Keuntungan Menjadi Seorang Kristiani

Artikel - Saat Merenung

Minggu Biasa XXV

Bacaan Pertama: Yesaya 55:6-9 - Bacaan Kedua: Filipi 1:20c-24, 27a - Bacaan Injil: Matius 20:1-16a

 

Saudari-Saudara terkasih dalam Kristus,

Saya ingin memulai Homili ini dengan sesuatu yang sangat saya sukai: statistik!  Saya menemukan statistik yang dikeluarkan oleh sebuah pusat statistik religius paling bergengsi di dunia, namanya Pusat Studi Kekristenan Dunia yang berada di South Hamilton, Massachusetts, Amerika Serikat.  Laporan statistiknya berjudul “Kekristenan dalam Konteks Global, 1970-2020”.  Pusat Studi ini mempunyai data statistik yang baru yang dikeluarkan pada tahun 2016 dengan masa telaah hingga tahun 2020.  Hasil utama dari survei besar ini dapat disimpulkan dalam satu kalimat: dunia masih tetap sama, tetapi dunia menjadi lebih religius.  Secara khusus disebutkan bahwa angka penganut Kristen dan Katolik meningkat yang terjadi di Afrika dan Asia, sedangkan di Benua Amerika, angka cenderung tetap dan di Eropa malahan menjadi kurang religius – kurang Kristen, kurang Katolik.  Di Eropa, distribusi penduduk menurut agama yang dipeluknya di negara-negara Uni Eropa tercatat sebagai berikut:  Katolik (48%), Protestan (12%), Ortodoks (8%), Kristen lainnya (4%), Islam (2%), tidak beragama/ateis/agnostik (23%), agama lainnya (3%).

Sekarang, apa guna dari statistik itu?  Pertama-tama, saya ingin bertanya dulu:  “Apa keuntungan dari menjadi seorang Kristiani, menjadi seorang Katolik?”  Apakah karena Anda ingin mendapat upah rohani yang lebih tinggi daripada orang lain seperti yang diceritakan dalam Injil?  Atau karena ingin memperoleh tempat yang lebih nyaman dalam Kerajaan Surga?  Atau bisa juga ditanyakan demikian:  Mengapa Anda terus hidup sebagai seorang Kristiani?

Jika Anda berpikir menjadi seorang Kristiani itu menjadikan Anda lebih baik daripada orang lain yang tidak mempunyai kepercayaan – hemmm..., Anda akan menjadi iri hati karena sepertinya hidup jauh lebih enak jika tanpa menganut kepercayaan.  Jika Anda berpikir Anda menerima lebih banyak daripada orang lain karena Anda seorang Kristiani – hemmm..., sesungguhnya Anda akan menjadi kecewa.  Mengapa?  Karena Injil hari ini menunjukkan bawa “Tuhan itu baik, Dia baik kepada setiap orang yang baik”, dan Bacaan Pertama juga menunjukkan pada kita bahwa “Tuhan akan menunjukkan belas kasihNya, karena Dia Maha Pengampun.”

 

Bacaan Pertama juga berkata, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu.”

Saya percaya Tuhan kita mengasihi semua orang, tanpa diskriminasi – yang percaya maupun yang tidak percaya padaNya, yang sudah lama bekerja untukNya, atau juga mereka yang baru saja datang mendekat padaNya.  Tuhan itu adil, Dia tidak kejam, Dia penuh belas kasih, Dia kaya dalam mengampuni.  Dia baik.  Dia mengasihi segala ciptaanNya.  Dia bukanlah manusia, tetapi Dia adalah Tuhan.

Sekarang bagi kita, kaum Kristiani, bagaimana kita menghidupi iman kita?  Kita hidupi iman kita seperti yang St. Paulus katakan dalam Bacaan Kedua:  “

Saudara-Saudara, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.  Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang Kristiani, untuk hidup bagi Kristus, untuk memuliakan Tuhan kita dalam hidup kita, dalam tubuh kita.

Singkatnya, kita ada di dunia ini untuk bersaksi seperti St. Paulus katakan kepada kita: hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Di saat kita masih hidup, seperti St. Paulus, kita dipanggil untuk melakukan karya yang berguna – karya untuk Tuhan, karya untuk memuliakan Tuhan kita.

Jangan berpikir bahwa kita ini tidak ada gunanya!  Carilah karya yang berguna untuk Tuhan.  Tunjukkan Kristus kepada sesama kita!  Hiduplah untuk Kristus yang ada dalam tubuh kita.  Biarlah kita memuliakan Kristus dengan tangan kita, kaki kita, kedua mata kita, bibir kita, mulut kita, wajah kita.  Tubuh kita adalah sarana pewartaan, sarana kudus untuk hidup bagi Kristus.

Dan jangan lupa yang dikatakan St. Paulus bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.  Kita tidak hidup untuk mendapatkan upah rohani atau untuk mendapat tempat di Kerajaan Surga, tetapi untuk memuliakan namaNya hingga akhir hidup kita – hingga saat tubuh kita melemah, selesai, kita mati dengan Kristus.  Sungguh sebuah keuntungan!  Sungguh indah hidup sebagai seorang Kristiani!

 

(Penulis:  Pastor Henricus Asodo, OMI, Homili Minggu Biasa XXV, 24 September 2017, di Gereja Misi Perdana OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.