Sejarah

Misionaris OMI Di Indonesia

Setelah Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI) berusia kurang lebih satu setengah abad, barulah Misionaris Oblat datang ke Indonesia untuk membuka Misi dan mulai berkarya di Indonesia. Mereka berasal dari tiga negara yang berbeda: Australia, Italia dan Perancis.

Pada tahun 1971, Provinsi OMI Australia mulai mengirim kelompok Oblat yang pertama untuk membuka Misi di Jawa Tengah (Keuskupan Purwokerto). Kemudian pada tahun 1977, Provinsi OMI Italia dan Provinsi OMI Perancis mengirim masing-masing satu Delegasi yang terdiri dari 7 Oblat. Delegasi Italia berkarya di Kalimantan Timur (Keuskupan Samarinda) dan Delegasi Perancis di Kalimantan Barat (Keuskupan Sintang).

 

Oblat dari Provinsi Australia

Pada akhir era 1960-an, Provinsi OMI Australia menerima tawaran untuk melakukan misi  luar negeri di dua tempat, yaitu misi di Jawa (Indonesia) atau di Papua Nugini. Akhirnya kongres Provinsi 1969 memutuskan untuk menerima misi di Jawa, Indonesia, secara khusus di Keuskupan Purwokerto yang lebih membutuhkan tenaga misionaris. Kesepakatan antara Provinsi OMI Australia dengan Mgr. Schoemaker MSC, Uskup Purwokerto saat itu, dicapai pada Natal 1970. Karena urusan visa dan hal-hal kanonis, empat misionaris Oblat pioner, yaitu Patrick Moroney, OMI, David Shelton, OMI, Pat Slattery, OMI dan Kevin Johanes Casey, OMI baru tiba di Jawa tanggal 25 Oktober 1971. Mgr. Schoemaker MSC mulanya mempercayakan kepada mereka Paroki Purwokerto Timur. Beberapa waktu kemudian, pada 21 Mei 1972, Kevin Casey dan David Shelton mulai berkarya di Paroki OMI yang ke dua, yaitu Paroki Cilacap. Pada tahun 1973, Charles Burrows, OMI dan Peter J. McLaughlin, OMI tiba dan bergabung dalam kelompok Misionaris OMI di Jawa ini. Pada tahun 1975, mereka juga menerima kepercayaan dari Keuskupan Agung Jakarta untuk mengelola Paroki Trinitas, Cengkareng. Patrick Moroney, OMI diutus untuk menjadi pastor paroki pertama di sana.

Melihat peluang dan perkembangan minat panggilan untuk menjadi calon misionaris OMI selama beberapa tahun terakhir, akhirnya pada bulan Agustus 1982, berdirilah Seminari Tinggi OMI – Wisma de Mazenod, di Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Kevin Casey, OMI dipercaya menjadi Rektor Seminari yang pertama. Menyusul kemudian pada bulan Juli 1985, dibuka rumah Novisiat OMI.

Beberapa misionaris Oblat lainnya yang datang pada dekade 80-an adalah John O’Doherty, OMI, Peter K. Subagyo, OMI, Paul Gwynne, OMI, Paul Costello, OMI, John O’Regan, OMI dan Pat McAnally, OMI.

Pada tahun 1987, kerasulan OMI Australia di Jawa ini berubah statusnya dan menjadi lebih mandiri. Bila sebelumnya disebut sebagai daerah Misi OMI Australia di Jawa, kini disebut sebagai Delegasi Australia.

 

Oblat dari Perancis

Pada tahun 1975, negara Laos beralih kepada "Pathet Lao" dan pemerintah dikuasai oleh Partai Komunis. Semua misionaris asing yang - sampai saat itu - berkarya di Keuskupan Vientiane di Laos, terpaksa meninggalkan negara tersebut dan kembali ke Perancis, negara asal mereka. Mengingat bahwa beberapa orang di antara mereka ingin meneruskan karya evangelisasinya di Asia, setelah mengadakan peninjauan di Indonesia, mereka menerima tawaran Mgr. Lambertus van den Boorn, SMM, yang pada waktu itu menjabat sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sintang. Pada tanggal 29 Januari 1977, anggota Delegasi OMI Sintang, yang terdiri dari 7 orang tiba di Jakarta. Mereka adalah: Andre Hebting, OMI dan Jean-Pierre Meichel,OMI (Provinsi OMI Perancis Timur), Rene Colin, OMI, Bernard Keradec, OMI dan Jacques Chapuis, OMI (Provinsi OMI Perancis Utara), Jean Subra, OMI (Provinsi OMI Perancis Selatan) dan akhirnya Lucien Bouchard, OMI  (Provinsi OMI St. John The Baptist, USA.) Setelah enam bulan di Bandung dan di Jawa Tengah (Purwokerto dan Cilacap), pada 30 Agustus 1977, mereka tiba di Pontianak (Kalimantan Barat). Mereka meneruskan perjalanan sampai Sintang. Sejak saat itulah mereka sebagai misionaris Oblat berkarya menyebar, menerobos hutan dan menyusuri sungai-sungai dalam wilayah Paroki-Paroki yang terdapat di Keuskupan Sintang. Misalnya, Paroki Bika, Nanga Peniung, Sejiram, Nanga Dangkan, Sepauk dan Melapi-Siut.

 

Oblat dari Italia

Setelah selama kurang lebih 30 tahun berkarya di Laos, para Oblat Italia juga, seperti semua misionaris asing, terpaksa meninggalkan Laos karena Pemerintah Komunis tidak mengizinkan mereka berkarya di sana. Sekembalinya ke Italia mereka bertemu dengan Paus pada 22 Oktober 1975. Paus Paulus VI menguatkan mereka: ”Salam hangat bagi kalian, Misionaris OMI Italia yang telah meninggalkan Laos, tanah misi kalian. Gereja dimuliakan berkat pengorbanan kalian. Gereja mengagumi kalian, berterima kasih kepada kalian dan menderita bersama kalian.”

Semangat misioner mereka kembali berkobar. Ada yang pergi ke Uruguay dan Senegal. Tetapi ada kelompok yang ingin kembali lagi ke Asia, misalnya ke Pakistan atau Thailand.  Pastor Marcello Zago, yang waktu itu adalah Asisten General untuk Misi Kongregasi, menjalin kontak dengan banyak Pastor Passionis (CP) dan Misionaris Sacra Familia (MSF) di Roma. Beliau berjumpa dengan sejumlah misionaris CP yang berkarya di Kalimantan Barat dan para MSF yang berkarya di Kalimantan Timur. Beliau-lah yang berperan besar dalam sejarah diutusnya misionaris OMI di Kalimantan Timur.

Dalam pertemuan tahunan para uskup se-Indonesia pada bulan November 1975, peristiwa pengungsian besar-besaran para misionaris dari Vietnam, Laos dan Kamboja menjadi buah bibir. Administrator Apostolik Samarinda, Mgr. Christian Van Weegberg, MSF yang kebetulan sangat kekurangan tenaga, secara resmi pada 3 April 1976 meminta bantuan para Oblat untuk berkarya di Keuskupan Samarinda. Maka datanglah Pastor Guiseppe Rebussi, OMI dan Pastor Mario Bertoli, OMI ke Samarinda untuk mempelajari kemungkinan berkarya bagi para Oblat Italia. Mereka diteguhkan oleh Mgr. Farano (Pro-Nuncio), Kardinal Yustinus Darmoyuwono, Pr dan Mgr. Leo Sukoto, SJ yang menyatakan bahwa misi Kalimantan Timur adalah salah satu prioritas Gereja Indonesia. Berdasarkan berbagai informasi di atas Superior Jenderal OMI bersama dewannya menyetujui misi Oblat Italia ke Indonesia pada bulan Juni 1976. Kemudian mereka mendirikan Delegasi Samarinda pada 3 Desember 1976 di Fiumicino (Italia).

Pada Paska 1977 ketujuh Oblat Italia Perintis Delegasi Samarinda meninggalkan Italia. Mereka adalah Giuseppe Rebussi, OMI,  Pietro Bonometti, OMI, Mario Bertoli, OMI, Antonio Bocchi, OMI, Angelo Albini, OMI,  Natalino Belingheri, OMI, dan Pancrazio di Grazia, OMI. Mereka tiba di Jakarta pada 25 April 1977 dan langsung bertolak menuju Samarinda. Kedatangan mereka disambut oleh Mgr. M. Coomans, MSF, Administrator Apostolik Keuskupan Samarinda yang baru.

Ketujuh Oblat tersebut kemudian mendapat kepercayaan untuk berkarya di bagian utara wilayah Keuskupan Samarinda. Pada tahun 1977 mereka berkarya di 5 Paroki (yaitu: Malinau, Sungai Kayan, Berau, Tarakan dan Nunukan). Dalam perjalanan waktu, mereka juga berkarya di Mara, Tanjung Redeb, Tanjung Selor, Mensalong, Pulau Sapid an Tidung Pale). Sebagian Oblat juga menerima perutusan untuk berkarya di Paroki St.Petrus dan Paulus, Balikpapan, yang dalam perkembangannya melahirkan beberapa Paroki baru, seperti Bontang, Tanah Grogot dan Penajam.

Seiring perjalanan waktu, turut memperkuat barisan Oblat Italia tersebut Carlo Bertolini, OMI (1980), Dino Tessari, OMI (1984) dan Marcello Quatra, OMI (1996).

Pada 9 Januari 2002, Tahta Suci mengumumkan lahirnya Keuskupan baru yaitu Keuskupan Tanjung Selor. Kelahiran Keuskupan baru ini menjadi semacam  mahkota ketika para misionaris OMI merayakan 25 tahun kehadiran dan karya-nya di Kalimantan Timur, khususnya di bagian Utara dari Keuskupan Samarinda itu.

 

Tiga Delegasi menjadi Satu Provinsi

Awalnya para Oblat yang berkarya di Indonesia merupakan 3 kelompok di bawah naungan Provinsi asal mereka masing masing.  Ketiga kelompok ini menyebut dirinya Delegasi Jawa (Provinsi Australia), Delegasi Sintang (Provinsi Perancis) dan Delegasi Samarinda (Provinsi Italia). Sejak tahun 1986, ketiga delegasi tersebut telah menjalin relasi dan merintis usaha untuk penyatuan. Usaha tersebut mereka wujudkan dalam retret bersama, pertemuan bersama, kerjasama dan saling membantu dalam segi tenaga demi kepentingan Formasi Pertama (yaitu Novisiat dan Seminari Tinggi OMI). Mereka telah dengan tegas menyatakan kebulatan niat untuk penyatuan 3 Delegasi, dan telah menetapkan sasaran umum yang jelas untuk 5 tahun ke depan yaitu pastoral, sosial, panggilan dan pendidikan seumur hidup. Akhirnya dalam Kongres Sanggau tahun 1992 mereka mengambil keputusan untuk bergabung menjadi satu provinsi, yaitu Provinsi Indonesia. Usaha penyatuan ini disetujui oleh Superior Jenderal. Pada 21 Mei 1993, Pemimpin Tertinggi Kongregasi OMI, yaitu Pastor Marcello Zago, OMI secara resmi menyatakan berdirinya Provinsi Muda OMI Indonesia dengan Pastor Mario Bertoli, OMI sebagai Provinsial pertamanya. Dalam sambutannya, Pastor Marcello Zago, OMI mengatakan bahwa pendirian sebuah provinsi adalah peristiwa yang istimewa. Kharisma Oblat akan semakin nyata dalam Gereja lokal dan budaya setempat. Maka pendirian sebuah provinsi harus dipandang sebagai rahmat dan tanggungjawab. Tanggungjawab itu menjadi lebih besar ketika Provinsi Muda OMI Indonesia pada tahun 2001 diubah statusnya menjadi Provinsi OMI Indonesia.

Sejak kedatangan awal para misionaris OMI ke Indonesia, banyak perubahan personalia telah terjadi. Misalnya, karena alasan usia atau pun kesehatan, beberapa misionaris (lebih dari 10 Oblat) kembali ke negara asalnya; beberapa pastor Oblat telah meninggal dunia; dan ada pula pastor yang telah melepaskan keanggotaannya. Sampai dengan penghujung tahun 2011 ini, terdapat 31 orang Oblat yang berkarya dalam Provinsi OMI Indonesia. Sebagian besar dari mereka berkarya di Paroki:

Di wilayah Jawa : Paroki St. Stephanus, Cilacap dan Paroki Maria Imakulata, Banyumas (Keuskupan Purwokerto) dan Paroki Trinitas, Cengkareng (Keuskupan Agung Jakarta).

Di wilayah Kalimantan Barat : Paroki Sepauk dan Paroki Dangkan-Silat (Keuskupan Sintang).

Di wilayah Kalimantan Timur : Paroki St. Petrus dan Paulus, Balikpapan dan Paroki St. Maria dari Fatima, Penajam (Keuskupan Agung Samarinda) serta Paroki St. Maria Imakulata, Tarakan; Paroki St. Stephanus, Malinau dan Paroki Rasul Yohanes, Pulau Sapi (Keuskupan Tanjung Selor).

Kebanyakan misionaris OMI dalam Provinsi Indonesia diutus untuk melaksanakan karya teritorial/ parokial. Namun ada juga beberapa pastor OMI yang melaksanakan karya yang sifatnya kategorial, seperti mengelola tempat ziarah Gua Maria, rumah retret, yayasan sosial dan pendidikan, dan lain-lain. Selain itu, juga ada beberapa pastor OMI yang pada saat ini berkarya di Rumah Formasi - Seminari Tinggi OMI dan Novisiat OMI - yang terletak di Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

(Sumber:  Buku St. Eugenius de Mazenod, Imam – Misionaris – Uskup, Pendiri Kongregasi OMI, Novisiat OMI Indonesia, 2011)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.