Lentera Iman

0112

Kebencian merupakan bagian dari dunia, sedangkan kasih ada pada Allah. Dunia membenci para murid karena mereka tinggal dalam Yesus. Seperti Yesus, para murid menghidupi kasih yang tidak mudah dihayati oleh dunia. Maka dunia membenci para murid karena tidak mampu menaklukkan mereka supaya menyerah pada dunia. Membenci para murid berarti juga membenci Yesus yang mengasihi tanpa syarat. Apa pun yang menjadi milik Yesus dibenci oleh dunia. Ini adalah konsekuensi iman dari mengikuti Kristus. Tetapi dengan harapan dan kasih, sebesar apa pun kebencian dunia, para murid mampu menghadapinya karena Yesus sudah lebih dulu menanggungnya. Kita hadapi dan kita tanggung kebencian dunia ini bersama Tuhan. Kita promosikan pengampunan dan damai. Semoga kita teguh dalam keyakinan bahwa hidup akan lebih bersukacita dalam kasih persaudaraan.

(Pastor Antonius Sussanto,OMI)

 

0111

Kasih adalah jati diri Kristus dan para muridNya. Dengan penuh kasih Kristus telah menyatakan Bapa di dalam diriNya melalui Sabda dan karyaNya. Kini Dia juga menyatakan diriNya dalam diri para muridNya agar para murid menghidupi kasih itu. Berkat kasih tersebut para murid mendengarkan Sabda dan melaksanakannya agar semakin nyatalah kasih Allah yang telah mereka alami. Mendengarkan Sabda dan melaksanakannya terkadang menghadapi tantanan. Maka Tuhan memberikan Roh Kudus untuk meneguhkan para murid dalam menghidupi kasih. Roh Kudus itu akan mengajarkan segala sesuatu dan akan mengingatkan para murid akan semua yang telah Tuhan katakan. Roh Kudus menajdi wujud kehadiran Tuhan yang menyertai secara baru. Roh Kudus telah dianugerahkan kepada kita. Bagaimana kita memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk bekerja? Apakah kita sudah menunjukkan penghormatan kita kepadaNya? Inilah saatnya kita membarui diri dengan lebih hormat pada Roh Kudus dan mempersilahkan Dia untuk bekerja di dalam hidup kita. Semoga kita semakin diteguhkan.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0110

Menjadi pengikuti Kristus harus siap dengan konsekuensinya. Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan: Pertama, kita meneladan apa yang dilakukan Yesus pada saat pembasuhan kaki. Kita bukan sekedar meniru apa yang Dia buat, tetapi melakukan dengan kesadaran dan ketulusan untuk melayani satu sama lain dalam semangat kerendahan hati. Kedua, kita membuat pilihan untuk bertindak yang baik dan benar. Mungkin akan ada ketidak-setiaan, tetapi selalu ada waktu untuk memperbaiki diri. Ketiga, ktia perlu memiliki ketabahan, ketekunan dan semangat kesatuan agar tidak mudah terguncang dan terpecah ketika menghadapi tantangan dan rintangan. Yesus sendiri memberi peneguhan bahwa akan terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak kita kehendaki, tetapi jangan sampai kehilangan pegangan dan harapan. Keempat, kita diantar untuk percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat yang diutus Bapa. Seperti Bapa mengutus Yesus, demikian pula Yesus telah mengutus banyak orang sebelum kita untuk menjadi pewarta Sukacita. Kita telah menerima mereka. Kita sekarang siap diutus juga. Mari kita tetap setia dan tekun berusaha meski menghadapi banyak tantangan dan cobaan.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0109

Bagaimana sikap domba yang baik? Domba mendengarkan dan mengenal Sang Gembala. Ini berarti domba mempunyai sikap hati yang terbuka dalam menerima Sabda dan berpegang pada Sabda itu. Kini Sabda sudah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Maka domba yang baik bersedia menerima Sang Sabda yang menjadi manusia itu dan mengandalkan Dia. Sang Sabda telah menjadi Gembala yang menuntun para domba menuju keselamatan. Keselamatan atau hidup kekal menjadi jaminan bagi para domba untuk mengikuti Sang Gembala. Maka tidak ada yang sia-sia kalau domba setia pada Gembala. Domba yang percaya tidak akan binasa meski menghadapi berbagai ancaman dan aniaya. Kesatuan domba dengan Sang Gembala menentukan keselamatannya. Kesatuan ini adalah kesatuan dalam melaksanakan kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah keselamatan semua domba yang bersedia mendengarkan PuteraNya dan tinggal sebagai satu kawanan. Semoga kita tidak menolakNya. Mari kita dengarkan Sang Gembala Baik dan ikuti Dia dengan setia.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0108

Apakah Anda mempunyai kebiasaan memandang salib atau berdoa di hadapan Tuhan tersalib? Bagaimana rasanya? St. Eugenius de Mazenod dalam permenungan retretnya menulis: 'Aku mencari kebahagiaan di luar Allah dan setelah sekian lama yang kutemukan hanyalah penderitaan. Betapa sering di masa lalu, hatiku tercabik, tersiksa, memohon bantuan kepada Allah yang telah kutinggalkan. Dapatkah aku melupakan air mata kesedihan yang mengalir saat aku memandang Salib pada hari Jumat Agung itu?' Dari Salib memancar anugerah kasih yang tiada taranya. Tuhan berkenan menjadi jaminan keselamatan dan kebahagiaan. Dari kehinaan, Dia telah mengangkatnya menjadi mulia. Betapa berharganya manusia sehingga Dia rela menderita. Mari kita datang kepadaNya.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

Artikel yang lain...

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»
Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.