Iman Yang Membawa Pertumbuhan

Artikel - Kata Bijak Orang Kudus

Pada suatu hari terjadi banjir besar di sebuah kota kecil. Semua penduduk kota itu harus diungsikan karena seluruh kota akan tenggelam. Pastor Paroki kota itu ikut sibuk membantu menyelamatkan warga dan juga barang-barang yang ada di dalam gerejanya. Semakin lama air semakin tinggi dan banyak penduduk sudah dipindahkan dengan perahu karet. Pastor Paroki itu juga diajak untuk naik ke perahu. Namun setiap kali dia menjawab, “Selamatkan yang lain dulu. Saya belakangan. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya.” Demikianlah, sudah ada 5 perahu karet mendekat ke gereja yang semakin tenggelam itu dan sang Pastor Paroki selalu menjawab yang sama, “Selamatkan yang lain dulu. Tuhan akan menyelamatkan saya.” Entah apa yang terjadi, akhirnya Pastor itu tenggelam dalam banjir dan meninggal dunia. Ketika menghadap Tuhan, dia berkeluh-kesah: “Ah Tuhan. Mengapakan Engkau tidak menyelamatkan saya dari banjir itu. Saya sudah melayani Engkau sepanjang hidup dengan sepenuh hati, mengapakah Engkau membiarkan saya tenggelam dalam banjir?” Tuhan Allah menjawab, “Anakku, bukankah Aku sudah mengirimkan lima perahu karet kepadamu? Mengapa engkau selalu menolaknya?”

 

Bacaan Injil Lukas 18:1-18 mengajak kita merenungkan bagaimana kita mendasari kehidupan doa kita. Perumpamaan tentang Hakim dan Janda dalam Injil Lukas mau menggarisbawahi tentang Allah yang penuh kemurahan hati kepada umatNya.  Kalau Hakim yang jahat saja dapat mengabulkan permohonan si Janda yang terus menerus minta tolong, apalagi Allah yang penuh kasih. Dia akan memberikan apa yang diperlukan oleh umat kesayangannya. Seperti kisah tentang Pastor di atas, Tuhan seringkali memberikan jawaban kepada kita dengan cara yang sangat biasa dan sederhana. Tuhan tidak selalu mengabulkan permohonan kita dengan cara yang spektakuler atau ajaib. Di sinilah dibutuhkan iman, kepercayaan dan penyerahan diri total kepada Allah. Kita tidak dapat mengatur Allah, namun seringkali kita membangun iman berdasarkan peristiwa atau kejadian yang hebat dan ajaib. kita ingin Allah menuruti apa yang kita mau.  Akibatnya, jawaban yang diberikan Allah terhadap doa kita tidak dapat kita tangkap karena tidak sesuai dengan keinginan kita.

 

Kalau kita ingin doa kita dijawab atau didengarkan oleh Allah, kita juga diminta untuk percaya sepenuh hati kepadaNya. Kita selalu siap sedia juga untuk melakukan kehendak-Nya. Kita harus berani untuk melepaskan egoisme kita dan membiarkan Allah menuntun kita di jalannya. Iman yang benar membawa pertumbuhan untuk semakin peka dan mengerti jawaban-jawaban Allah atas permohonan kita melalui hal-hal yang biasa. Iman yang benar juga membuat kita bertumbuh dalam kesiapsediaan mengabdi dan melakukan kehendak Allah. Semakin iman bertumbuh, semakin orang rela melayani dan menjadi rendah hati.

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata, Kalidereres, Jakarta)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.