Seminari Tinggi OMI

 

“Tahun-tahun skolastikat bertujuan memberi Oblat yang ingin menjadi imam pendidikan intelektual dan persiapan umum yang diperlukan.  Studi-studi mereka didasarkan pada pendidikan yang kokoh dalam bidang filsafat dan teologi.  Para skolastik akan mengembangkan keahlian-keahlian mereka untuk mewartakan Sabda Allah secara efektif.  Di mana pun para skolastik itu menjalankan studinya, sangatlah penting bahwa mereka hidup dalam komunitas Oblat dan mengembangkan semangat misioner.  Mereka hendaknya juga dibimbing untuk menghargai kurnia imamat, karena melalui imamatlah mereka mengambil bagian secara istimewa dalam pelayanan Kristus sendiri sebagai imam, gembala, dan nabi.” (Konstitusi OMI # 66)

Para Oblat Delegasi Australia yang berkarya di Pulau Jawa sejak tahun 1971 melihat adanya peluang dan minat dari para pemuda asli Indonesia untuk menjadi Misionaris OMI.  Pada tahun 1980, ada 8 pemuda Indonesia yang mencatatkan diri sebagai calon Oblat.  Mereka tinggal dan belajar filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta.  Pada tahun 1981, dicapai kesepakatan untuk mendirikan sebuah rumah pendidikan bagi para calon Oblat di Indonesia dan dipilihlah kota Yogyakarta.  Maka dimulailah segala persiapan untuk mendirikan rumah untuk Pendidikan.

Dengan bantuan umat, diperoleh tanah seluas 600 m2 di Desa Dero, Kelurahan Condong Catur.  Pembangunan rumah pendidikan dimulai dengan peletakan batu pertama pada bulan Januari 1982.    Dalam proses pembangunan tahap awal, diprioritaskan pada adanya bangunan pokok seperti kamar-kamar, dapur dan ruang cuci.

29 Juli 1982 merupakan tonggak sejarah  bagi Rumah Pendidikan OMI.  Pada waktu itu, terjadilah masa transisi bagi para calon Oblat Indonesia.  8 calon Oblat pindah dari Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta, begitu juga dengan 4 calon baru dari Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang.  Romo Yohanes Kevin Casey, OMI berpindah karya dari Paroki St. Yosef, Purwokerto Timur, untuk selanjutnya menjadi Rektor Seminari Tinggi OMI yang pertama.

Inilah para calon Oblat yang pertama kali menempati Wisma De Mazenod:

  1. Gregorius Basir Karimanto
  2. Yosep Nugroho
  3. Fransiskus Asisi Rumiyanto Goa Seputra
  4. Estu Pratomo
  5. Fransiskus Xaverius Sudirman
  6. Dominicus Dawi -  Calon dari Delegasi Itali
  7. Albertus Edi Warsadi
  8. Nicolaus Setija Widjaja
  9. Damianus Mulargono
  10. Wahyu Widodo
  11. Trias Dwi Nugroho
  12. Kuswondo

Pada waktu itu Kapel, ruang makan dan garasi sepeda belum selesai sehingga 2 kamar digunakan sebagai ruang makan dan Kapel. Sepeda di simpan di dalam kamar masing-masing, bahkan selama beberapa hari mereka harus mandi di sungai di belakang Wisma De Mazenod.

Pada tahun 1983, beberapa unit bangunan telah selesai dikerjakan.  Rumah Pendidikan OMI ini kemudian diberi nama ”Wisma de Mazenod” dan diberkati bertepatan dengan Pesta St. Laurentius Martir, 10 Agustus 1983, oleh Romo Austin Cooper, OMI, Provinsial OMI Australia saat itu.

Seiring dengan perjalanan waktu, penghuni Wisma de Mazenod terus bertambah.  Tercatat di bulan Juli 1983 terdapat 8 calon OMI yang bergabung, begitu juga di bulan Juli 1984 ada penambahan 9 calon OMI lagi.  Melihat perkembangan jumlah calon Oblat yang cukup baik, maka sejumlah penambahan fasilitas penunjang pendidikan diadakan. Pada akhir tahun 1984,  dibangun gedung pastoran sehingga Wisma de Mazenod membentuk komunitas sendiri yang disebut ”Komunitas Rumah Formasi”.

 

VISI-MISI  SKOLASTIKAT OMI

 

“Pernyataan Komunitas Wisma de Mazenod - Seminari Tinggi OMI”

  1. Wisma de Mazenod adalah komunitas religius yang hidup bersama sebagai keluarga yang memungkinkan terciptanya suasana dan lingkungan di mana semua anggota dapat menjawab dan mengembangkan panggilan masing-masing yang diterima dari Kristus.
  2. Panggilan Kristus yang kita hayati di dalam Gereja melalui karisma St.Eugenius de Mazenod, Pendiri kita serta di bawah perlindungan Bunda Maria  Tak Bernoda, akan menjadikan kita misionaris yang siap diutus demi Kerajaan Allah, untuk berjuang bersama orang miskin dan tersingkir.
  3. Melalui formasi oblat serta ketekunan studi yang sesuai dengan program akademis Fakultas Teologi Wedabhakti dan dengan mengembangkan bakat, ketrampilan, dan bekal kebudayaan masing-masing sebagai kekayaan, kita akan menjadi misionaris yang terampil, siap sedia melayani masyarakat yang ada di Indonesia maupun di luar negeri.
  4. Sebagai komunitas, secara khusus kita ingin menjalin kerjasama yang erat dengan sesama komunitas oblat baik dekat maupun jauh. Semoga komunitas ini juga mejadi wahana untuk membangun masa depan Provinsi Indonesia.

(Maguwo, Agustus 1991 - Direvisi pada Agutus 2006)

 

 

GAMBARAN UMUM PROGRAM FORMASI DI WISMA DE MAZENOD

Apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses formasi di Skolastikat selama 7 tahun? Di samping studi Filsafat & Teologi di FTW Kentungan, beberapa aktivitas/program/acara yang biasa dijalani di Wisma de Mazenod diharapkan dapat memproses para formandi dalam membangun hidupnya sebagai seorang religius OMI:

1. Ibadat Harian - Meditasi - Liturgi Kreatif dan Misa Komunitas sebagai wahana ekspresi berliturgi yang bertujuan untuk mengokohkan hidup doa dan melatih daya kreatif dalam merayakan iman secara bersama. Doa bukan hanya urusan pribadi, tetapi demi Gereja, demi kebersamaan sehingga dapat membantu sesama agar dapat berdoa pula.

2. Evaluasi Liturgi untuk melihat hal-hal yang telah terjadi dalam liturgi selama 1 minggu, menemukan hal-hal indah yang diekpresikan, serta membantu sesama untuk semakin serius, efektif, dan bertanggungjawab dalam berliturgi. Program ini rutin dilaksanakan pada Minggu malam selama maksimal 45 menit.

3. Konferensi Rektor rutin dilaksanakan setiap Rabu malam. Selain untuk berbicara hal-hal harian, secara khusus dibahas tema-tema terencana yang kiranya penting didalami di luar bangku kuliah di Fakultas Teologi Wedhabakti, Universitas Sanata Dharma. Seringkali Konferensi Rektor dilaksanakan dalam Bahasa Inggris.

4. Colloquium yang wajib bagi setiap Formandi, dilaksanakan minimal 3 kali setahun, meski ada Pembimbing Rohani yang menemani kemajuan hidup Formadi.  Secara pribadi para Formandi menyampaikan perkembangan hidupnya - baik studi, hidup rohani, kemantapan panggilan atau hal-hal lain yang aktual - kemudian Formator mengarahkan dengan memberi masukan baik berupa dukungan maupun fokus untuk diperhatikan oleh Formandi. Colloquium adalah bentuk pendampingan (companionship) dalam formasi. Yang dituntut adalah keterbukaan Formandi yang sebenarnya secara tidak langsung mengungkapkan kualitas relasi Formandi-Formator. Formator yang terampil dan dekat/diterima oleh Formandi akan dapat lebih leluasa dalam mewancarai Formandi dan tentu memberi rasa aman bagi Formandi untuk terbuka dan demikian pula sebaliknya.

5. Peer Evaluation biasanya dilakukan 2 kali setahun pada akhir semester dalam evaluasi Komunitas. Peer Evaluation sangat efektif dan sahih untuk mendapatkan gambaran figur Formandi di mata rekan-rekannya.  Data-data yang terkumpul dapat dipakai untuk menunjukkan kepada Formandi baik itu kekuatan maupun kelemahannya. Komentar teman biasanya tidak akan jauh dari kenyataan.

6. Surat Formator adalah surat personal yang ditulis oleh Formator untuk masing-masing Formandi yang harus dijawab oleh para Formandi.  Ini adalah bagian dari pendampingan pribadi (personal companionship), mengingat situasi tiap-tiap Formadi memang berbeda-beda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Oleh sebab itu, jika ada kasus khusus yang membutuhkan perhatian intensif, Formator bisa mengirim surat lebih dari 2 kali dalam setahun.

7. Sharing komunitas adalah sarana bagi Formandi untuk berinteraksi secara formal dengan rekan sekomunitas dan se-tingkat dalam suasana serius dan saling menghormati.

8. Seni bercerita, drama, musik dan menyanyi adalah program yang nyaris hilang karena sedikitnya anggota Komunitas.  Tujuan program ini adalah untuk mengembangkan ketrampilan humaniora dan mengasah hati.

9. Khotbah dan renungan singkat berbahasa Inggris yang dilakukan masing-masing 2 kali dalam sebulan. Tujuannya untuk meningkatkan ketrampilan berkotbah dan memberi renungan.

10. Oblatologi sebagai pendalaman spiritualitas keoblatan dilaksanakan 1 jam setiap Sabtu ketiga dan 4 jam setiap Sabtu kelima.

11. Pastoral Teritorial – Pastoral Aksidental dilaksanakan minimal 2 kali dalam sebulan berupa “turney” ke beberapa Stasi terpencil, atau mengajar SD-SMP, bimbingan belajar bagi Kelompok Swadaya Perempuan (KSP), dan Bina Iman Anak.  Sedangkan Pastoral Aksidental berupa menjadi pembimbing rekoleksi, retret umat, aksi panggilan, dan lainnya.  Semua ini diharapkan dapat membantu mengembangkan rasa kegembalaan di dalam hati para Formandi.

12. The Cycle of Life (CoL) adalah program yang dijalankan untuk menghubungkan antara sampah dapur, kandang kambing, rumah sayur, kolam ikan, ternak ayam, dan budaya gresek (daur ulang barang bekas). Program ini sengaja diadakan untuk melatih kepekaan dan cinta terhadap lingkungan serta tanggungjawab terhadap hidup bersama. Lemahnya rasa cinta lingkungan dan kuatnya budaya instan serta penolakan akan semua yang rutin-lama-kotor, menggerakkan kami untuk berbuat sesuatu.

13. Publikasi Majalah Caraka, media komunikasi skolastikat OMI sebagai ajang kreatif para skolastik dan juga sebagai ajang persaudaraan antara komunitas WDM – Kaum Muda – Keluarga dekat OMI - Sahabat Seminari dan (semoga) Provinsi OMI Indonesia.

14. Rekreasi adalah program rutin Komunitas setiap malam Minggu kelima untuk meningkatkan keakraban di dalam Komunitas. Dari sharing para imam muda diketahui bahwa keakraban selama masa formasi akan terbawa terus dan dirasa sangat menguatkan pada masa-masa sulit yang dihadapi di komunitas karya.

15. Skill Training adalah program untuk meningkatkan kemampuan dalam berbagai ketrampilan yang berguna untuk hidup seperti Public Speaking, Manajemen, Workshop Pembina Retret, Pertanian, dan bidang lainnya. Program ini dilaksanakan pada saat libur kuliah.

16. English Intensive Program untuk memacu penguasaan satu dari tiga bahasa resmi yang dipakai oleh Kongregasi OMI. Program ini ditindaklanjuti dengan membuat Misa Bahasa Inggris sebanyak 3 kali dalam seminggu, bacaan berbahasa Inggris di refter, juga penyelenggaraan English Oblatology dan English Rector Conference.

17. The Missionary Zeal dilaksanakan dengan mengutus para skolastik ke tempat misi OMI baik yang berada di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa.  Sepulang dari pengalaman misi itu, dibuat evaluasi dan sharing yang juga dikisahkan dalam Majalah Caraka.

 

TAHAP-TAHAP PENDIDIKAN DI SKOLASTIKAT OMI:

Orang hanya tahu bahwa masa pendidikan untuk menjadi seorang imam itu lama sekali. Juga tidak tahu apa dan bagaimana isi proses pendidikan selama itu. Baik kalau kita mengenalnya. Setelah lulus SMA atau Seminari Menengah sampai ditahbiskan Imam, ada beberapa tahap pendidikan.

Setelah melewati tahap Perkenalan Awal, Novisiat I dan Novisiat II (silahkan mengacu pada bagian Novisiat dari website ini), seorang calon OMI yang disebut “Frater” akan melanjutkan pendidikan dan proses pembentukannya di dalam Skolastikat dengan tinggal di Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”, Condong Catur, Yogyakarta.  Para Frater akan kuliah di Fakultas Teologi Wedhabakti,  Universitas Sanata Dharma.

Ada 3 tahap formasi di Skolastikat yang dijalankan untuk mencapai tujuan sesuai yang diharapkan dalam Konstitusi OMI No. 66 (yang disebutkan di atas):

1. STUDI FILSAFAT:  Dalam masa ini para Frater akan belajar filsafat untuk melatih cara dan daya pikir yang jernih dan kokoh sehingga mampu melihat, memahami, menilai, dan menyikapi pengalaman dan kenyataan hidup yang dihadapi. Studi selama 4 tahun ini mencapai puncaknya dalam kelulusan S1 Filsafat dari Fakultas Teologi Wedabhakti , Universitas Sanata Drama.

2. TAHUN ORIENTASI PASTORAL:   Masa ini menjadi kesempatan bagi para Frater untuk hidup secara lebih nyata di tengah-tengah karya di daerah ia ditempatkan. Di situlah ia akan belajar hidup berkomunitas dengan Oblat yang telah berkarya dan juga bekerjasama dengan orang-orang di sekitarnya. Lewat program ini diharapkan para Frater dapat memperkuat daya intelektual, mempertajam daya kreasi dalam berpastoral, dan memperkaya serta memperdalam daya seni hidup berkomuntas. Dengan bimbingan dan pendampingan yang memadai diharapkan para Frater akan semakin mantap dalam hidup panggilannya dan semakin terampil dalam kemampuan berpastoralnya. Kemudian -biasanya setelah 1 tahun -  para Frater akan pulang kembali ke Skolastikat dan melanjutkan belajar lagi.

3. STUDI TEOLOGI:  Dalam masa 2 tahun, para Frater akan belajar ilmu teologi secara intensif. Selain itu, ia akan didampingi untuk semakin mantap dan bulat dalam keputusan untuk hidup religius. Kebulatan tekad itu akan diungkapkan dalam pengikraran Kaul Kekal. Dengan kemantapan untuk hidup religius dan bekal intektual-pastoral yang telah dipelajari serta persetujuan dari Pemimpin Tertinggi, maka seorang Frater akan menerima Tahbisan Diakon dan kemudian Tahbisan Imamat.

Selesailah masa pendidikan pertama. Kemudian, Oblat muda ini akan mulai berkarya sebagai Imam. Ia akan tetap belajar dan terus belajar untuk pertumbuhan pribadi dan rohaninya. Proses pendidikan seumur hidup ini biasanya disebut “on-going formation programme” – program formasi berkelanjutan – yang akan terus berlangsung dan tak akan pernah berhenti sampai yang bersangkutan dipanggil ke surga untuk berjumpa dengan Bunda Maria dan hidup bersatu dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus untuk selama-lamanya.

 

PARA SUPERIOR SKOLASTIK/REKTOR SEMINARI TINGGI OMI "WISMA DE MAZENOD":

1.  Pastor Yohanes Kevin Casey, OMI (1982-1984)

2.  Pastor Petrus John McLaughlin, OMI (1984-1990)

3.  Pastor Peter Kurniawan Subagyo, OMI (1990-1996)

4.  Pastor Bernard Keradec, OMI (1996-2002)

5.  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI (2002-2005)

6.  Pastor Simon Heru Supriyanto, OMI (2005-2009)

7.  Pastor Henricus Asodo, OMI (2009-18 Agustus 2013)

8.  Pastor Antonius Widiatmoko, OMI (01 Oktober 2013 - sekarang)

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.