Novena Panggilan Oblat 21-29 Mei 2017 (01)

Artikel - Saat Merenung

PENGANTAR

Fondasi adalah pendukung konstruksi dari sebuah rumah yang akan dihuni oleh sebuah keluarga. Rumah kita menemukan fondasinya dalam komunitas yang dibentuk oleh Santo Eugenius dan sahabat-sahabat pertamanya.  Sama seperti sebuah keluarga yang membuka diri untuk hadirnya anak-anak agar terus-menerus dapat mempererat kasih sejatinya, maka sekarang ini tergantung dari kita untuk terus melanjutkan membangun rumah kita pada fondasi yang sama demi mempersiapkan masa depannya.

Para Oblat yang pada suatu hari ini akan dikirim Tuhan mengikuti jejak langkah Bapa Pendirinya masih berada di dalam dunia; Sebagian dari mereka sudah kita ketahui dan yang lain-lainnya lagi masih ada dalam pikiranNya.  Roh Kudus sedang mempersiapkan mereka dalam rahasia hati mereka. Di dalam diri mereka, ada sifat-sifat pribadi yang membuat mereka saling menyukai dan yang dalam beberapa cara mengidentifikasi ciri khas dan gaya keluarga kita sendiri. Saat kita bertemu dengan mereka, sesuatu di dalam hati mereka akan menemukan dirinya sedang berada di rumah lewat apa yang mereka lihat ada di dalam diri kita.

Maka kita memiliki tugas dan kewajiban untuk menghidupi secara jelas aspek-aspek yang menjadi ciri khas kita dan yang membuat kita dikenal sambil kita memenuhi undangan Tuhan yang meminta kita untuk berdoa kepada Tuan Yang Empunya Panenan agar mengirimkan lebih banyak lagi pekerja bagi panenanNya yang luar biasa.

 

Tema dari Novena Tahun ini:

1.  Pilihan-pilihan: Kenangan panggilan suciku

2.  Kecintaan yang Mendalam: Jatuh cinta pada Kristus dan manusia – menjadi orang-orang yang punya hati

3.  Otentik:  Keaslian, hati yang transparan, cinta akan kebenaran; mematuhi kebenaran – menjadi orang-orang Kebenaran.

4.  Lapar dan haus akan keadilan:  Memandang dengan belas kasih akan kemiskinan manusia dan perjalanan sejarah manusia – lewat pandangan Eugenius.

5.  Sahabat-sahabat kaum miskin:  Menjadi pelayan-pelayan belas kasih.

6.  Rendah hati:  karakter seorang pengikut Maria – Para Oblat Maria

7.   Persaudaraan: keterbukaan untuk berbagi dan saling mengasihi – menjadi orang yang membangun hidup bersama – manusia komunitas.

8.  Ketekunan:  sensitif akan hembusan Roh Kudus – menjadi orang-orang yang membaktikan diri untuk karya misi.

9.  Keberanian:  keberanian seorang misionaris – “Leaving nothing undared” – tidak ada yang ditakuti sama sekali.

 

Setiap langkah Novena disusun sebagai berikut:

  • Pengantar
  • Doa Pembuka
  • Mendengarkan Sabda Tuhan
  • Dari tulisan-tulisan Santo Eugenius
  • Meditasi singkat
  • Doa Penutup

***** O * B * L * A * T *** M * A * R * I * A *** I * M * A * K * U * L * A * T * A *****

 

 

NOVENA HARI PERTAMA:

PILIHAN-PILIHAN: Kenangan Panggilan Suciku

 

Pengantar

Hari ini kita persembahkan untuk cerita tentang Tuhan di dalam hidup kita.  Cerita dimulai dari pandangan Allah Bapa yang mengalir dari kedalaman hatiNya dan tinggal di dalam kita semua, di kedalaman diri kita lewat hal-hal yang ada pada kita: cara hidup kita, segala yang ada pada kita adalah baik, benar dan indah, dan yang paling diuntungkan adalah kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita.  Mengikuti pancaran pandangan Tuhan ini, kita menemukan dalam diri kita seorang putera yang datang ke dunia dan ada di dunia.  Maka kita mengingat keluarga kita dan orang-orang yang kita temui dan para Oblat yang telah membawa kita sampai di sini.  Sekarang ini, kita-lah yang menjadi perantara bagi orang-orang lainnya, bagi putera-puteraNya yang akan datang, sama seperti pada saat kita juga datang.  Kita perlu kembali kepada masa awal.  Kita perlu kembali untuk menjadi perantara, untuk menjadi tempat bagi orang-orang lain lewat saat Tuhan memanggil mereka, sama seperti pada saat Dia memanggil kita.  Kita perlu berdoa agar hal demikian terjadi lagi, apa yang telah kita terima kembali terjadi lagi.

Kita perlu selalu mengingatnya, bahkan pada saat kita tidak dapat melakukan apa-apa lagi, pada saat segalanya terasa tak mungkin, pada saat tidak ada seorang pun yang menyukai kita lagi sepertinya kita sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, kita akan selalu memiliki hati untuk berdoa agar tuaian tidak pernah berhenti, agar tuaian tetap menghasilkan untuk meja kaum miskin roti yang secukupnya yang tak lain adalah TubuhNya yang lapar akan kasih (bdk. Matius 6:11).

 

Doa Pembuka

Bapa, utuslah padaku dan pada kami semua Roh Kudus, Roh atas kenangan masa lalu yang membawaku kembali kepada hari-hari yang telah lalu, di saat aku dicerahkan oleh tatapan kasihMu, di saat hatiku masih bebas dari segala keruwetan dan dari segala gagasan yang membuatku menjadi keras dan tuli; saat aku masih memiliki masa depan yang seperti mimpi untuk diwujudkan; di saat segalanya adalah mungkin, mudah, penting, dan aku memilih untuk selalu mengikutiMu. Secara tak terduga – entah bagaimana aku menerangkannya – aku kenal dengan Oblat, komunitas Oblat.  Bantu aku untuk kembali memahami bahwa Engkaulah yang merancang jalan yang membawaku pada pertemuan itu.  Bapa, jangan biarkan kekecewaan dan kepenatan membungkus kenangan ini dengan debu, tetapi hidupkanlah kembali kenangan ini lewat Roh KudusMu.  Buatlah aku kembali kepada diriku sendiri, menjadi seperti aku yang Engkau temui pada hari itu.

 

Sabda Tuhan

Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit.  Ia memanggil orang-orang yang dikehendakiNya dan mereka pun datang kepadaNya. (Markus 3:13)

 

Dari Tulisan Santo Eugenius

Aku menganggap diriku itu seorang yang berjiwa sensitif, yang diciptakan Tuhan dengan hati yang lembut, pengasih, murah hati (...).  Aku juga merenungkan tentang keadaan-keadaan berbeda yang telah Tuhan perkenankan aku berada di dalamnya, di antaranya adalah berbagai keadaan yang mengingatkanku akan kebaikan Tuhan, yang membuatku mampu melihat dengan jelas bahwa pimpinanNya terhadapku adalah suatu tanda cintaNya kepadaku.  Tuhan memperkenankan aku menghabiskan tiga tahun di bawah bimbingan dan pendampingan seorang imam yang kudus, yang wafat dalam kesucian.  Tuhan telah memberikan padaku hati seorang saudara, sebegitunya Dia mencintai aku.  Aku pusatkan pemikiranku pada hal ini karena aku melihat segala rahmat ini sebagai hasil dari penciptaan, sepertinya Tuhan - setelah membentukku, membawaku, memimpinku ke mana pun, berkata: Aku telah menciptakan engkau untuk mencintaiKu, untuk melayaniKu; Aku akan berbuat lebih lagi, makhluk lemah seperti engkau.  Aku akan membawamu ke sana dan ke mari, supaya engkau dapat mencapai tujuan ini, entah dengan bantuan situasi-situasi yang ditawarkan kepadamu, atau lewat inspirasi-inspirasi yang mungkin diusulkan kepadamu. (Catatan retret di Amiens, Desember 1911, EO I, 14, n. 95)

(Jiwaku) harus bersyukur padaNya setiap saat sepanjang hari karena Dia berkenan memandangku dengan penuh belas kasih, sebuah pandangan yang dahsyat yang membuahkan hal-hal besar. (Resolusi dari retret awal masuk seminari, EOI, 14 n. 28)

Aku menganggap Dia memilih aku sebagai pilihan belas kasih dan cintaNya yang besar. (surat kepada Ibunda St. Eugenius de Mazenod, 11 Oktober 1809, EOI, 14, n.61)

 

Untuk Meditasi

Aku ingat saat aku merasakan panggilan itu, suara di dalam lubuk hatiku, ketertarikan yang mendorongku untuk menjadi milik Kristus selamanya, untuk hanya memiliki Dia.  Menurutku, apa yang Dia lihat dalam diriku pada saat itu?  Ikatan apa yang ada antara aku dengan Dia, antara keinginanku dengan kata-kata dan tindakanNya, antara yang kuyakani dengan yang Dia tentukan lebih dahulu untukku?  Aku juga ingat saat aku bertemu dengan seorang Oblat atau para Oblat yang menarikku, atau cukup menantangku.  Apa yang ada pada Oblat itu, atau para Oblat itu, yang membuatku merasakan gejolak untuk membagikan hidupku bersama mereka?  Menurutku, apa yang menjadi persamaan di antara kami sekarang ini?

 

Doa Penutup

Bapa, Engkau mengetahui segalanya tentang aku, Engkau mengetahui hatiku dan Engkau tahu aku mencintaiMu.  Engkau telah menuntun aku ke tempat yang kupikir tidak akan pernah aku jalani; Engkau menghibur hatiku di saat tidak seorang pun memiliki kata-kata penghiburan untukku, dan Engkau memberikan kepadaku saudara-saudara untuk dicintai, dan yang juga mencintai dan menerima aku.  Aku telah berjalan bersama mereka; dan bersam mereka, aku telah mengalami sukacita dan dukacita seperti di dalam sebuah keluarga.  Memang benar, ada suatu ketika aku merasa kecewa, salah paham, ditinggalkan sendirian, tetapi aku selalu menemukan seseorang yang membawaku kembali ke jalanMu.  Demikianlah juga caranya kami mewartakan KerajaanMu; kami telah menjadi dekat dengan begitu banyak orang yang Kau buat mengenal kami, sama seperti yang telah diajarkan oleh St. Eugenius kepada kami.   Aku di sini sekarang ini untuk melihat masa depan dan berdoa; kami ada bersama di sini.  Panggillah bagiMu mereka yang Kau inginkan, mereka yang Kau kenal dan kirimlah mereka kepada tuaianMu, bersama kami, di rumah kami yang Kau bentuk bersama komunitas Oblat yang pertama.  Dunia membutuhkan mereka; jangan tinggalkan kami sendirian.  Jangan biarkan lampu cemerlang ini padam - lampu yang pada suatu saat nanti Engkau nyalakan dan yang aku sendiri tidak selalu mengisinya karena segala kejatuhanku, ketakutanku, sehingga aku dapat merasa nyaman dengan hal-hal kecilku saja.  Tuhan, teruslah mengirim para Oblat ke dalam dunia, ke dalam GerejaMu, ke antara kaum miskinMu.

 

Allah Yang Mahakuasa dan Kekal,

Engkau telah berkenan memanggilku yang tak pantas ini hanya karena belas kasihMu,

Aku menjadi bagian dari Kongregasi Perawan Maria Imakulata.

Dengan rendah hati aku mohon kepadaMu,

Lewat perantaraan Darah Mulia Penebus kami,

Lewat perantaraan Maria Terberkati yang dikandung tanpa dosa,

Dan lewat pelindung kudusku lainnya,

Berikanlah aku rahmat

Untuk menjadi setia kepada panggilan suci ini.

(St. Eugenius)

 

***** O * B * L * A * T *** M * A * R * I * A *** I * M * A * K * U * L * A * T * A *****

 

NOVENA HARI KEDUA:

KECINTAAN YANG MENDALAM – Orang-orang yang punya hati

 

Pengantar

Hari ini diamanatkan untuk kembali menemukan hati Eugenius yang mencinta secara mendalam.  Kaum muda tahu caranya untuk mencinta secara mendalam, begitu juga dengan orang dewasa dan lanjut usia yang terus berjiwa muda.  Kaum muda ingin berpetualang dalam jejak jalur kehidupan.  Mereka ingin membangun hidup seturut dengan segala harapan dan pemikiran mereka.  Mereka tahu bagaimana untuk mencinta secara mendalam pada segala hal yang mereka lakukan.  Kaum muda laksana pohon yang menjulang ke langit menuju keindahan dunia.

Eugenius muda juga melakukan segalanya dengan kecintaan yang mendalam.  Hal inilah yang membawanya terpikat hati secara total pada Kristus.  Dia menemukan dan memberikan kepada Tuhan kualitas-kualitas afektif hatinya.  Dia melihat kemurahan hati Tuhan yang memberikan diriNya bagi kemanusiaan yang diperjuangkanNya.  Kelembutan dan pengertianNya saat bersama dengan kaum miskin dan pendosa.  KeprihatinanNya akan penderitaan manusia dan – persis karena hal ini  – Dia mengungkapkan Hati BapaNya yang mencinta secara mendalam dan penuh belas kasih.

Maka Eugenius tidak meminta apa-apa lagi dari Kristus selain agar mampu mencintaiNya, bukan saja dengan segala kekuatannya, tetapi juga dengan kasih yang dari Allah sendiri, dengan Hati Allah, sehingga dengan demikian Eugenius membiarkan dirinya diubah secara mesra menjadi seorang bapak yang luarbiasa.

Pada saat kaum muda yang pertama-tama bertemu Eugenius, mereka mengenali hati Eugenius yang seperti hati Yesus.  Sampai sekarang, para Oblat perlu menjadi seperti Eugenius, menjadi “orang-orang yang memiliki hati”.  Pada waktu orang banyak bertemu dengan kita, mereka harus terus melihat pada diri setiap dari kita “seseorang yang memiliki kecintaan yang mendalam kepada Kristus dan Gereja” yang masih bersinar di bumi sebagai petunjuk tentang kebapaan surgawi.

 

Doa Pembuka

Berikanlah kepadaku, Tuhan, Roh KudusMu; Curahkanlah atasku dan kami semua Roh Cinta Kasih.  Tuhan, bantu kami untuk belajar lagi dariMu; bahwa Engkau lemah lembut dan rendah hati; bahwa Engkau menyebut mereka yang suci hatinya sebagai sebuah berkat; dan bahwa Engkau menjadi sedih tatkala Engkau melihat sahabat-sahabatMu telah menjadi suam-suam kuku.  Ketuklah lagi pintu hatiku, datang dan makanlah bersamaku (bdk. Wahyu 3:20); Duduklah di sampingku dan biarkan aku membukakan untukMu setiap lapis dari diriku sehingga sekali lagi Engkau dapat membuat “air hidup” terpancar, bahkan lewat diriku (bdk. Yohanes 7:38).  Berikan aku hati yang baru, hati yang muda dan penuh cinta.  Tuliskanlah hukum-hukumMi pada hatiku sekali lagi dan buatlah hatiku mengikuti hukum-hukum itu sepenuhnya, tanpa kompromi, seperti yang telah kulakukan pada saat-saat awal cintaku padaMu.

 

Sabda Tuhan

Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas.  Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (Wakyu. 3:15)

 

Dari Tulisan Santo Eugenius

Aku mencintai secara mendalam semua yang kuyakini mencintaiku, tetapi mereka pun harus mencintaiku secara mendalam.  (...)  Santo Agustinus adalah salah satu orang (...) yang paling kucintai karena dia mempunyai hati yang persis seperti hatiku.  Dia tahu bagaimana harus mencintai.  (Portrait d’Eugene pour M. Duclauz . EO I,14, n. 30)

Itulah model hati yang Dia berikan kepadaku, pencurahan Kasih yang kumiliki dan yang tercurah kepada setiap dari mereka tanpa satu pun merasa kurang dicintai.  Aku berani berkata, hal ini sama seperti kasih Tuhan pada manusia. (Surat kepada Pastor Mouchette, di Montolivet, 2 Desember 1854,  EO I, 11, n. 1256)

Aku sering berkata kepada Tuhan Yang Mahabaik bahwa Dia telah memberikan aku hati seorang ibu dan memberikanku anak-anak yang berhak mendapatkan hidupku.  Dia telah membuatku mencintai tanpa batas.  (Surat kepada Pastor Mouchette, di  Montolivet, 22 March 1857, EO I, 12, n. 1345)

 

Untuk Meditasi

Semangat mencintai secara mendalam yang dihidupi Eugenius membuatku terpesona.  Ia katakan tentang dirinya: “Aku hidup hanya dari hatiku.” (Surat kepada Pastor Vincens, di Notre Dame de l’Osier, 9 November 1853, EO I, 11 n. 1187)  Terkadang, perasaan-perasaanku membuatku takut, tetapi hidupku menjadi begitu kering jika aku tidak mengikuti desakan-desakan intim dari hatiku.  Aku mengikuti rancangan-rancangan dan prosedur-prosedur dan berkata pada diriku: “sebetulnya, untuk apa semua ini?”

Aku ingat saat aku mulai peziarahanku bersama para Oblat.  Betapa aku merasa dipenuhi oleh cinta, oleh rasa kecintaan yang medalam.  Jika aku merenungkan tentang Yesus, aku melihat Dia mencintai dengan seluruh jiwa raganya.  Pada suatu hari, sambil melihat kepada kumpulan orang banyak, Dia tidak malu untuk duduk di tengah-tengah orang banyak itu, seperti seorang ibu di antara kelemahan-kelemahan anak-anaknya.  Dari sejak hari-hari itu, Dia terus-menerus mencari dan memanggil pemuda-pemuda yang penuh semangat kecintaan yang  mendalam, seperti “anak-anak guntur”, seperti Petrus.

Eugenius mengetahui bahwa dia adalah salah satu dari antaranya dan dia tidak takut untuk berkata bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang seperti dia, yang “kepadaku Tuhan memberikan karunia mencintai dengan begitu lembut, begitu kuat, bagi begitu banyak orang.” (Surat kepada Pastor Dassy, di Bordeaux, 10 Januari 1852, EO I, 11 n. 1095)

Sekarang ini, Yesus masih terus mencari pemuda-pemuda demikian – pemuda-pemuda yang mempunyai hati.  Tanpa disadari, mereka semua mengikuti jalan yang sama dengan Eugenius dan mengalami penderitaan dan sukacita karena mencintai tanpa batas.  Hari ini aku harus bertanya pada diriku sendiri, apakah aku masih terbilang di antara mereka, atau mungkin aku telah menolak  sumber hatiku, seperti seseorang yang menyembunyikan talenta yang telah Tuhan anugerahkan kepadanya untuk digandakan.

 

Doa Penutup

Tuhan yang menangis pada waktu mengetahui kematian sahabatMu, Lazarus, yang menjadi marah atas ketidak-adilan dan kemunafikan, yang mengasihi sahabat-sahabatMu di dunia ini hingga akhir hidupMu, ajar aku lagi untuk mencintai dengan segenap jiwa ragaku, untuk tidak menyayangi diriku, untuk tidak menyerah pada saat dihadapkan dengan ketidak-acuan dan kesalah-pahaman.  Berikan juga padaku dan kepada kami semua hati seorang ayah dan ibu, kecintaan yang mendalam dan kepekaan seperti yang dimiliki Eugenius.

Biarlah dari antara kami ada pemuda-pemuda seperti Eugenius, yang menjawab panggilanMu dan cinta kasihMu dengan murah hati.  Bangkitkan lagi dalam diri mereka rasa cinta yang mendalam untuk kebaikan, keadilan, kebenaran, kekuatan dan kesetiaan pada cinta kasih yang menjadi karakteristik Eugenius.  Jadikan kami manusia-manusia yang memiliki hati di dunia ini.

Tuhanku, gandakan, tiga lipatkan dengan seratus tenagaku,

Sehingga aku dapat mencintaiMu, bukan seturut kemungkinan-kemungkinanku – yang adalah bukan apa-apa –

Tetapi sama besarnya seperti para kudus telah mencintaiMu,

Sama besarnya seperti Bunda TersuciMu telah mencintaiMu dan terus-menerus mencintaiMu.

(St. Eugenius de Mazenod)

 

***** O * B * L * A * T *** M * A * R * I * A *** I * M * A * K * U * L * A * T * A *****

 

NOVENA HARI KETIGA:

OTENTIK – Orang-Orang Kebenaran

 

Pengantar

Seringkali, menjadi sesuatu yang mengganggu untuk merasakan seperti yang dirasakan Santo Eugenius dalam melihat dirinya.  Kita sering terbiasa berpikir tentang dia sebagai seorang yang sombong karena kebangsawanannya.  Cukup sulit untuk percaya bahwa ia sungguh seorang pendosa, seorang pengkhianat, seorang yang tak tahu berterima kasih seperti yang digambarkannya di depan Tuhan pada saat ia mengikuti retret-retret di masa mudanya.

Memang demikianlah.  Kita tidak dapat memperhalus ekspresi-ekspresi Eugenius; kita harus membebaskan diri kita untuk mengenali bahwa lewat perjalanan waktu dan rahmat, ia telah menjadi seorang manusia otentik sejati yang ekstrim.  Ia melihat dirinya dalam segala terang kebenaran dan menyadari bahwa hanya kasih Tuhan yang dapat bersinar atas kita tanpa membuat kita hangus terbakar.

Kita semua perlu mengerti apakah kita ini: kita adlah anak-anak yang terus-menerus menjauh dari Rumah Bapa, tetapi yang selalu kembali ke dalam pelukanNya, setiap kali dengan perasaan lebih yakin bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa Dia.  Kita harus mengenali bahwa kita ini sungguh sangat kaya - dalam belas kasihNya – dan menaruh semua kepandaian dan pencapaian kita untuk melayani Dia, dan bertindak hanya untuk kemuliaan namaNya, seperti yang Eugenius lakukan, sehingga mereka yang bertemu dengan kita dan yang mencari kebenaran akan menemukan kita sebagai teman peziarahan mereka.

 

Doa Pembuka

Ya Tuhan, curahkan kepadaku, kepada kami, RohMu, Roh Kebenaran.  Pandanglah aku kembali dengan mataMu yang penuh belas kasih dan pengertian, yang menghargai keberadaanku.  Ambillah segala kekuranganku, kelemahanku, bersama dengan segala yang indah yang Engkau taruh padaku.  Bantu aku agar setiap waktu aku percaya pada rahmatMu dan lebih yakin lagi akan diriku seperti Engkau melihatku.

Semoga kebenaranMu membebaskanku lagi, menjadikan aku seperti aslinya kembali, menjadikan aku terlahir kembali dari tanganMu yang membentuk dalam diriku manusia baru, manusia benar, bukan sosok yang aku bentuk selama ini.

 

Sabda Tuhan

Yesus melihat Natanael datang kepadaNyam lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yohanes 1:47)

 

Dari Tulisan Santo Eugenius

Jika seseorang membutuhkan penebusan yang lebih besar daripada aku – seorang yang untuk waktu yang lama menjadi pendosa berat dan pemberontak yang tak tahu berterima kasih – mungkin aku akan meminta dia percaya dan bersyukur melebihi aku kepada Yesus Sang Penebus yang telah membebaskannya.   Dalam terang rahmat yang diberikan kepadaku – yang aku telah cemari – dan meskipun aku telah berdoa, aku melihat diriku sebagai seorang yang paling sangat membutuhkan penebusan. (Catatan retret di Amiens, Desember 1911. EO I,14, n. 95)

 

Untuk Meditasi

Aku harus menjadi lebih tulus, otentik pada diri saya sendiri dan pada sesama.  Aku tak perlu melakukan apa pun dalam menampilkan diriku supaya orang banyak memperhatikanku.  Tidak menjadi masalah bagiku jika orang lain lebih diperhatikan, dihargai, disanjung.  Aku harus fokus hanya pada memperbaiki yang Tuhan lihat dalam diriku pada mulanya dan aku harus terus berkembang dan membiarkan diri untuk diubah.  Jika aku menjadi aku yang lainnya, siapa pun yang aku temui sedang mencari – bahkan tanpa mengetahuinya – cara Eugenius menapaki jejak langkah para rasul, tidak akan mengenali aku.  Mereka akan melewati aku dan mencarinya di tempat yang lainnya.

Aku hanya perlu untuk berjalan menuju Tuhan yang memanggilku apa adanya aku.  Dia mengenalku, dia melihatku pertama kalinya dalam saat keputusan penting kubuat (bdk. Yohanes 1:48).  Dia tepat mencintaiku karena hal itu dan bukan karena kemampuanku.  Aku tak perlu melakukan apa pun; Aku tak perlu melakukan sesuatu yang khusus atau luar biasa.  Aku harus hidup hanya di dalam rasa syukur terus-menerus karena dicintai  dan dibebaskan dari diriku sendiri.

 

Doa Penutup

Bunda Maria, hari ini aku datang kepadamu yang tak takut untuk menyatakan dirimu sebagai yang terkecil di mata Tuhan.  Engkau dicintai Tuhan karena hal itu dan bukan karena hal lainnya.  Engkau tahu bahwa pada saatnya, semua orang – seperti engkau – yang otentik, akan mengenalimu sebagai yang terberkati dan ingin agar engkau menjadi sahabat dan teman seperjalanan mereka.

Begitu juga dengan Santo Eugenius, di bawah kekuatannya tersembunyi hati yang kecil, hati seorang anak.  Hati yang pada saat ia berjumpa denganmu mampu melihatmu “tersenyum”.  Tanpa menyadari hal itu, ia membiarkan dirinya terinspirasi olehmu pada saat ia membentuk komunitas yang akan melanjutkan rencana belas kasih Puteramu di bawah perlindungan dan bimbinganmu. (Surat kepada Pastor Tempier, di Notre Dame du Laus, 15 Agustus 1822. EO I, 6, n. 86)

Bantulah aku untuk menjadi otentik, sungguh tulus, bersyukur, seperti para murid yang diutus untuk memberikan secara cuma-cuma yang telah mereka terima secara cuma-cuma, tidak ada lagi yang lainnya.

Jadikan dirimu dikenal lagi oleh banyak kaum muda yang mencari kebenaran, yang tidak mau menjadi munafik dan palsu, yang mencintai segala yang benar dan penting, seperti Eugenius.  Tersenyumlah pada mereka, Bunda Imakulata; Dorong mereka untuk bergabung bersama para Oblatmu, para misionarismu dalam duniamu – dunia yang dihuni oleh kaum kecil dan miskin.

 

Bunda Penebus sejati,

Bunda para pendosa,

Peganglah aku di pangkuan keibuanmu,

dengan kasih sayangmu,

 

(digunakan oleh Santo Eugenius di awal hari - dari buku J. Pielorz, The Spiritual Life of Bishop de Mazenod … , halaman 58-59)

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Novena Prayers for Oblate Vocations, 21-29 May 2017" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.