Panggilan Apostolik di Era Digital

Artikel - Saat Merenung

Hi my name’s Pras, 22-M-Yogyakarta and you? ASL Please?

Hi my name’s Jesus, 33-M-Nazareth.

Pernahkah Anda melihat format text message/chat seperti ini? Format percakapan dunia maya ini diawali dengan memperkenalkan diri, lalu memberi informasi dengan urutan ASL- yang kepanjangannya adalah “Age-Sex-Location” (Umur-Jenis Kelamin-Lokasi Tempat Tinggal – Red). Ini adalah format text message yang umum digunakan ketika seseorang ingin berkenalan dengan orang-orang baru di jalur lintas negara.

Coba bayangkan ketika di kolom chat media sosial kita ada sebuah pesan masuk yang berbunyi:  “Hi my name’s Jesus, 33-M-Nazareth, and you? ASL please…” bukankah kita akan tersentak dan kaget? Akankah kita menjawab pesan tersebut? Mengingat banyak sekali Hoax tersebar di media sosial, tentu kita akan membiarkan pesan itu berlalu begitu saja, tidak membalasnya.  Mungkin kita berpikir bahwa itu hasil perbuatan orang iseng dan jahil saja yang sedang mencari sensasi.

Namun saya membayangkan bahwa mungkin saja, suatu saat hal semacam ini secara ajaib akan terjadi.  Zaman ini sudah masuk era digital, orang-orang sudah sangat akrab dengan media sosial khususnya yang ada di gadget. Dunia maya telah merasuki dunia nyata dengan aneka informasi dan dinamikanya.

Tidak di Jakarta, tidak juga di Yogyakarta, saya melihat Pastor-Pastor Paroki menggunakan semacam Tablet Elektronik untuk dipakai selama Perayaan Ekaristi (entah untuk melihat TPE, atau membaca Injil). Lihat, bukankah akhirnya gadget sudah amat dekat dengan lingkungan Gereja?  Gadget dan segala aplikasinya sudah masuk ke dalam kehidupan Gereja, bahkan sudah masuk ke dalam Liturgi Gereja,  luar biasa!   Ketika saya dan beberapa konfrater ikut Misa Lingkungan, Lektor dan Pastor membaca bacaan menggunakan gadget mereka masing-masing.  Praktis memang, tapi rasanya kok….. hmmmm…….

 

Apakah Allah Mewahyukan Diri-Nya dalam Gadget dan Teknologi Manusia?

Teologi Katolik jelas sekali meyakini serta mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi diperlihatkan-Nya dengan perantaraan para Nabi (Kitab Suci PL) hingga akhirnya melalui Yesus Kristus - Allah yang menjadi manusia (Ibr. 1:1-2; bdk. Konsili Vatikan II Dei Verbum Art 4, Par 1). Yesus sebagai Allah yang hadir di tengah manusia bersabda dan mengatakan kepada manusia bagaimana hidup dalam Allah. Setelah karya keselamatan-Nya dalam misteri S-W-B (Sengsara-Wafat-Bangkit), pewahyuan diteruskan kepada para rasul yang hidup sezaman dengan-Nya, dan kini kita bisa mengenal pewahyuan-pewahyuan karena pewahyuan yang sudah dipenuhi dalam diri Yesus Kristus telah dituliskan dan diwariskan secara turun-temurun dalam Kitab Suci Deuterokanonika.

Sekarang ini, Kitab Suci pun sudah hadir dalam bentuk digital. Yang penting untuk diperhatikan dalam menanggapi fenomena ini adalah disposisi batin kita sebagai orang yang diberi Wahyu Ilahi. Wahyu merupakan inisiatif Allah untuk mengungkapkan kehendak-Nya atas diri kita (bdk. Konsili Vatikan II Dei Verbum Art 2, Par 1), tetapi inisiatif Allah itu masih merupakan tawaran.  Kita diberi tawaran inisiatif Allah yaitu pewahyuan-Nya, tetapi kita perlu menanggapinya pula yaitu dengan iman kita. Agar tawaran inisiatif Allah itu menjadi nyata dalam diri kita,  maka kita mempersembahkan seluruh keyakinan iman kita, harapan hidup kita, hanya pada Dia yang sedang mewahyukan Diri-Nya kepada kita (bdk. Konsili Vatikan II Dei Verbum Art 5).  Maka dari itu perlu kepenuhan dan totalitas perhatian dan segenap diri kita untuk bisa menerima pewahyuan itu. Perhatian yang terbagi dan hati yang tidak terarah pada-Nya tidak akan mengantar kita kepada isi pewahyuan itu.

Penting bagi kita menyadari konsep Wahyu-Iman dalam Teologi Katolik seperti secara ringkas saya jelaskan pada alinea sebelumnya.  Mengapa? Karena dari situlah kita bisa mengambil sikap atas gadget dan media elektronik lainnya sebagai salah satu sarana pewahyuan diri Allah. Jika kita diminta iman yang penuh dan terarah serta total untuk dapat menerima Wahyu Ilahi, maka masing-masing dari kita bisa merefleksikan sendiri:  “apakah gadget sungguh-sungguh membantu mengarahkan hati dan segenap diri saya untuk menerima pewahyuan?” Kita semua tahu bahwa dalam gadget mungkin ada aplikasi E-Katolik dan sejenisnya, tetapi selain itu ada juga aplikasi lainnya yang sifatnya profan dan tidak sedikit yang punya sistem auto-update.  Akan ada banyak gangguan dan godaan ketika membaca isi Kitab Suci melalui gadget.  Katakanlah baru membaca satu ayat, tiba-tiba sudah ada pesan masuk dari aplikasi komunikasi lewat media sosial.  Jika kita bisa mengatasi dan mengontrol hal itu, maka tidak menjadi masalah.

Jika segala gangguan dan godaan itu telah bisa diatasi, dan kita bisa sungguh-sungguh mengarahkan diri hanya pada Dia yang sedang mewahyukan diri-Nya dalam teks-teks Kitab Suci yang kita baca, maka bisa dikatakan pula bahwa gadget menjadi salah satu sarana Allah mewahyukan diri-Nya karena kini Kitab Suci dapat dibaca pula melalui gadget. Perlu mendapat perhatian, Dr. Emmanuel. P.D Martasudjita, Pr - seorang imam dan ahli liturgi mengungkapkan bahwa tetap lebih baik bila kita menggunakan buku Kitab Suci manual, karena itu juga melambangkan kita yang ingin meninggalkan kesibukkan duniawi kita, memberi waktu untuk Tuhan, mengambil Kitab Suci, membacanya, dan menerima inspirasi dan Pewahyuan dari-Nya melalui teks-teks Kitab Suci tersebut. Maka pilihan untuk membaca Kitab Suci dari buku Kitab Suci (bukan dari gadget) tetaplah menjadi prioritas utama yang harus diusahakan setiap kaum beriman.


Panggilan Apostolik

Selain menggunakan gadget sebagai salah satu sarana pewahyuan Ilahi, kita mendapat panggilan untuk juga meneruskan pewahyuan Ilahi tersebut.  Pewahyuan Ilahi Allah memang mendapat kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, namun pewahyuan itu diwariskan secara turun-temurun inter-generasi dalam tradisi yang amat panjang hingga hari ini.Wahyu Ilahi dari Allah diteruskan pertama-tama kepada para Rasul kemudian kepada para penggantinya (Para Uskup) yang kita tahu mempunyai kuasa mengajar (Magisterium) di dalam Gereja (bdk. Konsili Vatikan II Dei Verbum Art 7).

Namun tugas pewartaan itu tidak hanya ada di pundak para Uskup, sebab pada dasarnya Yesus juga mengutus kita, “dan, apa yang Kubisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” (Mat 10: 27b).   Apabila kita menerima bisikkan dari Wahyu Ilahi, kita wajib untuk mewartakannya bukan dengan ragu dan malu, tetapi Yesus bersabda “Di atas Atap Rumah”.  Setelah kita menerima Wahyu Ilahi, Yesus menghendaki kita untuk menjadi pewarta juga.

Untuk itu Gereja menyambut baik kehadiran teknologi-teknologi yang dibuat manusia sebagai salah satu hasil kecerdasan ciptaan Allah.  Gereja menghargai usaha-usaha itu terlebih karena mampu menggerakkan banyak orang.  Tentu saja Gereja menghargai semua usaha itu yang sifat dan arahnya positif (bdk. Konsili Vatikan II Inter Mirifica Art 1). Orang Katolik tidak dilarang menggunakan aneka teknologi yang ada karena perkembangan media sosial.  Semua anggota Gereja berhak untuk menggunakannya sejauh berguna bagi pendidikan Kristiani dan seluruh karyanya demi keselamatan manusia.  Kita diundang untuk menggunakan teknologi-teknologi yang ada, demi pewartaan karya keselamatan Allah bagi dunia.  Kita diundang untuk menggunakan teknologi sebagai salah satu sarana pewartaan kita (bdk. Konsili Vatikan II Inter Mirifica Art 3).

Topik ini mungkin bukanlah suatu topik yang baru dan memang sering dikumandangkan oleh Gereja agar semua umat beriman menggunakan teknologi-teknologi yang ada untuk mewartakan Kristus di seluruh dunia. Jangkauannya yang melebihi batas-batas negara memampukan pewartaan berlangsung cepat dan efektif.  Tahta Suci pun telah melaksanakan panggilan apostolik di era digital dengan merasul melalui akun-akun media sosial yang ada.

Minggu Paskah Ketujuh di setiap tahunnya dicanangkan sebagai Hari Komunikasi Sosial.  Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial guna memantapkan macam-macam upaya komunikasi sosial.   Pada hari inilah seluruh umat beriman diajak untuk memanjatkan doa bagi kerasulan dalam komunikasi-komunikasi sosial yang semakin efektif dan juga kita semua diajak untuk menyadari kewajiban-kewajiban kita di bidang komunikasi sosial, yaitu menjadi rasul yang menjalankan panggilan apostolik di era digital ini (bdk. Konsili Vatikan II Inter Mirifica Art 18).   Kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing: sudahkah kita melaksanakan panggilan apostolik itu dengan teknologi-teknologi yang ada di dekat kita? Sudahkah kita mewartakan nilai-nilai Kristiani dan mewartakan Kabar Gembira melalui teknologi-teknologi di dekat kita dan juga melalui aneka media komunikasi sosial?  Mari kita bersama-sama memenuhi dunia maya dengan keselamatan yang nyata.  Mari kita pendam dan kubur dalam-dalam aneka konten Hoax dengan pewartaan cinta kasih dan kebenaran.  Mari kita bersama-sama wujudkan era digital yang manusiawi dan bernuansa positif.  Mari penuhi dunia maya dengan cinta kasih dan mengkonkritkan itu dalam dunia nyata.

(Penulis: Frater Henrikus Prasojo, OMI, Skolastik, Seminari Tinggi OMI "Wisma de Mazenod", Sleman, Yogyakarta)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.