mari kita isi hari kita dengan berbagai kegiatan lain yang tanpa publikasi tetapi lebih altruis, lebih memikirkan kepentingan orang lain tanpa harus mencolok mata tetapi mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Hal seperti itu akan menghasilkan kebahagiaan yang lebih dalam dan bermakna untuk kita.  Contohnya seperti apa? Simpan handphone sejenak dan mari dengarkan sharing dari sahabat atau saudara yang sedang duduk bersama kita. Atau contoh lainnya, mengunjungi orang sakit tetapi tidak pakai difoto segala.  Atau, mentraktir orang miskin tetapi juga tidak pakai difoto. Atau tindakan-tindakan pelayanan lainnya.  Hal-hal semacam itu kiranya akan membuat Allah lebih berkenan pada diri kita. Semoga Allah berkenan akan kerendahan hati kita dan kita kelak akan diundangNya duduk di depan agar bisa dekat denganNya.

 

Sebuah cerita bermakna sebagai pemanis renungan ini:  pada suatu hari di salah satu sudut pusat keuangan Hong Kong sedang diadakan sebuah galang makan malam bersama Warrent Buffett. Anda tahu orang ini? Dia adalah seorang pengusaha dari Amerika Serikat, orang terkaya nomor 2 di dunia. Tidak sembarang  orang bisa duduk semeja dengan beliau.  Kursi-kursi di meja Warrent itu dilelang.   Hanya orang-orang yang berani membayar sangat mahal bisa duduk semeja dengannya.  Namun di antara para pemenang lelang itu ada juga seorang yang dipilih oleh Warrent sendiri justru karena orang itu memberikan penawaran lelang paling rendah. Saya akan menamakan orang itu “Si Hoki”.

Pada suatu kesempatan, Si Hoki memberanikan diri bertanya kepada Warrent Buffett.  Ia bertanya mengapa dia dipilih duduk semeja dengan Warrent padahal ia adalah penawar terendah. Apa jawaban Warrent Buffett? “Mereka yang mengajukan penawaran tertinggi untuk duduk semeja dengan saya tidak membuat saya bahagia, bahkan saya menjadi takut dengan diri saya sendiri.  Tetapi Anda menawar dengan harga terendah yang membuat saya terharu dan semakin mengingatkan bahwa saya bukanlah siapa-siapa dan saya senang bila dunia hanya mengenal saya sebaga seorang Warren Buffett, sebagai seorang kakek, ayah, dan sahabat, tanpa perlu melihat apa yang saya miliki. Saya rindu ketulusan. Dunia ini akan sangat berbeda bila kita semua bersahabat atas dasar ketulusan, tanpa terpengaruh oleh merek, kartu kredit, atau keanggotaan klub-klub mewah lainnya. Si Hoki hanya terdiam, terpesona. Itulah yg namanya rendah hati.

 

(Disalin dari Fresh Juice Sabtu, 04 November 2017 yang dibawakan oleh Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI, dengan penyelarasan seperlunya.  http://dailyfreshjuice.net/04112017/)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.