Mengampuni Kesalahan Orang Lain

Artikel - Saat Merenung

Dalam Injil Matius 18:15-20, kita diajak untuk membangun persaudaraan dengan semangat  berani saling menegur atau mengingatkan dalam kasih. Sedangkan dalam Injil Matius 18:21-35, Tuhan Yesus menambahkan hal yang kiranya juga penting dalam membangun kasih persaudaraan itu. Dalam Injil tersebut Yesus memberi jawaban yang di luar pemikiran para rasul. Rasul Petrus yang bertanya soal berapa kali harus mengampuni kesalahan orang lain, dijawab dengan tegas oleh Yesus bahwa mengampuni itu harus terus-menerus dilakukan oleh murid-muridNya.

Pengampunan yang ditanyakan Petrus dilaksanakan tujuh kali dan dan jawaban Yesus yang mengharap lebih dengan mengatakan tujuh puluh kali tujuh kali adalah gaya bahasa yang dipakai oleh orang Yahudi pada zaman Yesus dengan merujuk pada Kitab Perjanjian Lama. Dalam Kitab Kejadian Bab 4 dikisahkan bagaimana Allah memberi ganjaran terhadap dosa pembunuhan yang dilatari oleh motif dendam(Kejadian 4:15)  lebih berat dibandingkan dengan terjadinya pembunuhan dengan motif membela diri (Kejadian 4:23).  Aturan demikian di dalam Perjanjian adalah untuk melihat bahwa balas dendam tidak boleh dilanjutkan karena hanya akan memperburuk keadaan.  Kembali ke pertanyaan Petrus, kata-katanya menggemakan upaya membatasi sikap balas dendam tadi.  Bila seorang saudara menyalahi untuk pertama kalinya, ditolerir saja, begitu juga untuk kedua kalinya, dan seterusnya sampai ketujuh kalinya. Tapi sesudah tujuh kali dianggap kelewat batas dan tak perlu diampuni lagi! Tetapi Yesus hendak mengatakan semua itu tidak cukup. Orang harus berani mengampuni sampai "tujuh puluh kali tujuh kali", artinya, tak berbatas.  Malah tak perlu kita  memikirkan sampai mana atau sampai batas apa. Sikap mengampuni seyogyanya menjadi  sikap hidup.

 

Dalam Doa Bapa Kami pengampunan juga menjadi jelas. Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13) berawal dengan seruan pujian bagi nama Allah Yang Mahakuasa sebagai Bapa dan diteruskan dengan permohonan agar Kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya terlaksana dan permintaan agar diberi kekuatan cukup untuk hidup dari hari ke hari. Baru setelah itu, dalam Injil Matius 6:12, disampaikan permohonan agar kesalahan "kami" diampuni "seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami". Ukuran bagi dikabulkan tidaknya permintaan ampun tadi ialah kesediaan mengampuni saudara yang kita rasa berbuat salah kepada kita. Yesus hendak menggugah kesadaran bahwa pengampunan hanya mungkin terjadi bila disertai kesediaan seperti terungkap dalam doa Bapa Kami tadi.

 

 

(Penulis: Pastor Alya Denny Haloho, OMI, Pastor Rekan, Gereja Sta. Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.