Hidup Beragama Yang Membebaskan

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Selasa, 07 November 2017 00:35

Bacaan pertama: Kebijakan 11:22 - 12:2

Bacaan kedua: 2 Tesalonika 1:11 - 2:2

Bacaan Injil: Lukas 19:1-10

Masih banyak di antara kita yang menjalani hidup keagamaan sebagai sebuah beban. Pergi ke Gereja dihayati sebagai sebuah kewajiban mingguan. Banyak yang merasa kalau sudah ke Gereja  tidak ada hutang yang membebani. Tidak jarang tujuan ke Gereja juga tidak dipahami atau dimengerti sungguh-sungguh. Namun ada juga orang yang menempatkan diri sebagai pengawas orang yang datang ke Gereja. Mereka menilai orang lain pantas atau tidak pantas masuk ke Gereja. Dari apa yang dikenakan, seseorang dinilai kepantasannya. Apa sebenarnya yang kita cari dalam praktek hidup keagamaan kita?

 

Add a comment
 

Kerendahan Hati

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI Sabtu, 04 November 2017 12:12

Bacaan Injil: Lukas 14:1, 7-11

Dalam perikop Injil ini Tuhan Yesus tidak sedang berbicara tentang tata tertib ke undangan, tetapi Beliau sedang berbicara tentang godaan eksis atau godaan ingin populer, salah satu godaan yang tanpa disadari membuat kita menjadi orang-orang yang kurang rendah hati.

Godaan seperti itu pada zaman ini tampaknya makin marak karena demam medsos (media sosial). Sedikit-sedikit orang ingin berfoto selfie, wefie, atau bahkan ada juga orang yang menyewa tukang foto untuk datang pada saat mereka arisan.  Foto dibuat bukan untuk sekedar kenangan atau bukti sejarah tetapi untuk diunggah di grup komunikasi atau di laman Facebook, Instagram, dan lain-lain.  Foto dipasang di sana bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga dipamerkan dan inginnya di “Like” oleh banyak orang.  Pertanyaan refleksinya: apakah ambil bagian dalam tren atau demam ini membuat orang bahagia?  Tentu saja.  Tetapi saya kira hal itu hanyalah kebahagiaan yang dangkal. Koq bisa? Karena hal ini bisa membuat orang yang bersangkutan ketagihan.   Dia lalu gonta-ganti foto yang dipamerkan.  Tetapi lama-kelamaan hal ini akan membuat penontonnya menjadi bosan juga.  Penonton akan berpikir, “Koq sepertinya orang ini tidak punya pekerjaan lain selain membuat foto postingan, ya..?!”

Add a comment
 

MENGGARAP HIDUP BATIN

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Senin, 09 Oktober 2017 00:50

Ada orang bilang, “Tiga perusak terbesar bangsa kita pada saat ini adalah Korupsi, Radikalisme dan Narkoba”. Tiga hal ini harus menjadi musuh bersama kalau kita ingin maju dan damai sebagai sebuah bangsa. Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya. Akan tetapi selama ini kekayaan itu hanya dinikmati oleh sedikit orang saja, tidak bisa merata ke semua rakyat. Banyak orang yang memegang jabatan justru dengan serakah ingin menguasai kekayaan bangsa ini bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Meskipun banyak yang sudah tertangkap dan masuk penjara, mereka seperti tidak ada kapoknya. Para koruptor dengan berbagai cara licik ingin mengambil kekayaan bangsa ini sebagai milik mereka sendiri tanpa peduli dengan rakyat banyak.

Add a comment
 

Keuntungan Menjadi Seorang Kristiani

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Minggu, 24 September 2017 18:31

Minggu Biasa XXV

Bacaan Pertama: Yesaya 55:6-9 - Bacaan Kedua: Filipi 1:20c-24, 27a - Bacaan Injil: Matius 20:1-16a

 

Saudari-Saudara terkasih dalam Kristus,

Saya ingin memulai Homili ini dengan sesuatu yang sangat saya sukai: statistik!  Saya menemukan statistik yang dikeluarkan oleh sebuah pusat statistik religius paling bergengsi di dunia, namanya Pusat Studi Kekristenan Dunia yang berada di South Hamilton, Massachusetts, Amerika Serikat.  Laporan statistiknya berjudul “Kekristenan dalam Konteks Global, 1970-2020”.  Pusat Studi ini mempunyai data statistik yang baru yang dikeluarkan pada tahun 2016 dengan masa telaah hingga tahun 2020.  Hasil utama dari survei besar ini dapat disimpulkan dalam satu kalimat: dunia masih tetap sama, tetapi dunia menjadi lebih religius.  Secara khusus disebutkan bahwa angka penganut Kristen dan Katolik meningkat yang terjadi di Afrika dan Asia, sedangkan di Benua Amerika, angka cenderung tetap dan di Eropa malahan menjadi kurang religius – kurang Kristen, kurang Katolik.  Di Eropa, distribusi penduduk menurut agama yang dipeluknya di negara-negara Uni Eropa tercatat sebagai berikut:  Katolik (48%), Protestan (12%), Ortodoks (8%), Kristen lainnya (4%), Islam (2%), tidak beragama/ateis/agnostik (23%), agama lainnya (3%).

Sekarang, apa guna dari statistik itu?  Pertama-tama, saya ingin bertanya dulu:  “Apa keuntungan dari menjadi seorang Kristiani, menjadi seorang Katolik?”  Apakah karena Anda ingin mendapat upah rohani yang lebih tinggi daripada orang lain seperti yang diceritakan dalam Injil?  Atau karena ingin memperoleh tempat yang lebih nyaman dalam Kerajaan Surga?  Atau bisa juga ditanyakan demikian:  Mengapa Anda terus hidup sebagai seorang Kristiani?

Add a comment
 

Mengampuni Kesalahan Orang Lain

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Alya Denny Haloho, OMI Rabu, 20 September 2017 12:12

Dalam Injil Matius 18:15-20, kita diajak untuk membangun persaudaraan dengan semangat  berani saling menegur atau mengingatkan dalam kasih. Sedangkan dalam Injil Matius 18:21-35, Tuhan Yesus menambahkan hal yang kiranya juga penting dalam membangun kasih persaudaraan itu. Dalam Injil tersebut Yesus memberi jawaban yang di luar pemikiran para rasul. Rasul Petrus yang bertanya soal berapa kali harus mengampuni kesalahan orang lain, dijawab dengan tegas oleh Yesus bahwa mengampuni itu harus terus-menerus dilakukan oleh murid-muridNya.

Pengampunan yang ditanyakan Petrus dilaksanakan tujuh kali dan dan jawaban Yesus yang mengharap lebih dengan mengatakan tujuh puluh kali tujuh kali adalah gaya bahasa yang dipakai oleh orang Yahudi pada zaman Yesus dengan merujuk pada Kitab Perjanjian Lama. Dalam Kitab Kejadian Bab 4 dikisahkan bagaimana Allah memberi ganjaran terhadap dosa pembunuhan yang dilatari oleh motif dendam(Kejadian 4:15)  lebih berat dibandingkan dengan terjadinya pembunuhan dengan motif membela diri (Kejadian 4:23).  Aturan demikian di dalam Perjanjian adalah untuk melihat bahwa balas dendam tidak boleh dilanjutkan karena hanya akan memperburuk keadaan.  Kembali ke pertanyaan Petrus, kata-katanya menggemakan upaya membatasi sikap balas dendam tadi.  Bila seorang saudara menyalahi untuk pertama kalinya, ditolerir saja, begitu juga untuk kedua kalinya, dan seterusnya sampai ketujuh kalinya. Tapi sesudah tujuh kali dianggap kelewat batas dan tak perlu diampuni lagi! Tetapi Yesus hendak mengatakan semua itu tidak cukup. Orang harus berani mengampuni sampai "tujuh puluh kali tujuh kali", artinya, tak berbatas.  Malah tak perlu kita  memikirkan sampai mana atau sampai batas apa. Sikap mengampuni seyogyanya menjadi  sikap hidup.

 

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.