Menuju Masa Depan Penuh Dengan Harapan

Kebiasan dalam setiap Kapitel Umum Oblat adalah Rekoleksi Sehari bagi seluruh Kapitulan.  Kali ini juga demikian. Rekoleksi Sehari akan dilaksanakan pada 29 September 2016, tepat dua minggu setelah Kapitel dimulai.  Pastor Louis Lougen, OMI, Superior Jenderal, mengundang seluruh Oblat di dunia untuk ikut serta dalam rekoleksi ini, dari tempat keberadaan mereka masing-masing.  Materi refleksi telah diterbitkan di website OMI Communications (www.omiworld.org), juga di website yang khusus dibuat untuk Kapitel Umum (www.omiworld.org/en/36-general-chapter/animation/).

Di bawah ini, kami sajikan terjemahan bahan refleksi ke dalam Bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh Tim Website OMI Indonesia.  Semoga para Oblat Indonesia dan sahabat/keluarga OMI dapat memanfaatkan bahan Rekoleksi yang sarat inspirasi ini untuk menjadi renungan pribadi, komunitas maupun kelompok.  Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata.

 

MENUJU MASA DEPAN PENUH DENGAN HARAPAN

 

(Refleksi untuk Rekoleksi Sehari dalam Kapitel Umum 2016)

 

1.  Ia Pergi

Untuk memiliki iman berarti ada dalam sebuah perjalanan.  Pengalaman perjalanan adalah dimensi fundamental dari iman.  Saat seseorang menjawab undangan panggilan Tuhan, ia memulai sebuah perjalanan iman.  Semua orang beriman dapat menemukan iman Abraham dalam pengalaman iman mereka masing-masing.  Berikut adalah kata-kata sederhana yang menggambarkan kedalaman yang sangat dari perjalanan itu, drama, keindahan, dan resiko iman:

“Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.’ (...)  Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya.”  (Kejadian 12:1, 4)

Untuk memulai petualangan yang demikian berarti membiarkan diri seseorang untuk dituntun, kehilangan kendali dari hidupnya, meninggalkan di belakang segala rencana, masuk ke dalam ketidak-tahuan, membiarkan seseorang dibuat tercengang, membiarkan orang asing untuk masuk ke dalam hidup seseorang dan menjadi alat-alat Tuhan.  Terkadang, mungkin lebih dari semuanya, hal ini berarti berjalan dalam kegelapan, hidup dalam kesederhanaan, memiliki kesadaran bahwa hidup itu adalah sebuah karunia yang murni.  Tetapi hal ini berarti juga harapan yang tak pernah padam – Tuhan dan panggilanNya datang, seolah-olah dari masa depan, membuka wawasan, mengundang dan memimpin.  Dari sejak saat itu, iman, masa depan, dan harapan menjadi tidak terpisahkan.  Maka hidup seorang yang beriman – jika ditandai dengan kesetiaan untuk menerima Sabda – tidak akan pernah tersesat.  Mungkin sukar, tetapi bagi orang-orang yang beriman, masa depan selalu dipenuhi oleh harapan.  Tuhan yang mencurahkan harapan ke dalam hati adalah selalu setia.  Dia tidak pernah berkata: “Perjalanan telah selesai, sudah tidak ada apa-apa lagi di depan.”  Bagi Tuhan,  menahan Yesus di makamNya bukanlah situasi kebuntuan tanpa jalan keluar!

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” – kata-kata ini akan menggema terus-menerus di telinga Abraham tanpa ada yang dapat meredamnya, baik itu kesadaran akan kelemahannya sendiri, maupun kematian.  Kedua hal itu tampak di depan mata Abraham, bukan mata orang lain yang mungkin saja mencari jalan lain sebagai solusinya.  Seorang laki-laki atau perempuan yang beriman, seseorang yang sedang dalam perjalanan iman, mengalami Tuhan yang lebih kuat daripada kelemahannya, bahkan lebih kuat daripada kematian; Logika Tuhan melampaui segala perhitungan manusia.  Itulah sebabnya Abraham pergi.  Hingga sekarang ini, bagi semua orang, Abraham adalah bapa iman kita.

Dalam menjawab Sabda, Abraham membuat keputusan.  Iman adalah memilih untuk berdiri bersama Tuhan, untuk hidup bersama Dia. (Paus Benediktus XVI, Porta Fidei, 10)  Kata-kata sederhana ini mengekspresikan kenyataan iman:  di satu sisi menjadi sebuah pertanyaan untuk mengambil keputusan setiap harinya, dan di sisi lainnya, iman adalah sesuatu yang mengikutsertakan secara total orang tersebut dan tidak memperkenankan tanggapan yang acuh tak acuh atau suam-suam kuku darinya.  Seseorang sampai pada perkembangan penuh kemanusiaan dan kedewasaannya hanya pada saat ia ikutserta secara penuh dalam prosesnya.  Iman mampu untuk mencapai kedewasaan hanya bila seseorang masuk secara penuh ke dalam pengalamannya.  Abraham tidak menandatangani “kontrak pelayanan yang diberikannya” dengan Tuhan.  Ia tidak dipekerjakan oleh Tuhan “per jam”.  Abraham ikutserta secara total, tanpa syarat dan setiap hari ia membuat keputusan – terkadang sebuah keputusan yang sangat sulit – untuk sekali lagi “ada bersama Tuhan”.

Bapa Pendiri kita juga sama.  Di satu sisi, Bapa Pendiri mempersembahkan diri secara total, tanpa syarat; dan di sisi lainnya, Bapa Pendiri siap untuk mengambil keputusan setiap hari untuk sekali lagi “ada bersama Tuhan” yang wajahNya ia kenali dalam wajah kaum miskin Gereja yang menderita.

Bapa Pendiri kita – seperti yang kita kenal dengan baik – tidak menulis disertasi untuk hal-hal yang dialaminya.  Ia adalah seorang yang praktis, jurnal spiritualnya juga sangat praktis.  Ia tidak meninggalkan traktat hidup spiritualnya atau refleksi sistimatik tentang iman Abraham.  Tetapi di saat seseorang mempelajari perjalanan iman Bapa Pendiri, kita dapat dengan yakin berkata bahwa ia hidup seperti seorang Patriach (orang tua yang disegani – Red) yang hebat, dan menjadi bagi kita – putera-putera spiritualnya – seorang bapa iman sejati.  Pertama-tama ia belajar sendiri, kemudian ia menunjukkan kepada kita bagaimana mempercayakan diri kepada Tuhan yang memanggil;  bagaimana pergi ke dalam yang belum dikenal/diketahui; bagaimana mengambil resiko; bagaimana menyeberangi perbatasan-perbatasan yang telah terbangun di dalam logika manusia; bagaimana mempertahankan keprihatinan di dalam hati – keprihatinan akan kesetiaan dan menyerahkan yang lain-lainnya kepada Tuhan.

Berikut adalah satu dari beragam contoh.  Bapa Pendiri mengunjungi Komunitas Inchicore di Dublin, Irlandia, pada tahun 1857.  Ia diteguhkan dengan semangat yang menyala-nyala dan keteraturan hidup spiritual dari para anggota Komunitas.  Bapa Pendiri meyakinkan semuanya bahwa hal itu adalah karya besar dari rahmat, dan ia menganjurkan untuk dijawab dengan “kesetiaan yang teguh kepada Aturan Hidup yang Kudus.” (Ecrit Oblates III, 208) – kesetiaan yang total dan diperbaharui setiap hari.  Saya sebutkan bahwa Bapa Pendiri tidak menulis disertasi tentang Abraham, tetapi ia pernah menyebut nama Abraham, saat Bapa Pendiri menulis di buku hariannya tentang perjalanan  ke Afrika dari 22 Oktober-13 November 1842.  Bapa Pendiri menulis tentang pertemuannya dengan  mereka, budaya mereka, dan tenda di oasis Afrika Utara.  Ia membayangkannya sebagai masa para Patriach.  Dengan kesedihan di dalam hatinya, Bapa Pendiri mengakui bahwa orang-orang itu tidak mengikuti Bapa Iman yang besar dan kehilangan Terang yang justru telah ditemukan oleh Abraham.  Seseorang akan dengan cepat merasa bahwa dalam kata-katanya ada rasa api semangat misioner:  Kita harus melakukan segalanya dalam kuasa kita sehingga mereka menemukan Tuhan dan iman akan Gereja. (Ecrits Oblats XXI, 66)  Sepertinya, ia ingin berkata: kita, yang memiliki iman Abraham, harus mulai bermisi untuk membawa Terang dari iman Abraham kepada mereka yang tinggal di tenda-tenda, seperti Patriach, tetapi yang belum pernah memulai perjalanan spiritualnya untuk  membawa mereka kepada pengenalan keutuhan Kebenaran akan Tuhan.

Inilah waktu untuk kesimpulan awal dari refleksi kita.  Tuhan meminta pada Abraham kesetiaan yang radikal akan SabdaNya.  Bapa Pendiri kita, yang mendengar Sabda ini, juga mengetahui bahwa pintu menuju masa depan yang penuh dengan harapan dibuka dengan kesetiaan radikal kepada Tuhan yang memanggil dan menunjukkan karya misi.  Seseorang harus setia dan Tuhan akan mengurus yang lain-lainnya.  Di satu sisi, 200 tahun usia pendirian kita merupakan sebuah kesaksian akan hal berikut ini:  Seperti sikap Abraham atas generasi mendatang, begitu juga karisma Eugenius menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.  Di sisi lainnya, melintasi ambang pintu 200 tahun hidup kita sebagai Oblat, sekali lagi kita dipanggil untuk kesetiaan radikal kepada karisma kita.  Seperti komunitas kecil Inchicore mengenang:  Kita dipanggil kepada kesetiaan radikal kepada Aturan Hidup.  Tuhan akan mengurus yang lain-lainnya.  Dia adalah Tuhan atas sejarah dan Dia memimpin kita.  Tuhan menuntut hanya kepercayaan dan kesetiaan kepadaNya.

 

2.  Kaum Miskin – Jalan bagi para Oblat

Sejak Yesus berkata kepada para muridNya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu..” (Matius 28:19), Gereja senantiasa ada dalam perjalanan.  Gereja lahir supaya terus maju.  Gereja sungguh menjadi Gereja hanya jika Gereja berjalan maju dan hanya jika Gereja membagikan karunia kasih, saat Gereja menjangkau mereka yang dalam perjalanannya dirampas dari cinta.  Sudah tentu, jalan dari Gereja itu adalah manusia; lebih lagi, “Dalam lingkup seluruh manusia, manusia adalah rute utama yang harus dijalankan dalam memenuhi misi Gereja: manusia  adalah jalan yang utama dan yang mendasar bagi Gereja, jalan yang ditelusuri oleh Kristus sendiri, jalan yang memimpin tanpa kecuali kepada misteri Inkarnasi dan Keselamatan.” (Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, III, 14)  Manusia ini adalah jalan bagi Gereja, jalan bagi hidup sehari-hari dan pengalaman Gereja, bagi karya misi dan kerja Gereja. (Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, III, 14).

Sejak Eugenius de Mazenod memilih kata-kata yang sangat Kristus: “Pauperes Evangelizantur” sebagai jalan bagi Misionaris Oblat - jalan hidup setiap harinya, pengalaman, misi, dan pergulatan-pergulatannya adalah kaum miskin, terlantar, dan terabaikan.  Para Oblat menyerukan kepada mereka dekatnya Kerajaan Allah yang “bukan merupakan sebuah konsep, doktrin, atau program yang dapat dengan bebas diterjemahkan, tetapi seseorang dengan wajah dan nama Yesus dari Nazareth, perupaan dari Allah yang tak terlihat.” (Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio, 18)

Pastor Marcello Zago mengingatkan kita bahwa hidup bakti itu sendiri adalah sebuah perjalanan, bergerak melewati sejarah, mengambil berbagai bentuk sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak dari kondisi zaman dan kehidupan manusia. (Documentazione OMI, # 214, s.6)  Dari perjalanan hidup bakti inilah Kongregasi kita lahir.  Kapitel Umum adalah juga waktu rahmat yang khusus dari perjalanan ini.  Seluruh Kongregasi, dalam diri wakil-wakilnya, berhenti sejenak dari perjalanan; melihat kepada jejak langkah yang bersinar terang di masa lampau, memulihkan kekuatan, dan membuat rencana-rencana bagi karya-karya misionaris masa depan.  Tiga kata menggambarkan pengalaman mendasar Kongregasi kita.  Kata-kata ini bergema dengan kekuatan menakjubkan selama masa persiapan Kapitel Umum, kata-kata yang ditujukan oleh Bapa Suci Fransiskus kepada kita dan semua pelaku hidup bakti di dalam Gereja:  Bersyukur untuk masa lalu, semangat untuk masa sekarang, dan harapan saat kita melihat ke masa mendatang. (Fransiskus, Surat Apostolik kepada semua pelaku hidup bakti dalam Tahun Hidup Bakti, Adven 2014-Adven 2015, I, 1-3).

Selama tiga tahun persiapan Kapitel Umum, banyak refleksi yang dibuat oleh komunitas-komunitas kita.  Satu hal yang mereka sungguh akui adalah bahwa kita tidak mau menyerah di perjalanan.  Seluruh Kongregasi menaruh harapan besar pada Kapitel ini, untuk maju ke depan dengan dipenuhi oleh harapan.  Tetapi ada satu syarat:  agar hal ini dapat terjadi, kita tidak dapat – tidak boleh – menyimpang dari jalan yang telah digariskan bagi kita oleh kaum miskin.

Kapitel Umum tahun ini memiliki ukuran yang khusus, yang secara jelas dirangkum dalam tema yang telah dipilih:  kita ingin kembali kepada sumber-sumber, kita ingin mengalami semangat kerasulan yang menyala-nyala dari Bapa Pendiri dan para Oblat pertama, dan di atas segalanya, kita ingin memperbaharui misi kita dalam Gereja, yang mencari jalan yang menuntun kepada pribadi manusia.  Pada jalan ini, kita sebagai Oblat ingin mencari, pertama dan yang utama, kaum miskin.

Pertanyaan penting dari karisma kita mengenai kaum miskin tidaklah pernah mudah atau terus terang seperti yang dapat dibayangkan.  Wajah kaum miskin berubah.  Kita perlu secara konstan mencari mereka lagi dan menemukan jalan kita kepada mereka.  Di setiap zaman dan di setiap konteks ada kemiskinannya.  Bapa Pendiri kita tidak membatasi dirinya untuk kelas sosial tersendiri.  Ia meminta kita untuk mencari mereka yang paling terlantar dan untuk mewartakan Injil kepada mereka (Documentazione OMI, # 214, s.6).  Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah: kaum miskin harus selalu menjadi jalan bagi kita, para Oblat. Sekarang ini, wajah kaum miskin adalah anak-anak dari budaya baru; budaya yang baru, cara pikir dan menilai yang baru yang melahirkan kaum miskin model baru.  Bagaimana?

Yang ingin saya katakan mungkin mengacu sedikit banyak pada budaya Barat.  Tetapi, melihat proses globalisasi, pelan-pelan hal tersebut menyentuh lebih luas lagi wilayah misi Oblat.  Bukan berarti saya mengatakan refleksi berikut ini lengkap menyeluruh; tetapi saya berharap refleksi ini dapat menjadi katalisator pencarian kita akan kaum miskin.  Saya sangat yakin bahwa analisa kondisi sosial dan budaya, yang melahirkan kaum miskin, menjadi kebutuhan mendesak untuk dihubungkan dengan dimensi profetik dari karisma kita.  Saya ingin menyentuh tiga pertanyaan dan mengambil kesimpulan-kesimpulan darinya.

(a) Refleksi Pertama.  Hingga pada baru-baru saja, kita dapat mengatakan bahwa kebudayaan kontemporer berusaha untuk memenangkan, meyakinkan, atau “menangkap hidup-hidup”, seseorang atau sekelompok orang.  Sekarang ini, saat seseorang sungguh mengamati, ia tidak lagi “menangkap orang lain hidup-hidup”, tidak dengan jala kecil atau besar.  Sekarang ini, air sudah berubah.  Bukan lagi “air Kristiani” untuk di sebagian besar dunia.  Lingkungan hidup yang baru terus-menerus bertambah, melahirkan kaum miskin baru yang berseru-seru minta kehadiran dan pelayanan kita.  Mereka ini adalah sungguh-sungguh kaum miskin baru, yang di bawah pengaruh kebudayaan yang dulunya disebut Kristiani dan sekarang menjadi kaum miskin baru sekular (sekularisasi).

(b) Refleksi Kedua.  Kaum miskin spiritual yang baru adalah anak-anak dari peradaban teknologi abad ke-21.  Melihat tren filosofi dan sosial dalam 300 tahun terakir – dan  resiko dari terlalu membuat mudah permasalahan – seseorang dapat berkata demikian: abad ke-19 mewartakan “kematian Tuhan”, abad ke-20 mewartakan “kematian manusia”, dan abad ke-21 mengajukan konsep “manusia mesin”, tepat guna, pencipta teknologi nasibnya sendiri, tuhan dari hidup dan mati.  Berefleksi pada diagnosa ini, kata-kata Paus Benediktus dengan luas mewakilinya: “Sekarang ini manusia berpikir ia dapat memperoleh sendiri apa yang di masa lalu harus ia tunggu-tunggu hanya dari Tuhan (...)  Berpikir bahwa tidak perlu lagi mencari misteri, tidak perlu lagi mencari yang Ilahi, sebaliknya, percaya bahwa segalanya sudah diketahui (...)  Kemajuan sungguh membawa kepada peningkatan kemungkinan-kemungkinan, tetapi tidak selalu pada kemajuan dimensi moral atau manusia.” (Benediktus XVI, Terang Dunia, 144-146)

Melanjutkan dalam nada yang sama, Paus Fransiskus menambahkan: “masyarakat teknologi kita telah berhasil melipatgandakan kesempatan kesenangan, namun telah menemukan betapa sulit melahirkan sukacita.” (Fransiskus, Evangelii Gaudium, 7)

Inilah air baru dan air yang telah berubah, lingkungan hidup tempat saudara-saudari kita bertumbuh dan dibentuk.  Merekalah jalan bagi para Oblat.

(c)  Refleksi Ketiga.  Saya membagikan pemikiran Duta Besar Vatikan terdahulu untuk negara saya, Uskup Agung Celestino Migliore, yang menyebut kebudayaan sekarang ini sebagai “budaya kelangkaan”, sebuah kebudayaan ketidakpuasaan.  Artinya, ada kebutuhan terus-menerus akan “lebih banyak lagi”: Lebih banyak waktu, lebih banyak informasi, lebih banyak otonomi, lebih banyak efisiensi, lebih banyak pengaruh.  Kita harus menghasilkan lebih banyak, kita harus menghabiskan lebih banyak.  Mekanisme persaingan dimulai demi untuk mencapai menjadi yang pertama.  Tetapi perilaku ini, pelan tapi pasti, mengurangi dan menghancurkan nilai-nilai solidaritas dan saling percaya.  Perilaku ini menghilangkan dan mendiskriminasi mereka yang tidak cukup produktif dan mereka yang tidak dapat menunjukkan efisiensi.  Dalam situasi ini, orang-orang tidak masuk ke dalam relasi manusia yang tulus satu dengan yang lainnya tetapi menjadi pesaing.  Di satu sisi,  seseorang terlahir miskin dalam relasi manusia, dan di sisi lainnya, pada margin kemasyarakatan angka mereka yang tersisih naik,  karena mereka tidak cukup kuat untuk melakukan terobosan ke posisi yang punya pengaruh dan harga diri.  Penyisihan dari orang-orang yang dibuang menjadi meningkat - ini  dikatakan oleh Paus Fransiskus dengan tegasnya.  Orang-orang digunakan dan kemudian dibuang.  Mereka yang tersisih kemudian menjadi sampah yang tidak berguna lagi (Fransiskus, Evangelii Gaudium, 52-53)

Globalisasi ketidakpedulian telah dikembangkan.  Hampir tanpa menyadari hal tersebut, kita akhirnya tak mampu merasakan belas kasihan kepada jeritan kaum miskin, menangis untuk penderitaan sesama, dan merasa perlu membantu mereka, seolah-olah semua ini adalah tanggungjawab orang lain dan bukan tanggungjawab kita sendiri.  Budaya kesejahteraan telah mematikan perasaan kita; kita bergairah ketika pasar menawarkan sesuatu yang baru untuk dibeli; dan pada saat yang sama mereka yang hidupnya terhambat karena kurangnya kesempatan tampak hanya sekedar sebuah tontonan belaka; mereka tak mampu menggerakkan hati kita. (Fransiskus, Evangelii Gaudium, 54)

Saatnya untuk sebuah kesimpulan:  Para Oblat tidak dapat berada di mana-mana.  Mereka mungkin diperlukan di mana-mana, tetapi mereka perlu berada di mana kaum miskin berada!  Ini juga menjadi bagian dari kesetiaan yang radikal yang sekarang ini memanggil kita.  Di masa lalu, kita bangga saat Bapa Suci menyebut kita sebagai ahlinya misi-misi yang sulit.  Sekarang, misi-misi sulit ini menjadi semakin kompleks:  mencari kaum miskin baru, menjawab dengan bijaksana tanda-tanda zaman yang menunjuk kepada para Oblat dan ada bersama mereka!  Jalan bagi para Oblat haruslah tetap pada manusia, yaitu kaum miskin!

Dalam doa imamat Yesus yang menyentuh yang direkam dalam keempat Injil, Yesus berkata: “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” (Yohanes 17:15)  Yesus meninggalkan kita di dunia ini; Ia mengutus kita masuk ke dalam dunia.  Bukan hanya dunia yang tidak menerima Yesus, tetapi di atas segalanya, di dunialah tempat kemanusiaan hidup; dunia tempat manusia bergumul, jatuh, mencari, bangkit, bertumbuh, menjadi dewasa, dan mati.  Adalah di dunia tempat pertempuran untuk keabadian berkecamuk.  Inilah dunia yang dicintai Sang Gembala Baik.  Inilah dunia tempat kita diutus, tempat kita tinggal, dipanggil untuk masuk ke dalam pergumulan manusia, masuk ke dalam pencarian manusia, proses kedewasaan, kematian, jatuh dan bangun; masuk ke dalam pergumulan pribadi dari setiap orang, pergumulan untuk martabat dan kebahagiaan personal.  Kita berjanji tidak membalikkan badan kita di dalam dunia ini; Tidak membalikkan badan kita terhadap kemanusiaan, terhadap kaum miskin.  Masa depan kita tergantung dari apakah kita mau tetap setia pada intuisi asli dari Bapa Pendiri kita.


3.  Menuju Harapan

Dengan mengacu pada kebudayaan di tempat kita tinggal, dengan atmosfir yang mengelilingi kita dan iklim intelektual yang kita hirup – khususnya di belahan barat, tetapi tidak saja di belahan barat – kita sering menggunakan 2 tujuan: paska-modern, dan sesekali paska-Kristiani.  Sepertinya untuk menggarisbawahi bahwa dengan era modern, era Kristiani telah berlalu, setidaknya sebagai elemen pengikat yang menciptakan sebuah kebudayaan yang penting bagi kemanusiaan dan, untuk banyak hal dari masa lalu, yang mempersatuan masyarakat Kristiani.

Dunia paska-Kristiani:  adalah sesuatu yang tidak boleh dikatakan oleh seorang murid Kristus! Ia tidak boleh berkata bahwa sekarang kita ada di dalam “setelahnya”, karena pesan Injil adalah milik masa lalu.  Kita hidup di dalam pengharapan konstan dari masa depan yang dapat membawa Tuhan.  Abraham hidup seperti ini, begitu juga dengan para pengikutnya yang besar, seperti Bapa Pendiri kita.  Kita mempunyai mata yang melihat ke masa depan dengan harapan dan kita menunggu Kristus hadir di dalamnya.  Bagi kita para pengikut Kristus, kita selalu ada di masa Adven!  Meskipun banyak kelemahan mengelilingi kita, tetapi kita tahu bahwa sebelum kita ada masa depan penuh dengan harapan.  Terlepas dari begitu banyaknya tanda-tanda pembaruan, perubahan, atau pertobatan di sekitar kita, kita tahu bahwa kepenuhan Kerajaan, Dunia Allah dan Allah Sendiri tetap adalah sebelum kita, dan menunggu kita.  Selain itu, di depan para nabi baru yang mewartakan zaman paska-Kristiani – kita berkata: TIDAK! Kita diyakinkan bahwa kita hidup di masa yang selalu pra-Kristiani.  Ini sungguh sebuah sikap Oblat dan karena sikap inilah maka Eugenius disebut “Manusia Adven” – seorang yang mengharap dan berharap.  Melihat kerusakan yang disebabkan oleh Revolusi Perancis, Eugenius tidak berkata bahwa masa-masa yang ia hidupi adalah paska-Kristiani.  Ia melihat sejumlah tantangan besar, yang menggerakkannya untuk mempersembahkan dirinya tanpa syarat untuk mewartakan Kristus.  Ia memandang kepada masa depan dengan mata Abraham dan melihat sebuah masa depan yang dipenuh harapan.  Ia melihat debu arang yang tertinggal di masyarakat Perancis yang hancur karena Revolusi dengan cara yang sama seperti seorang Patriach memandang kandungan Sarah yang tampaknya steril dan melihat kuasa Tuhan: “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu, dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” (Yohanes 8:56)

Persis dengan cara memandang kenyataan seperti ini yang menjadi dimensi kenabian dalam hidup kita, identitas kita, dan dasar dari pelayanan kita.  Seorang nabi bukanlah “pelapor dari masa datang.”  Seorang nabi adalah seseorang yang memandang masa kini lewat mata Tuhan dan Tuhan tidak pernah memandang dunia sebagai “sudah berlalu” – “Tamat!” Untuk Tuhan, dunia selalu memiliki masa depan.  Tuhan bersama kita, Dia hadir bahkan sekarang ini dan berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5)

Dalam konteks ini, Paus Fransiskus menulis sebuah surat indah untuk membuka Tahun Hidup Bakti.  Kata-katanya memiliki banyak hal yang berbicara kepada kita – para Oblat – khususnya di bagian harapan yang memudar, di saat jumlah kita mulai membuat kita ketakutan, di saat setelah 200 tahun pelayanan kita bagi Gereja terasa kita sulit untuk lahir kembali: “Di bawah kaki Salib, Maria pada saat yang bersamaan adalah seorang wanita yang berdukacita dan menantikan pengharapan dari misteri yang jauh lebih besar daripada dukacita yang akan segera terpenuhi.  Sepertinya semua telah sampai pada akhirnya.  Seseorang dapat berkata bahwa semua harapan tampaknya padam.  Maria juga, pada saat itu, ingat akan janji-janji Kabar Gembira yang diterimanya:  semuanya tidak terjadi, aku dikelabui.  Tetapi ia tidak berkata demikian.  Maka Maria yang terberkati karena ia percaya, melihat dari imannya yang mekar, masa depan yang baru dan menantikan hari esoknya Tuhan dengan pengharapan.  Seringkali saya berpikir: apakah kita tahu caranya menantikan hari esoknya Tuhan?  Atau apakah kita mau hari esoknya Tuhan itu terjadi sekarang?  Bagi Maria, hari esoknya Tuhan adalah pagi-pagi buta di hari Paskah, dinihari di hari pertama dalam minggu itu.  Baik juga kita berpikir, dalam kontemplasi, berpelukannya seorang ibu dan anaknya.  Sebuah lampu yang menyala di kubur Yesus adalah harapan dari seorang ibu, yang pada waktu itu menjadi harapan dari semua manusia.  Saya bertanya pada diri saya dan juga kepada Anda:  Apakah lampu ini masih menyala di biara-biara?  Di biaramu, apakah engkau menantikan hari esoknya Tuhan?” (Bersukacitalah!  Surat kepada kaum religius laki-laki dan perempuan, 12)

Kesimpulan lainnya adalah kita perlu untuk seringkali bertanya pada diri kita pertanyaan berikut ini:  Apakah lampu harapan terus-menerus menyala di dalam komunitas Oblat kita?  Jika lampu itu menjadi redup nyalanya, Kapitel ini harus membuatnya menyala terang kembali.  Masih ada harapan dan masih ada masa depan bagi kita, para Oblat!  Marilah kita tidak pernah meniup padam lampu harapan kita!

 

4.  Ia percaya pada Tuhan

Di mana seseorang harus mulai berjalan menuju masa depan?  “Percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:3)  Bagi kita, para Oblat, kuncinya adalah – dan selalu – beriman dalam siapa kita, apa yang menjadi berkat kita, dan kepada apa kita dipanggil.

Pada tahun 1982, di Gabon, St. Yohanes Paulus II berkata seperti berikut ini yang ingin saya ankat ke dalam konteks ini.  Dalam sebuah pertemuan dengan para klerus dan religius di Livreville, St. Yohanes Paulus II berkata bahwa kewajiban pertama dari seseorang yang telah dipanggil Tuhan adalah untuk percaya pada misteri personalnya.   (En tout cas, je tiens à souligner que la premiere fidélité demandé à un prêtre - quel que soit son genre de vie et d'apostolat - est de continuer à croire à son propre mystere, de perseverer dans la foi à ce don de Dieu qu'il a reçu et auquel l'inévitable routine et les autres obstacles peuvent certeinement porter atteinte.) Intisarinya, segala pembaruan mempunyai unsur – pertama-tama – untuk bertumbuh dalam iman pada panggilan personal seseorang, dalam misteri pribadinya, dan untuk bertumbuh dalam kesetiaan pada panggilan baik pada dimensi personal maupun komunal.

“Itulah kebiasaan-kebiasaan Tuhan kita:  pertama Ia menganugerahkan, lalu Ia menyediakan pengertian akan apa yang dianugerahkanNya itu” – kata-kata indah dan bijaksana dari St. Gregorius dari Nazianzus mengacu secara luar biasa pertama-tama kepada Misteri Keselamatan, dan di atas segalanya, kepada Misteri Inkarnasi.  Tuhan membuat kita takjub:  pertama Ia menyatakan diriNya dan kita terus saja terpukau dengan yang kita dapat mengerti dan temukan dalam Misteri ini.   Tetapi kata-kata ini juga berlaku pada misteri panggilan kita – baik sebagai individual maupun sebagai sebuah Kongregasi.  Tuhan pertama-tama berkata kepada Abraham: “Pergilah, Aku akan menunjukkan kepadamu.”  Maka, secara perlahan-lahan Tuhan membukakan.  Pertama Ia menganugerahkan dan kemudian Ia menyediakan pengertian akan karunia.  Hal serupa juga terjadi pada hidup Bapa Pendiri kita.  Ia menerima rahmat, yang perkembangannya ia sendiri tidak dapat meramalkannya.  Itulah sebabnya Bapa Pendiri terus-menerus terpukau, mengapa ia terus-menerus menyerukan rasa syukur, kesetiaan, dan keterbukaan.  Pengalaman iman Bapa Pendiri serupa dengan pengalaman iman Abraham.  Sepertinya, Eugenius berkata: “Imanku pada Tuhan menjadi mungkin karena Tuhan terlebih dulu percaya padaku!” Ini harus menjadi sikap kita sekarang.  Kita harus percaya pada panggilan kita masing-masing.  Seperti apa masa depan kita nanti?  Kita tidak tahu!  Kita tidak tahu ke mana Tuhan akan memimpin kita, tetapi kita tahu bahwa Dia memimpin kita.  Gereja masih membutuhkan karisma kita dan Tuhan terus menganugerahkan rahmat karisma kita , dan Gereja terus memanggil kita untuk bekerjasama dalam karya evangelisasi.  Marilah kita menjawabnya!  Marilah kita membiarkan diri kita untuk dipimpin kepada yang tidak kita ketahui.

Kedekatan Gereja dengan Yesus adalah kedekatan kebersamaan dalam perjalanan.  (Fransiskus, Evangelii Gaudium, 23: Kedekatan Gereja dengan Yesus adalah bagian dari suatu perjalanan bersama.)  Kata-kata yang sangat penting ini telah dipastikan oleh sejarah Kongregasi kita.  Kita mempunyai keberanian untuk mewartakan Yesus Kristus dan untuk menyerukan kepada dunia akan harapan yang mengalir dari namaNya karena kita mempunyai relasi yang intim dengan Dia di dalam perjalanan. Selama 200 tahun perjalanan kita melewati sejarah, kita mengenal Dia.  Kita telah menerima Sabda dan kita telah mengalami kuasaNya.  Kita mengalami Tuhan yang memberikan izin untuk bertindak di dalam iman kepada mereka yang tidak berhenti, yang tidak memutuskan perjalanan.  Keberadaan kita, meninggalkan segalanya di belakang kita, dan bergerak maju, memperkenankan kita untuk datang mengenal Yesus dan memberikan kepada kita keberanian untuk mewartakan Dia kepada dunia.

Kita berbicara tentang panggilan menjadi Oblat.  Bagaimana kita melihat Tuhan terus memanggil kita, bahwa memang sungguh tantanganNya yang menyatukan kita?  Bagaimana?  Dengan kenyataan bahwa Ia tidak meninggalkan kita sendirian, artinya kita ada dalam damai.  Dia adalah sumber dari “keresahan kudus” yang positif yang ada di dalam kita.  Inilah intuisi jenius dari Paus Fransiskus yang ingin saya angkat pada poin ini.  Paus Fransiskus berkata:  “Di hadapan berhala, tidak ada resiko kalau kita diminta untuk menanggalkan rasa aman kita, sebab berhala-berhala itu ‘mempunyai mulut, tetapi tidak dapta berkata-kata’ (Mazmur 115:5).  Berhala-berhala ada, kita mulai memandangnya, sebagai dalih untuk menempatkan diri kita sebagai pusat realitas dan memuja buatan tangan kita.” (Fransiskus, Lumen Fidei, 13)  Tetapi kita telah menempatkan Tuhan di tengah-tengah, karyaNya, Gereja, PuteraNya, dan kaum miskin.

Saat untuk kesimpulan lainnya!  Refleksi hari ini mendahului berlangsungnya pemilihan anggota Administrasi Umum.  Marilah kita berdoa bagi pemilihan orang-orang yang percaya pada Kongregasi kita, percaya pada misinya, pada misteri panggilannya.  Abraham tidak pernah ragu dalam misteri panggilannya.  Begitu juga Bapa Pendiri kita – dari permulaan ia dikelilingi oleh orang-orang yang percaya pada misteri panggilan kita di dalam Gereja.  Inilah model para pemimpin yang kita butuhkan sekarang:  ditandai dengan semangat beriman dan misteri panggilan Oblat kita.

 

5.  Daripada sebuah akhir:  sebuah sikap yang mengubah dunia

Setelah 200 tahun sejarah kita, dengan suasana yang sangat simbolik dan berkesan dari sejarah kita, maka kita harus bertanya pada diri kita sebuah pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh Bapa Pendiri:  “Apa yang Yesus Kristus lakukan?”  Bapa Pendiri menjawab:  “Ia memilih murid-muridNya, membentuk mereka dan mengutus mereka pergi.”  Saya ingin mengarahkan perhatian kita kepada sekolah Yesus dan kepada satu yang khusus “sikap formasi”.  Kita bisa bertanya: apa yang Yesus lakukan dalam waktu yang terpenting dari karya misiNya, saat Ia sudah mau keluar dari Ruang Atas dan berjalan menuju Kalvari?  Apa yang Yesus lakukan, saat sejarah manusia sampai pada puncaknya?  Pada saat Ia tahu Allah Bapa memberikan seluruhnya kepadaNya (Yohanes 13:3), Yesus melakukan sikap yang menjadi obat bagi segala sakit dunia:  Ia membasuh kaki para muridNya (Yohanes 13).  Dipenuhi dengan cinta, Ia dengan lembut mematahkan penderitaan manusia.  Ia membuat kaget banyak orang dengan membiarkan seorang wanita membasuh kakiNya (Yohanes 12).  Ia mencari sebuah sikap – tanpa kata-kata – sebuah sikap yang mengekspresikan kasih yang tulus.  Ia ingat sikap wanita yang membasuh kakinya dan sekarang Ia mengulanginya pada waktu yang paling penting dalam sejarah manusia.

Seseorang menjadi seperti apa yang ia suka.  Kita dapat menjadi misionaris yang memberikan semangat bagi kaum miskin, jika kita sungguh tulus mencintai mereka.  Kita tidak dapat dengan tulus melayani kaum miskin, jika kita hanya yakin bahwa inilah yang harus kita lakukan.  Yesus mematahkan kemiskinan manusia karena Ia mengasihi kita. Ia merendahkan diriNya secara mendalam, karena Ia mencintai kita hingga saat akhir.  Dalam doa yang disiapkan untuk Kapitel Umum, kita memohon bagi pertobatan pribadi.  Saya pikir kita perlu melanjutkan mendoakannya, sekarang dengan mohon kasih yang tulus dan sejati bagi kaum miskin.  Bukan pelayanan kita kepada kaum miskin yang menjadi jantung karisma kita, tetapi cinta Bapa Pendiri kepada kaum miskin; cinta yang mendorong Bapa pendiri untuk melayani.  Saya sangat yakin bahwa dasar jalan bagi pembaruan sejati kita harus bergerak dari arahan ini; Hal ini tergantung dari kecintaan kita pada kaum miskin.  Kita memiliki struktur yang berkembang sangat baik dan keuangan yang terjamin, Rumah Generalat yang telah direnovasi, dan semua yang kita perlukan untuk hidup sehari-hari.  Jika kita memiliki cinta sejati bagi kaum miskin, kita tidak perlu kuatir akan yang lain-lainnya.  Konstitusi dan Aturan hidup kita berbicara dua kali tentang cinta kepada kaum miskin: diminta dari para calon Oblat (Aturan # 54a) dan bagi para calon pelayanan superior (Konstitusi # 82).  Saya percaya ini juga menjadi jawaban atas pertanyaan mengenai jenis orang yang kita cari untuk mengisi tugas-tugas di Administrasi Umum: mereka haruslah orang-orang yang mencintai kaum miskin.  Inilah yang membuat kita dipanggil masuk ke dalam Gereja.

Kata-kata terakhir.  Kita telah berbicara tentang tipe pemimpin yang kita inginkan.  Tetapi bagaimana dengan diri para Oblat sendiri?  Saat Benediktus XVI bertahta, Presiden Konferensi Episkopal Amerika Serikat, Timothny Dolan berkata bahwa seorang imam ditandai dengan tiga kualitas khusus yang telah hilangpertama memiliki hati yang peka, pemikiran yang tajam, dan jiwa yang mantap bersatu dengan Tuhan (Bapa Suci membawa kelembutan hati seorang pastor, ketajaman berpikir seorang pelajar, dan keyakinan jiwa yang bersatu dengan Tuhannya dalam segala yang ia lakukan.  Lihat:  http://www.usccb.org/news/2013/13-038.cfm)   Jika kita berhenti sejenak pada kata-kata ini, kita akan tersadar pada kenyataan bahwa hal-hal tersebut tidak hanya berlaku bagi Paus Benediktus.  Itu semua merupakan kualitas dari setiap orang yang mempersembahkan diri kepada Tuhan!  Abraham memiliki hal-hal tersebut lebih dulu.  Ia memiliki kepekaan hati yang cukup tanggap untuk mendengar dan menerima setiap intuisi yang lahir dari Tuhan dalam hatinya.  Ia memiliki ketajaman kecerdasan, syukur ia mengetahui bahwa logika dunia tidaklah cukup untuk memperoleh hidupnya dan untuk pada akhirnya memperoleh kepastian secara spiritual akan persatuan jiwa dengan Tuhan; kepastian ini membuatnya bertekun melewati setiap bayangan kejatuhan imannya.  St. Paulus juga seperti demikian, sama seperti Bapa Pendiri kita, Eugenius de Mazenod.  Mungkin setiap Oblat perlu juga berlaku seperti ini.

 

Marilah kita berdoa supaya Tuhan memberikan kepada para pemimpin kita yang sekarang maupun yang akan datang cinta sejati kepada kaum miskin dan iman yang hidup dalam misteri panggilan kita.  Marilah kita juga berdoa agar Tuhan memberikan kepada setiap dari kita, dan setiap Oblat, hati yang peka, ketajaman pikiran, dan jiwa yang kuat bersatu dengan Tuhan. (Pastor Wojciech Popielewski, OMI)

 

(Sumber: Bahan Refleksi Rekoleksi Kapitel Umum XXXVI "Towards a Future Filled with Hope" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.