Novena Panggilan Oblat 21-29 Mei 2017 (4 - selesai)

Artikel - Saat Merenung

NOVENA HARI KEDELAPAN

KETEKUNAN – Mempersembahkan Diri bagi Karya Misi

 

Pengantar

Ketika Yesus meminta kita untuk berdoa agar Bapa mengirimkan para pekerja ke ladang tuaianNya, Yesus mendesak agar orang-orang ini harus terinspirasi olehNya dan “keluar dari diri mereka”.  Pergi, diutus untuk karya misi oleh karenanya datang dari inspirasi kuat dari keluar dari diri sendiri sehingga dapat pergi ke mana pun juga.  Inspirasi ini adalah semangat misionaris yang menyala-nyala yang datang dari hati yang mencinta secara mendalam, hati yang didiami oleh Roh Kudus, yang mengarahkan para misionaris untuk meninggalkan keluarga mereka, tanah air mereka, kebiasaan dan budaya mereka, untuk pergi ke tempat-tempat lain yang membutuhkan pewartaan Kerajaan Allah.

Semangat menyala-nyala diungkapkan dalam persembahan diri, keprihatinan, keterikatan yang setia, tidak mencari kepentingan diri, dan setia melayani mereka di tanah perutusannya.   Semangat menyala-nyala menunjukkan perhatian kepada orang-orang di tanah perutusan dan keinginan – ciri khas dari kita, para Oblat – untuk datang kepada mereka khususnya yang kesepian, terbuang, terlantar, tanpa seorang pun memberi perhatian.  Bagi kita, para Oblat, semangat menyala-nyala yang demikian berarkar dari keoblatan kita, dalam persembahan diri kita yang tulus dan terpatri khususnya dalam cinta kasih persaudaraan (lihat CCRR 22 dan 37), kesetiaan pada Wasiat Santo Eugenius.

Komunitas kita adalah tempat pertama kita mendorong diri untuk keluar dari diri supaya pergi kepada yang lainnya.  Karya misi kita datang dari hati yang tersembunyi dari komunitas sebagai hasil kerja dari Roh Kudus dalam setiap pribadi dan dalam relasi persaudaraan mereka.

 

Doa Pembuka

Tuhan Yesus, Engkau memanggilku untuk bergabung ke dalam karya misiMu; beri aku kekuatan RohMu yang mengutusku ke luar dari diriku, melampaui diriku, dalam gerakan yang terus memberikan karunia bagiku.  Dukunglah aku di saat aku letih; buatlah aku selalu bergerak bahkan di saat aku perlu untuk berhenti.  Tolong aku untuk mengubah setiap masa istirahatku menjadi kesempatan untuk kembali ke komunitasku, seakan seperti Nazareth kecil, tempat aku dapat menjadi lebih menyerupai Engkau dalam berdoa, belajar, hening, ada bersama saudara-saudaraku dan bersatu dengan mereka dalam cinta kasih.

Beri aku hati yang mendengarkan hembusan lembut dan misterius dari Roh KudusMu (bdk. 1 Raja-Raja 19:12) yang memperlihatkan kepadaku cara untuk terus melangkah maju; bantu aku untuk melihat di sana panggilan yang datang dari bagian Gereja yang – seperti pengantin yang diterlantarkan – pada masa kini tetap berkata kepada kami, para Oblat: “Datanglah!” (bdk. Wahyu 22:17)

 

Sabda Tuhan

Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami teltah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.  Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitan untuk mereka.  sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia.  Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekaran gkami tidak lagi menilaiNya demikian.  Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.  Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakanpelayanan pendamaian itu kepada kami.  Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.  ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. (2 Korintus 4:14-19)

Dari Tulisan Santo Eugenius

Yang ingin menjadi anggota kita harus mempunyai hasrat yang menyala-nyala untuk menjadi sempurna, harus mempunyai cinta kasih yang berapi-api kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan GerejaNya, mempunyai semangat yang berkobar-kobar akan keselamatan jiwa-jiwa. (CCRR 1853)

 

Untuk Meditasi

Semangat menyala-nyala adalah jawaban dari keseluruhan pribadi kita yang datang dari semangat keoblatan dan yang menjadi jawaban kreatif dan aktif dari inspirasi batin yang membawa seseorang untuk bermisi.  Pada waktu Tuhan kita untuk pertama kalinya mengutus para rasul untuk bermisi, Dia mengutus mereka kepada domba-domba Israel yang hilang; lalu, dengan karunia Roh Kudus, Dia mengutus mereka ke setiap mahluk di seluruh dunia.  Begitu juga yang terjadi dengan Santo Eugenius yang di dalam Aturan Hidup pertama menulis bahwa jika pada saat itu dirasa perlu untuk membatasi cakupan semangat misi kita kepada kaum miskin di desa-desa,  maka hasrat para misionaris haruslah “memeluk, dengan hasrat yang kudus, seluruh permukaan bumi yang luas.”

Aku harus kembali berdoa supaya mampu mendengarkan Roh Kudus yang memberi semangat dan mengajakku, untuk membiarkan diriku beranjak dari sana dan dengan sayapNya, menjangkau dunia-dunia nun jauh, di luar diriku, yang melampaui cakrawalaku.  Aku sendiri harus bertanya bagaimana aku dapat memelihara keinginan-keinginanku, apakah aku  memelihara keinginan-keinginanku itu dengan apa yang datang dari Roh Kudus.  Aku harus ingat bahwa semangat menyala-nyalaku membutuhkan kecintaan mendalam akan hal-hal spiritual dan cinta kasih persaudaraan; semangat menyala-nyalaku membutuhkan oblatio yang otentik dan mendalam dari diriku.

 

Doa Penutup

Tuhan, aku percayakan kepadaMu para saudaraku yang sedang bermisi, yang paling kesepian, yang paling lelah, mereka yang merasa dibiarkan sendirian menghadapi lautan luas kebutuhan dan kesukaran.  Aku mempercayakan kepdaMu mereka yang mempertaruhkan hidupnya, sedang sakit tetapi terus lanjut mempersembahkan dirinya bagi mereka yang kepadanya ia diutus, dengan ketaatan, dengan perhatian, dengan cinta kasih, seperti mereka adalah keluarganya sendiri, anak-anaknya.  Aku mempercayakan mereka kepadaMu karena mereka telah meninggalkan tanah air mereka, keluarga mereka, untuk pergi ke negara-negara yang seringnya tidak menerima mereka atau tanpa prasarana.

Aku juga mempercayakan kepadaMu komunitasku; Buatlah komunitasku menjadi lebih misioner, lebih berkobar dengan hasrat untuk pergi kepada mereka yang sedang menunggu, tanpa mengetahui dengan pasti, kedatanganMu.  Engkau mengutus para rasul berdua-dua untuk pertama kalinya, maka ingatkanlah kami untuk tidak pergi sendirian.  Jangan biarkan kami membodohi diri kami sendiri dengan memikul sendiri perjuangan dan misi kami tanpa keikutsertaan yang lainnya.  Ingatkan kami bahwa kami membutuhkan satu sama lainnya dan bahwa dunia tidak membutuhkan kami, tetapi Engkau.  Engkau memilih untuk tinggal di Nazareth bersama keluargaMu  dan yang pada saat waktunya tiba untuk bermisi, Engkau tidak melakukannya sendiri.  Engkau memanggil dari awal mulanya para rasulMu untuk bersama dengan Engkau membuat perahu untuk pergi bersama-sama ke dalam dunia: GerejaMu.

Tuhan, bantu aku,

Hanya Engkau yang dapat memberi kekuatan bagi jiwaku;

Hanya engkau yang dapat memperbaharui di kedalamanku

Api kudus dari kasihMu yang pertama-tama harus mengobarkan hatiku,

Dan disebarkan lewat karya pelayananku,

Kepada jiwa-jiwa yang telah Engkau percayakan kepadaku.

(St. Eugenius de Mazenod)

 

NOVENA HARI KESEMBILAN

KEBERANIAN - “Leaving nothing undared” – tidak ada yang ditakuti sama sekali

 

Pengantar

Para Oblat tidak mengecualikan satu usaha pun untuk menggugah atau membangkitkan kembali iman dan membukakan siapa Kristus itu (bdk. CCRR # 07).  Dalam Aturan Hidup tahun 1825, Santo Eugenius menekankan komitmen personal ini dengan kata-kata: “Nihil linquendum inausum” – “Leaving nothing undared” – (secara harafiah, dalam Bahasa Indonesia berarti “untuk tidak meninggalkan sesuatu tanpa alasan” – Red).  Hal demikian berarti berpikir tentang semuanya, untuk mencoba dan mencoba lagi, untuk menemukan dan kembali menemukan cara/jalan, metode, yang diadaptasikan kepada orang-orang, tempat, budaya atau kebiasaan di tempat seorang Oblat diutus.  Hal demikian juga berarti tidak menyerah atas kesulitan-kesulitan awal yang dihadapi dan untuk memandang dengan berani bahaya-bahaya dan segala kesulitan yang ditemui oleh seorang Oblat.

Untuk dapat menjadi demikian, adalah penting bagi seorang Oblat untuk kuat percaya bahwa ia telah diutus oleh Yesus; untuk yakin bahwa karena kehendak Tuhan-lah seorang Oblat melakukan yang telah dilakukan, dan karenanya, hasrat manusiawi hanya mempunyai peran kecil di dalamnya.  Hanya karena cinta kasih dan kemantapan batin yang besar yang dapat memberikan hidup kepada keputusan yang demikian.  Bukan hanya sekedar keinginan untuk berpetualang atau kekerasan hati untuk berhasil dalam karya.  Hanya di atas kepastian demikianlah, berdiri di atas Sabda Tuhan, keberanian bermisi ditemukan.

 

Doa Pembuka

Ya, rasul Tuhan, Santo Eugenius, begitu banyak orang kudus dikasihiNya.  Engkau yang telah membuka banyak jalan untuk mewartakan Kerajaan Allah di zamanmu, jadilah perantaraku, perantara kami, sehingga kami dapat mengikuti jejak langkahmu.  Sekarang, dengan keberanian yang kami perlukan, bukalah cara-cara baru untuk menjangkau orang banyak di zaman kami, di tempat mana pun Tuhan ingin mengirim kami.

Lewat teladanmu, bantu aku untuk percaya pada SabdaNya, untuk selalu mempunyai rencana akan segala yang baik yang ingin kulakukan bagi orang-orang di tempatku berkarya;  menjadi sungguh berani, kuat, tidak takut akan apa pun juga, percaya bahwa Tuhan sendiri yang lewat penyelenggaraanNya membuatku menemukan mereka yang akan membantu dan menuntunku untuk menyiapkan tempat pertemuan denganNya, terlebih pada masa sekarang ini, bersama kaum miskin di dunia, mereka yang lapar akan Roti KasihNya.

 

Sabda Tuhan

Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kataNya: “Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”  Kata mereka kepadaNya: “Di manakah engkau kehendaki kami mempersiapkannya?”  JawabNya: “Apabila kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air.  Ikutilah dia ke dalam rumah yang dimasukinya, dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: di manakah ruangan tempat Aku bersama-sama dengan murid-muridKu akan makan Paskah?” (Lukas 22:8-11)

Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.  Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. (2 Korintus 11:26-28)

 

Dari Tulisan Santo Eugenius

Aku telah katakan kepadamu (...) bahwa engkau harus mempersiapkan cara-cara jika ingin berhasil.  Menempatkan diriku pada perkataan St. Ignatius bahwa dalam segalanya, engkau harus menaruh percaya di dalam Tuhan serasa seperti tidak ada yang dapat dilakukan oleh manusia.  Lalu, bergeraklah dengan hati-hati dengan menggunakan segala sarana manusia serasa seperti Tuhan tidak ingin ikut campur. (Surat kepada Pastor Tempier di Roma, 18 Juni 1832. EO I, 9, n. 425)

Jangan pernah engkau mundur dari karyamu, jangan pernah ditakut-takuti.  Tuhan Yang Maha Baik ada bersama kita untuk menginspirasi kita dan Bunda kita yang baik akan menolong kita.  Bencilah gosip dan fitnah yang menghancurkan segalanya dan engkau tidak dapat berbuat apa-apa (...) Jika engkau dapat berkata engkau menuruti ketaatan, melakukan segala yang diminta kepadamu untuk dilakukan, maka engkau kuat dan pastinya engkau sangat tenang dan sangat kokoh!  (Surat kepada Pastor Arnou di Inggris, 24 Januari 1852. EO I, 3, n. 53)

 

Untuk Meditasi

Aku merenungkan betapa sering aku menyerah pada ketidak-acuhan dunia.  Aku katakan pada diriku bahwa orang-orang memiliki sedikit waktu; kaum muda punya minatnya sendiri-sendiri; mereka telah kehilangan nilai-nilai kekudusan; masalah-masalah dalam masyarakat membuat orang-orang menjadi terlalu sulit untuk memikirkan tentang iman.  Maka aku berhenti dan pulang ke rumah, terpukul dan menjadi sinis. Tetapi bersama Tuhan, segalanya menjadi mungkin lagi.  Tuhan masih berbicara kepada orang-orang zaman ini;  KehadiranNya tidak lebih sedikit dibanding sebelum-sebelumnya.

Kita harus membawa kepadaNya segala situasi dan kondisi yang baru.  Dalam situasi dan kondisi yang demikianlah kita hidup dan memandangnya dengan mata Roh Kudus, dengan pandangan Eugenius, dan berani mengambil pilihan-pilihan baru.  Kita harus lebih banyak lagi berkumpul untuk berdoa, untuk percaya, untuk berharap, untuk membuat rencana.  Tuhan masih dapat membuat mata air dari batu cadas, menganjurkan kata-kata yang tepat, membuka jalan, menemukan seseorang yang telah dipilihNya.  Jadi, mengapa takut?

Aku perlu untuk mempelajari hidup seorang Santo Eugenius dan para Oblat yang mengikutinya.  Seperti anjuran Santo Eugenius dan banyak orang kudus yang masih dapat menunjukkan kepadaku cara untuk bertindak, cara untuk menjadi seorang rasul zaman sekarang.

 

Doa Penutup

Ya, Maria, pada hari terakhir Novena Panggilan Oblat ini, kami semua memandangmu untuk mohon pertolonganmu bagi datangnya para rasul baru ke dalam keluarga kami.  Dengan caramu, engkau  menunjukkan keberanian dan ketidak-takutanmu: segera setelah engkau mendengar kabar tentang saudarimu dari malaikat, engkau cepat-cepat pergi tanpa memikirkan segala bahaya dan ketidak-nyamanan.

Engkau meyakini Sabda yang telah engkau dengar dan percaya.  Di dalam Puteramu yang baru saja kau kandung, yang hadir di dalam rahimmu, engkau siap membuat suaraNya terdengar melalui engkau (Lukas 1:44); engkau siap untuk membawa sukacita bagi dunia, kegembiraan bagi kaum miskin yang – di dalam engkau dan di dalam Dia – melihat permulaan dari penantian yang lama akan penebusan mereka.  Mereka juga menemukan kekuatan dan keyakinan dalam merenungkan belas kasih Tuhan yang terus ada dari generasi ke generasi.

Beri aku dan setiap dari kami keberanian yang demikian ini, ketidak-takutanmu; buatlah kami menjadi misionarismu, para Oblatmu, dan berdoalah bagi kami agar yang lainnya akan segera bergabung bersama kami untuk bersamamu mewartakan keagungan Tuhan yang melakukan hal-hal besar bagi mereka yang mengasihiNya dan melayaniNya dengan setulus hati.

 

Ya, junjungan dan ibuku, Maria,

Aku mempercayakan jiwa dan hatiku,

Kepada perlindungan dan belas kasihmu,

Sekarang dan pada saat ajalku.

Aku mempercayakan setiap harapan dan penghiburanku,

Setiap penderitaan dan kesulitan besarku,

Dan seluruh hidupku hingga akhir hayatku,

Sehingga lewat perantaraan dan pertolonganmu,

Segala yang kubuat dapat diarahkan dan dilakukan,

Sesuai dengan kehendakmu dan kehendak Puteramu.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Novena Prayers for Oblate Vocations, 21-29 May 2017" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.