Novena Panggilan Oblat 21-29 Mei 2017 (03)

Artikel - Saat Merenung

NOVENA HARI KEENAM:

RENDAH HATI – Para Oblat Maria

 

 

Pengantar

Pengabdian yang saleh kepada Maria Imakulata memberikan ciri khusus kepada para Oblat yang membedakan mereka dalam kesederhanaan, kerendah-hatian, cinta akan pelayanan dan bersahaja.  Karena hal-hal inilah para Oblat dapat masuk secara perlahan-lahan ke dalam hidup sesamanya, memberikan perhatian pada kebutuhan tersembunyi mereka seperti yang terjadi pada peristiwa di Kana yang di Galilea (lihat Yohanes 2:3)  Karena hal-hal itulah para Oblat menjadi pecinta refleksi dan meditasi akan peristiwa-peristiwa hidup (lihat Lukas 2:19) sehingga para Oblat menjadi sama seperti Maria yang sezaman dan sepekerja dalam sejarah kudus Tuhan dan rencana belas kasihNya.  Kerendahan hati Maria adalah cita-cita ideal para Oblat sebagai “sepekerja dengan Sang Juruselamat”, yang selalu memilih mereka yang terkecil untuk karya-karya pelayananya.

 

Doa Pembuka

Tuhan, Engkau yang meminta agar kami belajar daripadaMu yang lemah lembut dan rendah hati, bantulah aku untuk hidup dalam semangat miskin yang Kau nyatakan sebagai terberkati. Untuk menjadi orang-orang yang mengerti bahwa mereka berasal dari dunia dan tanpa Engkau, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.  Kepada orang-orang demikianlah Engkau telah menjanjikan KerajaanMu.

Buatlah aku selalu ingat siapa aku ini dan dari mana aku berasal; buat aku selalu menyadari bahwa segala yang aku miliki dan diriku telah aku terima; bahwa aku ini tidak ada apa-apanya dibanding yang lainnya; bahwa aku berhutang segalanya kepadaMu dan bahwa aku harus membawa segalanya kembali kepadaMu.

Buatlah aku menjadi seperti pelayan-pelayan yang berbahagia karena telah melakukan apa yang harus mereka lakukan, tanpa menuntut, tanpa mengharap mendapat imbalan.  Jadikan aku manusia yang hidup berdampingan dengan sesamaku, tanpa hak istimewa, menjadi sangat sederhana dan lugu.  Hanya dengan demikianlah aku akan dapat memecahakn roti bagi dunia, seperti yang Engkau lakukan di antara para pekerja, para ibu rumah tangga, di tengah-tengah orang dari berbagai bangsa dan ras, bersama beragam kaum lemah, sapa seperti yang ingin dilakukan oleh Santo Eugenius sewaktu ia memilih untuk berkhotbah dalam Bahasa Provencal, bukan karena ingin menyombongkan diri, tetapi untuk menjangkau hati setiap orang.

Sabda Tuhan

Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.  Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKum karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Matius 11:28-29)

Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. (Lukas 17:10)

 

Dari Tulisan Santo Eugenius

Selalu ada di hatimu dan di bibirmu kata-kata indah dari Injil: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Matius 17:10) (...) Marilah kita menyembunyikan diri kita dari hadapan mata kita sendiri.  Berhati-hatilah.  Jangan meminta sesuatu pun dari orang banyak; kita tidak membutuhkan pujian, rasa kagum, bahkan uang mereka. (Surat kepada Mons. Dassy di Notre Dame de l’Osier, 27 Juli 1841, EO I, 9, n. 733)

Segala percayaku ada dalam Tuhan; maka semakin banyak alasan untuk menggunakan karunia-karuniaNya.  Oleh sebab itu, setiap orang harus menilik ke dalam dirinya dan tidak menerima pujian dari segala yang telah diterimanya.  Setiap kemuliaan harus kembali kepada sumbernya; hanya Tuhan yang patut dihormati dan dimuliakan. (Surat kepada Pastor Baret di Notre Dame de Clery, 22 Juni 1854. EO I, 11, n. 1213)

 

Untuk Meditasi

Aku tak perlu takut untuk secara hati-hati mengingat cerita kemanusiaan dan pribadiku karena justru di dalam cerita itulah identitas dan karya misiku ditemukan.  Aku harus mengenali batasan-batasanku karena di dalam batasan-batasanku itulah panggilan hidupku bersembunyi.

Di dalam arah inilah Yesus mengundangku untuk pergi saat Ia berkata: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu.”  Orang yang rendah hati adalah dia yang mengenali keagungan kebenaran Tuhan di dalam dirinya dan hidupnya.  Karunia diriku sendiri yang dapat kuberikan  karenanya adalah “tulus” (lihat Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, n. 24) dalam ukuran bahwa hal itu adalah sebuah pengakuan spontan, “ketaatan” dan kemudian “membungkuk” dan “bertekuk lutut” di hadapan kebenaran yang demikian.  Aku harus berdiam di dalam kebenaran Tuhan agar diriku dapat bertemu dengan orang lain, bukan dalam taraf kemunafikan yang palsu dan kenyamanan, tetapi dalam taraf belas kasih yang menyambut, merangkul, dan mengalahkan segalanya.

 

Doa Penutup

O, Maria, yang menyatakan dirimu sebagai hamba Tuhan dan yang tidak mengharapkan apa-apa dari Dia selain untuk mengerti sedikit lebih baik yang dikerjakanNya,

Yang menerima tugas untuk memberikan bagi dunia Seorang Putera yang datang dari Tuhan, tidak peduli akan malu dan penghakiman manusia,

Yang menerima Yosef sebagai suamimu, percaya akan kelurusannya,

Yang menerima untuk melahirkan di dalam perjalanan dalam kesulitan dan kesusahan, tanpa kerabat yang menyambutmu ke dalam rumah mereka, dan harus pergi dari Nazareth ke tempat asing,

Yang mengikuti Puteramu, menjadi muridNya, padahal engkau yang mengajariNya,

Yang pasti merasa ditolak dan diusir seperti yang lainnya,

Yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong Puteramu dari tangan orang banyak, dan yang tidak menolak Puteramu, tidak juga di saat Dia menjadikan engkau ibu kami semua.

Bantu aku untuk menerimamu ke dalam hidupku, untuk belajar darimu kelemah-lembutan dan kerendahan hati yang seperti Tuhan.  Beri aku kerendahan hati untuk menjadikanmu ibu segalanya, saudari segalanya, tanpa penghargaan, tanpa jabatan, tanpa tingkatan, hanya dengan persembahan diriku supaya aku hanya melakukan apa yang diminta kepadaku untuk dilakukan.  Berikanlah kepada kami saudara-saudara yang seperti demikian, yang datang dan datang lagi untuk  tinggal di dalam rumah kami.  Sama seperti rumahmu di Nazareth, biarlah kami bersama belajar di dalam rumah kami cara-cara dan rahasia sukacita berdoa, diam dalam hening, pelayanan dan berbagi.

 

O cahaya yang paling terberkati,

Datanglah dan masuklah ke kedalaman

hati yang paling dalam dari umatmu yang setia.

Tanpa kekuatanmu,

Kami adalah bukan apa-apa.

Kami adalah orang-orang yang bersalah.

 

***** O * B * L * A * T *** M * A * R * I * A *** I * M * A * K * U * L * A * T * A *****

 

NOVENA HARI KETUJUH

PERSAUDARAAN – Manusia Komunitas

 

Pengantar

Memohon pada Tuhan untuk mengirimkan lebih banyak lagi pekerja ke ladang tuaian dan ke dalam Kongregasi bukanlah satu-satunya yang perlu kita lakukan.  Tidaklah cukup untuk membangun sebuah rumah; engkau harus tinggal di dalam rumah itu dan menghidupinya dengan baik sehingga orang lain akan merasa senang untuk tinggal di dalam rumah itu juga.  Berdoa untuk memohon panggilan suci berarti juga menjaga agar siapa saja yang sudah masuk ke dalam keluarga kita, tidak akan pergi dengan kecewa.

Jika kita berdoa, kita juga harus berusaha untuk membangun yang kita mintakan dalam doa kita; kita juga harus bekerjasama dan tidak tertinggal dalam menyiapkan rumah bagi siapa saja yang akan datang.  Masalahnya adalah bekerja bukan saja sebagai tukang bangunan, tetapi juga sebagai petani, penanam pohon anggur, memelihara kebun anggur Tuhan, memelihara pohon anggur dengan tunas-tunasnya, sehingga mereka semua menyatu menjadi satu cabang.  Hal ini berarti bekerjasama untuk membentuk sebuah dunia dengan relasi yang baik, tempat kita dapat bertumbuh bersama dalam persaudaraan.  Hanya dengan demikianlah kita mampu mengundang orang lain datang ke pesta pengampunan dan persahabatan dan minum bersama anggur baru dari saling mengasihi.

 

Doa Pembuka

Ya, Tuhan, yang memberikan perintah kepada murid-muridMu untuk mengasihi satu dan yang lainnya sama seperti Engkau yang telah mengasihi mereka dan mengampuni sesama sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali, ajar aku cara-cara mencintai dan mengampuni; bukalah hatiku; biarkan aku menemukan waktu untuk ada bersama saudara-saudaraku, khususnya di saat aku melihat saudaraku sedang letih, putus asa, tergoda; di saat saudaraku menutup diri dalam kesombongannya, karena rasa malunya; di saat saudaraku tidak tahu bagaimana meminta tolong dan bersembunyi dalam apa pun yang membawanya menjauh dan semakin jauh dariku.

Ajar aku untuk memaafkan saudaraku, jika ia lebih dihormati daripada aku atau jika ia lebih memilih untuk ada bersama yang lain dan bukan aku.  Ajar aku untuk mengasihinya, untuk melihat segala yang indah dan baik yang telah Engkau taruh di dalam hatinya; ajar aku untuk menghargai dia dan mendukungnya, melindunginya dari segala kritik yang datang dari saudara-saudara lainnya.  Bantu aku untuk menjadi seorang teman, seorang saudara, seorang ibu yang penuh pengertian, dan seorang ayah yang membesarkan hatinya.

Dengan cara demikian, buatlah kami menjadi “keluarga yang paling bersatu di atas bumi ini”, seperti Eugenius melihat kami, sebagai sebuah keluarga misionaris dan pelayan belas kasih dari Sabda Kasih dan KebenaranMu.

 

Sabda Tuhan

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.  Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.  Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. (Yakobus 3:16-18)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22)

Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu, ia menyambutKu, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Markus 9:36-37)

 

Dari Tulisan St. Eugenius

Milikilah semangat yang sama, saling mendukunglah.  Bahkan di saat sesuatu tidak berjalan seperti yang engkau kehendaki, janganlah mencela.  Saling berkomunikasilah dengan baik, tanpa menjadi berargumentasi dan pahit.  Ucapan pemikiranmu memang penting, tetapi jika tidak diterima, berlakulah tenang dan jangan lari dari ketaatan.  Bukan sikap pilih kasih atau cepat marah, tetapi keterbukaan, kejujuran, kesederhanaan, kebaikan dan khususnya cinta kasih.  “Biarlah semua yang kau lakukan adalah berdasarkan cinta kasih.” (Surat kepada Pastor Honora di Paris, 9 Oktober 1841. EO I, 9, n. 9)

Hal yang melebihi cinta kebapakan dari pemimpin untuk anggota keluarga dan kepatuhan dari anggota terhadap pemimpin yang membentuk ikatan yang berasal dari hati, yang membentuk di antara kita ikatan keluarga seperti seorang bapak kepada puteranya dan seorang putera kepada bapaknya.  Hal yang demikian ini belum pernah aku temui di mana pun (...)  Dan aku katakan bahwa perasaan - yang aku kenali berasal dari Dia yang adalah Sumber Cinta - telah membangkitkan di dalam hati anak-anakku kasih timbal-balik yang merupakan karakteristik dari keluarga yang kita cintai ini.  (Surat kepada Pastor Mouchette di Montolivet, 2 Desember 1854. EO I, 11, n. 1256)

 

Untuk Meditasi

Sebelum menjadi seorang bapak, kita semua ini adalah saudara.  Persaudaraan adalah ikatan yang aneh.  Kita dapat menjadi putera-putera dari bapak dan ibu yang sama, tetapi kita sungguh berbeda satu dengan yang lainnya.  Terkadang beda pendapat, kecemburuan, dominasi yang satu terhadap yang lainnya tampaknya tidak terelakkan.  Yesus memulai cara persaudaraan yang berbeda: kita adalah putera-putera dari Bapa yang sama dengan tidak ada ikatan selain dilahirkan bukan karena kehendak manusia, tetapi karena kehendak Tuhan. (Lihat Yohanes 1: 12 dst)

Ada bersama di dalam sebuah komunitas serasa seperti kita dipanggil untuk mengangkat kembali pengalaman-pengalaman yang kita hidupi di dalam keluarga kita dan membiarkan pengalaman-pengalaman itu disembuhkan, dituntaskan, dipengaruhi oleh ikatan persaudaraan yang baru.  Dengan demikianlah kita menjadi bapak spiritual: kita perlu untuk pertama-tama menyembuhkan ikatan persaudaraan dengan menjadi putera-putera Allah dan kemudian bertumbuh, menjadi penuh belas kasih seperti Bapa, seperti yang dihidupi Yesus dan seperti yang Ia nyatakan kepada kita dalam banyak pengajaran yang diberikan kepada para muridNya.

Aku harus kembali membaca pengalaman-pengalamanku itu; aku harus mengerti bahwa adalah penting untuk menjadi waspada dan berkarya supaya aku tidak menjadikan komunitasku hanya sebagai sebuah tempat untukku beristirahat dan makan serta melewati hari-hari dalam ketidak-pedulian; menjadikan komunitasku sebagai tempat tinggal sementaraku di saat hidupku yang sesungguhnya ada di lain tempat.  Aku perlu menjadikan komunitasku sebagai kediamanku, sebagai keluarga saudara-saudara, seperti yang Eugenius inginkan.

 

Doa Penutup

Ajar kami, ya, Tuhan, untuk menjadi saudara di antara kami seperti yang Engkau ajarkan kepada para muridMu dan seperti yang Santo Eugenius inginkan.  Bantu aku, pertama-tama, untuk masuk ke dalam komunitasku dan hidup di dalamnya secara penuh.  Bantu aku sehingga perhatianku tidak banyak terfokus untuk melihat siapa yang terbesar, siapa yang terbaik, seturut pendapatku sendiri, melainkan seperti si anak kecil yang ditempatkan di tengah-tengah para rasul.  Bantu aku untuk menyambut yang blain, memeluk kemanusiannya, kelemahannya, tanpa kepura-puraan.  Sembuhkan aku dari kebutuhanku menaruh diriku sebagai pusat.  Bantu aku untuk siap melayani bagi persaudaraan, membuat persaudaraan itu bertumbuh, menjadi matang dan lebih mendalam.  Kirimkanlah bagi kami, Tuhan, orang-orang yang pertama-tama dapat menjadi satu saudara, sahabat-sahabat yang tulus dan setia, teman seperjalanan kami dalam mengikuti Engkau yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan memberikan hidupMu.

 

Tuhan, Engkau adalah Kasih.

Berikanlah kepada kami putera-puteraMu,

Yang dikumpulkan di dalam namaMu,

Dan diberimakan dengan RotiMu,

Untuk mengasihi satu dan yang lainnya seperti Engkau telah mengasihi kami,

Sehingga kehadiran Kristus yang hidup di tengah-tengah kami

Akan membawa damai dan sukacita ke dalam hati kami,

Dan bagi semua orang, buah-buah penebusan.

(Dari “The Oblate Prayer”)

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Novena Prayers for Oblate Vocations, 21-29 May 2017" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.