Pergi ke Emaus

Artikel - Saat Merenung

Dalam berita di beberapa surat kabar belakangan ini dituliskan adanya banyak orang yang mengirimkan karangan bunga ke Balai Kota DKI. Bukan karena ada yang meninggal atau Petahana terpilih kembali, tetapi justru sebaliknya.  Isi pesan dari ratusan karangan bunga itu adalah ungkapan terima kasih kepada Pak Basuki dan Pak Djarot sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang kalah dalam Pilkada DKI. Karangan bunga itu tentunya datang dari para pendukung pasangan Basuki – Djarot yang merasa kecewa kalau jago mereka tidak terpilih, padahal mereka telah melihat hasil kerja yang sangat memuaskan dan perlu terus dilanjutkan.

Injil Minggu Ketiga Paskah mengisahkan dua orang murid yang pulang ke Emaus setelah Sang Guru wafat. Emaus terletak kurang lebih 11 km dari Yerusalem. Dua orang murid itu salah satunya bernama Kleopas, sedangkan yang lain tidak disebut namanya. Mungkin mereka seperti para pendukung Basuki – Djarot yang kalah Pilkada. Dua orang murid ini pulang kampung dengan perasaan galau, kecewa, sedih, marah, muram karena orang yang mereka pandang sebagai Mesias mati dibunuh di Salib. Mereka tidak mengira bahwa semuanya berakhir begitu tragis. Mereka tidak siap menghadapi kenyataan seperti itu. Mereka ingin marah tetapi tidak berdaya, bahkan mereka sekarang merasa terancam oleh orang-orang yang menghendaki Yesus dibunuh.

Nampaknya Lukas sengaja hanya menyebut satu nama dari kedua orang yang kembali ke Emaus itu. Dia ingin memasukkan kita masing-masing sebagai teman Kleopas. Maka, perjalanan dua orang murid ke Emaus ini juga berarti perjalanan batin atau kerohanian kita dalam mengenal Yesus, Sang Mesias. Bagaimana selama ini kita berpandangan tentang Yesus? Apakah pemahaman kita tentang Dia selama ini tepat? Pandangan yang keliru tidak jarang membawa kita kepada pengalaman Kleopas, yaitu kekecewaan. Kita kecewa karena mengalami kegagalan. Kita kecewa karena keinginan kita tidak terwujud.  Kita kecewa karena doa kita tidak terkabul. Kita kecewa karena apa yang sudah kita rencanakan tidak berjalan dengan baik, dan sebagainya.

Dalam perjalanan itu, Yesus, yang menjadi Orang Asing, meminta mereka untuk menceritakan siapakah Yesus dan bagaimana pengenalan mereka tentang Yesus.  Dengan kata lain, Yesus mengajak para murid menjawab pertanyaan yang pernah Dia tanyakan kepada mereka” “Menurut kamu siapakah Aku?”  Sekali lagi Yesus harus meluruskan pandangan para murid yang keliru tentang diri-Nya sehingga hati mereka berkobar-kobar. Pada saat mereka mengundangNya untuk masuk ke rumah dan makan, mata mereka terbuka untuk mengenali kehadiran Yesus yang terus menyertai mereka. Seperti para murid, kita harus berani mengundang Yesus masuk ke dalam rumah kita, ke dalam hati kita. Dia menyertai kita dengan kebijaksanaan dan pengajaranNya. Kiranya para pendukung Basuki-Djarot harus terus menghidupi apa yang dipandang sebagai hal baik untuk kota Jakarta dari kedua tokoh ini, sehingga meskipun tidak lagi menjadi Pimpinan Daerah, banyak hal baik dan benar yang sudah kedua tokoh ini mulai akan terus dilanjutkan dan diwujudkan demi kebaikan bersama. Tuhan memberkati.

(Penulis: Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.