Novisiat

“Novisiat merupakan masa kandidat dibimbing ke dalam hidup religius sebagai Oblat, diarahkan menuju pembuktian diri secara umum di dalam Lembaga Hidup Bakti.  Provinsial menerima pada kandidat masuk ke novisiat.  Di bawah bimbingan Magister Novis, para novis berusaha memahami makna hidup yang dikuduskan.  Dengan demikian mereka dapat melihat dengan lebih jelas panggilan Tuhan dan, dalam doa, mempersiapkan diri untuk menjawab panggilan itu.” (Konsitusi OMI No. 55)

Ketertarikan pemuda asli Indonesia untuk bergabung ke dalam Kongregasi Oblat Maria Imakulata sudah ada sejak tahun 1974, saat 2 orang pemuda – Thomas Sudiono dan Leo Tintri – melamar untuk menjadi Calon Oblat.  Mereka menempuh pendidikan awal di Seminari Tinggi Praja di Bandung sambil mengikuti kuliah Filsafat.  Pada 15 Januari 1977, dibuka Novisiat pertama di Cilacap (Komunitas Pastoran Cilacap).  Pastor Petrus J. McLaughlin, OMI ditunjuk menjadi Magister Novis, sedangkan Pastor Carolus Burrows, OMI sebagai Socius.  Maka ke-2 calon Oblat Indonesia yang telah menyelesaikan kuliah Filsafat kini menempuh tahun novisiat di pastoran Cilacap tersebut.  Sayangnya, kedua calon ini hanya bertahan selama 5 bulan dan memilih untuk mengundurkan diri, karena keadaan tempat pendidikan yang tidak memungkinkan.

Pada periode 1981-1983, terdapat 3 pemuda yang berminat mengikuti jejak para misionaris OMI di Indonesia.  Mereka menjalani tahun novisiat di Filipina.  Setelah bangunan untuk Seminari Tinggi OMI mulai dipergunakan, maka di tahun 1985 didirikan di kompleks tersebut bangunan yang terletak di bagian sisi kiri sebelah utara Skolastikat OMI - yang sekarang dikenal dengan sebutan Unit C – untuk dijadikan Novisiat OMI.

Pastor John O’Doherty, OMI yang sudah berpengalaman selama 9 tahun menjadi Magister Novis di Australia mempersiapkan Novisiat OMI di Indonesia.  Pada 15 Juli 1985, Komunitas Novisiat OMI yang bernaung di bawah perlindungan Beato Joseph Gerard mulai beroperasi dengan 12 Novis.

Pada tahun-tahun berikutnya direncanakan untuk memindahkan Komunitas Novisiat OMI di suatu tempat tersendiri, terpisah dari Komunitas Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”.  Maka sejak tahun 1990 mulailah dirintis pembangunan gedung baru untuk Novisiat OMI di daerah Dusun Blotan, Ngemplak, Wedomartani, Sleman, Yogyakarta – sekitar 2 km di sebelah utara dari Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”.

25 Juli 1990, terjadi sejarah baru Komunitas Formasi OMI di Indonesia, yaitu dengan berpindahnya Novisiat dari kompleks Seminari Tinggi OMI untuk menempati bangunan khusus yang baru di Blotan.  Pemberkatan Novisiat yang diberi nama Novisiat “Beato Joseph Gerard” ini dilakukan pada 06 September 1990 oleh para Superior Delegasi OMI yang ada di Indonesia saat itu, yaitu Delegasi Jawa, Delegasi Sintang, dan Delegasi Samarinda.

TAHAP-TAHAP PENDIDIKAN DI NOVISIAT OMI:

Biasanya, para pemuda yang tertarik untuk menjadi Calon Oblat akan memperdalam pengenalannya dengan berkontak langsung kepada Promotor Panggilan OMI baik lewat telepon, email, SMS, atau berjumpa langsung. Ada juga program “Come and See” yang diselenggarakan di Seminari Tinggi OMI, Condongcatur, Yogyakarta di setiap akhir tahun yang bertujuan memperkenalkan OMI dan karya misionarisnya.  Masa perkenalan ini dilanjutkan dengan seleksi calon atau solisitasi yang meliputi: tes kepribadian dan kemampuan belajar, check-up kesehatan, serta wawancara dengan para Oblat dan pasangan suami istri terpilih. Kemudian calon yang terima akan dipanggil oleh Pastor Provinsial untuk menjalani tahap berikutnya,  yakni Novisiat I yang bertempat di Novisiat Beato Joseph Gerard di Blotan, Yogyakarta.

TAHAP NOVISIAT I:

“Kepada para kandidat yang menunjukkan tanda-tanda panggilan, sebelum memasuki novisiat, akan diberikan persiapan yang layak, atau di dalam komunitas atau elalui kontak-kontak teratur dengan para Oblat.  Tujuan pengalaman ini ialah membantu mereka untuk memperoleh kematangan manusiawi dan Kristiani yang mutlak perlu agar novisiat menghasilkan buah, dan untuk membuktikan kesesuaian mereka bagi hidup sebagai Oblat.” (Konstitusi OMI No. 54).  

Pengenalan diri  - Who Am I? - menjadi fokus utama. Para Novis Postulan akan dibantu untuk masuk dalam tradisi OMI dan Gereja, doa, refleksi dan praktek hidup berkomunitas. Mereka juga diutus untuk kembali ke “dunia” lewat masa probasi. Buahnya adalah kemantapan untuk memilih hidup religius.  Kemantapan itu akan diwujudkan dalam Penerimaan dalam Novisiat II atau  Novisiat Kanonik.

TAHAP NOVISIAT II:

“Dengan dibimbing oleh Roh yang hidup dalam diri mereka, para novis tumbuh berkembang dalam persahabatan dengan Kristus dan secara tahap demi tahap, dengan berdoa dan beribadat, masuk ke dalam rahasia keselamatan.  Mereka membiasakan diri untuk mendengarkan Tuhan dalam Kitab Suci, menemuiNya dalam Ekaristi, mengenaliNya dalam orang-orang dan peristiwa-peristiwa.  Mereka juga menjadi biasa untuk memandang tindakan Allah dalam hidup dan perutusan Pendiri, dalam sejarah dan tradisi Lembaga Hidup Bakti.  Kesempatan-kesempatan untuk bekerja merasul di tengah-tengah lingkungan para Oblat memungkinkan mereka untuk memahami dengan lebih baik tuntutan-tuntutan panggilan sebagai misionaris dan kesatuan hidup religius apostolik.” (Konstitusi OMI No. 56)

Dalam tahap ini, para Novis diajak masuk ke dalam pengenalan “Who Are We” dan “God – I – Community”.  Para Novis didampingi untuk lebih mengenal dan mencintai Allah, Gereja, dan OMI, melatih keutamaan hidup berkomunitas, menggali sumber-sumber rohani dalam Ekaristi, doa hening, matiraga, dan refleksi dengan didampingi oleh pembimbing rohani.  Semua itu dijalankan dalam waktu 15 bulan. Seluruh proses Novisiat II ini akan diakhiri dengan pengikraran Kaul Pertama.  Kemudian para frater calon imam akan meneruskan pengasahan dirinya di Skolastikat OMI, sedangkan para Bruder menempuh pendidikan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan Kongregasi.

PARA MAGISTER NOVIS YANG BERKARYA DI NOVISIAT OMI:

Pastor Petrus John McLaughlin, OMI (1977 di Cilacap)

Pastor John O'Doherty, OMI (1985-1996)

Pastor Gregorius Basir Karimanto, OMI (1996-2000)

Pastor Ignatius Yulianto, OMI (2000-2002)

Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI (2002-2004)

Pastor F.X. Rudi Rahkitojati, OMI (2005-2012)

Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI (2012- April 2015)

Pastor Antonius Sussanto, OMI (April 2015 - sekarang)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.