Mengampuni Kesalahan Orang Lain

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Alya Denny Haloho, OMI Rabu, 20 September 2017 12:12

Dalam Injil Matius 18:15-20, kita diajak untuk membangun persaudaraan dengan semangat  berani saling menegur atau mengingatkan dalam kasih. Sedangkan dalam Injil Matius 18:21-35, Tuhan Yesus menambahkan hal yang kiranya juga penting dalam membangun kasih persaudaraan itu. Dalam Injil tersebut Yesus memberi jawaban yang di luar pemikiran para rasul. Rasul Petrus yang bertanya soal berapa kali harus mengampuni kesalahan orang lain, dijawab dengan tegas oleh Yesus bahwa mengampuni itu harus terus-menerus dilakukan oleh murid-muridNya.

Pengampunan yang ditanyakan Petrus dilaksanakan tujuh kali dan dan jawaban Yesus yang mengharap lebih dengan mengatakan tujuh puluh kali tujuh kali adalah gaya bahasa yang dipakai oleh orang Yahudi pada zaman Yesus dengan merujuk pada Kitab Perjanjian Lama. Dalam Kitab Kejadian Bab 4 dikisahkan bagaimana Allah memberi ganjaran terhadap dosa pembunuhan yang dilatari oleh motif dendam(Kejadian 4:15)  lebih berat dibandingkan dengan terjadinya pembunuhan dengan motif membela diri (Kejadian 4:23).  Aturan demikian di dalam Perjanjian adalah untuk melihat bahwa balas dendam tidak boleh dilanjutkan karena hanya akan memperburuk keadaan.  Kembali ke pertanyaan Petrus, kata-katanya menggemakan upaya membatasi sikap balas dendam tadi.  Bila seorang saudara menyalahi untuk pertama kalinya, ditolerir saja, begitu juga untuk kedua kalinya, dan seterusnya sampai ketujuh kalinya. Tapi sesudah tujuh kali dianggap kelewat batas dan tak perlu diampuni lagi! Tetapi Yesus hendak mengatakan semua itu tidak cukup. Orang harus berani mengampuni sampai "tujuh puluh kali tujuh kali", artinya, tak berbatas.  Malah tak perlu kita  memikirkan sampai mana atau sampai batas apa. Sikap mengampuni seyogyanya menjadi  sikap hidup.

 

Add a comment
 

Dia Percaya Pada Kita

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Minggu, 27 Agustus 2017 18:39

Saya ingin memulai khotbah ini dengan kata-kata Yesus kepada Simon: “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.”  Pernyataan ini adalah bagian penutup dari pembicaraan antara Yesus dan Simon.  Simon berkata, “Engkau adalah Mesias,” dan Yesus menjawab: “Engkau adalah Petrus.”  Percakapan ini bukanlah percakapan saling lempar pujian, tetapi merupakan sebuah wahyu.  Percakapan ini adalah cara untuk menunjukkan identitas dan martabat.  Yesus adalah Mesias, dan Simon adalah Petrus, Si Batu Karang!  Juga saya pikir hal ini berlaku bagi kita.  Antara Anda dengan Yesus.  Jadi, pertanyaan saya adalah “untuk Anda, siapakah Yesus itu?”  Jawaban dari Yesus tergantung dari jawaban Anda pada pertanyaanNya ini.

Jika Anda percaya Yesus adalah Mesias, maka Anda dapat juga disebut “Petrus”.  Yesus akan menyatakan bahwa “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam mau tidak akan menguasainya.  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.  Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”   Singkatnya, saya dapat katakan bahwa iman Anda selalu diiringi oleh misi Anda, seperti Simon Petrus.  Pada saat Anda percaya padaNya, Dia akan menunjukkan pada Anda identitas sebagai martabat Anda, juga panggilan pada Anda untuk melakukan misi bersamaNya.  Iman selalu berhubungan dengan misi.

Add a comment
 

Kerajaan Surga itu Kehadiran Yang Ilahi dalam Diri Kita

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Selasa, 01 Agustus 2017 11:47

Kita belajar tentang makna Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah lewat pengajaran Yesus dengan menggunakan perumpamaan. Kerajaan Allah adalah Kerajaan milik Allah. Allah menjadi Rajanya. Sebagai Raja, Allahlah yang membuat aturan dan undang-undang. Semua orang yang masuk ke dalam Kerajaan Allah harus bersedia atau memberikan dirinya diatur dan diarahkan oleh Allah yang menguasai kehidupannya dan akan menuntun dia ke arah dan tempat yang baik seperti seorang gembala yang menuntun kawanan dombanya ke padang rumput yang hijau dan berair segar. Allah Yang Mahabaik akan membimbing setiap orang yang menyerahkan diri kepadaNya menuju  kebahagiaan.

Kita diajak merenungkan makna Kerajaan Allah dari sudut pandang kita yang mencarinya. Orang yang mencari Kerajaan Allah laksana seorang pedagang yang menemukan mutiara yang sangat berharga dan dia bersedia menjual seluruh miliknya untuk membeli mutiara itu. Atau, Kerajaan Allah seumpama seorang petani yang menemukan harta karun di sebidang ladang dan menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Perumpamaan ini jangan diartikan sebagai tindakan mengurbankan segalanya demi mendapatkan Kerajaan Allah. Rasanya menjadi terlalu sederhana dan membuat orang tidak siap.

Add a comment
 

Biarkanlah Gandum dan Ilalang Tumbuh Bersama

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Selasa, 25 Juli 2017 01:04

Bagi Anda yang gemar nonton film bioskop, Anda tentu mengenal tokoh-tokoh seperti: Spiderman, Superman, Batman, Wonder Woman dan sebagainya. Mereka selalu tampil dalam film sebagai tokoh-tokoh perkasa, pembasmi kejahatan di masyarakat. Di hadapan mereka, semua pelaku kejahatan dikalahkan dan disingkirkan dari muka bumi ini. Namun demikian, setiap kali mereka mengalahkan satu musuh, musuh lain segera muncul lagi. Apakah ini tak-tik industri film? Bisa jadi. Supaya orang terus-menerus datang menonton. Penonton ikut merasa menang bersama dengan tokoh idola mereka.  Dalam dunia nyata juga nampak jelas bahwa kekuatan kebaikan dan kejahatan selalu ada bersama-sama. Perang melawan kekuatan kejahatan tidak pernah ada habisnya. Tidak pernah selesai.

Add a comment
 

Menikmati Perjamuan Ekaristi

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Sabtu, 01 Juli 2017 14:46

Pada waktu kecil dulu, setiap kali akan pergi rekreasi atau  piknik, Ibu saya selalu sibuk sejak sehari sebelumnya. Dia selalu menyiapkan berbagai bekal untuk perjalanan besok. Yang paling sering dibuat adalah lontong nasi. Kalau Ibu membikin lontong nasi saya selalu minta diisi dengan tahu, tempe dan abon. Rasanya, lontong bikinan ibu paling enak, gurih dan membuat saya kenyang. Saya merasa aman, tidak takut kelaparan dan cukup irit karena tidak perlu jajan nasi lagi. Uang saku bisa dipakai untuk membeli makanan lain. Dalam setiap perjalanan, kita selalu membutuhkan bekal, entah perjalanan itu pendek ataupun panjang. Bekal ini memberikan ketenangan hati dan juga kekuatan pada saat kita lelah atau kehabisan tenaga.

 

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.