Sahabat Seminari

Ingin ikut berperanserta bagi masa depan Gereja?  Sahabat Seminari OMI salah satu jawabannya!

Mengikuti perkembangan Gereja Katolik di Indonesia, kita akan menjadi tahu bahwa sejak dulu kita menerima para Misionaris asing datang untuk berkarya di Indonesia. Mereka telah merintis berbagai pelayanan dalam Gereja yang dijalankan dengan satu tujuan demi kemuliaan Tuhan seperti yang diajarkan dan diperintahkan Tuhan dalam tugas perutusan kita: “… KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.  Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20)

Sekarang ini, para Misionaris asing sudah mulai surut – baik dalam hal kuantitas maupun kualitas personelnya.  Banyak di antara mereka telah mendahului kita berpulang ke Sang Empunya Gereja, banyak pula yang sudah menjadi tua, menghuni rumah-rumah jompo, dan hanya sedikit saja dari mereka yang masih berkarya di tengah-tengah kita.  Kini tibalah saatnya bagi kita untuk ikut ambil tanggungjawab secara penuh atas seluruh keberadaan Gereja Katolik Indonesia yang di dalamnya terdapat kita sebagai “batu fondasi” nya.

Secara khusus tampak dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia adalah kehadiran para Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI) untuk turut melayani Gereja di Bumi Nusantara ini.  Di tahun 1972, 7 Oblat asal Australia datang bermisi di Pulau Jawa (Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Purwokerto, dan Keuskupan Agung Semarang); sedangkan di tahun 1977, 7 Oblat asal Italia dan 7 Oblat asal Perancis tiba untuk membuka misi di Pulau Kalimantan (Keuskupan Sintang, Keuskupan Tanjung Selor, dan Keuskupan Agung Samarinda). Para Oblat ini terlibat dalam karya-karya parokial, pendidikan (sekolah-sekolah umum), asrama, karya sosial, dan pendampingan umat di daerah-daerah pedalaman.  Secara khusus, dalam rangka menyiapkan para Gembala penerus karya-karya tersebut, para Misionaris OMI ini juga mendirikan tempat pendidikan bagi para calon Imam dan Bruder di Yogyakarta.  Maka hadirlah Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod” pada tahun 1982 di Condong Catur, Yogyakarta dan Novisiat “Beato Joseph Gerard” pada tahun 1990 di Blotan, Yogyakarta.

Novisiat dan Seminari Tinggi OMI merupakan harapan bagi kelangsungan pelayanan para Oblat di Indonesia, karena di dalamnya dididik para calon Imam dan Bruder selama 9-10 tahun yang diisi dengan berbagai program formasi di bidang rohani, intelektual, kepribadian, komunitas, dan pastoral.  Proses panjang ini adalah proses yan wajib dalam Gereja Katolik untuk mempersiapkan pelayan Gereja di masa depan.  Maka mau tak mau proses ini melibatkan banyak orang, membutuhkan dana besar, dan membuat Provinsial OMI dan para Oblat yang terlibat dalam Tim Formasi OMI harus memikirkan strategi jitu untuk kelangsungan proses persiapan calon Imam dan Bruder OMI.

Ciri khas model pendidikan calon pelayan Gereja dalam perjalanan sejarahnya di hampir semua negara di dunia ini selalu mengacu pada model kerjasama yang kuat antara Imam dan Awam (baca: Bukan Umat).  Ada hubungan timbal balik yang terjalin di antara Imam dan Awam; bahwa Imam membutuhkan Awam, dan Awam membutuhkan Imam.  Ini adalah kekuatan Gereja Katolik - Imam tidak bisa hidup tanpa Awam, begitu juga Awam tidak bisa hidup tanpa Imam.

Kerjasama yang kuat antar Imam dan Awam juga terjadi dalam pendidikan calon Imam/Bruder OMI. Sejak awal mula karya OMI di Indonesia, para OMI telah bekerjasama dengan para Awam lewat aneka macam kegiatan Gereja yang dipikul bersama dengan penuh pengabdian dan ketulusan.  Motto “Samperan dan Saweran” sudah menjadi ciri  khas dan tradisi dalam hubungan Imam OMI dan Awam.  Semua itu terjadi jauh sebelum dibentuknya wadah Sahabat Seminari OMI oleh Romo John O’Doherty, OMI pada tahun 2006.

Sahabat Seminari OMI (Sasem) adalah wujud dari relasi yang selama ini sudah terjalin amat erat antara para Oblat dengan Awam yang peduli secara khusus pada pendidikan calon OMI.  Sasem dikelola dalam jaringan dan gerakan bersama antara Kantor Sasem di Yogyakarta (yang dilaksanakan oleh seorang Direktur, Bendahara, dan Sekretaris) dan para Promotor Sasem yang ditunjuk di  berbagai daerah.  Pertemuan dengan para anggota dirancang setiap tahunnya, sedangkan Laporan Tahunan Sasem dan majalah pendidikan para calon OMI akan dikirimkan kepada para anggota.

Sasem adalah sebuah gerakan persahabatan – sebuah wadah - antara OMI dan Awam yang peduli untuk bergandengan tangan, bahu-membahu memikirkan, menemukan, dan menjaga kelangsungan pelayanan Gereja Katolik tercinta, khususnya dalam konteks pendidikan para calon Gembala Gereja, baik Imam maupun Bruder di dalam Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI).  Sasem ada bukan saja untuk membantu mengumpulkan dana yang cukup guna menyelenggarakan pendidikan para calon Imam/Bruder OMI Provinsi Indonesia, tetapi juga untuk menjalin persahabatan timbal-balik yang penuh kasih dan perhatian antara OMI-Awam yang peduli, disamping juga untuk mengembangkan semangat misioner Awam dalam keterlibatan pendidikan calon Misionaris OMI yang mendunia.

Semoga semakin banyak lagi Awam yang peduli dan mau ikut terlibat dalam proses persiapan dan pendidikan para calon Imam/Bruder OMI - khususnya, karena pada hakekatnya Gereja akan terus hidup berkat peranserta aktif seluruh umatnya dalam berjuang dan mengupayakan kelangsungan keberadaan para Gembala Gereja. (diolah dari bahan Jumpa Sasem bersama Romo Henricus Asodo, OMI, Oktober 2011)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.