Pergi ke Emaus

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Jumat, 05 May 2017 16:03

Dalam berita di beberapa surat kabar belakangan ini dituliskan adanya banyak orang yang mengirimkan karangan bunga ke Balai Kota DKI. Bukan karena ada yang meninggal atau Petahana terpilih kembali, tetapi justru sebaliknya.  Isi pesan dari ratusan karangan bunga itu adalah ungkapan terima kasih kepada Pak Basuki dan Pak Djarot sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang kalah dalam Pilkada DKI. Karangan bunga itu tentunya datang dari para pendukung pasangan Basuki – Djarot yang merasa kecewa kalau jago mereka tidak terpilih, padahal mereka telah melihat hasil kerja yang sangat memuaskan dan perlu terus dilanjutkan.

Injil Minggu Ketiga Paskah mengisahkan dua orang murid yang pulang ke Emaus setelah Sang Guru wafat. Emaus terletak kurang lebih 11 km dari Yerusalem. Dua orang murid itu salah satunya bernama Kleopas, sedangkan yang lain tidak disebut namanya. Mungkin mereka seperti para pendukung Basuki – Djarot yang kalah Pilkada. Dua orang murid ini pulang kampung dengan perasaan galau, kecewa, sedih, marah, muram karena orang yang mereka pandang sebagai Mesias mati dibunuh di Salib. Mereka tidak mengira bahwa semuanya berakhir begitu tragis. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan seperti itu. Mereka ingin marah tetapi tidak berdaya, bahkan mereka sekarang merasa terancam oleh orang-orang yang menghendaki Yesus dibunuh.

Add a comment

 

Damai Sejahtera Bagi Kamu

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Kamis, 27 April 2017 10:49

Kisah Paskah penuh dengan misteri. Injil pada Minggu kedua Paskah ini mengajak kita berjumpa dengan para murid yang sedang mengunci diri dalam sebuah rumah. Mereka semua berada dalam situasi yang putus asa dan takut. Kematian Sang Guru sungguh membuat berantakan semua harapan tentang kebahagiaan hidup. Semua yang indah yang pernah disampaikan Sang Guru kepada mereka seperti hilang musnah tidak berbekas. Yang ada sekarang adalah ketidak-berdayaan seperti sekumpulan anak ayam yang kehilangan induknya. Namun demikian mereka juga bertanya-tanya, apakah hanya sampai di sini saja? Apakah tidak ada kelanjutan dari semua yang telah dimulai dengan begitu meyakinkan? Apakah akhirnya kita hanya bertemu dengan jalan buntu, tanpa arah yang jelas lagi?

 

Add a comment
 

Paskah: Memancarkan Keberadaban ...

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Jumat, 21 April 2017 18:07

Paskah: Memancarkan Keberadaban dengan Hidup Berkeadilan

Setiap kali merayakan Paskah, kita mendengarkan kutipan yang diambil dari Kitab Keluaran Bab 12, yang mengisahkan tentang pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dengan dipimpin oleh Musa. Paskah artinya Tuhan lewat.  Tuhan berinisiatif untuk meninggalkan tahtaNya.  Dia turun dan ikut campur tangan dengan persoalan yang dihadapi oleh bangsa pilihanNya.  Tuhan hadir untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Peristiwa pembebasan ini menghantar Bangsa Israel berubah status dari manusia budak menjadi manusia merdeka, dari manusia terjajah menjadi manusia yang menentukan nasibnya sendiri, dari orang yang tak berdaya menjadi orang yang bebas bergerak ke mana-mana. Mereka hanya perlu mengikuti petunjuk Musa sebagai orang yang dipilih Tuhan untuk memimpin umatNya. Tuhan meminjam tangan Musa untuk memulihkan martabat kemanusiaan Bangsa Israel sebagai yang dikasihi Allah.

Add a comment
 

Kisah Sengsara Kristus

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Jumat, 14 April 2017 11:40

Kita tidak terlalu nyaman mendengar kata “ Passio - Kisah Sengsara”.  Kata itu  membuat kita takut karena kata itu memaparkan penderitaan yang mengerikan. Kita tidak tega dengan penderitaan Kristus, meski kita tak mampu pula meredakan penderitaanNya. Passio ditampilkan untuk membantu kita menghayati Pekan Suci, Inilah pekan pencobaan dan sengsara.

Pertanyaannya adalah: mengapa Yesus harus masuk ke Yerusalem?  Dan, bagaimana Ia masuk ke Yerusalem? Orang banyak mengelu-elukan Dia seperti seorang raja dan Ia tidak menolak, Ia tidak berkata apa-apa, Ia menerimanya.  Tetapi Raja macam apa Yesus itu?  Marilah kita memandangNya. Ia mengendarai seekor keledai, Ia tidak mempunyai pengikut yang mengiringiNya, Ia tidak dijaga oleh pasukan tentara – lambang kekuatan.  Mereka yang ada bersamaNya adalah rakyat jelata yang sederhana yang melihat Yesus dari sudut pandang yang berbeda; Mereka adalah orang-orang yang percaya dan berkata, “Dia adalah Sang Juruselamat!”

Add a comment

 

Kekerasan Hati vs Kerendahan Hati

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Minggu, 09 April 2017 16:59

Kita memasuki Pekan Suci dengan merayakan Minggu Palma atau Minggu Sengsara. Pengalaman penderitaan atau ketidakberdayaan adalah pengalaman manusia, dapat dialami oleh siapa saja. Sebagai manusia dengan berbagai kelemahannya, kita terus menerus bergumul dalam tarikan dua kutub: kutub kebaikan dan kutub kejahatan. Keduanya berusaha menarik manusia untuk pergi ke satu kutub dan meninggalkan yang lain. Ketika kutub kejahatan menang, kita sudah tahu bahwa buah atau hasilnya adalah kesusahan dan ketidak-bahagiaan. Ketika kutub kebaikan menang, buahnya adalah damai dan sukacita yang melimpah. Namun kalau tidak kuat dalam iman, kita cenderung tertarik ke kutub kejahatan karena kelihatan lebih mudah, lebih sederhana, lebih menyenangkan, lebih menarik.

Peristiwa perjalanan Yesus ke Yerusalem dengan mengendarai keledai menampilkan banyak simbol:

Pertama, keledai adalah kuda beban. Keledai bukan untuk berperang. Orang yang mengendarai keledai tidak dapat beradu kecepatan. Keledai adalah binatang yang sulit dikendalikan. Dengan mengendarai keledai, Yesus tampil bukan sebagai ancaman bagi orang lain. Yesus tidak sedang mau berperang melawan pasukan bersenjata. Sebaliknya, Yesus tampil sebagai seorang yang rendah hati. Dalam situasi sulit, Yesus tetap dapat mengendalikan tungganganNya. Yesus tampil sebagai Penguasa, sebagai Raja, tetapi cara Dia memerintah atau menampilkan diri tidak dengan mengancam melainkan dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan.

Add a comment

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.