Life Begins at 40

Artikel - Perlu Dibaca

 

Judul Buku :  Life Begins at 40

Penulis :  Pastor Henricus Asodo, OMI

Tebal Buku :  xxiii + 191 halaman

Tahun Terbit :   2014

 

Bukan hanya ayat-ayat dalam Kitab Suci yang dapat menjadi bahan renungan. Selembar kain di tubuh Yesus yang tergantung di salib, Spiderman, lagu “Bujangan”, John Lennon, dan lainnya; ternyata dapat pula menjadi pemicu dan sumber inspirasi renungan!

Buku ini berisi kumpulan renungan Romo Henricus Asodo, OMI yang beliau susun pada awal karyanya di Perancis, sejak Januari 2014. Renungan-renungan yang mengungkap berbagai realitas kehidupan umat/masyarakat/umum ini melahirkan inisiatif di kalangan sahabat-sahabat Romo Asodo, OMI untuk dibukukan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-40.

Ada berbagai metode  tahap-tahap orang merenung atau berefleksi. Secara garis besar, merenung yang berkualitas dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, budi  perenung menangkap  realitas atau fenomena kehidupan nyata, bisa realitas kehidupan pribadi atau umat/masyarakat/umum, bisa realitas kehidupan masa kini atau masa lampau.  Tahap kedua, di dalam budi yang bening, realitas tersebut  disoroti dan dilimbang-limbang oleh perenung dengan terang iman Kristiani, pengetahuan yang luas dan mendalam, serta nilai-nilai luhur yang dimilikinya. Tahap ketiga, dengan  kacamata itu dan dalam terang Roh Kudus,  realitas tersebut dicari maknanya bagi perenung pribadi dan kehidupan umat/masyarakat/umum. Tampaknya Romo Asodo, OMI juga menerapkan metode ini.

Kumpulan renungan dalam buku ini dipaparkan dengan sederhana, ringan, dan santai; meski realitas dan hasil renungannya berbobot serta mempunyai cakupan yang luas. Bahasanya pun sederhana, sehingga pembaca dapat mengikuti dengan mudah. Ada beberapa renungan yang tidak fokus, namun tidak mengurangi makna renungan tersebut. Misalnya, dalam tulisan Mengaku Dosa,dibeberkan pula tentang Ekaristi. Memang, keduanya tidak bisa dipisahkan, dan di dalam Ekaristi juga ada pengampunan dosa. Tetapi, pemaparan dua topik ini dapat membuat pusat perhatian  pembaca tentang mengaku dosa menjadi terganggu.

Buku ini memuat 12 tulisan.  Dalam setiap tulisan direnungkan  fenomena yang berbeda-beda. Tulisan ke-1 dengan judul Mengaku Dosa, merenungkan seorang muda yang gelisah karena dosa.  Berikutnya, tulisan Selembar Kain Kecil yang merenungkan kain kecil penutup tubuh Yesus yang tergantung di salib. Tulisan ke-3, Berani Telanjang, merenungkan Sabda Yesus dalam kisah orang kaya yang ingin mengikuti-Nya, “Juallah segala yang kamu miliki…” (Lukas 18 :18-27). Kemudian, tulisan Lazarus yang Kaya merenungkan  khotbah Paus Fransiskus tentang “bahaya cara berpikir merasa diri sendiri lebih baik dari orang lain.”

Selanjutnya, tulisan ke-5 Di Manakah Allah? merenungkan kisah perjalanan iman bangsa Israel dalam Kitab Perjanjian Lama.  Tulisan Orang-Orang Saleh Pembela Tuhan merenungkan gagasan Mathew Alpert seorang ateis yang menulis buku The God Area of The Brain. Tulisan ke-7, Anawim – Orang Miskinnya Allah (1), merenungkan  Edict of Milan (Edictum Mediolanense) yang disepakati Februari tahun 313 M. Kemudian, tulisan berjudul Anawim – Orang Miskinnya Allah (2) merenungkan pertemuan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada 27 Maret 2014.

Tulisan ke-9, Spiderman merenungkan gagasan Herbert Marshall McLuhan (1911-1980) perihal “desa dunia.” Sedangkan tulisan berikutnya, Nyamuk-Nyamuk, merenungkan lagu Bujangan, karya grup band legendaris Koes Plus di tahun 1974.  Lalu, tulisan Yedidyah merenungkan  cerita Adam dan Hawa dengan buah terlarang (Kejadian 3).  Tulisan penutup dengan judul Allez!!! merenungkan buku karya Walter Pitkin tahun 1932 “Life Begins at Forty”  tentang dimulainya hidup baru.

Renungan-renungan Romo Asodo, OMI yang jauh dari nada berkhotbah ini secara singkat dapat mengilhami pembaca bahwa kehidupan selayaknya  direnungkan atau direfleksikan. Lewat permenunganlah, hidup yang kita jalani menjadi lebih bermakna. Fenomena sederhana seperti “Selembar Kain Kecil” atau lagu pop Bujangan dapat memicu permenungan yang bermakna. Bukan hanya ayat-ayat dalam Kitab Suci yang dapat direnungkan, melainkan segala pernak-pernik kehidupan. Selain itu, renungan-renungan dalam buku ini dapat pula dijadikan contoh bagaimana membuat renungan.

Makna setiap tulisan dapat digali sendiri oleh pembaca secara bebas.  Sekedar sebagai contoh, akan diulas makna yang dapat dipetik dari tulisan ke-1, 5, dan 9:

Makna tulisan ke-1, Mengaku Dosa adalah dengan bertobat orang dibebaskan dan dimerdekakan. “Segala dosa tidak lagi menggelisahkan hatinya. Ia merasakan hidup baru, semangat baru.”  Orang akan terbebas dari kegelisahan akibat dosa dengan bertobat. Tidak secara eksplisit, tetapi jelas ajakan  penulis kepada semua: Marilah bertobat!

Makna tulisan ke-5, Di Manakah Allah? adalah Allah “bersama kita dalam setiap pergulatan dan perjuangan kita menghadapi penderitaan.” Dalam kondisi baik atau buruk, dalam kehidupan enak atau pahit, Allah tetap bersama kita.  Secara tersamar penulis mengingatkan, “Jangan seperti orang Israel yang berani menantang Tuhan, saat menderita di padang gurun kala keluar dari tanah Mesir.”  Temukan Allah yang menyertai kita dalam peziarahan hidup kita. “Pemahaman akan hal itulah yang dapat menuntun kita pada Kebenaran.”

Makna tulisan ke-9, Spiderman adalah pengakuan atas kehidupan masa kini yang ibarat diselimuti “jaring laba-laba,” World Wide Web. Tak mungkin kita menghindar dari “jaring laba-laba,” tak mungkin kita berlelah-lelah memutuskannya.“Yang dapat kita lakukan adalah menjadi ‘laba-laba.’” Bukan laba-laba penjebak yang dengan rakus membunuh mangsanya, melainkan laba-laba Spiderman yang berprinsip “with great power must also come great responbility.” Dengan jelas meski tidak secara eksplisit, penulis merekomendasikan sikap, perilaku, dan tindakan yang terpuji adalah sikap, perilaku,  dan tindakan seperti Spiderman. Bukan seorang super hebat, super hero, melainkan “malaikat pelindung” (guardian). Tampil sebagai manusia biasa, di saat yang dibutuhkan ia berubah menjadi Spiderman.

Melalui renungan-renungan dalam buku ini, kita diajak dengan ringan oleh Romo Asodo, OMI untuk merenungkan dan merefleksikan kehidupan kita, selanjutnya membangun hidup baru.  Hidup baru dalam keselamatan Allah karena pertobatan. Hidup baru di tengah zaman yang terus berubah, tetapi tetap bergayut pada kasih Yesus.“Kita diajak untuk berhenti sejenak, di tengah hidup di zaman modern yang berputar luar biasa cepat ini. Kita perlu membuat jeda, memberi istirahat kepada jiwa dan raga sejenak…” (tulisan ke-12). Hendaknya kita mulai dengan hidup baru yang selaras dengan Sabda-Nya!

(Kontribusi: Bapak Gregorius Sukadi, Sahabat OMI, Palereban Canthuka, Sokowaten, Yogyakarta)

Catatan: Buku "Life Begins at 40" termasuk dalam daftar buku yang direkomendasikan untuk dibaca oleh Majalah Oblatio yang diterbitkan oleh Departemen Studi dan Riset OMI, Roma.

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.