Karya Paroki Kalimantan Timur

Setelah selama kurang lebih 30 tahun berkarya di Laos, para Oblat Italia - seperti juga semua misionaris asing lainnya - terpaksa meninggalkan Laos disebabkan Pemerintah Komunis yang tidak mengizinkan mereka untuk berkarya di sana. Sekembalinya ke Italia,  mereka bertemu dengan Bapa Suci pada 22 Oktober 1975. Bapa Paus Paulus VI menguatkan mereka: “Salam hangat bagi kalian, Misionaris OMI Italia yang telah meninggalkan Laos, tanah misi kalian. Gereja dimuliakan berkat pengorbanan kalian. Gereja mengagumi kalian, berterima kasih kepada kalian dan menderita bersama kalian.”

Setelah pertemuan yang menggugah itu, semangat misioner para Oblat Italia ini kembali berkobar. Mereka kemudian ada yang pergi ke Uruguay dan Senegal. Tetapi ada juga kelompok yang ingin kembali lagi ke Asia, misalnya bermisi ke Pakistan atau Thailand.

Pastor Marcello Zago, OMI yang waktu itu adalah Asisten General untuk Misi Kongregasi, menjalin kontak dengan banyak Pastor Pasionis (CP) dan Misionaris Sacra Familia (MSF) di Roma. Beliau berjumpa dengan sejumlah misionaris CP yang berkarya di Kalimantan Barat dan para MSF yang berkarya di Kalimantan Timur. Beliau-lah yang berperan besar dalam sejarah diutusnya misionaris OMI Italia ke Kalimantan.

Dalam pertemuan tahunan para Uskup se-Indonesia pada bulan November 1975, peristiwa pengungsian besar-besaran para misionaris dari Vietnam, Laos dan Kamboja menjadi perbincangan hangat.  Administrator Apostolik Samarinda, Mgr. Christian Van Weegberg, MSF yang kebetulan sangat kekurangan tenaga kemudian secara resmi meminta bantuan para Oblat untuk berkarya di Samarinda.  

Maka pada 03 April 1976, diutuslah ke Keuskupan Samarinda, Kalimantan Timur, Pastor Guiseppe Rebussi, OMI dan Pastor Mario Bertoli, OMI yang masih cukup muda untuk mempelajari kemungkinan berkarya bagi para Oblat Italia. Mereka bertemu dengan Mgr. Coomans, MSF, Administrator Apostolik Keuskupan Samarinda yang baru.  Beliau menggantikan Mgr. Van Weeberg, MSF yang meninggal dunia awal November 1976 karena kecelakaan pesawat Bouraq yang jatuh di Banjarmasin.  Kedua utusan Oblat Italia ini diajak meninjau wilayah utara Keuskupan Samarinda yang kala itu baru terdapat satu Paroki, yaitu Tarakan.  Kedua utusan Oblat ini juga diteguhkan oleh Mgr. Farano (Pro-Nuncio), Kardinal Yustinus Darmoyuwono, Pr dan Mgr. Leo Sukoto, SJ yang menyatakan bahwa misi Kalimantan Timur adalah salah satu prioritas Gereja Indonesia.

Berdasarkan informasi tersebut,  Superior Jenderal OMI bersama Dewannya menyetujui misi Oblat Italia ke Indonesia pada bulan Juni 1976. Kemudian para Oblat Italia ini membentuk Delegasi Samarinda pada 03 Desember 1976 di Fiumicino, Italia, yang bukan merupakan perluasan misi para Oblat yang sudah terlebih dulu ada di Keuskupan Purwokerto (Oblat Australia) atau juga misi di Kalimantan Barat (Delegasi Sintang – Oblat Perancis).

7 Oblat Italia yang menjadi anggota Delegasi Samarinda dan pertama kali datang untuk berkarya di wilayah utara Keuskupan Samarinda tiba di Jakarta dan langsung bertolak menuju Samarinda.  Mereka adalah: (1) Pastor Yoseph  Rebussi, OMI; (2) Pastor Mario Bertoli, OMI; (3) Pastor Antonio Bocchi, OMI; (4) Pastor Wan Ibung Natalino Belingheri, OMI; (5) Pastor Pancrazio di Grazia, OMI; (6) Pastor Piero Maria Bonometti, OMI; (7) Pastor Angelo Albini, OMI.

Ketujuh Oblat tersebut disambut oleh Mgr. Coomans, MSF dan mendapat kepercayaan untuk berkarya di bagian utara wilayah Keuskupan Samarinda supaya di kemudian hari wilayah ini bisa menjadi sebuah Keuskupan baru.  Mereka juga diberi tawaran untuk berkarya di Balikpapan sebagai alternatif untuk tenaga OMI dan sebagai Pos Pendukung bagi tugas utama.

Beberapa Oblat Italia kemudian datang untuk memperkuat misi Delegasi Samarinda.  Mereka adalah Pastor Carlo Bertolini Yalai, OMI (1980), Pastor Dino Tesari, OMI (1984) dan Pastor Marcello Quatra. OMI (1996).  Sayangnya, Pastor Pancazio di Grazia, OMI harus  pulang ke Italia karena gangguan kesehatanya setelah mengalami kecelakaan jatuh dari motor Vespa.

Hingga sekarang tercatat para Oblat pernah berkarya di Tarakan, Balikpapan, Malinau, Mara, Tanjung Redeb, Tanjung Selor, Mensalong, Nunukan, Pulau Sapi, Tanah Grogot, Bontang, Dahor dan Tidung Pala. Mereka melayani orang-orang Dayak, mengunjungi mereka melewati Sungai Sesayap, Sungai Kayan dan Sungai Mahakam menggunakan ketinting demi pewartaan Kabar Sukacita yang lebih luas lagi.

Lingkup karya misi para Oblat di tanah Kalimantan Timur bukan saja melulu berpastoral rohani, tetapi juga mengusahakan sarana dan prasana seperti memprioritasakan karya pendidikan untuk membina anak-anak pedalaman yang ingin melanjutkan sekolah setelah menyelesaikan SD di kampung. Maka didirikan sekolah-sekolah SD, SMP, SMA di Tarakan, Tanjung Redeb dan Balikpapan. Juga didirikan asrama di pusat-pusat Paroki untuk menampung murid SMP dan SMA. Para anak asrama ini diberi pendidikan tambahan sebagai kader umat Katolik.  Karya kesehatan juga didirikan mengingat kondisi daerah pedalaman yang amat keras dan rawan penyakit tropis endemik. Sebagai perintis karya kesehatan, didirikan Poliklinik Santo Yoseph di Tarakan. Kemudian disusul Balai Pengobatan Harapan Mulia di Malinau, Mara I, Tidung Pala dan Poli Klinik Santa Maria di Pulau Sapi.  Kepedulian para Oblat juga mencakup pengembangan sosial ekonomi masyarakat untuk menuju kemandirian lewat proyek persawahan, peternakan, perkebunan kopi dan kakao, dan koperasi.  Para Oblat juga terus mengusahakan inkulturasi kebudayaan Dayak supaya masyarakat Dayak dapat beribadah dalam lingkup Gereja Katolik dengan baik dan benar.  Ada beberapa karya tulis, upacara liturgis, karya seni lukis dan ukiran yang dibuat oleh para Oblat, seperti Buku Sejarah Gereja Kalimantan Timur oleh Yoseph Rebussi, OMI; Kosmogonia Orang Dayak oleh Wan Ibung Natalino Belingheri, OMI; Jalan Salib buah karya lukis Bapak Jalong di Mara I, Pulau Sapi dan Sekatak; Salib Yesus hasil karya ukir Bapak Jalong di Mara I dan Setaban; Altar dan Mimbar yang disiapkan oleh Bapak Jalong di Malinau dan Mara I; serta Lukisan kaca jendela di Gereja Maria Imakulta, Tarakan.

Para Oblat Italia pada awalnya berkarya di Paroki di Pulau Tarakan dengan Pulau Nunukan sebagai Stasinya. Kegigihan para Oblat masuk ke pedalaman telah memperkembangkan jumlah umat Katolik dan berdirinya Paroki-Paroki di Kalimantan Timur bagian utara. Wilayah ini sekarang telah menjadi satu wilayah Gerejani, yaitu Keuskupan Tanjung Selor yang ditetapkan oleh Tahta Suci pada 09 Januari 2002. Pada saat ini, para Oblat di Keuskupan Tanjung Selor melayani 4 Paroki, yaitu Paroki Tarakan, Tidung Pala, Malinau dan Pulau Sapi. Di wilayah Kalimantan Timur bagian selatan atau wilayah Keuskupan Samarinda, para Oblat berkarya di 2 Paroki, yaitu: Paroki Dahor – Balikpapan dan Penajam – Paser. Di Paroki Tarakan, para Oblat juga mengembangkan devosi kepada Bunda Maria dengan pembangunan Gua Maria Mentogog. Komplek ini diharapkan juga akan membantu mengembangkan iman umat dan pendampingan generasi muda.

Paroki-Paroki di Kalimantan Timur yang kini dalam pelayanan para Misionaris Oblat Maria Imakulata:

Paroki St. Petrus dan Paulus
Jln. Dahor 1
Balikpapan 76103
Kalimantan Timur

Stasi KM 15
Kotak Pos 357
Balikpapan
Kalimantan Timur

Stasi KM 45
Kotak Pos 357
Balikpapan
Kalimantan Timur

Paroki St. Maria Dari Fatima
Jln. Sukamaju
Penajam, Kabupaten Pasir
Kalimantan Timur

Paroki Maria Imakulata
Pastoran Katolik
Jln. Jenderal Sudirman 252
Tarakan 77121
Kalimantan Timur

Paroki St. Stephanus
Pastoran Katolik
Jln. Raja Pandita RT V No. 11
Tanjung Belimbing
Kabupaten Malinau 77154
Kalimantan Timur

Paroki Rasul Yohanes
Pastoran Katolik
Jln. Laga Feratu 38
Pulau Sapi
Kabupaten Malinau 77155
Kalimantan Timur

Rumah OMI Gunung Belah
Jln.  Diponegoro 9
Tarakan - 77121
Kalimanan Timur

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.