MENGGARAP HIDUP BATIN

Artikel - Saat Merenung

Ada orang bilang, “Tiga perusak terbesar bangsa kita pada saat ini adalah Korupsi, Radikalisme dan Narkoba”. Tiga hal ini harus menjadi musuh bersama kalau kita ingin maju dan damai sebagai sebuah bangsa. Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya. Akan tetapi selama ini kekayaan itu hanya dinikmati oleh sedikit orang saja, tidak bisa merata ke semua rakyat. Banyak orang yang memegang jabatan justru dengan serakah ingin menguasai kekayaan bangsa ini bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Meskipun banyak yang sudah tertangkap dan masuk penjara, mereka seperti tidak ada kapoknya. Para koruptor dengan berbagai cara licik ingin mengambil kekayaan bangsa ini sebagai milik mereka sendiri tanpa peduli dengan rakyat banyak.

Bacaan Injil Minggu ke-27 ini (Matius 21:33-43) kembali berbicara tentang kebun anggur dan para penggarapnya. Kali ini Yesus masih berhadapan dengan para Imam Kepala dan tua-tua Bangsa Yahudi. Dalam perumpamaan ini Yesus menggambarkan tentang seorang pemilik kebun anggur yang menyewakan kebunnya kepada para penggarap. Dia telah menyiapkan segala sesuatu: pagar keliling, tempat pemerasan, menara jaga dan sebagainya. Dia berharap bahwa pada waktu panen nanti akan memperoleh hasil dari para penyewa kebun anggur itu. Dia mengutus banyak orang untuk menagih hasil panen dari kebun anggurnya, tetapi ternyata para utusan itu malah dianiaya dan dibunuh. Bahkan ketika anaknya sendiri dia utus, para penggarap itu juga membunuhnya. Mereka bukan hanya tidak memberikan hasil dari kebun anggur, tetapi mereka juga ingin merebut kebun anggur itu dari pemiliknya yang sah. Sudah tentu pemilik kebun anggur ini sangat marah dan kecewa. Merebut hak milik kebun anggur ini ditampilkan sebagai kejahatan yang sudah melampaui batas.

 

Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk mengkritik para tokoh masyarakat Yahudi pada waktu itu yang mempertanyakan keabsahan kuasa mengajar yang dimiliki Yesus. Sebagai pimpinan umat, mereka diminta untuk menggarap kebun anggur, yaitu Umat Allah, umat milik Allah. Mereka semestinya membimbing umat Allah. Akan tetapi mereka malah sibuk memikirkan bagaimana supaya kedudukan mereka sebagai “penguasa” umat Allah tidak hilang atau dihancurkan oleh Yesus. Melalui perumpamaan itu sebenarnya Yesus juga mengajak mereka untuk meluruskan pandangan yang salah bahwa mereka hanyalah penggarap bukan pemilik kebun anggur. Mereka tidak berhak menguasai apa yang menjadi milik Allah dengan cara mereka sendiri. Bagaimana dengan kita? Kita dapat menjadikan perikop ini untuk merenungkan perjalanan hidup batin atau rohani kita. Apakah saya sudah menggarap hidup batin saya dengan baik sehingga berbuah kebahagiaan? Atau, selama ini saya - tanpa sadar - berusaha mengatur dan “menguasai” Tuhan untuk menuruti rencana saya sehingga saya lebih sering merasa takut, was-was, gelisah, khawatir, cemas, marah, kalau yang saya harapkan tidak terjadi?

 

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.