Kita adalah Orang-Orang Kristiani

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Senin, 14 November 2016 08:21

Dalam Injil Yesus Kristus menurut Lukas 21, Yesus berkata: “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.  Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena namaKu... Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh...”

Mendengar Injil Minggu ini, kita mengenang semua kejadian di dunia sekarang ini:  peperangan di Suriah, Ukraina, Afganistan, Sudan, Kongo; ketegangan politik di Amerika Serikat, bahkan di Perancis; penganiayaan dan diskriminasi agama; kaum fundamentalis; bencana alam yang terjadi di mana-mana; masalah-masalah ekologi; dan hari ini kita memperingati setahun peristiwa penyerangan di Paris, 13 November 2015.

Apa yang dapat kita katakan?

Add a comment
 

Bukan Allah Orang Mati, Melainkan Allah Orang Hiidup

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Selasa, 08 November 2016 18:04

Setiap tanggal 2 November, Gereja memperingati hari arwah orang beriman. Menurut tradisi Gereja, kita dapat memohonkan indulgensi atau pemulihan penuh bagi saudara kita yang sudah meninggal. Syaratnya adalah bahwa dari tgl. 2 – 8 November kita mengunjungi makam saudara kita itu dan atau mendoakannya secara khusus setiap hari, sangat dianjurkan pula kalau disertai dengan mengikuti Perayaan Ekaristi.  Gereja berkeyakinan bahwa doa kita yang tulus bagi saudara yang sudah meninggal akan menyucikan dia dan Allah Yang Maharahim akan mengampuni dosanya serta memuliakannya bersama para kudus lainnya.  Keyakinan ini tentu saja dilandasi oleh kepercayaan akan Allah yang mengasihi setiap orang dan menghendaki agar kita semua bahagia, baik di dunia maupun di akhirat.

Yesus dicobai oleh orang-orang Sadhuki yang tidak percaya akan adanya kebangkitan. Bagi orang Sadhuki yang adalah bagian dari orang Yahudi, orang akan masuk ke Syeol setelah mengakiri kehidupannya di dunia ini. Di dalam Syeol tidak akan ada apa-apa lagi, selain kegelapan dan kemandegan. Terhadap pandangan yang seperti ini, banyak orang yang tidak percaya. Mereka bertanya, apakah semua hal baik yang kita perjuangkan di dunia ini tidak ada dampaknya bagi kehidupan setelah kematian? Apa gunanya kita bersusah payah hidup jujur dan benar kalau hanya ada kegelapan?

Add a comment
 

Kudus - Jati Diri Anak Tuhan

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Reynold A. Sombolayuk, OMI Rabu, 02 November 2016 17:35

Saudari-Saudaraku dalam Kristus,

Setiap tanggal 1 November, kita memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus.  Santo atau Santa adalah sebutan yang biasa kita gunakan untuk seorang yang kudus.  Saya mengajak kita semua untuk merenungkan kata “Kudus” berasal dari Bahasa Ibrani “Qadowsh” yang berarti “dipisahkan”.  Dalam Kitab Suci, barang-barang dikatakan kudus jika dipisahkan untuk Tuhan atau kepunyaan Tuhan. Jadi, semua benda yang digunakan di Bait Allah disebut kudus karena semua benda itu dipisahkan dari benda-benda lainnya dan digunakan hanya untuk Tuhan.  Maka kalau kita sebut Santo/Santa, itu berarti orang itu dipisahkan untuk Tuhan atau ia adalah kepunyaan Tuhan.  Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita dipisahkan untuk Tuhan?  Bagaimana kita dapat menjadi milik Tuhan?

Kita percaya bahwa lewat pembaptisan kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Yesus.  Pada saat kita dibaptis, kita diselamatkan, kita dipisahkan bagi Tuhan, kita menjadi milik Tuhan.  Maka Yohanes menyebut dalam suratnya:  “Kita sekarang adalah anak-anak Tuhan.”

Add a comment
 

Allah Menghendaki Semua Orang Selamat

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Minggu, 30 Oktober 2016 22:44

Masa kampanye Pilkada DKI sudah dimulai. Beberapa waktu yang lalu pernah terjadi keributan karena salah seorang calon dituduh telah menodai salah satu agama dengan ucapannya. Dalam sejarah hidup beragama manusia, berulangkali terjadi pertengkaran dan perang yang disebabkan perbedaan sudut pandang dan konsep tentang Allah. Allah telah membiarkan Diri dikenal oleh manusia dengan berbagai cara. Namun seringkali manusia justru mempersempit pengenalan mereka akan Allah dengan menyatakan bahwa pengenalan orang lain salah dan hanya dirinya saja yang benar. Allah ingin semua orang mengalami keselamatan menurut keterbukaan hati masing-masing.  Allah tidak mau membeda-bedakan manusia kesayangannya.

Kisah Injil pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mampir di rumah Zakheus, kepala pemungut cukai. Kunjungan Yesus ini menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Yesus sebagai seorang Guru yang terhormat hendaknya mengikuti prinsip-prinsip kepatutan umum yang berlaku saat itu. Karena bagi orang Yahudi, pekerjaan pemungut cukai pada waktu itu dipandang sebagai pekerjaan yang membuat orang tersebut termasuk golongan pendosa. Pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat bangsa yang patut disingkiri atau dijauhi karena mereka bekerja untuk penjajah. Orang Farisi dan Ahli Taurat yang memandang dirinya sebagai orang saleh juga tidak senang dengan sikap Yesus yang suka bergaul dengan orang-orang pendosa seperti Zakheus. Sikap Yesus menimbulkan kejengkelan.

 

Add a comment
 

Beriman: Membiarkan Allah Masuk dalam Kehidupan Kita

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Sabtu, 22 Oktober 2016 01:44

Salah satu bentuk ungkapan iman adalah doa. Doa merupakan komunikasi manusia dengan Allah. Doa tidak mudah, karena kita berkomunikasi dengan Tuhan yang tidak kelihatan. Oleh karena itu kadang muncul anggapan bahwa orang yang sering berdoa imannya hebat. Orang yang doanya panjang berarti imannya besar. Kalau orang tidak pernah berdoa, berarti imannya tipis. Tidak jarang pandangan ini membentuk sikap sombong dalam diri orang yang rajin berdoa. Dia merasa lebih tinggi atau lebih baik dan benar dibanding orang yang tidak rajin berdoa.

Yesus menjelaskan sikap ini dengan sebuah kisah tentang dua orang yang pergi berdoa ke Bait Allah. Satu hal yang penting digaris bawahi di sini adalah bahwa Tuhan dipahami sebagai Dia yang dapat didekati. Yang Maha Tinggi tidak tinggal jauh di atas sana, tetapi dekat di bumi sehingga mudah untuk didatangi dan manusia bisa mengutarakan berbagai perasaan, keinginan, persoalan kepada-Nya. Dalam teks bahasa aslinya, kedua orang  Farisi dan Pemungut Cukai sedang menuju ke Bait Allah. Mereka belum masuk ke Bait Allah. Dalam perjalanan menuju Bait Allah itulah mereka merancang doa yang akan mereka sampaikan di hadapan Allah. Mereka masing-masing menyusun kata-kata yang tepat yang akan mereka ucapkan ke hadapan Allah.

 

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.