Pendidikan Calon OMI di Indonesia

Tahun 2016 adalah tahun ketiga dari tiga tahun perayaan ulang tahun kongregasi OMI ke-200, yang disebut Triennium. Pada Triennium tahun ke-3 yang bertema “Misi Baru:  Semangat Pantang Mundur” ini, OMI Provinsi Indonesia telah memilih dan menetapkan “Misi Baru” bagi para Oblat Indonesia, yaitu PANGGILAN DAN FORMASI OMI.

Mengapa “Panggilan dan Formasi OMI” dipilih sebagai Misi Baru OMI Provinsi Indonesia?  Penetapan misi baru ini dilandasi oleh KEPRIHATINAN bahwa “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Matius 9:37; Lukas 10:2).  Kita pahami bersama bahwa banyaknya perkembangan karya pelayanan dan misi yang diemban oleh para Oblat Indonesia tidaklah sebanding dengan pertumbuhan jumlah personel/pekerjanya (berdasarkan jumlah kaul kekal dan tahbisan setiap tahunnya).  Para pekerja tersebut adalah para Imam – juga para Bruder OMI.

Untuk mendukung karya panggilan dan formasi sebagai prioritas misi baru, provinsial mengutus salah satu Oblat untuk menjadi promotor panggilan. Promotor panggilan ini bersama tim promotor panggilan yang beranggotakan sejumlah kaum awam dari setiap distrik pelayanan OMI secara aktif mempromosikan OMI di sekolah-sekolah dan paroki-paroki. Promotor panggilan bersama timnya ini akan terus memelihara benih panggilan yang sudah muncul dalam diri kaum muda. Kaum muda yang merasa terpanggil akan terus didampingi dalam kelompok yang bernama Samuel-Eli sampai nanti akhirnya berani mengambil keputusan secara dewasa dan bertanggungjawab untuk bergabung ke dalam kongregasi misionaris OMI.

Selama pendidikan, para calon dibentuk dan disiapkan untuk menjadi seorang Misionaris Religius OMI yang matang kepribadiannya, cakap pengetahuannya, mendalam kehidupan rohaninya, dan mampu mengelola suatu karya perutusan.

 

MASA YUNIORAT

Para simpatisan OMI, yakni orang muda yang tertarik untuk bergabung dengan OMI yang berasal dari SMP, SMA, ataupun sudah bekerja dengan usia maksimal 30 tahun akan mengisi formulir pendaftaran dan menjalani test masuk OMI. Setelah dinyatakan diterima, mereka yang berasal dari SMP akan masuk ke Yuniorat OMI program Kelas Persiapan Pertama (KPP). Mereka akan menjalani pendidikan SMA selama 3 tahun di SMA Yos Sudarso Cilacap.Sedangkan untuk mereka yang telah lulus SMA dan yang sudah bekerja dengan usia maksimal 30 tahun, akan masuk ke Yuniorat dan menjalani program Kelas Persiapan Atas (KPA) selama 1 tahun.

Fokus pembinaan di Yuniorat adalah untukmemberi tradisi hidup bersama dalam sebuah komunitas kepada para yuniores (sebutan untuk mereka yang menjalani pendidikan di yuniorat). Hidup bersama yang dimaksud adalah hidup komunitas berdasarkan tradisi dan nilai nilai semangat St Eugenius de Mazenod dan para oblatnya dalam kongregasi misionaris OMI.

Setelah selesai masa yuniorat, mereka akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu pranovisiat.

 

MASA PRANOVISIAT

Mereka yang berasal dari Yuniorat maupun yang berasal dari Seminari Menengah akan menjalani masa pranovisiat selama 8 bulan. Pada masa ini, para pranovis (sebutan untuk mereka yang menjalani masa pranovisiat) akan memperdalam pengetahuan dan penghayatan tradisi Gereja, tradisi OMI, hidup doa, dan semakin memperdalam hidup berkomunitas. Selain itu, mereka juga akan diajak semakin mengenal karya-karya OMI melalui live-in  selama 2 bulan tinggal di tengah masyarakat di wilayah di mana terdapat komunitas OMI.

Di masa ini, para pranovis dibimbing untuk mengolah dan memurnikan motivasi panggilannya. Tujuannya adalah untuk semakin memantapkan keputusannya gunamempersiapkan diri ke jenjang Novisiat (tahun kanonik).

Masa pranovisiat diakhiri dengan upacara penerimaan jubah. Jubah tersebut akan mereka pakai mulai tahap selanjutnya, yaitu tahap novisiat yang akan memberi identitas mereka sebagai biarawan OMI.

 

MASA NOVISIAT

Masa Novisiat berlangsung selama satu tahun penuh, ditambah 3 (tiga) bulan untuk persiapan kaul pertama. Fokus Novisiat adalah pendalaman hidup religius dan keoblatan.

Para Novis diajak mempelajari apa arti menjadi seorang Misionaris Religius OMI, mendalami kehidupan rohani, Kitab Suci, mengenal Konstitusi dan Aturan OMI, mendalami sejarah Keoblatan, dan sebagainya. Mereka juga mendapatkan pendidikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, olah vokal, musik organ, public speaking, dan kerja tangan.

Fokus padamasa novisiat adalah inisiasi menuju pilihan hidup sebagai seorang religius. Para novis yang mulai memiliki keyakinan terhadap panggilan Tuhan diharapkan untuk terus mengembangkan iman kristiani mereka melalui pilihan hidup sebagai seorang religius Oblat.

Masa pendidikan novisiat diakhiri dengan pengikraran kaul pertama. Dalam tradisi OMI, setiap novis yang mengikrarkan kaul pertama akan menerima sabuk hitam dan konstitusi OMI. Sabuk hitam Oblat adalah simbol penyerahan diri mereka kepada Tuhan dengan mengikatkan diri pada kaul-kaul hidup religius yang mereka ikrarkan dengan berpedoman pada Konstirusi dan Aturan OMI.

 

MASA PENDIDIKAN SKOLASTIKAT

Sesudah mengikrarkan kaul, Seorang calon imam akan mulai belajar Filsafat dan Teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma, Kentungan, Yogyakarta.

Bagi para Bruder, setelah mengikrarkan kaul pertama, mereka akan menjalani studi berdasarkan bakat, kemampuan, serta kebutuhan Kongregasi di Perguruan Tinggi yang sesuai. Bagi yang memiliki kemampuan tertentu atau sudah S1, mereka akan diutus ke tempat karya bersama para Oblat yang lain.

Masa pendidikan skolastikat diakhiri dengan pengikraran kaul kekal. Dalam tradisi OMI, setiap skolastik yang mengikrarkan kaul kekal akan menerima salib besar Oblat. Mereka yang sudah mengikrarkan kaul kekal menjadi anggota penuh Kongregasi Oblat Maria Imakulata.

PEMBINAAN BERKELANJUTAN (ON GOING FORMATION)

Setelah mengikrarkan kaul kekal, seorang calon imam akan mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan diakonat dan imamat. Sementara, untuk para Bruder akan langsung berkarya di tempat karya.

Setelah menjadi imam atau Bruder, tidak berarti bahwa pendidikan berhenti. Para Oblat, baik imam maupun Bruder akan terus belajar mengembangkan diri demi tugas perutusan dan pelayanan yang semakin baik.

Pembinaan berkelanjutan (on-going formation) diperlukan agar para Oblat tetap fresh dan terus menerus diperbaharui dalam segala aspek dirinya sehingga ia mampu menjalankan tugas dan hidupnya dengan baik dan lebih baik. (P. Aloysius Wahyu Nugroho, OMI/Promotor Panggilan OMI Indonesia)


(Sumber:  Suplemen Jejak Majalah Hidup Edisi 03/Tahun ke-71, 15 Januari 2017)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.