Menapak Jalan Kekudusan

Artikel - Saat Merenung

Bacaan Pertama: Wahyu 7:2-4, 9-14

Bacaan Kedua: 1 Yohanes 3:1-3

Bacaan Injil: Matius 5:1-12

 

Saudari dan Saudara terkasih,

Hari ini kita merayakan Pesta Semua Orang Kudus.  Saya mencari di internet untuk arti dari perayaan ini dan menemukan penjelasan dari Mgr. Robert Le Gall, Uskup Agung Toulouse yang mengatakan: “Perayaan ini bukan hanya untuk kelompok-kelompok semua orang kudus yang sudah dikanonisasi, yaitu mereka yang oleh Gereja diyakini berada dalam kemuliaan Tuhan, tetapi perayaan ini juga adalah untuk semua yang, sejatinya dan yang paling banyak, berada dalam kebahagiaan Ilahi.  Hal ini berarti bahwa semua orang, baik yang sudah dikanonisasi maupun yang belum dikanonisasi, yang telah dikuduskan lewat praktek-praktek belas kasih, yang menerima pengampunan dan karunia rahmat Ilahi.  Perayaan ini mengingatkan kita akan semua orang beriman akan panggilan universal kepada kesucian.”

Kata “Kesucian” menarik sekali bagi saya.  Kesucian, di atas segalanya, di dalam Perjanjian Lama, adalah atribut eksklusif dari Tuhan.  Lewat Kristus – yang sempurna sama seperti BapaNya yang sempurna – kesucian menjadi dapat dijangkau oleh manusia selama ia “mengikuti” Kristus dengan percaya kepadaNya dan berlaku seperti yang dilakukanNya.  Sesungguhnya, semua orang yang telah dibaptis dipanggil kepada kesucian.  Kesucian tidaklah diperuntukkan hanya untuk sebagian kecil orang saja.

Penjelasan dari perayaan ini menjadi sangat jelas, tepat, dan menyemangati.  Tetapi dalam kenyataannya, apakah mudah untuk hidup kudus?  Tidaklah mudah untuk hidup kudus khususnya ketika kita berpikir bahwa kekudusan itu sama dengan kesempurnaan, tanpa dosa.  Menurut pengalaman kita, hidup tanpa berbuat dosa adalah hampir tidak mungkin, maka menemukan kekudusan itu juga sesuatu yang mustahil!  Hal ini tidaklah benar!  Kesucian tidak ditentukan oleh dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita.

 

Kekudusan adalah jalan menuju Tuhan; kekudusan adalah langkah setiap hari bersama Tuhan.

Oleh karenanya, kekudusan itu dapat dijangkau oleh kita, terlepas dari segala kelemahan dan dosa kita.

Sudah tentu, kecenderungan kita adalah membayangkan kesempurnaan itu tanpa noda, tanpa dosa.  Hal ini membuat kita menjadi patah semangat, sedih dan frustasi karena kita tidak pernah dapat menjadi sempurna.

Dalam budaya saya, kami katakan bahwa tubuh kita itu mempunyai sembilan lubang/jendela (mata, telinga, hidung, mulut, dan seterusnya).  Kesemua lubang atau jendela ini dapat memberikan kesempatan positif dan pada saat yang sama juga dapat mendatangkan godaan negatif.

Tidaklah mudah untuk menutup lubang-lubang ini atau mengontrol jendela-jendela ini. Oleh karenannya kita mengenal ungkapan berikut: “Orang suci namun sedih" atau " Orang sedih namun seperti suci".  Mengapa? Karena kita selalu menemukan dosa-dosa kita, ketidak-sempurnaan kita, kelemahan-kelemahan kita, dan kita menjadi sedih, frustasi, tanpa sukacita. Orang baik namun tidak gembira!

Sedangkan pesan dari 3 bacaan hari ini adalah pesan sukacita.  Bacalah yang berikut:

Bacaan pertama: “.... sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.  Dan dengan suara nyaring mereka berseru: ‘Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!’  Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, sambil berkata: ‘Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

Bacaan kedua: “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diriNyam kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya.”

Dan Bacaan Injil:

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mareka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga...”

Pesan bagi kita adalah jangan bersedih, jangan frustasi, jangan patah semangat karena dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita.

Tetapi, bersukacitalah, bergembiralah!

Berjalanlah bersama Tuhan!

Temukan kekuatan untuk maju dalam jalan kekudusan, sedikit demi sedikit, sampai pada saatnya kita bertemu semua orang kudus di hadapan wajah Tuhan!

 

(Penulis: Pastor Henricus Asodo, OMI, Homili Pesta Semua Orang Kudus, 01 November 2017, di Gereja Misi Perdana OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.