Novena Panggilan Oblat 21-29 Mei 2017 (01)

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Minggu, 21 May 2017 01:17

PENGANTAR

Fondasi adalah pendukung konstruksi dari sebuah rumah yang akan dihuni oleh sebuah keluarga. Rumah kita menemukan fondasinya dalam komunitas yang dibentuk oleh Santo Eugenius dan sahabat-sahabat pertamanya.  Sama seperti sebuah keluarga yang membuka diri untuk hadirnya anak-anak agar terus-menerus dapat mempererat kasih sejatinya, maka sekarang ini tergantung dari kita untuk terus melanjutkan membangun rumah kita pada fondasi yang sama demi mempersiapkan masa depannya.

Para Oblat yang pada suatu hari ini akan dikirim Tuhan mengikuti jejak langkah Bapa Pendirinya masih berada di dalam dunia; Sebagian dari mereka sudah kita ketahui dan yang lain-lainnya lagi masih ada dalam pikiranNya.  Roh Kudus sedang mempersiapkan mereka dalam rahasia hati mereka. Di dalam diri mereka, ada sifat-sifat pribadi yang membuat mereka saling menyukai dan yang dalam beberapa cara mengidentifikasi ciri khas dan gaya keluarga kita sendiri. Saat kita bertemu dengan mereka, sesuatu di dalam hati mereka akan menemukan dirinya sedang berada di rumah lewat apa yang mereka lihat ada di dalam diri kita.

Maka kita memiliki tugas dan kewajiban untuk menghidupi secara jelas aspek-aspek yang menjadi ciri khas kita dan yang membuat kita dikenal sambil kita memenuhi undangan Tuhan yang meminta kita untuk berdoa kepada Tuan Yang Empunya Panenan agar mengirimkan lebih banyak lagi pekerja bagi panenanNya yang luar biasa.

 

Tema dari Novena Tahun ini:

1.  Pilihan-pilihan: Kenangan panggilan suciku

2.  Kecintaan yang Mendalam: Jatuh cinta pada Kristus dan manusia – menjadi orang-orang yang punya hati

3.  Otentik:  Keaslian, hati yang transparan, cinta akan kebenaran; mematuhi kebenaran – menjadi orang-orang Kebenaran.

4.  Lapar dan haus akan keadilan:  Memandang dengan belas kasih akan kemiskinan manusia dan perjalanan sejarah manusia – lewat pandangan Eugenius.

5.  Sahabat-sahabat kaum miskin:  Menjadi pelayan-pelayan belas kasih.

6.  Rendah hati:  karakter seorang pengikut Maria – Para Oblat Maria

7.   Persaudaraan: keterbukaan untuk berbagi dan saling mengasihi – menjadi orang yang membangun hidup bersama – manusia komunitas.

8.  Ketekunan:  sensitif akan hembusan Roh Kudus – menjadi orang-orang yang membaktikan diri untuk karya misi.

9.  Keberanian:  keberanian seorang misionaris – “Leaving nothing undared” – tidak ada yang ditakuti sama sekali.

 

Setiap langkah Novena disusun sebagai berikut:

  • Pengantar
  • Doa Pembuka
  • Mendengarkan Sabda Tuhan
  • Dari tulisan-tulisan Santo Eugenius
  • Meditasi singkat
  • Doa Penutup

***** O * B * L * A * T *** M * A * R * I * A *** I * M * A * K * U * L * A * T * A *****

 

Add a comment
 

Terima Kasih Kepada Para Oblat Lanjut Usia

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Selasa, 16 May 2017 00:41

(Surat dari Pastor Louis Lougen, OMI, Superior Jenderal, pada Perayaan St. Eugenius de Mazenod, 21 Mei 2017)

 

Yang terkasih Saudaraku para Oblat dan semua yang tergabung di dalam Keluarga Oblat,

Dengan sukacita dan syukur kita rayakan hari Bapa Pendiri dan Bapa kita, Santo Eugenius de Mazenod, masuk ke dalam Rumah Bapa.  Selamat merayakannya!

Para peserta Kapitel Umum ke-36 membuat sebuah “Pesan” kepada seluruh Oblat dan Saudara-Saudari anggota Keluarga Oblat yang berbunyi: “Kita memandang ke belakang dengan rasa syukur, dimulai dengan St. Eugenius de Mazenod dan semua yang telah mendahului kita, termasuk saudara-saudara Oblat lanjut usia yang masih ada bersama kita yang kami sapa secara khusus.” (ACTS, hal. 9)  Kapitel Umum ini, dijiwai dengan rasa persatuan dan persaudaraan yang besar, secara khusus menggaris bawahi relasi kuat dengan para Oblat yang telah lanjut usia.  Pada perayaan ini saya ingin menghaturkan besarnya cinta dan rasa syukur kami kepada setiap dari kalian, para Oblat yang telah lanjut usia.

Pada tahun 2001, Mgr. Wilhelm Steckling, Bapa Superior Jenderal di masa itu, mengeluarkan sebuah surat untuk para Oblat lanjut usia yang ada di Kongregasi kita.  Surat ini sampai sekarang masih memberikan inspirasi, meski ditulis 16 tahun yang lalu.  Anda semua dapat menemukannya di Website OMI di bagian “Superior General – Father Steckling – September 8, 2001”.

 

Add a comment
 

Pergi ke Emaus

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Jumat, 05 May 2017 16:03

Dalam berita di beberapa surat kabar belakangan ini dituliskan adanya banyak orang yang mengirimkan karangan bunga ke Balai Kota DKI. Bukan karena ada yang meninggal atau Petahana terpilih kembali, tetapi justru sebaliknya.  Isi pesan dari ratusan karangan bunga itu adalah ungkapan terima kasih kepada Pak Basuki dan Pak Djarot sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang kalah dalam Pilkada DKI. Karangan bunga itu tentunya datang dari para pendukung pasangan Basuki – Djarot yang merasa kecewa kalau jago mereka tidak terpilih, padahal mereka telah melihat hasil kerja yang sangat memuaskan dan perlu terus dilanjutkan.

Injil Minggu Ketiga Paskah mengisahkan dua orang murid yang pulang ke Emaus setelah Sang Guru wafat. Emaus terletak kurang lebih 11 km dari Yerusalem. Dua orang murid itu salah satunya bernama Kleopas, sedangkan yang lain tidak disebut namanya. Mungkin mereka seperti para pendukung Basuki – Djarot yang kalah Pilkada. Dua orang murid ini pulang kampung dengan perasaan galau, kecewa, sedih, marah, muram karena orang yang mereka pandang sebagai Mesias mati dibunuh di Salib. Mereka tidak mengira bahwa semuanya berakhir begitu tragis. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan seperti itu. Mereka ingin marah tetapi tidak berdaya, bahkan mereka sekarang merasa terancam oleh orang-orang yang menghendaki Yesus dibunuh.

Add a comment

 

Damai Sejahtera Bagi Kamu

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Kamis, 27 April 2017 10:49

Kisah Paskah penuh dengan misteri. Injil pada Minggu kedua Paskah ini mengajak kita berjumpa dengan para murid yang sedang mengunci diri dalam sebuah rumah. Mereka semua berada dalam situasi yang putus asa dan takut. Kematian Sang Guru sungguh membuat berantakan semua harapan tentang kebahagiaan hidup. Semua yang indah yang pernah disampaikan Sang Guru kepada mereka seperti hilang musnah tidak berbekas. Yang ada sekarang adalah ketidak-berdayaan seperti sekumpulan anak ayam yang kehilangan induknya. Namun demikian mereka juga bertanya-tanya, apakah hanya sampai di sini saja? Apakah tidak ada kelanjutan dari semua yang telah dimulai dengan begitu meyakinkan? Apakah akhirnya kita hanya bertemu dengan jalan buntu, tanpa arah yang jelas lagi?

 

Add a comment
 

Paskah: Memancarkan Keberadaban ...

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Jumat, 21 April 2017 18:07

Paskah: Memancarkan Keberadaban dengan Hidup Berkeadilan

Setiap kali merayakan Paskah, kita mendengarkan kutipan yang diambil dari Kitab Keluaran Bab 12, yang mengisahkan tentang pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dengan dipimpin oleh Musa. Paskah artinya Tuhan lewat.  Tuhan berinisiatif untuk meninggalkan tahtaNya.  Dia turun dan ikut campur tangan dengan persoalan yang dihadapi oleh bangsa pilihanNya.  Tuhan hadir untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Peristiwa pembebasan ini menghantar Bangsa Israel berubah status dari manusia budak menjadi manusia merdeka, dari manusia terjajah menjadi manusia yang menentukan nasibnya sendiri, dari orang yang tak berdaya menjadi orang yang bebas bergerak ke mana-mana. Mereka hanya perlu mengikuti petunjuk Musa sebagai orang yang dipilih Tuhan untuk memimpin umatNya. Tuhan meminjam tangan Musa untuk memulihkan martabat kemanusiaan Bangsa Israel sebagai yang dikasihi Allah.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.