Terima Kasih Kepada Para Oblat Lanjut Usia

Artikel - Saat Merenung

(Surat dari Pastor Louis Lougen, OMI, Superior Jenderal, pada Perayaan St. Eugenius de Mazenod, 21 Mei 2017)

 

Yang terkasih Saudaraku para Oblat dan semua yang tergabung di dalam Keluarga Oblat,

Dengan sukacita dan syukur kita rayakan hari Bapa Pendiri dan Bapa kita, Santo Eugenius de Mazenod, masuk ke dalam Rumah Bapa.  Selamat merayakannya!

Para peserta Kapitel Umum ke-36 membuat sebuah “Pesan” kepada seluruh Oblat dan Saudara-Saudari anggota Keluarga Oblat yang berbunyi: “Kita memandang ke belakang dengan rasa syukur, dimulai dengan St. Eugenius de Mazenod dan semua yang telah mendahului kita, termasuk saudara-saudara Oblat lanjut usia yang masih ada bersama kita yang kami sapa secara khusus.” (ACTS, hal. 9)  Kapitel Umum ini, dijiwai dengan rasa persatuan dan persaudaraan yang besar, secara khusus menggaris bawahi relasi kuat dengan para Oblat yang telah lanjut usia.  Pada perayaan ini saya ingin menghaturkan besarnya cinta dan rasa syukur kami kepada setiap dari kalian, para Oblat yang telah lanjut usia.

Pada tahun 2001, Mgr. Wilhelm Steckling, Bapa Superior Jenderal di masa itu, mengeluarkan sebuah surat untuk para Oblat lanjut usia yang ada di Kongregasi kita.  Surat ini sampai sekarang masih memberikan inspirasi, meski ditulis 16 tahun yang lalu.  Anda semua dapat menemukannya di Website OMI di bagian “Superior General – Father Steckling – September 8, 2001”.

 

Pada perayaan hari Santo Eugenius ini, saya juga ingin menyapa kalian yang dianggap sebagai para senior kami.  Dalam biografi Leflon yang berjudul “Eugenius de Mazenod”, beliau menulis bahwa hingga bulan Desember 1860, pada usianya yang ke-78, de Mazenod menunjukkan energi dan kejernihan mental yang luar biasa, meski hidup dengan praktek mati raga yang keras.  “Beliau (St. Eugenius – Red) senang berbangga diri mengatakan bahwa saudara-saudara Oblatnya tidak dapat menandingi semangat muda yang ada dalam dirinya...”! (Vol. IV, hal. 299)  Semangat yang demikian pelan-pelan hilang setelah ditemukannya tumor di tubuh St. Eugenius, yang kemudian diiringi dengan tiga kali operasi, komplikasi medis, dan 3 bulan penderitaan, hingga wafatnya pada 21 Mei 1861.

 

Saya akan menggunakan usia 78 tahun St. Eugenius pada tahun 1860, sebelum sakit menggerogoti tubuhnya, untuk membuat sebuah kajian pada waktu kita sekarang ini:  sekarang ada 766 Oblat yang berusia 78 tahun atau lebih tua, dari jumlah seluruh anggota 3.696 Oblat dalam Kongregari kita.  Banyaknya Oblat di bawah usia 50 tahun adalah 1.718 orang, sekitar 46% dalam Kongregasi kita!  Marilah kita rayakan kabar baik ini:  kita diberkati dengan anggota yang lanjut usia maupun yang masih muda!

Saya tidak berani menarik kesimpulan siapa di antara kita yang dikategorikan “Oblat lanjut usia”.  Ini adalah topik yang perlu kehati-hatian, bahkan sebuah topik yang berbahaya!  Kata-kata “Oblat lanjut usia” sebenarnya terdengar tidak manis untuk banyak telinga, beberapa komunitas - khususnya di belahan Barat – mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat untuk mengacu pada orang lanjut usia, seperti misalnya: seseorang dengan kematangan tahun; seorang senior; seseorang yang dalam usia ketiga; seorang lanjut usia; seorang yang bijaksana; seorang dalam usia emas!  Budaya lain di bagian Selatan dan Timur memiliki penghargaan dan penghormatan bagi para lanjut usia yang mewakili kebijaksanaan dan kepenuhan hidup.  Adalah sebuah berkat besar dan kehormatan untuk memperhatikan para anggota yang lanjut usia.  Kita harus banyak belajar dari pendekatan ini.

Bagi kita, para Oblat misionaris, ungkapan saat menjadi lanjut usia berarti menarik diri dari karya misi memiliki masalah.  Saya temukan 3 alasan utama kita tidak mau melepaskan karya misi kita saat telah menjadi lanjut usia: (1) Karya misi adalah hidup kita; (2) Seorang Oblat mencintai orang banyak; (3) Kita ingin merasa berguna.

 

Karya Misi adalah Hidup Kita

Bagi para Oblat, mewartakan Injil bukanlah sebuah pekerjaan, tetapi sebuah kecintaan yang sangat mendalam untuk mewartakan Kabar Gembira Tuhan lewat kesaksian hidup kita.  Betapa sering Bapa Pendiri mencela pewartaan Injil yang tampil mewartakan secara menyolok mata sehingga meninggikan si pewarta dan egonya lebih daripada memperbaiki akhlak orang banyak.  Hidup, kesaksian dan totalitas seorang pewarta-lah yang penting.  Dari sejak awal mula perkumpulannya, keinginan Eugenius masuk dalam hidup bakti adalah untuk memastikan bahwa para misionaris haruslah menjadi orang-orang yang suci.  Dalam hal ini, pewartaan mereka akan menjadi konsisten dengan hidup mereka.

Saat saya bicara kepada orang-orang dari tempat dahulu para Oblat pernah berkarya, saya bertanya bagaimana keadaan mereka sekarang.  Mereka katakan bahwa sekarang mereka mempunyai “pelayan-pelayan profesional” yang hanya ada selama jam kerja.  Seseorang dapat pensiun dari kerja demikian.  Tetapi hal itu jauh dari model hidup misionaris seorang Oblat yang justru ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan mereka yang kita layani.  Meski kita harus belajar untuk memonitor segala kegiatan kita di saat kita sudah mulai berumur, tetapi tidak ada kata pensiun sebagai seorang misionaris, karena menjadi misionaris itu adalah sebuah jalan hidup.

 

Para Oblat mencintai orang banyak

Cinta kasih kita kepada orang banyak terhubung erat dengan karya misi yang merupakan jalan hidup kita.  Satu aspek yang sangat khusus dari kharisma kita adalah hubungan mendalam kita dengan orang-orang milik Tuhan, khususnya kaum miskin, dan kita akan merasa menjadi sebuah kerugian yang sangat besar pada saat kita tidak dapat lagi melayani mereka.  Seturut dengan kharisma kita, kita memang dekat dengan orang-orang di tempat kita berkarya (CCRR # 8) dan relasi ini adalah penyerahan hidup kita.  Kita dikasihi oleh orang-orang milik Tuhan.

Karya misi Oblat terjadi dalam relasi-relasi demikian, memberikan diri kita kepada orang banyak dan menjadi terikat dalam hidup mereka.  Inilah elemen khusus dari kharisma kita.  Kunjungan Bapa Pendiri ke seorang ibu lanjut usia yang tinggal di rue de l’Echelle adalah suatu hal yang memilukan bagi kita.  Pertemanannya yang hidup, dalam olok-olok yang digunakan oleh para istri nelayan di dermaga Marseilles, mengilhami kehidupan misionaris kita.  Karena misi adalah cara hidup yang membawa kita dekat dengan orang banyak, maka kita tidak dapat menarik diri dari misi tanpa merasa sebagai sebuah kehilangan yang besar.  Kita perlu saling membantu untuk menangisi relasi-relasi yang sangat istimewa ini di saat usia atau penyakit memaksa hal itu terjadi.

Sekarang ini, di banyak tempat yang kekurangan tenaga imam dan pelayan-pelayan Gereja, para Oblat yang sudah lanjut usia -  baik para imam maupun bruder – dengan murah hati melayani paroki-paroki, komunitas religius dari para Suster dan Bruder, siap kapan pun juga dipanggil untuk kunjungan ke rumah sakit, ada bersama keluarga-keluarga yang kehilangan seseorang yang dicintai, memakamkan orang mati, dan siap untuk segala bentuk pelayanan.  Anda sekalian selalu bersedia dan murah hati, meski Anda mempunyai kesulitan ke sana ke mari dan mungkin seharusnya tak perlu melakukan demikian! Terima kasih!

 

Para Oblat ingin merasa berguna

Kita memiliki genetik misionaris; kita senang bekerja dan cenderung terlalu banyak kerja.  Kita adalah orang-orang yang melakukan sesuatu dan kita ingin mati dengan masih memakai sepatu kerja kita.  Semangat “tidak pernah cukup dalam bekerja” ini  datang dari Eugenius sendiri yang memiliki hati yang melayani, penuh semangat memberikan respon kepada kebutuhan-kebutuhan yang paling mendesak dari orang-orang milik Tuhan.  Para Oblat merasa sulit untuk memperlambat langkah, bahkan di saat kita sakit dan saat proses umur menyatakan harus dibuat perubahan.  Kita mencoba untuk menghindar dari rumah sakit atau rumah jompo dengan biaya apa pun!  Berapa banyak tempat tinggal kita yang dibangun dengan tanah pemakaman di belakangnya?!

Keluar dari pelayanan penuh waktu memang sungguh sangat sulit untuk kita.  Kita tidak lagi melihat diri kita sebagai misionaris sejati di saat kita tidak mempunyai tugas pelayanan.  Karya itu penting dan perlu untuk hidup misionaris, dan menjadi sangat menyenangkan melihat hal-hal yang sudah dapat kita kerjakan serta betapa orang banyak mencintai kita.  Tetapi pelayanan yang aktif tidak ditentukan apakah kita seorang misionaris atau bukan.  Menjadi seorang misionaris melibatkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih menuntut:  keoblatan kita, menghidupi kaul ketaatan, mempertegas arti misionaris sejati.  Mungkin ketaatan yang paling berat diterima adalah untuk melepaskan pelayanan atau masuk ke dalam rumah jompo.

Hidup kalian, keberadaan kalian, persembahan diri kalian kepada Bapa dengan mengikuti Yesus yang taat, adalah tanda-tanda nyata dari hidup misionaris kalian.  Saya ingin meyakinkan bahwa kalian  – para senior kami – adalah sungguh misionaris penuh, tidak menjadi masalah apakah Anda sekarang ini masih terlibat dalam karya pelayanan atau tidak.  Rahmat untuk menerima segala keterbatasan Anda dengan tenang dan sukacita adalah sebuah rahmat keberanian dan yang perlu dimohonkan kepada Tuhan dengan bersemangat.  Saya tidak akan menyebutkan masalah yang dihadapi saat kita tidak dapat lagi menyetir mobil... Salah satu tugas tersulit adalah membantu seorang Oblat untuk menyadari bahwa dia sudah tidak mampu lagi untuk mengemudi!

 

“Menanggung Bersama”

Berhubungan dengan perasaan berguna adalah sebuah pertanyaan dari kalian yang menulis surat kepada saya: kalian sangat prihatin bahwa kalian tidak lagi dapat “menanggung bersama” secara finansial Kongregasi.  Kalian punya keprihatinan yang besar untuk kelangsungan Kongregasi!  Saya ingin kalian tahu bahwa di saat kalian tidak dapat lagi membawa pemasukan untuk Kongregasi, kami akan dengan sukacita menanggung kalian.  Kalian bukanlah sebuah beban!  Perhatian dan cinta kami kepada kalian adalah ekspresi ikatan keluarga di antara kita yang datang dari hati Santo Eugenius.

Pada beberapa Unit sekarang ini, karena masalah biaya kesehatan, maka menjadikan rumah-rumah Oblat sebagai tempat dengan fasilitas yang memadai untuk membantu para Oblat senior menjadi sesuatu yang mewah yang tidak dapat selalu kita jangkau.  Dengan bergabung bersama para religius, imam dan awam dalam rumah-rumah bersama, kita mampu untuk memberikan penanganan kesehatan yang baik dengan biaya yang terjangkau.  Hal ini adalah cara baru untuk menghidupi kaul kemiskinan kita lewat budaya hidup sederhana, dan mungkin juga sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

 

Kami menghargai kalian

Para Saudara Oblat, kaum usia lanjut kami yang terkasih, kalian adalah bagian yang sangat penting dari Kongregasi dan Keluarga Oblat.  Kami menghargai kalian dan sangat menghormati hidup dan komitment misionaris kalian.  Kalian semua adalah formator kami, mentor, profesor, sahabat seperjalanan... Kebanyakan dari kalian masih mudah pada saat Kongregasi mengalami periode penambahan wilayah karya secara besar-besaran dengan langit sebagai batasnya!  Kalian menyambut Konsili Vatikan II dan semangat pembaruan yang dibawanya.  Kalian membawa Kongregasi melewati masa-masa perubahan revolusioner, harapan-harapan indah, dan guncangan-guncangan juga.  Begitu banyak Oblat keluar dari Kongregasi, sebuah dukacita besar yang ditunjukkan oleh Pastor Leo Deschatelets dan Pastor Fernand Jette.  Kemantapan adalah bagian dari kharisma Oblat.  Apakah ada yang lebih indah daripada tetap setia?  Terima kasih untuk kesaksian lewat kesetiaan kalian!

Kalian membantu kami semua untuk kembali menemukan kemanusian dan kesucian seorang Eugenius de Mazenod.  Kalian memulai untuk membicarakan tentang realitas yang misterius yang disebut kharisma Oblat.  Kalian memberi aksen pada visi Kongregasi sebagai kelompok misionaris untuk mewartakan Kabar Baik kepada kaum miskin dan membangun Gereja lewat opsi misionaris profetik dan inspirasi yang diekspresikan secara indah di dalam dokumen-dokumen fundamental yang terus menuntun dan menantang kita.  Kami dipenuhi kekaguman dan rasa syukur!

Hidup kalian menjadi perhatian kami.  Kami mungkin seringkali membiarkan kalian begitu saja, tetapi betapa kalian sangat berarti bagi kami.  Mungkin kalian merasa ditaruh di posisi samping, keluar dari lingkaran, dan diasingkan ke tempat terlupakan dalam Unit kalian.  Kami belajar dari kalian untuk menghargai karya dan aksi melampaui banyak aspek penting lainnya dalam hidup ini, dan sepertinya kami jadi melupakan kalian.  Tetapi kami tidak pernah lupa pada kalian!  Perhatian yang diberikan Kongregasi kepada kalian adalah tanda hormat dan kecintaan kami pada kalian.  Kami memang seringkali gagal dalam hal mengunjungi kalian.  Mohon kami dimaafkan.

 

Kecintaan kalian pada Kongregasi memberkati kami

Kecintaan kalian menjadi seorang misionaris dalam Kongregasi memacu kami.  Ke mana pun saya pergi dalam dunia Oblat, saya menikmati kebersamaan dengan kalian dan bersukacita dalam semangat misionaris kalian yang besar.  Kalian mau mendengar tentang Kongregasi dan tentang karya misi yang kita mulai.  Kalian meminta kami untuk menanggapi  kebutuhan-kebutuhan penting yang ada sekarang ini seperti kondisi kaum migran dan pengungsi.  Kecintaan kalian pada Kongregasi diungkapkan dalam keprihatinan dan doa bagi panggilan serta bagi mereka yang ada dalam tahap formasi.  Kepedulian akan hidup dan misi Oblat adalah ekspresi cinta kalian pada keluarga yang dimulai oleh Santo Eugenius.

 

Misi kalian adalah keoblatan

Sebagai Bapa Jenderal, saya berani menganjurkan kepada kalian bahwa misi kalian sekarang ini adalah untuk menerima dengan kasih segala keterbatasan yang datang karena faktor umur dan sakit.  Inilah keoblatan sempurna yang dapat kalian berikan atas nama Kongregasi.  Kalian hidup dengan iman dan pengharapan di setiap kalian menyambut hari baru dengan semangat keberanian;, percaya bahwa hidup kalian itu berarti karena kalian dengan bebas mempersembahkannya kepada Tuhan.  Sabda Yesus berikut ini sangat berarti: “Tidak ada seorang pun mengambilnya (nyawa Tuhan Yesus – red) dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri.” (Yohanes 10:17-18) Pada masa sekarang ini, mungkin kalian hanya dapat memberikan karya kecil untuk Tuhan, tetapi sebenarnya kalian memberi lebih daripada itu semua karena kalian memberikan diri kalian.  Santo Paulus banyak memberikan masukan untuk menyemangati kalian: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1) Kalian bukan saja mempersembahkan karya pelayanan kalian kepada Tuhan, tetapi kalian memberikan seutuhnya dari kalian kepada Tuhan, membantu menyempurnakan segala penderitaan Kristus (Kolose 1:24).

Terima kasih untuk keberanian dan kekuatan kalian di tengah-tengah penderitaan.  Saya suka semangat sukacita dan tawa kalian saat saya ada bersama komunitas-komunitas kalian.  Inilah hadiah berharga bagi kita, suatu tanda bahwa kalian menyatu ke dalam jalan hidup misi sambil masuk lebih dalam lagi kepada misteri Tuhan.  Tolong bagikan iman pengharapan kalian kepada kami.  Tunjukkan pada kami hidup yang membawa segalanya menjadi satu dalam sukacita meski ada sakit, hidup yang telah menemukan pengampunan dan yang telah dipupuk dengan kebaikan dan kemurah-hatian.  Banyak dari kalian memancarkan hal-hal tersebut.  Terima kasih!

 

Rengkuh kami dalam doa

Sebagai tambahan dari misi utama kalian untuk mempersembahkan hidup kepada Tuhan, saya juga memberikan kalian misi untuk berdoa dan menjadi perantara bagi dunia, Gereja dan Kongregasi.  Bertumbuhlah dalam keintiman yang dalam dengan Tritunggal Mahakudus dan rengkuhlah kami ke dalam hati kalian di hadapan misteri Tuhan.  Berdoalah untuk kesetiaan kita kepada kharisma, sehingga kita akan memenuhi panggilan-panggilan dari Kapitel Umum dan tantangan-tantangan dari dunia kita dengan keberanian seorang de Mazenod.

 

Kami berjanji untuk mengunjungi kalian!

Kongregasi berkomitmen untuk berdoa bagi kalian, tetapi kita harus berbuat sesuatu secara lebih.  Saya meminta kepada semua dari kita untuk menilik kembali komitmen kita kepada para Oblat senior yang telah lemah dan/atau pensiun.  Marilah kita lebih sering lagi mengunjungi mereka.  Kehadiran kita adalah tanda dari ikatan keluarga kita dan ekspresi dari warisan cinta kasih yang ditinggalkan kepada kita oleh Santo Eugenius de Mazenod.

Selamat Pesta Santo Eugenius!

Saudara Oblatmu, dengan doa-doa saya dan cinta kasih di dalam Yesus Kristus dan Maria Imakulata,

Pastor Louis Lougen, OMI, Superior Jenderal

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel yang terbit di OMI Communications: "Thanks to Our Senior Oblates", www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.