Paroki Pulau Jawa

Sejak tahun 1960-an kesadaran bermisi mulai terasa kuat ada dalam diri para Oblat Provinsi Australia.  Sejumlah misi lintas batas dijalankan oleh para Oblat, termasuk salah satunya adalah bermisi ke Pulau Jawa, Indonesia, di akhir tahun 1971. Rahmat Tuhan yang luar biasa tercermin dalam diri umat di Pulau Jawa, meski banyak dari mereka hidup di desa-desa miskin dan banyak yang menderita sakit.  Aspek penting dari misi para Oblat ke Indonesia adalah membuka sejumlah karya untuk mengangkat kualitas hidup mereka yang dilayani oleh para Oblat selain misi untuk menarik minat para pemuda Indonesia untuk bergabung ke dalam Komunitas Oblat (Formasi Calon Oblat).

Bapa Uskup Schoemaker, MSC pada tahun 1960-an menjajagi kemungkinan bagi OMI Provinsi Australia untuk mengutus beberapa Misionarisnya  bekarya di Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah.  Menanggapi undangan tersebut, Pastor Bill Cagney, OMI – Provinsial OMI Australia waktu itu - mengundang para Oblat untuk mengadakan Kongres Provinsi. Dalam Kongres tersebut dibicarakan tentang kesiapan Provinsi Australia untuk membuka misi lintas batas.  Pilihan misi adalah Papua Nugini dan Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia.

Melalui doa dan penyelidikan yang panjang, Kongres Provinsi memilih Keuskupan Purwokerto sebagai daerah misi pertama OMI di Indonesia.  Mereka  mendapat dukungan  baik materil maupun moril seperti misalnya mendapat kunjungan rutin dari Oblat Australia dan kelompok awam yang peduli dan terlibat dalam karya misi lewat bantuan keuangan dari MAMI atau AMMI dalam Bahasa Indonesia: Asosiasi Misionaris Maria Imakulata. Tiga Kolese OMI di Australia (Mazenod College Perth, Mazenod College Melbourne dan IONA College Brisbane) juga mengunjungi para misionaris Oblat ini secara rutin. Bagi para siswa dan staf Kolese OMI, kunjungan ini merupakan kesempatan mengenal daerah misi dan mengalami semangat misionaris. Salah satu siswa dari kolese tersebut ada  yang kemudian menjadi Oblat misalnya Pastor Greg Watson, OMI.  Dukungan dan semangat persaudaraan juga dialami oleh para misionaris ketika kembali ke Australia atau ketika mereka cuti.

Pada akhir tahun 1970, empat  Oblat pertama ditetapkan untuk diutus ke Pulau Jawa: Pastor Patrick  Moroney, OMI, Pastor David Shelton, OMI, Pastor Patrick Slatery, OMI dan Psator John Kevin Casey, OMI.  Sambil menunggu visa, tahun 1971 mereka mengikuti kursus Bahasa Indonesia di Australia.   Mereka mengalami masa penantian yang melelahkan karena visa baru diperoleh pada bulan Oktober 1971, sehingga ketrampilan berbahasa Indonesia mereka    ”hilang”  karena  tidak dipraktekkan dalam waktu lama.

Kedatangan mereka di Jakarta pada tahun 1971 disambut  secara hangat oleh Romo Hardjasoemarta, Provinsial MSC di Bandara Kemayoran. Selama di Jakarta, mereka tinggal di Biara Bruder Budi Mulia di daerah dekat Monas.   Hari berikutnya, Uskup Purwokerto, Mgr Schoemaker, MSC dan Sekretarisnya,  Romo Veegers, MSC, menjemput  dan menemani mereka ke Purwokerto.  Perjalanan panjang dan melelahkan  dari Jakarta ke Purwokerto pada waktu itu sempat memunculkan keraguan dalam diri mereka untuk bisa sampai ke daerah misi baru mereka.   Bisa dibayangankan bagaimana keadaan jalan antara Jakarta-Purwokerto pada tahun1971, berdebu, macet, dan klakson yang berbunyi keras dan berulang-ulang. Setelah mengalami berbagai pengalaman, akhirnya mereka sampai di Purwokerto. Para Oblat meyakini hal ini sebagai Perlindungan dan Penyelenggaraan Ilahi.

Setelah melengkapi persyaratan keimigrasian di Kantor Imigrasi Cilacap, 4 Oblat Australia ini pergi ke Yogyakarta untuk belajar Bahasa Indonesia guna menyegarkan kembali kemampuan mereka. Selama di Yogyakarta, mereka tinggal di Bruderan Charitas, Nandan.    Setelah menyelesaikan kursus Bahasa Indonesia, para Oblat mulai berkarya di Paroki St. Yosep, Purwokerto Timur dan Paroki St. Stephanus, Cilacap.

Pastor Petrus John McLaughlin, OMI dan Pastor Charles Patrik Burrows, OMI memperkuat kelompok misi pertama masing-masing tiba pada akhir tahun 1973 dan 09 September 1973.    Sebagai persiapan, mereka juga belajar Bahasa Indonesia di Universitas Monash,  Australia.   Mereka membawa  2 kendaraan dari Australia untuk melengkapi karya misi yang telah dimulai.

Menyadari kebutuhan akan Imam di Keuskupan Agung Jakarta dan perlunya variasi karya apostolik di masa mendatang serta pusat OMI di Ibukota, maka pada tahun 1975 Delegasi OMI Australia menerima Stasi Cengkareng untuk dikembangkan menjadi Paroki.  Pastor Patrick Moroney, OMI menjadi Oblat pertama yang berkarya di Cengkareng, Jakarta. Dalam perjalanannya, Paroki Trinitas, Cengkareng berkembang pesat dalam hal kuantitas umat yang tersebar di rentang wilayah pelayanan yang luas.  Paroki Trinitas kini memiliki 2 Stasi untuk kembali dikembangkan menjadi calon-calon Paroki baru: Stasi Santa Maria Imakulata di Kecamatan Kalideres, dan Stasi Santo Vincentius Pallotti di Dadap.

Pada tahun 1995, Kongregasi OMI mendapat kepercayaan dari Bapa Uskup Agung Jakarta untuk menggembalakan Paroki Kalvari, Pondok Gede dengan prioritas membangun gedung gereja. Namun sayangnya kegiatan pembangunan gereja terpaksa dihentikan karena ketidak-setujuan masyarakat setempat.  Penggembalaan Oblat Maria Imakulata atas Paroki Kalvari terus berlangsung di tengah naik turunnya suasana kurang bersahabat dari warga sekitar akan diteruskannya pembangunan gedung gereja.    Atas pertimbangan dan pemikiran yang matang, Provinsial OMI Indonesia kala itu, Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, dengan berat hati mengembalikan Paroki Kalvari ke Keuskupan Agung Jakarta supaya Kongregasi OMI dapat lebih fokus mengembangkan Paroki Trinitas, Cengkareng, yang mungkin di masa depan dapat membuahkan beberapa Paroki baru.  Pertimbangan ini diambil setelah melihat perkembangan sangat pesat Paroki Trinitas, Cengkareng dan jarak antara 2 Paroki (Cengkareng dan Pondok Gede) yang cukup jauh – di sebelah Barat dan Timur Jakarta – yang menjadikan kesulitan tersendiri untuk bisa saling membantu dalam hal tenaga imam.  Maka pada bulan Juni 2007, pastor Peter K. Subagyo, OMI secara resmi menyerahkan Paroki Kalvari kepada Romo Diosesan yang melanjutkan karya penggembalaan umat di Paroki Kalvari.

Paroki-Paroki di Pulau Jawa yang kini dalam penggembalaan para Misionaris Oblat Maria Imakulata:

Paroki Trinitas, Cengkareng
Jln. Utama III No. 23
Cengkareng, Jakarta Barat 11730
Website: www.trinitas.or.id

Rumah OMI ”Wisma Mario”
Jln. Kramat III, Gang Listrik II No. 40
RT 003/RW 09, Kel. Kwitang, Kec. Senen
Jakarta 11730

Rumah OMI ”Bintang Laut”
Jln. Bulak Laut
Pangandaran, Jawa Barat

Rumah Retret ”Maria Imakulata”
Kaliori, Jawa Tengah

Paroki Santa Maria Imakulata
Jln. Karangsawah 507
Banyumas 53192
Jawa Tengah

Paroki Santo Stephanus
Jln. Jendral Ahmad Yani No. 23
Cilacap 53213, Jawa Tengah

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.