Menikmati Perjamuan Ekaristi

Artikel - Saat Merenung

Pada waktu kecil dulu, setiap kali akan pergi rekreasi atau  piknik, Ibu saya selalu sibuk sejak sehari sebelumnya. Dia selalu menyiapkan berbagai bekal untuk perjalanan besok. Yang paling sering dibuat adalah lontong nasi. Kalau Ibu membikin lontong nasi saya selalu minta diisi dengan tahu, tempe dan abon. Rasanya, lontong bikinan ibu paling enak, gurih dan membuat saya kenyang. Saya merasa aman, tidak takut kelaparan dan cukup irit karena tidak perlu jajan nasi lagi. Uang saku bisa dipakai untuk membeli makanan lain. Dalam setiap perjalanan, kita selalu membutuhkan bekal, entah perjalanan itu pendek ataupun panjang. Bekal ini memberikan ketenangan hati dan juga kekuatan pada saat kita lelah atau kehabisan tenaga.

 

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengambil Bacaan Injil dari Yohanes  6:51–58. Dalam kutipan ini Yesus berbicara tentang Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga. Bahkan lebih jauh lagi, Yesus menyatakan bahwa roti yang Dia berikan adalah dagingNya sendiri dan minuman yang Dia berikan adalah darahNya sendiri. Dalam Injil Yohanes, daging adalah kodrat kemanusiaan dengan segala keterbatasannya, tetapi bukan keterbatasan dalam arti kedosaan atau kejahatan. Sedangkan darah pada zaman itu disebut sebagai tempat nyawa berada, letak kehidupan. Dengan menyerahkan nyawaNya atau darahNya, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak. Daging (kerapuhan manusia) dan darah (kehidupan) menjadi jalan penyelamatan. Bersatu dengan-Nya berarti menempuh jalan keselamatan yang disediakanNya. Oleh karena itu  Yesus berkata, “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup kekal dan Aku akan membangkitkan Dia pada akhir zaman."

 

Pada masa kini, setiap kali merayakan Ekaristi, kita menghadirkan tanda kenyataan rohani dalam diri kita. Ekaristi bukan obat kuat rohani atau jamu untuk berkelakuan baik. Dengan merayakan Ekaristi kita diajak mengalami dan mengakui bahwa seluruh hidup kita didayai atau diteguhkan oleh kekuatan Ilahi yang telah menghadirkan diriNya dalam kemanusiaan. Bagi kita, kemampuan membangun kehidupan yang baik dan benar adalah  anugerah ilahi. Melalui Ekaristi kita menjadi semakin dekat dengan kehidupan Yang Ilahi sendiri. Bagaimana kita merasakan kehadiran Yang Ilahi dalam Ekaristi? Bagaimana Ekaristi membawa dampak nyata dalam kehidupan keseharian kita?

(Penulis: Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.