Keluarga Besar OMI Yogyakarta

Di sekitar tahun 2005-2006, Bapak Agus Sudibyo, seorang pensiunan PT Pertamina Divisi Cilacap, mulai sering bertandang ke Seminari Tinggi OMI di Condong Catur, Yogyakarta. Tujuan kunjungannya adalah ingin berbagi waktu menjadi teman bagi para penghuni Wisma de Mazenod – sebutan Seminari Tinggi OMI. Keakraban yang mulai tumbuh pada akhirnya dikembangkan dan menjadi suatu ikatan kekeluargaan yang menarik antara awam dan Seminari Tinggi OMI Yogyakarta.

Bapak Agus Sudibyo sejak pensiun di tahun 2004 memboyong keluarganya untuk menetap di Yogyakarta. Keinginan untuk tetap melayani Gereja meski berada di tempat baru membawa Pak Agus bertemu dengan Romo John O’Doherty, OMI yang kala itu menjadi salah satu anggota Tim Formasi OMI. Pertemuan ini membuahkan rasa panggilan dalam hati Pak Agus untuk lebih sering lagi berkumpul di Wisma de Mazenod, menjadi orangtua bagi para Frater/Bruder OMI bahkan menjadi umat bagi para Oblat yang berkarya di Seminari Tinggi OMI, “karena saya melihat OMI di Yogyakarta hanya memiliki Rumah Formasi dan tidak menggembalakan satu Paroki sendiri. Ini berarti OMI tidak memiliki umat di Yogyakarta, maka baik juga kalau saya dapat mengumpulkan teman-teman dan menjadi umat bagi para Oblat yang berkarya di Rumah Formasi ini,” begitu Pak Agus berujar.

Pak Agus lalu mulai mengumpulkan awam yang dahulu pernah tinggal di Paroki-Paroki yang dilayani oleh para Oblat baik di Jawa maupun di Kalimantan. Mereka mulai teratur mengadakan pertemuan di Seminari Tinggi OMI dan bahkan menjadi Panitia Penyelenggaraan banyak acara yang diadakan oleh Seminari. Paguyuban pensiunan yang pada mulanya hanya berkeinginan untuk berbagi waktu dan saling mengisi ini kini telah bertumbuh subur. Mereka kemudian menyebut diri sebagai “Keluarga Besar OMI Yogyakarta”. Para anggota komunitas ini datang dari Cilacap, Jakarta, Cirebon, Tarakan, Pulau Bunyu, Bontang, Balikpapan, dan daerah lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah juga anggota Sahabat Seminari OMI.

Pertemuan-pertemuan Komunitas ini selalu dirancang menarik. Mulai tahun 2013, pertemuan akan dibuat rutin 2 bulan sekali, dengan diisi pendalaman rohani oleh Romo/Frater, motivasi diri dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya, Misa Kudus, dan ramah-tamah bersama. Selain itu, para Ibu dari Komunitas ini juga aktif menggelar Arisan Keluarga setiap bulannya. Kunjungan penghiburan kepada para anggota yang sakit di rumah maupun rumah sakit, dan berbagi rasa dengan anggota yang berduka cita adalah juga bagian dari kegiatan Komunitas ini.

Ketulusan dan kesungguhan para anggota Keluarga Besar OMI Yogyakarta dalam bersahabat dan membangun sebuah keluarga besar tampak jelas dalam acara-acara atau pesta-pesta syukur yang diadakan oleh para Oblat. Komunitas ini selalu menjadi donatur konsumsi bagi acara kebersamaan ini dengan menyumbangkan makanan sesuai dengan “keahlian” mereka masing-masing. Setiap kali acara berlangsung, sungguh terjadi “Mukjizat 5 Roti dan 2 Ikan” di dalamnya – makanan akan tersaji cukup bagi seluruh yang hadir, bahkan bersisa.

Kebersamaan, berbagi suka-duka, berjalan beriring sebagai sahabat dan orangtua bagi Wisma de Mazenod, itulah yang ingin dilakukan oleh Komunitas yang sekarang beranggotakan sekitar 60 keluarga ini. Ikatan kekeluargaan antar anggota dan dengan penghuni Wisma de Mazenod menjadi suatu ketergantungan timbal-balik yang sungguh nyata yang patut disyukuri.

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.