Visi Misi OMI

Gereja, warisan mulia Penyelamat, yang telah diperolehNya dengan darahNya sendiri, dewasa ini dilanda kehancuran yang mengerikan.  Mempelai tercinta Putera Allah itu sangat merasa gentar dalam ratapannya atas penyelewengan memalukan anak-anak yang telah dilahirkannya.  Orang-orang Kristiani yang murtad dan sama sekali lupa akan kebaikan-kebaikan Allah telah membangkitkan murka Allah Yang Maha Adil karena kejahatan-kejahatan mereka.  Jika kita tidak tahu bahwa pusaka suci iman akan selalu dijaga utuh sampai akhir zaman, hampir tidak mungkin kita menemukan kembali agama Kristus di tengah sisa-sisa dari keadaannya sebelumnya.  Dapat benar-benar dikatakan bahwa karena kejahatan dan kebejatan orang-orang Kristiani dewasa ini, keadaan sebagian besar dari mereka lebih buruk daripada keadaan kekafiran, sebelum salib menghancurkan berhala-berhala.

Dalam keadaan yang menyedihkan itu, dengan suara lantang Gereja memanggil para petugasnya yang telah diserahi penjagaan kepentingan-kepentingan tersayang mempelai ilahinya.  Ia memanggil mereka agar berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan, melalui perkataan dan suri tauladan mereka, iman yang hampir mati ke dalam hati sejumlah besar anak-anaknya.  Tetapi malang!  Hanya sedikit yang menjawab ajakan yang sangat mendesak itu.  Kebanyakan dari mereka bahkan memperberat kejahatan-kejahatan mereka karena bertingkah laku yang tercela.  Sebaliknya daripada berusaha untuk membawa kembali orang-orang masuk jalan-jalan yang besar, mereka sendiri justru perlu untuk diingatkan akan pelaksanaan tugas-tugas mereka.

Melihat kekacauan-kekacauan itu, hati beberapa imam telah tersentuh.  Mereka menjunjung tinggi kemuliaan Allah, mencintai Gereja dan ingin, bila perlu, mengorbankan diri untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Mereka yakin bahwa masih dapat diharapkan untuk segera membawa kembali orang-orang yang tersesat kepada tugas-tugas mereka yang lama nian dilupakan, jika seandainya dapat dididik imam-imam yang bersemangat, tanpa pamrih, benar-benar berkeutamaan.  Pendek kata, orang-orang yang bersemangat kerasulan, orang-orang yang sesudah merasa perlu dirinya sendiri diperbaharui, bekerja sekuat tenaga untuk membuat orang-orang lain bertobat.  “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu,” kata Rasul Paulus kepada Timotius.  “Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1 Tim 4:16)

Apa yang dilakukan oleh Tuhan kita Yesus ketika Ia ingin mempertobatkan dunia?  Ia memilih sejumlah rasul dan murid, yang dididikNya kesalehan, yang dipenuhiNya dengan RohNya.  Sesudah membentuk jiwa mereka dengan ajaranNya, Ia mengutus mereka untuk merebut dunia, yang tidak lama kemudian mereka tundukkan di bawah hukum-hukumNya yang suci.

Apa yang pada gilirannya harus dilakukan oleh orang-orang yang ingin mengikuti jejak Kristus Guru Ilahi mereka, untuk merebut kembali bagiNya demikian banyak jiwa-jiwa yang telah meninggalkan kukNya?  Mereka harus bekerja keras untuk menjadi orang-orang suci.  Mereka harus berani menempuh jalan sama seperti ditempuh demikian banyak pekerja Injil, dengan memberi kita teladan-teladan keutamaan yang demikian luhur dalam melaksanakan pelayanan, yang sekarang mereka rasakan sebagai panggilan mereka juga.  Mereka harus meninggalkan diri mereka sama sekali, semata-mata mementingkan kemuliaan Allah, kebaikan Gereja, pertumbuhan dan keselamatan jiwa-jiwa.  Mereka harus terus-menerus memperbaharui diri menurut semangat panggilan mereka, terbiasa hidup menyangkal diri dan selalu ingin mencapai kesempurnaan, dengan tak henti-hentinya berusaha menjadi rendah hati, lemah lembut, patuh setia, mencintai kemiskinan, menyesali dosa-dosa, bermatiraga, tidak melekat pada dunia dan orangtua, penuh semangat, bersedia mengorbankan semu harta bendanya, bakat-bakatnya, istirahatnya, pribadi dan hidupnya demi cinta kepada Yesus Kristus, demi pelayanan kepada Gereja dan demi pengudusan sesama.  Kemudian dengan penuh kepercayaan akan Allah, mereka dapat masuk ke medan laga dan bertempur sampai mati demi kemuliaan sebesar-besarnya namaNya yang terkudus dan terluhur.

Betapa luas medan perjuangan itu!  Betapa luhur dan sucinya usaha itu!  Umat meringkuk dalam gelapnya kebodohan tentang segala sesuatu yang menyangkut keselamatan mereka.  Akibat dari kebodohan itu, iman memudar, akhlak merosot dan timbul kekacauan yang tak terpisahkan dari situasi itu.  Oleh karena itu, sangatlah penting, sungguhlah mendesak usaha menggiring demikian banyak domba tersesat kembali ke kandang, mengajarkan kepada orang-orang Kristiani yang merosot imannya siapa Yesus Kristus, merenggut mereka dari kekuasaan setan dan menunjukkan kepada mereka jalan ke sorga.  Tidak boleh ditunda-tunda lagi kerja untuk meluaskan Kerajaan Penyelamat, menghancurkan kerajaan neraka, membendng kejahatan yang banyak sekali, mendorong agar segala keutamaan dihormati dan dipraktekkan, menjadikan orang-orang berpikiran sehat, lalu menjadikan Kristiani, akhirnya membantu mereka menjadi orang-orang suci.

Itulah buah-buah tak terpahami keselamatan yang dapat dihasilkan dari karya-karya para imam yang telah diilhami oleh Tuhan untuk bersatu membentuk persekutuan agar dapat bekerja dengan lebih efektif bagi keselamatan jiwa-jiwa dan bagi pengudusan hidup mereka sendiri.  Untuk itu mereka harus menunaikan tugas mereka dengan patut, memenuhi panggilan mereka dengan setia.

Tetapi tidak cukuplah mereka diresapi keagungan pelayanan yang menjadi panggilan mereka.  Dari teladan orang-orang kudus dan akal sehat, sudah cukup jelas bahwa aturan-aturan hidup tertentu perlu ditetapkan agar keberhasilan usaha yang demikian suci itu dapat dipastikan dan agar ketertiban dalam suatu persekutuan hidup dapat dijaga.  Aturan-aturan hidup itu mempersatukan semua anggota persekutuan itu dalam keseragaman tindak dan dalam kesamaan semangat.  Kesatuan inilah yang menjadi kekuatan persekutuan, menjaga semangatnya dan kelangsungannya.

Oleh karena itu, dalam membaktikan diri kepada karya-karya semangat suci yang dapat diilhami oleh cinta keimanan mereka, dan terutama kepada pelaksanaan perutusan yang menjadi tujuan utama persatuan mereka, para imam dengan bersatu membentuk suatu persekutuan, berketetapan untuk mematuhi suatu Aturan dan Konstitusi.  Aturan dan Konstitusi itu akan menjadi sarana yang layak bagi semuanya untuk memperoleh manfaat-manfaat yang ingin mereka petik bagi kesucian hidup mereka sendiri dan bagi keselamatan jiwa-jiwa.

(Prakata Bapa Pendiri OMI, Konstitusi dan Aturan Hidup OMI, 2000)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.