Novena Panggilan Oblat 21-29 Mei 2017 (02)

Artikel - Saat Merenung

NOVENA HARI KEEMPAT

LAPAR DAN HAUS AKAN KEADILAN – Melalui Pandangan Eugenius

 

Pengantar

Kharisma Oblat di atas segalanya adalah “pandangan cinta dan iman dalam dunia dan Gereja.” (lihat tulisan Pastor F. Jetté. Il missionario oblato di Maria Immacolata. Frascati 1989, hal. 32)  Seperti Yesus yang tergerak hatinya saat melihat orang banyak yang seperti domba tanpa gembala, begitu juga Eugenius tergerak hatinya melihat orang-orang di zamannya, dan secara kenabian juga berlaku di masa kita sekarang ini: begitu kesepian, begitu banyak menjadi mangsa yang didorong kepada ilusi dan kepalsuan, begitu rentan menyimpang.

Dalam mencinta, segalanya bermula dari sebuah tatapan.  Segalanya bermula dari pandangan yang menangkap sesuatu yang tidak dilihat orang lain, yang kemudian menuju ke pusat, menuju ke kedalaman.  Eugenius melihat dunia di sekelilingnya dan ia membiarkan dirinya ditantang oleh “kebutuhan akan penebusan” yang dilihatnya pada diri mereka yang ia temui. Sama seperti kebanyakan anak muda, ia tergerak hatinya lewat lapar dan haus akan keadilan yang dikehendaki Tuhan dan yang membuat dunia dan hidup menjadi indah, yang membuat kita menjadi putera dan saudara satu dengan lainnya, bukan sebagai perampas hak orang lain.

Eugenius tak tahan melihat pemerintah dan bahkan orang-orang Gereja mencari untung dengan merugikan kaum yang paling miskin.  Karenanya ia merasa tertantang saat ia melihat mereka yang terbuang, tersembunyi dari mata dunia, kaum miskin yang tidak menyadari martabatnya telah diinjak-injak, dan yang dibiarkan begitu saja oleh mereka yang seharusnya menjadi gembala kaum miskin.

Eugenius bukan saja lapar dan haus akan keadilan untuk sesamanya, tetapi mereka membuat Eugenius pertama-tama jujur pada dirinya sendiri dan tak dapat tunduk pada apa pun yang tidak dianggapnya benar atau “secara politis dikatakan benar” yang sering meracuni relasi manusia.

 

Doa Pembuka

Tuhan, curahkanlah padaku, pada kami, Roh KesucianMu, Roh Pembela, Roh Penghibur.  Utuslah RohMu yang datang di saat hati memohon padaNya dan memintaNya untuk kembali.

Utuslah RohMu di saat aku melihat di sekelilingku terjadi begitu banyak ketidak-adilan yang menang atas kaum miskin, kaum jujur, kaum yang tidak dibela.

Utuslah RohMu di saat aku melihat seseorang menyerang, menggunakan dan mengeksploitasi sesamanya.

Utuslah RohMu lagi; jangan biarkan aku tertidur, merasa puas akan ketenangan hidupku; beri aku untuk merasakan lebih lapar dan lebih haus akan keadilanMu yang penuh belas kasih.  Bantu aku untuk berjuang sehingga persaudaraan, hormat pada martahat setiap orang, berbagi dan ketidak-egoisan dapat pulih kembali dalam relasi-relasi kami dan di antara mereka yang padanya kami diutus.

Utuslah Roh SemangatMu sehingga aku lebih lagi menginginkan KerajaanMu datang, KehendakMu yang terjadi, dan aku dapat mengetahui bagaimana mengasihi musuh-musuhku, meredam  tanganku untuk membalas dendam, dan mengesampingkan kesombongan diriku yang untuk waktu lama mengharapkan sesamaku bangga padaku.

 

Sabda Tuhan

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. (Matius 6:33)

Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:20)

Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.  Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya, dalam perdamaian dengan Dia. (2 Petrus 3:13-14)

 

Dari Tulisan Santo Eugenius

Apa jadinya kalian, kaum miskin dan melarat, yang dipaksa meminta-minta karena ketidak-adilan manusia dan kemalangan takdir, untuk terus memohon bagi keberadaanmu yang menyedihkan, untuk secara sadar meminta roti yang kalian butuhkan demi menyambung hidup?  Setiap orang melihatmu sebagai sampah masyarakat, tak tahan untuk memandangmu terlalu lama sehingga mereka berpaling dan pergi darimu, agar mereka tidak terpaksa menjadi kasihan karena keadaanmu yang tidak ingin mereka bantu.... (Khotbah dalam Bahasa Provencal, di Gereja Magdeleine, taun 1813, EO,I,15, n. 114)

Seseorang mungkin berpikir bahwa Penyelenggaraan Ilahi telah memilih abad yang salah dengan membuatku lahir di zaman ini dengan watak dan – jika engkau berkenan – kualitas untuk melakukan hal-hal besar 200 tahun yang lalu.  Aku tidak dapat berdamai dengan kesalahan, dengan kebohongan, dengan kefasikan.  Aku ini seorang yang berkorban, tetapi keterbukaan dan kejujuran dari karakterku menahanku untuk berinteraksi dengan orang-orang yang tidak sungguh menginginkan kebaikan tetapi yang tunduk pada politik. (Surat kepada Pastor Tempier di Marseilles, 23 Agustus 1835, EOI.n.536)


Untuk Meditasi

Yang dilihat Eugenius adalah Gereja yang terlantar dan kemerosotan manusia lewat pandangan yang berfokus pada nilai dan kebaikan dari seseorang.  Pandangan demikian datang dari pengalaman akan belas kasih Tuhan yang telah mengubahnya dan yang memenuhi naluri keaslian budi luhur yang membuatnya begitu sensitif akan segala ketidak-adilan.

Sekarang, aku juga harus kembali kepada sumber yang sama dan membuka mataku, memasangnya di tempat orang-orang yang acuh tak acuh dan mencari lagi – seperti yang dilakukan Eugenius – Kerajaan Allah dan KeadilanNya dalam diriku dan di antara mereka yang tidak pernah berpikir mereka dapat menerimanya.

 

Doa Penutup

Hari ini aku datang langsung kepadamu, Santo Eugenius, dan aku mohon agar engkau menunjukkan lagi kepadaku bagaimana caranya memandang dunia dan orang banyak di dalamnya sama seperti yang telah engkau lakukan.  Jadilah pengantaraku sehingga aku mengikuti teladanmu dan menjadi orang yang memandang dunia lewat pandangan Yesus di kayu salib. (bdk. CCRR 4)

Supaya aku mengerti lebih dalam akan kehidupan orang-orang di sekitarku; supaya aku mengerti yang menjadi penderitaan mereka, dan khususnya panggilan hidup mereka masing-masing, sama seperti Kristus yang melihat mereka, yang mengurbankan diriNya bagi mereka lewat Darah MuliaNya.

Bantulah aku untuk menyadari segala bentuk ketidak-adilan yang menyingkirkan kaum miskin dan menghancurkan kaum yang lemah; bantu aku untuk mampu ikut menanggung beban yang dipikul oleh kaum miskin dan lemah yang tidak mempunyai sahabat di antara para penguasa, yang ada di luar permainan kekuasan dan martabat sosial, yang tidak mempunyai suara di tempat-tempat umum dan pusat perdagangan dunia.

Bantulah aku supaya aku juga berusaha untuk jujur dan adil; agar aku  tidak membiarkan dirku terhanyut dalam kompromi dan kebohongan.  Aku tahu bahwa hanya dengan demikianlah aku dapat lebih dekat lagi dengan mereka – yang seperti engkau juga – lapar dan haus akan keadilan Kerajaan Tuhan.

Bawalah aku ke jalan-jalan yang mereka huni; biarlah kami bertemu satu dengan yang lainnya lewat pandangan mata kami, saling mengenali, dan memohon agar Tuhan mengirim di antara kami rasul-rasul lainnya yang memiliki pandangan yang sama seperti pandanganmu.

Ya, Yesus yang dikandung oleh Santa Perawan Maria, hadir dan berdiamlah dalam diri hamba-hambaMu, dengan semangat kesucianMu, kepenuhan kuasaMu, keutamaan-keutamaanMu, kesempurnaan jalan-jalanMu, dan dalam persekutuan dengan misteriMu.  Berkuasalah atas kekuatan yang jahat dengan RohMu sendiri, demi kemuliaan Allah Bapa. Amin.

 

***** O * B * L * A * T *** M * A * R * I * A *** I * M * A * K * U * L * A * T * A *****

 

NOVENA HARI KELIMA:

SAHABAT KAUM MISKIN – Para Pelayan Belas Kasih

 

Pengantar

Dari sejak kecil, Eugenius telah menjadi sahabat orang miskin.  Ia sendiri yang mengatakan kepada kita bahwa ia mengasihi para pelayan yang bekerja di rumahnya seperti mereka adalah kerabat dan sahabat terkasihnya.  Dalam wasiat terakhirnya, Eugenius meminta agar pada saat pemakamannya, 2 orang miskin dari setiap paroki dalam Keuskupan menjadi bagian dari iring-iringan pemakamannya.  (bagian dari Wasiat Terakhis, EO, I, 15, n. 191)

Eugenius selalu ingin kaum miskin ada dekatnya.  Ia tahu bahwa lewat panggilannya, ia menjadi “pelayan dan imam bagi kaum miskin” dan hidup sebagai orang miskin.  Eugenius tahu Yesus sangat mengasihi kaum miskin dan prihatin atas begitu banyak bentuk kemiskinan yang ada di dunia ini, di antara penderitaan dan kesusahan manusia.

Keinginan Eugenius adalah sesuatu yang lebih dari sekedar melayani di antara kaum miskin.  Ia melihat mereka ada di tengah-tengah belas kasih Tuhan sehingga arah hidup Eugenius menjadi sama dengan Kristus yang berkata: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.” (Lukas 4:18)  dan “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan ...” (Matius 9:13) [lihat M. Bélanger, “Regina Congregationisnostrae I et II. Réflexions  sur notre vocation et notre esprit marial”. Études Oblates (1944), n. 2, pp. 128-129]

Eugenius secara khusus memandang kepada mereka yang diperhitungkannya sebagai jiwa-jiwa yang paling terlantar dari yang lainnya, yang tidak mempunyai seseorang untuk menolong mereka.  Eugenius memandang mereka sebagai bagian yang paling berharga dari Gereja.  Ia mendekat kepada kaum miskin dan pendosa dengan rasa hormat yang besar pada martabat mereka, layaknya seorang saudara laki-laki, seoran bapak, seorang teman.  Maka hasrat pada Oblat adalah ada di samping kaum miskin dengan beribu wajah mereka, memihak kepada mereka, dan – seperti Firman Tuhan katakan – membangun “tenda” mereka di antara kaum miskin. (bdk. Yohanes 1:14)

 

Doa Pembuka

Tuhan Yesus, di sinagoga Nazareth Engkau mewartakan rencana belas kasih Bapa dengan membawa Kabar Gembira Kerajaan Surga bagi kaum miskin.  Bantu aku untuk mengerti siapa itu kaum miskin – orang-orang yang kepadanya aku Engkau utus; Bantu aku untuk menemukan kaum miskin di antara mereka yang hidup berdekatan denganku.  Bantu aku  untuk mengerti bahwa aku juga sama seperti mereka, dan sekiranya aku menerima sesuatu, aku menerimanya sebagai rahmat yang harus kubagikan.

Beri aku hati  seorang miskin sehingga aku dapat menghargai semua dan setiap orang; beri aku hati yang berbelas kasih untuk menggerakanku masuk ke dalam begitu banyak penderitaan manusia dan mendesakku untuk mempersembahkan diriku demi menolong mereka, merawat mereka, menyembuhkan mereka, mengampuni mereka.  Aku mohon, campurkanlah aku ke dalam minyak urapan Roh Kesembuhan dariMu dan Anggur DarahMu yang tercurah bagi kami semua.

 

Sabda Tuhan

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mreka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.  Maka kataNya kepada murid-muridNya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:36-38)

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepadaNya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit.  Iapun meletakkan tanganNya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. (Lukas 4:40)

 

Dari Tulisan St. Eugenius

Mereka akan memiliki perasaan cinta kasih yang mendalam atas penderitaan kaum miskin, dan mereka akan bersukacita membantu segala kebutuhan para anggota tubuh Yesus Kristus yang menderita ini.  (Abrégé du règlement.de vie des Messieurs les congréganistes de la jeunesse chrétienne. EO I, 15, n. 135)

Kunjungan-kunjungan ini (ke keluarga-keluarga selama dalam misi) tidaklah menyenangkan, tetapi mereka sangat penting karena membawa para misionaris lebih dekat lagi dengan orang-orang yang mereka wartakan Kabar Baik.  Para misionaris menampilkan dirinya dengan segala kehangatan cinta kasih kepada semua orang. (Cit. in J. Leflon. Eugène de Mazenod… vol. II, Paris 1960, hal. 104)

 

Untuk Meditasi

Dalam konsep pertama Eugenius bagi komunitas Oblat-nya, ia melihat sahabat-sahabat mempersembahkan sebagian waktunya untuk karya misionaris dengan semangat yang luar biasa, dan sebagian waktunya lagi untuk menyiapkan diri mereka untuk menjadi “pelayan-pelayan belas kasih Tuhan bagi kemanusiaan.” (Surat kepada Pastor Nicolas Riccardi, di Marseilles, 17 Februari 1826, EO I, 7, n. 225)

Oleh karenanya, spontanitasku dan kemurahan dari hati manusiaku tidaklah mencukupi; Aku harus mempersiapkan diriku untuk berjumpa dengan kaum miskin dalam berbagai wajah yang Tuhan inginkan agar aku temui.  Aku sendiri harus bekerja keras untuk menjadi seorang pelayan, pembawa pesan belas kasih Tuhan bagi mereka.

Aku harus berhati-hati dengan caraku bertindak, membuat diriku lebih Kristiani, mengenakan perasaan-perasaan Tuhan pada diriku, membebaskan diriku dari segala pencarian kehormatan diri, kebanggaan diri, dan keinginan untuk disanjung.  Aku harus bersemangat miskin dan melepaskan hal-hal tak berguna yang memberatkan hidupku.  Semakin aku memandang Salib, semakin aku menemukan bahwa aku harus mengosongkan diriku untuk ada bersama Dia - sama seperti ibuNya, seperti murid-murid terkasihNya – ada dalam keheningan doa, dengan penuh hormat mendengarkan HatiNya yang hancur dan hati kaum miskin yang dikasihiNya.

 

Doa Penutup

Dari siapakah Tuhan Yesus belajar dekat dengan kaum miskin jika bukan daripadamu, Bunda Belas Kasih?  Aku mohon kepadamu, seturut dengan kata-kata terakhir Tuhan Yesus: “Ibu, lihatlah anakmu”, agar aku mampu menjadikanmu pribadi yang paling mesra di kedalaman manusiaku.  Bantu aku untuk belajar menemukan arti dari kata-kata Tuhan Yesus: “Yang Kukehendaki adalah belas kasihan.....” (Matius 9:13); bentuklah perasaanku dan buatlah aku menjadi seorang yang penuh belas kasih.  Jadilah ibuku dalam setiap peristiwa hidupku.

Temani aku masuk ke dalam rumah-rumah kaum miskin, ada di antara jiwa-jiwa yang terlantar, bersama mereka yang sedang dalam bahaya.  Ajar aku jalanmu, ya Bunda.  Bantu aku untuk memenangkan kaum miskin dengan kelembutan dan kekuatan Puteramu, sehingga aku dapat membuat kaum miskin merasa sungguh dicintai dan mampu membebaskan mereka dari daya tarik palsu yang ditebarkan oleh si jahat, membebaskan mereka dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan dari segala gejolak yang datang dari dalam diri mereka.

Jadikan aku sahabat bagi kaum miskin sama seperti yang engkau lakukan bagi Puteramu dan bagi Eugenius.  Bukakanlah lagi jalan bagi mereka yang ingin ada bersama kaum miskin.  Bawalah mereka kepada kami, untuk menjadi sahabat-sahabatmu dan para pelayan belas kasih Tuhan.

 

Datanglah, Bapa kaum miskin,

Datanglah Sang Pemberi Karunia,

Datanglah, Terang bagi banyak hati.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Novena Prayers for Oblate Vocations, 21-29 May 2017" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.