Hidup Beragama Yang Membebaskan

Artikel - Saat Merenung

Bacaan pertama: Kebijakan 11:22 - 12:2

Bacaan kedua: 2 Tesalonika 1:11 - 2:2

Bacaan Injil: Lukas 19:1-10

Masih banyak di antara kita yang menjalani hidup keagamaan sebagai sebuah beban. Pergi ke Gereja dihayati sebagai sebuah kewajiban mingguan. Banyak yang merasa kalau sudah ke Gereja  tidak ada hutang yang membebani. Tidak jarang tujuan ke Gereja juga tidak dipahami atau dimengerti sungguh-sungguh. Namun ada juga orang yang menempatkan diri sebagai pengawas orang yang datang ke Gereja. Mereka menilai orang lain pantas atau tidak pantas masuk ke Gereja. Dari apa yang dikenakan, seseorang dinilai kepantasannya. Apa sebenarnya yang kita cari dalam praktek hidup keagamaan kita?

 

Bacaan Injil Hari Minggu Biasa Ke-30 menggarisbawahi inti hidup beragama, yaitu: KASIH. Hidup beragama harus dilandasi oleh kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Dengan cara itulah hidup beragama menjadi otentik dan berintegritas. Yesus sendiri dengan sungguh-sungguh mempraktekkan hidup yang didasari oleh semangat kasih tersebut. Sementara itu, Bacaan Injil minggu ini menggarisbawahi sekali lagi pentingnya integritas dalam praktek keagamaan sehari-hari, terlebih berkaitan dengan praktek hukum yang kedua: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

 

Setelah kembali dari pembuangan di Babilonia, bangsa Yahudi berusaha untuk membangun kembali Bait Allah yang sudah runtuh. Pembangunan Bait Allah ini diikuti dengan penegakkan kembali aturan-aturan yang sudah lama ditinggalkan atau dilupakan. Dalam keadaan seperti ini dapat dimengerti bahwa mereka ingin sekali semuanya berjalan sesuai dengan aturan yang semestinya. Dalam situasi seperti inilah muncul orang-orang yang, dalam rangka menegakkan aturan, menjadi sangat kaku bahkan berlebihan. Mereka mengawasi orang lain dengan teliti dan tidak jarang “memamerkan” praktek hidup beragama secara berlebihan. Namun pada saat yang sama mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan yang mereka ajarkan atau praktekkan dalam peribadatan. Sikap kaku dalam berpegang pada aturan keagamaan membuat orang justru kehilangan pijakan mereka sebagai manusia.

Yesus menggarisbawahi sekali lagi makna hukum kasih kepada sesama: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Sesama adalah teman seperjalanan dalam peziarahan hidup di dunia ini. Dalam perjalanan bersama, setiap orang adalah sesama, satu level, sederajat, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih hebat dari yang lain. Kalau saya merasakan lapar, sesama saya juga merasakan lapar. Kalau saya merasa sakit, sesama juga punya rasa sakit. Pengalaman saya juga adalah pengalaman dia. Maka Yesus mengatakan, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan”. Inilah cara kita hidup secara berintegritas, yaitu: menjadi sesama bagi setiap orang, siapapun dia. Bukan bahwa saya tidak peduli atau cuek dengan orang lain, tetapi demi kasih, saya membantu sesama menjadi pribadi yang semakin utuh dan berintegritas. Hidup beragama membantu sesama tumbuh sebagai manusia sebagaimana dikehendaki Allah Pencipta.

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

 

 

 

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.