St. Eugenius de Mazenod & OMI

MISIONARIS DARI PROVENCE

Keputusan yang menentukan

Eugenius de Mazenod duduk terpekur di dalam kamarnya. Suatu keputusan harus segera dibuatnya. Hari itu, 21 Desember 1811, tengah hari di Amiens, kota di sebelah Paris. Ia baru saja ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Jean-Francois de  Demandolx, Uskup Amiens. Segera setelah pentahbisan itu, ia mendapat tawaran dari sang Uskup untuk menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan, sebuah kedudukan yang memberikan harapan untuk kelak menggantikannya sebagai Uskup.

Usia imam muda itu baru 29 tahun. Semangat mudanya tak ayal menginginkan karya dan karier keimaman yang berhasil dan penuh buah berlimpah bagi Gereja di Perancis. Pada waktu itu Gereja yang baru saja keluar dari kegelapan dan teror dalam masa Revolusi Perancis, menghadapi masalah-masalah dan banyak hal yang tidak pasti di bawah pemerintahan Kaisar Napoleon.

Demi martabat keluarga de Mazenod sendiri, kedudukan sebagai Vikaris Jenderal itu pasti mempunyai daya tarik sendiri. Sudah berabad-abad keluarga de Mazenod adalah keluarga yang terpandang dalam pengabdiannya kepada ibu pertiwi, Perancis. Kedudukan tinggi yang ditawarkan oleh Uskup Amiens dengan sangat tepatnya akan dapat melestarikan tempat terhormat yang sudah menjadi tradisi keluarga de Mazenod.

Tetapi bagi Eugenius de Mazenod rupanya ada tugas lain. Hidupnya diperuntukkan bagi tujuan yang lain. Ia memutuskan untuk kembali ke daerah kelahirannya, ke kota Aix di Provence, Perancis Selatan.

Keluarga de Mazenod

Sekitar tiga abad keluarga de Mazenod telah berurat-berakar di tanah Provence, Perancis Selatan. Sudah sejak tahun 1529, de Mazenod tampil di muka umum. Ketenaran nama keluarga itu dimulai dengan usahanya di bidang farmasi di kota Marseille. Menjelang abad ke-18, seorang de Mazenod menjadi salah satu orang yang terkemuka dalam bidang hukum di Marseille. Pada tahun 1789 - tahun benteng Bastille diserbu dan revolusi Perancis meletus dan berkobar di seluruh negeri - ayah Eugenius menjadi Kepala Dewan Pengawas Keuangan Provence di Aix. Pada waktu itu Eugenius yang lahir pada 01 Agustus 1782 baru berumur 7 tahun. Tokoh de Mazenod itu ialah Charles-Antoine de Mazenod. Ia pun, berkat jabatan dan pemilihannya, menjadi salah seorang aristokrat terkemuka Provence, dan seorang wakil di Parlemen Perancis, Etats-Generaux.

jalan utama di aixRevolusi Perancis dan berbagai kerusuhan yang menjalar ke mana-mana tak urung juga mengancam keselamatan keluarga de Mazenod, lebih-lebih karena Charles-Antoine de Mazenod berhasil dengan gemilang sebagai seorang ahli hukum dalam mempertahankan pendirian Dewan Povinsi Provence terhadap keputusan Raja Louis XVI. Pada tahun 1789, Raja memanggil golongan bangsawan, golongan agama dan golongan rakyat untuk bersidang, setelah selama 175 tahun ketiga golongan yang membentuk Parlemen Perancis itu tidak pernah bersidang. Dalam sidang itu, Raja mengeluarkan keputusan bahwa rakyat harus mempunyai wakil sebanyak golongan bangsawan dangolongan  agama bersama-sama. Terhadap keputusan itu, Dewan Provinsi Provence dengan segera memprotes. Sampai saat itu, ketiga golongan masing-masing mempunyai kekuatan suara yang sama. Perubahan dalam hal itu, menurut protes orang-orang Provence, berarti melanggar Undang-Undang Dasar Provence yang dengan resmi dijamin pada waktu provinsi Provence digabungkan dengan tahta kerajaan Perancis di bawah Raja Louis XI.

Charles-Antoine de Mazenod diberi tugas untuk membela perkara Provence di hadapan raja. Ia menang, tetapi pulang ke provinsinya dengan membawa permusuhan dari golongan rakyat yang dipimpin oleh Mirabeau, seorang yang jenius dan ganas yang berhasil menghimpun kaum pemberontak di Marseille dan di seluruh kawasan Laut Tengah. Tak seorang pun dapat menangkis kemarahan dan kebencian rakyat yang akan menyala berkobar-kobar karena pidatonya yang berapi-api dan karena kepribadiannya yang seperti daya magnet. Dengan sangat garangnya keluarga Charles de Mazenod diserbu dan segala harta miliknya disita. Kemungkinan selamat seperti rambut dibelah seribu. Empat orang koleganya tewas di tangan para pengikut Mirabeau. Seperti lolos dari lubang jarum Charles-Antoine de Mazenod luput dari pengejaran dan melarikan diri ke tempat pembuangan.

Pada bulan Januari 1791, Eugenius dijemput pamannya untuk dibawa ke Nice. Maka mulailah bagi si bocah Eugenius de Mazenod tahun-tahun hidup di pembuangan. Karena menyusul ayahnya, ia berpindah dari kota yang satu ke kota lain, dalam wilayah Perancis maupun Italia. Setelah tinggal lebih dari satu tahun di  Nice, ia berpindah ke Torino, berlanjut ke Venesia, Napoli dan Palermo. Di tempat-tempat itu, ia tumbuh besar dan menjadi dewasa, dengan selalu merindukan tempat kelahirannya, Provence, baik secara emosi maupun secara rohani. Masa remaja di pembuangan membentuknya menjadi seorang  pribadi yang saleh, penuh iman dan semangat yang akan menjadi sepasang batu sendi hidup rohaninya kelak.

Panggilan

Pada tahun 1799 tampillah Napoleon sebagai penguasa baru di Perancis. Napoleon kemudian juga dipilih menjadi Konsul Utama seumur hidup. Napoleon membangun kembali negaranya, mengembalikan perdamaian dalam negeri, memberikan kesejahteraan kepada rakyat, dan membentuk pemerintahan yang stabil dan kuat. Napoleon juga mengadakan Konkordat dengan Paus Pius VII untuk membereskan soal agama yang timbul selama Revolusi.

Kaisar Napoleon mengizinkan para pelarian kembali ke Perancis. Setelah 11 tahun mengasingkan diri dan setelah berpisah 7 tahun dari ibunya, Eugenius yang berusia 20 tahun memilih untuk kembali ke Perancis pada tanggal 24 Oktober 1802.  Meski sudah pulang ke Perancis, awalnya ia tidak merasa lebih bebas juga. Trauma sekaligus merasa terpaksa tinggal di rumah besar St-Laurent du Verdon di desa selama 5 bulan untuk menghindari wajib militer. Setelah lebih aman, ia dapat kembali ke rumah ibunya di Aix dan merasa bagai terbebas dari penjara. Ia bisa pergi ke pesta dan bisa lebih sering pergi ke teater. Meski demikian ia merasakan adanya sesuatu yang hampa. Ia mencoba melaksanakan segala rencana yang telah dipikirkannya ketika masih di pengasingan. Misalnya, memperdamaikan pertikaian yang terjadi dalam keluarganya; mengembalikan kembali kejayaan aristokratis keluarga; berencana menikah dan membangun rumah. Namun tampaknya rencana itu tidak berjalan sebagaimana diharapkannya. Ia bahkan sempat berpikir untuk kembali ke Sisilia (Palermo) demi kebaikannya sendiri. Hingga pada sebuah Jumat Agung di tahun 1807, sebuah pengalaman rohani yang dahsyat, yang mampu mengubah hidup seseorang, terjadi atas dirinya.

Dalam pengalaman rohani pribadi tersebut, Eugenius tersentuh oleh Salib Kristus: ia mengenal Cinta Allah. Pengalaman rohani ini sungguh merupakan suatu ”pertobatan pribadi” yang akan menghasilkan buah: ia memutuskan untuk menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Pengalaman istimewa itu membuka mata Eugenius bahwa melakukan sesuatu demi Gereja jauh lebih penting dan mendesak daripada tugas mengembalikan dan memulihkan harta kekayaan keluarganya yang sudah hancur berantakan. Eugenius telah menemukan panggilannya.

Dalam catatan pribadi yang dibuatnya ketika sedang menjalani retret pada tahun 1814, Eugenius mengingat kembali apa yang terjadi pada hari Jumat Agung tahun 1807 itu. Tulisnya :

“Aku mencari kebahagiaan di luar Allah

dan setelah sekian lama yang kutemukan hanyalah penderitaan.

Betapa sering di masa lalu hatiku tercabik, tersiksa,

memohon bantuan kepada Allah yang telah kutinggalkan.

Dapatkah aku melupakan airmata kesedihan yang mengalir

saat aku memandang Salib pada hari Jumat Agung itu?

Memang airmata itu mengalir dari dasar lubuk hatiku

dan tidak ada yang dapat mencegahnya.

Airmata itu terlalu banyak untuk bisa kusembunyikan

dari orang lain yang juga hadir dalam perayaan yang mengharukan itu.

Aku dalam keadaan berdosa berat dan inilah yang membuat hatiku amat sedih.

Kemudian, di lain kesempatan, aku dapat merasakan perbedaannya.

Belum pernah jiwaku merasa sebegitu lega,

Belum pernah jiwaku merasa lebih berbahagia.

Ini semua hanya karena, di sela-sela banjir airmata,

meskipun sedih atau lebih tepatnya, berkat kesedihanku,

jiwaku melompat sampai pada tujuan akhirnya,

yaitu Allah, satu-satunya Tujuan,

yang bila sampai hilang akan amat terasa

Untuk apa bercerita lebih banyak lagi?

Memangnya aku akan pernah mampu mengungkapkan dengan tepat

apa yang aku alami pada saat itu?

Hanya dengan mengingatnya saja, hatiku selalu diliputi

dengan penghiburan rohani yang manis.

Aku mencari kebahagiaan di luar Allah,

dan di luar Dia, yang kutemukan hanyalah derita dan kemalangan.

Tetapi senangnya – 1000 kali lebih senangnya- bahwa Bapa yang baik,

meskipun ketidaklayakanku, menghujaniku dengan kekayaan belas kasihNya.

Satu hal yang sekurang-kurangnya dapat kulakukan sekarang

adalah menebus waktu-waktu yang telah hilang percuma itu

dan menggandakan cintaku kepadaNya.

Biarlah seluruh perbuatanku, pikiranku, dll diarahkan pada tujuan itu.

Adakah penyerahan yang lebih besar daripada,

di dalam segala-galanya dan untuk segala-galanya, hidup hanya untuk Tuhan,

mencintai Dia di atas segala-galanya,

mencintai Dia secara lebih karena Aku telah amat terlambat mencintaiNya.

Yah! Kebahagiaan surga dimulai di sini, di dunia...

Marilah kita memilihnya sekarang!

Walaupun mendapat larangan dari keluarganya, pada bulan Oktober 1808, Eugenius masuk Seminari St. Sulpisius, di Paris. Akhirnya ia ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 21 Desember 1811 di Katedral Amiens. Tawaran Uskup Amiens untuk menjadi Vikjen-nya tidak diterimanya karena ia tahu Allah memanggilnya ke tempat lain, yaitu berkarya di tengah-tengah orang terlantar di tanah kelahirannya sendiri.

Setelah beberapa bulan berkarya sebagai pembimbing di Seminari St. Sulpisius, Eugenius  kembali ke Aix-en-Provence, di kawasan laut tengah. ”Jika rahmat Tuhan akan menjadikannya seorang Santo, pastilah Santo yang bertabiat orang Provence,” kata Abbe Bremond. Provence di Perancis Selatan, di kawasan Laut Tengah, adalah daerah bergunung-gunung karang, dan sepanjang tahun bermandi cahaya matahari. Itulah sebabnya putra-putra dari daerah itu bertabiat hangat, berperasaan peka, berdaya khayal hidup, dan fasih berbicara. Dalam diri imam muda yang kembali ke daerah asalnya yang terlantar itu, sifat-sifat orang Provence sejati masih berpadu dengan semangat baja dan tenaga yang dinamis, dengan tujuan sekokoh batu karang, yang pantang mundur terhadap semua perlawanan yang akan merintangi perjuangan dan tugas-baktinya.

Hati Eugenius de Mazenod yang hangat, seperti hangatnya alam Provence  dalam musim semi dan panas tahun 1812 menyala oleh semangat untuk memperjuangkan kepentingan orang-orang yang terlantar di daerah kawasan Laut Tengah itu: para buruh, para tukang, para pelayan, para penghuni rumah reot, dan para pengemis di kota Aix - kepentingan rakyat jelata yang sepenanggungan dalam menderita kelaparan jiwa dan raga.

Sebagai orang Provence, Eugenius de Mazenod melihat salah satu batu penarung yang merintangi perjalanan rakyat kecil Aix menuju kehidupan rohani yang baru. Ia merasakan ada batu penarung itu sejak ia kembali dari masa pembuangan, yaitu pada waktu ia mendengarkan khotbah di gereja dalam masa pra-paska.

gereja di aixSelama masa pra-paska itu, bersama-sama dengan umat lainnya, ia mendengarkan khotbah seorang pengkhotbah termashyur di dalam sebuah gereja di Aix. Jemaat yang mendengarkan itu hampir semuanya berasal dari kaum aristokrat. Khotbah-khotbah membicarakan tema-tema seperti kisah penciptaan, air bah, wabah yang menimpa Mesir – tema-tema yang mampu menggerakan daya khayal jemaatnya tetapi tanpa menggelitik hati nurani mereka. Pengkhotbah itu memang mahir dalam merangkai bahasa, dan juga mempesona para pendengarnya dengan kutipan–kutipan dari pujangga-pujangga klasik dan novelis-novelis romantik Perancis, yang menjadi kesukaan dan kebanggaan mereka. Bahasa Perancis yang digunakannya, gaya bahasa yang indah yang dipamerkannya, pembawaan yang lincah yang ditampilkannya sungguh memikat para pendengarnya.

Tetapi bagi rakyat biasa di Aix, bahasa, gaya bahasa dan cara berkhotbah seperti itu asing sama sekali. Para pembantu, buruh, tukang, pemilik warung, dan sebagainya – mereka semua tidak tahu bahasa Perancis. Bahasa mereka adalah bahasa Provence. Pengkhotbah itu dan pengkhotbah-pengkhotbah lain tidak berbicara kepada rakyat jelata. “Mereka sangat membutuhkan Sabda Allah, tetapi Injil tidak diwartakan kepada mereka dalam bahasa yang mereka pahami,” kata de Mazenod muda dalam hati. Hatinya sangat terusik karena tidak adanya perhatian terhadap kebutuhan rakyat biasa, yang sepertinya sudah ditentukan untuk hidup menderita kelaparan jiwa dan raga. ”Pada suatu hari aku akan memenuhi kebutuhan mereka.”

Khotbahnya yang Pertama

Akhirnya tibalah saat untuk memenuhi janjinya. Dalam masa pra-paska, pada tanggal 7 Maret 1813, Eugenius de Mazenod dengan penuh semangat mulai melaksanakan niat dan rencananya meskipun agak ragu-ragu akan kemampuannya. Ia memberikan serangkaian ceramah di gereja Santa Magdalena, jantung paroki umat yang terdiri dari kaum pekerja. Ia berbicara kepada para pembantu rumah tangga, tukang cuci, kuli, tukang masak, tukang sapu, pembersih kandang dan sebagainya. Kata-kata  pembukaannya mengungkapkan perutusan hidupnya:

”Dalam masa puasa yang suci ini ada banyak khotbah untuk orang-orang kaya. Tidak akan adakah khotbah untuk orang-orang miskin? Injil harus diajarkan kepada semua orang, dan harus dapat dipahami dengan mudah. Kaum miskin adalah anggota keluarga Kristen yang tak ternilai harganya. Mereka tidak boleh diterlantarkan. Hai, kaum miskin Kristus, kalian yang berkecil hati karena kesengsaraan, saudara-saudaraku, saudara-saudaraku yang terkasih, saudara-saudaraku yang tersayang, dengarkanlah aku. Kalian adalah anak-anak Allah, saudara-saudara Yesus Kristus, sama-sama pewaris kerajaan abadi-Nya…”

Demikianlah dimulainya khotbahnya yang pertama dalam bahasa ibu orang-orang yang mendengarkannya, yaitu dalam bahasa Provence, bahasa umat yang berkumpul di gereja besar pada pukul 06.00 pagi pada masa puasa itu. Umat sejak itu tidak segan mendengarkan khotbahnya. Mereka telah menemukan sesuatu yang membesarkan dan menghangatkan hati mereka. Mereka telah menemukan gembala mereka – seperti halnya gembala itu telah menemukan umatnya. Kaum miskin kota Aix menemukan gembala yang berbicara dalam bahasa yang mereka pahami, tidak hanya karena bahasa itu bahasa mereka sendiri yang kaya dan hidup, warisan berharga lambang identitas mereka yang mereka bangga-banggakan, melainkan juga karena bahasa itu bahasa dari hati yang berbicara kepada mereka dengan penuh cinta kasih secara tulus ikhlas.

 

Misi kepada Kaum Miskin

Keberhasilan akan membawa serta masalah-masalah. Setelah khotbah-kohtbah yang berhasil pada masa puasa itu, timbullah masalah besar, yaitu bagaimana memenuhi permintaan banyak orang yang juga ingin sekali merasakan kegembiraan orang-orang yang telah mendengarkan khotbah-khotbahnya dalam masa puasa tahun 1813 itu.

Banyak orang berbondong-bondong hendak mendengarkan khotbah Eugenius de Mazenod. Mereka datang dari berbagai tempat dengan pakaian yang usang, dengan membawa rasa lapar dan jiwa raga yang terlantar.

Selain itu, yang termasuk dalam kelompok kaum miskin dan terlantar yang  dilayani oleh Pastor Eugenius adalah para tahanan di penjara. Aix.  Pada masa itu, di penjara Aix selain dihuni oleh para penjahat biasa, juga dihuni oleh sekitar 2000 orang Austria yang merupakan tawanan perang. Pada hari Minggu tertentu, ia akan menghabiskan seluruh harinya di penjara untuk melayani berbagai Sakramen dan berdoa bersama. Pelayanan sepenuh hati dan sekuat tenaga ini bahkan sampai membuatnya tertular wabah tipus yang pada saat itu sedang melanda penjara. Penyakit itu membuat Eugenius amat dekat pada kematian. Selama empat bulan ia berbaring di tempat tidur. Ia sempat menerima viaticum pada tanggal 14 Maret 1814. Sementara ia terbaring sakit, para anggota perkumpulan menggalang doa bersama di bawah kaki patung Notre-Dame de la Grace di gereja St. Maria Magdalena. Hampir dua dua bulan, setelah menerima viaticum, yaitu pada tanggal 3 Mei 1814, Eugenius bersama teman-teman remaja itu merayakan Ekaristi Syukur di gereja St. Maria Magdalena.

Pengalaman terjangkit tipus saat melayani di penjara Aix menyadarkan Eugenius bahwa demi suatu pelayanan yang efektif, ia tidak dapat bekerja sendirian. Ia membutuhkan sebuah kelompok rekan kerja – sebuah komunitas imam yang sependirian dan sependapat.

Pastor Eugenius de Mazenod mendapat izin dari pembesar keuskupannya untuk mencari rekan. Tetapi pada waktu itu ia belum mempunyai rencana atau maksud untuk mendirikan suatu serikat baru yang diikat oleh kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Ia hanya mencari kawan-kawan untuk diajak bekerja sama saja.

Para Misionaris dari Provence

Pastor Eugenius de Mazenod akhirnya mendapatkan seorang rekan kerja yaitu Pastor Henry Tempier, Pastor dari Arles yang berusia 26 tahun. Sebagai rumah komunitas mereka yang pertama,  mereka menggunakan sebuah bekas biara Karmelit yang sudah tua, rusak dan tak terurus. Letaknya tidak jauh dari rumah de Mazenod yang indah dan megah, tempat Pastor Eugenius dilahirkan.

Memang, sebenarnya rumah komunitas kedengarannya lucu; terlalu muluk untuk bangunan rongsokan seperti itu. Sebagian dari bangunan itu diperuntukkan oleh kedua imam itu sebagai penginapan murahan. Mereka sendiri menggunakan satu kamar besar untuk kepentingan-kepentingan mereka.

Kamar kedua imam itu amatlah melarat. Lukisan yang tepat mengenai tempat itu bukanlah kesederhanaan lugas-keras dari laku tanpa yang disengaja, melainkan kemelaratan dan serba kekurangan yang mencengkeram dan cengkeramannya belum dapat dielakkan. Cerobong tempat perapiannya rusak. Asap api tidak dapat naik ke atas, melainkan membalik turun memenuhi ruangan itu sehingga ruangan itu selalu tampak berkabut suram seperti sarang rubah, sekalipun di luar hari terang benderang.

Di situlah kedua imam itu tinggal dan membentuk persekutuan untuk mengusir kegelapan yang menaungi umat mereka. Mereka menata papan kayu di atas dua tong sebagai meja mereka. Di kemudian hari Pastor Eugenius dengan gembira mengingat meja darurat itu. ”Dari situlah kita bisa makan dengan enaknya rejeki yang diberikan Tuhan kepada masing-masing.”

Kenangan indah bagi Pastor Tempier tentang kamar mereka berdua pada waktu itu ialah bahwa tidak lama kemudian penghuni kamar itu bertambah: dari 2 orang menjadi 5 orang. Memang, dalam waktu satu bulan - selama bulan Februari - bergabunglah dengan mereka tiga pejuang Tuhan lainnya, yaitu Jean-Francois Deblieu (26 th), Auguste Icard (25 th), dan Pierre Nolasque Mie (47 th). Sekarang lebih kuatlah barisan itu untuk segera memulai karya kerasulan mereka.

Grans dipilih sebagai tempat untuk gerakan Misi Paroki mereka yang pertama. Grans adalah sebuah kota pasar berpenduduk 1500 orang. Pola hidup rohani, atau lebih tepatnya ketelantaran hidup rohani kota itu selalu merupakan situasi yang lagi dan lagi dijumpai dan dilihat oleh kelima pendekar kaum miskin itu di seluruh kawasan Laut Tengah.

Dari 1500 orang penduduk kota Grans, jumlah orang yang memenuhi kewajiban Paskah mereka dapat dihitung dengan jari. Sangat sedikit orang Katolik yang mau masuk gereja paroki mereka untuk berdoa, mengaku dosa, atau mengikuti Misa pada hari minggu. Keputusan uskup untuk menutup saja gereja di kota itu tidak dapat ditunda-tunda. Grans adalah kota kelumpuhan rohani. Untuk menghidupkannya secara rohani adalah tugas yang akan membuat setiap orang bergidik, kecuali bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mau bertekad bakti.

Justru tantangan yang demikian besar itulah yang menggelorakan dan menggairahkan Pastor Mazenod dan kawan-kawannya. Mereka bertekad untuk menghadapi tantangan itu, sekalipun dituntut pemerasan segenap tenaga dan daya tahan mereka sampai titik yang terakhir atau bahkan melampaui batas kemampuan mereka.

Seperti di Aix, di Grans pun jerih payah mereka berbuah lebat. Gereja dipenuhi orang yang datang berduyun-duyun. Dan kali ini kedatangan mereka tidak hanya mendengarkan kotbah atau pelejaran, melainkan untuk mengaku dosa. Boleh dikata sejak hari pertama misi di kota itu, di sekitar kamar-kamar pengakuan dosa tak putus-putusnya orang berjajar menanti giliran untuk mengaku dosa. Mereka itu semuanya kaum pekerja. Banyak dari mereka bekerja dari pagi hingga petang. Dengan demikian, baru sesudah larut petang mereka  bias dating untuk mengaku dosa, dan saat itu pastilah sudah banyak orang yang menunggu. Atau mereka datang pagi-pagi buta sesudah Misa pagi pertama, dan lagi pada saat itu juga sudah banyak orang yang menunggu sehingga banyak orang yang terpaksa berangkat kerja sebelum giliran mereka untuk mengaku dosa tiba.

Keadaan seperti itu merupakan kesulitan yang harus segera diatasi. Pastor Eugenius de Mazenod akan menghadapi kesulitan yang sama dari tahun ke tahun. Ia selalu mengambil tindakan cepat dan tegas untuk mengatasi kesulitan sehingga sekali ia bertindak kesulitan itu menjadi seperti tidak ada.

Kesempatan mengaku dosa dimulai sejak pukul 03.00 dini hari. Pada waktu itu setiap bapa pengakuan sudah siap di kamar pengakuan masing-masing di gereja Grans. Selama 24 jam, dan untuk 24 jam berikutnya, semua bapa pengakuan akan tetap tinggal di pos mereka masing-masing. Mereka mempersembahkan Misa, berkhotbah dan memberikan pelajaran agama. Mereka juga mengunjungi orang sakit. Dan sepanjang hari orang-orang yang ingin mengaku dosa berdatangan tiada henti. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, peristiwa yang sama berulang-ulang terjadi selama satu bulan penuh Misi di Grans.

Tahun 1816 adalah tahun penuh berkat. Dua misi lagi dibuka dalam tahun itu. Enam tahun berikutnya 24 misi baru dibuka. Mereka melayani Misi di Marseille, Arles, dan Aix, kota-kota yang memiliki pertalian kuat dengan Pastor Eugenius de Mazenod dan beberapa kawannya. Tetapi, kebanyakan para misionaris dari Provence itu berkarya di daerah daerah pedesaan dan kota-kota kecil, di tengah-tengah penduduk miskin dan kaum petani kecil. Pola pelayanan yang dilaksanakan di Grans juga dijalankan di tempat itu. Dan berkat Tuhan juga selalu diberikan di tempat-tempat itu dalam ukuran yang berbeda-beda, yakni gereja-gereja penuh dipadati dan kamar-kamar pengakuan dosa tak kunjung henti dipenuhi antrean umat yang akan mengaku dosa.

Hidup yang Diwarnai Kerja Keras

Kerja keras merupakan kesanggupan dan ciri hidup dari para misionaris. Kerja keras mereka bukan hanya akibat kehidupan dan tempat tinggal yang tidak enak, seperti yang pernah dialami di Rognac selama musim dingin yang menggigit-menusuk sampai ke tulang dan selalu terkenang karena kerasnya itu. Pada waktu itu para misionaris, yaitu Pastor Tempier dan Pastor Mye, yang sedang melaksanakan misi di Rognac, entah karena kemiskinan orang yang ditumpangi, entah karena ketidakramahan mereka, hanya diberi seikat jerami untuk tidur dan makan pun demikian sedikitnya sehingga pembesarnya terkejut dan kuatir. Jerih payah mereka ialah kerja keras yang terus menerus pantang menyerah. Memang, pekerja-pekerja baru bergabung dengan para misionaris Provence, tetapi tugas berkhotbah, memberi Sakramen Pengampunan, mengunjungi umat, yang terus menerus selama berbulan- bulan, pastilah merupakan beban dan pukulan yang berat bagi para pendekar jiwa-jiwa yang terlantar itu.

Pastor Mazenod memainkan peranan sebagai pemimpin dalam hidup yang penuh kesulitan itu, yang disejukkan oleh tanda-tanda yang tampak dari kebangkitan dan kehidupan kembali iman di antara para penduduk daerah di kawasan Laut Tengah itu. Ia menjadi pemimpin bukan hanya karena tindakannya yang dinamis - segala kegiatannya sudah cukup menjadi patokan yang memicu para koleganya untuk berusaha sekuat tenaga. Ia menjadi pemimpin dengan mengarahkan secara langsung hampir semua misinya selama tahun-tahun pertama yang berbuah lebat itu. Kepemimpinannya mengilhami orang-orang yang masih baru dalam bidang penyebarluasan Misi itu.

 

Pengkotbah Berbakat

Pastor Eugenius de Mazenod adalah seorang pengkhotbah yang ulung. Bakatnya dalam berkhotbah dibakar, ditempa dan disempurnakan di dalam nyala api kepercayaannya bahwa ia mampu menemukan maksud Ilahi dalam hidupnya - mewartakan Kabar Gembira kepada orang-orang miskin.

Segala bakat dan kemampuanya tertuju kepada panggilan itu. Bila ia berbicara kepada petani Provence yang berkumpul di gereja, ia dapat berkomunikasi langsung dan enak dengan mereka, seakan-akan ia bercakap-cakap dengan masing-masing orang dan membuat amanat yang diperuntukkan bagi semua orang menjadi amanat yang penuh arti.

Tak pelak lagi, orang-orang dari kalangan rakyat jelata datang ke gereja-gereja untuk mendengarkan khotbahnya. Ia seorang pengkhotbah yang besar, tetapi kebesarannya bukan kebesaran gaya oratoris, yang menggunakan gaya bahasa yang muluk-muluk. Lebih daripada sekedar mampu berbicara dengan dialek mereka, ia mampu berbicara dengan bahasa mereka sebagai bahasa yang hidup, berpijar, bagai nafas mereka sendiri dalam hidup sehari-hari. Sifat keras, tegas, lembut-membujuk, aneka rona perasaan hati, silih berganti terang dan bayang, yang menjalin watak orang Provence, menjalin setiap pembicaraannya.

Setiap kali ia berkhotbah, ia berbicara langsung secara spontan, tanpa teks atau catatan yang sudah dipersiapkan dan dihafal sebelumnya. Dengan improvisasi yang enak dan lancar itu, tak ada lagi penghalang di antara dirinya dan pendengarnya. Mendengar dan memandang Pastor Eugenius de Mazenod, kawan-kawan sekerjanya menemukan suatu teladan dan mempelajari sesuatu - tetapi tidak segalanya – dari kharisma yang telah memenangkan kembali jiwa-jiwa bagi Allah.

Hidup Batin

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

”Bukan atas dasar bakat-bakat alami Pastor Eugenius de Mazenod mengandalkan usahanya untuk mempertobatkan jiwa-jiwa,” kata penulis riwayat hidupnya di kemudian hari, “melainkan atas dasar kekuatan doa dan matiraga. Ia hanya tidur lima jam, dan dengan keras ia berpantang dan berpuasa, sekalipun misi harus dilaksanakan dalam masa Prapaskah”.

Kesadaran akan kurnia-kurnia yang diperlukan oleh seorang pengkhotbah dan utusan untuk memberitakan Injil kepada banyak orang tampak nyata pada awal karya kerasulan ketika ia berbicara dengan Pastor Tempier: ”Kalau perkaranya hanyalah mengkhotbahkan Sabda Allah secara baik atau tidak baik,” ujarnya, “untuk pergi berkeliling dari desa ke desa tanpa menghiraukan untuk menjadikan diri kita manusia-manusia batin, rasul-rasul sejati, saya kira tidak akan sulit menemukan pengganti Pastor. Tetapi, percayakah kita bahwa orang semacam itulah yang kita butuhkan?”

Pastor Eugenius de Mazenod menuntut jauh lebih banyak dari rekan-rekannya. Ia meminta sesuatu yang melebihi kesediaan yang mantap untuk menjalani rutinitas dan hiruk-pikuk hidup berkhotbah di kota demi kota - sesuatu yang melebihi sikap untuk menerima tanpa mengeluh jerih payah yang memeras tenaga di atas mimbar maupun di dalam kamar pengakuan - seperti yang diungkapkan oleh Pastor Tampier, Pastor Eugenius menginginkan orang-orang yang ”siap mengikuti jejak para Rasul untuk bekerja bagi keselamatan jiwa-jiwa tanpa mengharapkan imbalan lain di bumi selain perih dan lelah”.

Rekan-rekan kerja dengan semangat seperti yang dicita-citakannya dapat diperolehnya. Namun, sampai saat itu para Misionaris Provence bukanlah sebuah persekutuan yang diikat oleh kaul-kaul. Mereka mempunyai tempat tinggal bersama di bekas biara Karmel itu. Di situ mereka berkumpul, beristirahat, memulihkan tenaga setelah berminggu-minggu melaksanakan misi-misi dengan penuh jerih payah. Di situ mereka berdoa, ber-offisi di kapel, studi dan mengadakan rekoleksi dan meditasi selama jam-jam tertentu yang telah dikhususkan. Mereka hidup sebagai sebuah komunitas yang diikat oleh kesatuan cita-cita, pengaruh Pastor Mazenod yang mereka sepakati sebagai Pembesar mereka, cinta kasih satu sama lain, dan perjanjian yang sederhana. Hanya itulah yang menjadi tali pengikat mereka.

Tetapi, sebuah langkah maju lebih lanjut dalam jalan menuju maksud dan tujuannya perlu segera dipikirkan. Kesempatan itu datang ketika tiba musim gugur tahun 1818. Dalam bulan Agustus tahun itu Mgr. de Miollis, dari Keuskupan Digne menawarkan kepada Pastor Mazenod karya mengelola tempat ziarah Maria ”Notre-Dame du Laus” yang terletak di pegunungan Alpen sekaligus melaksanakan misi Paroki di seluruh wilayah keuskupan tersebut.  Permintaan itu mengharuskan Pastor de Mazenod untuk mempertimbangkannya kembali susunan dan kedudukan kelompok misionarisnya.

Lahirnya Sebuah Konstitusi dan Aturan Komunitas Religius

Para Misionaris dari Provence akan melangkah menuju hidup berkomunitas dalam arti sepenuhnya dan sebenarnya dengan adanya rumah di Notre Dame du Laus yang sudah siap menjadi sebuah rumah komunitas. Telah lama Pastor de Mazenod dan rekan-rekan sekerjanya berdoa dan merenung-renungkan langkah ke arah itu. Pastor de Mazenod diminta oleh komunitasnya untuk merumuskan suatu rumusan Konstitusi dan Aturan bagi sebuah kongregasi religius. Dalam waktu yang cukup singkat, tugas itu ia selesaikan, dengan mengadaptasi beberapa unsur yang ditemukan dalam Konsitusi dan Aturan Santo Alfonsus Liguori.

Beberapa waktu kemudian, dalam retret bersama tahunan pada akhir Oktober 1818,  Pastor de Mazenod mengemukakan kepada rekan-rekan sekerjanya dan beberapa frater skolatik rumusan Konstitusi dan Aturan tersebut. Dari 10 orang yang hadir, 6 orang – yaitu 3 imam dan 3 frater - menyatakan ‘menerima’, dan 4 orang sisanya  yang kesemuanya adalah imam, ‘tidak menerima’. Meski demikian, akhirnya pada tanggal 1 November 1818, di kapel Aix, ada 8 orang yang bersedia mengikrarkan kaul kekalnya, 1 orang mengucapkan kaul sementara untuk satu tahun dan 1 orang lainnya meminta untuk menunda pengikraran kaulnya sampai satu tahun.

MISIONARIS MARIA TAK BERNODA (MARIA IMAKULATA)

Karya kelompok Misionaris dari Provenve makin lama makin luas. Mereka bukan saja melaksanakan ”Misi Paroki” di daerah Provence, Keuskupan Aix tetapi juga mulai merambah karya lain di luar keuskupan, seperti karya di tempat ziarah Maria,  Notre-Dame-du-Laus. Kenyataan ini dengan sendirinya memunculkan sebuah tuntutan untuk membuat perubahan Aturan Hidup kelompok. Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1825, nama kelompok itu diubah menjadi “Oblat Santo Carolus”, selain sebagai ungkapan hormat kepada Santo Carolus Boromeus, pelindung keluarga besar Mazenod, juga sebagai sebuah indikasi bahwa medan karya kelompok ini bukan hanya terbatas daerah sekitar Provence. Namun nama baru ini rupanya hanya dipakai beberapa bulan saja.

Kunjungan ke Roma

Dari waktu ke waktu Eugenius telah menimbang-nimbang kemungkinan untuk mencari persetujuan dan pengesahan Tahta Suci bagi Kongregasinya yang baru, karyanya, dan Aturan-Aturan Hidup serta Konstitusinya. Karena melihat kesulitan-kesulitan untuk mewujudkan maksud tersebut, sekian waktu ia menangguhkan niat itu. Tetapi, menjelang musim dingin tahun 1825, ia menjadi yakin sekuat-kuatnya bahwa bagaimana pun persetujuan dan pengesahan Tahta Suci harus diusahakan dan diperolehnya agar Kongregasinya dapat berdiri mantap dan kuat. Itulah sebabnya, pada hari-hari pertama di bulan November ia berada dalam perjalanan menuju Roma.

Akhirnya pada bulan November 1825, Eugenius de Mazenod pergi ke Roma untuk  menyampaikan sebuah permohonan kepada Bapa Suci untuk menyetujui dan mengesahkan kelompok misionaris Oblat Santo Carolus -nya sebagai sebuah kongregasi tingkat kepausan. Pada saat itu kelompok misionarisnya beranggotakan 25 orang. Dari sudut angka, kelompok ini hanyalah sebuah kelompok yang kecil! Selain itu juga, sebagai sebuah informasi, sejak tahun 1800, Vatikan tidak menyetujui berdirinya satu pun institut religius. Meski demikian, bagi Eugenius, sebuah persetujuan dari Roma dirasa perlu mengingat berbagai tuntutan baru yang mereka temui di lapangan karya. Ada berbagai permintaan pelayanan kepada kelompok misionarisnya, bukan lagi terbatas pelayanan di daerah Provence, tetapi juga di luar wilayah Provence. Selain itu, adanya persetujuan dan pengesahan dari Tahta Suci, akan membuat keberadaan kelompok misionaris dari Provence itu makin kuat dan mantap di dalam Gereja maupun di tingkat dunia.

Sesampai di Roma, Eugenius segera menyadari bahwa proses demi maksud dan tujuan kedatangannya ke Roma tidak akan mudah dan berlangsung lama, sebagaimana  pernah diperkirakannya. Untuk mendapatkan pengesahan Tahta Suci bagi Kongregasinya, ia harus berlapang dada selebar-lebarnya dan pantang berkecil hati menghadapi penundaan-penundaan, penangguhan-penangguhan dan penolakan-penolakan yang tak akan terelakkan dalam proses penimbangan atas permohonan-permohonan sampai pemberian keputusannya.

”Saya berkunjung ke Kardinal de Gregoric,” tulisnya dalam salah satu surat kepada kon-fraternya, Pastor Tempier, ”dan menyerahkan surat-surat dari Torine yang mengantar maksud kunjungan saya kepadanya dengan kata-kata yang manis dan indah. Kardinal itu menerima saya dengan sangat ramah, mengajak saya makan bersama dan teramat sopan sikapnya. Tetapi ia berkata kepada saya bahwa ia sama sekali tidak yakin Paus akan memberikan pengesahannya secara resmi.”

Pastor Eugenius de Mazenod tentu saja kecewa, tetapi tidak pernah dalam surat-suratnya ia  mengeluh atau menyesal. Dalam suratnya tersebut ia sudah merasa puas menyatakan bahwa Kardinal de Gregoric mempunyai pendapat lain, dan selanjutnya ia dengan tegas dan gembira menyebutkan langkah-langkah yang akan diambilnya untuk mengubah kekalahan sementara itu menjadi kemenangan selamanya. Pastor Eugenius mengunjungi Kardinal yang mewakili Paus sebagai Uskup Roma, dan ia mendapat janji bahwa masalah para Misionaris dari Provence akan disampaikan secara khusus kepada Bapa Suci. Ia menjalin hubungan yang baik dengan Sekretaris Propaganda. Ia memperingatkan penata audiensi agar mengatur audiensi yang sangat penting itu. Dan di tengah-tengah kesibukan yang tiada henti itu, Pastor Eugenius tidak melupakan humor yang cukup pedas menyambut puasa di Roma: ia dapat makan secuil ikan dan separuh jeruk dan dengan begitu dapat menutupi pendapatnya tentang masakan Roma, yang suka memakai ”minyak memuakkan yang tak akan tertahankan oleh perut orang dari Provence”.

Hari yang Menegangkan

Untuk sementara waktu rupanya semua kegiatan Pastor Eugenius yang melelahkan dan tak kunjung henti belum menampakkan titik terang akan berhasil mencapai tujuannya. Lima hari sebelum Natal, ia bangun pagi dan tersadar bahwa hari itu adalah hari terakhir dalam tahun itu untuk dapat beraudiensi dengan Bapa Suci. Kalau tidak ingin kunjungannya ke Roma menjadi berkepanjangan tak menentu, Ia harus cepat-cepat melakukan  sesuatu.

Berikut  ini penuturan Pastor de Mazenod :

”Hari itu cerah. Saya mengambil sebuah keputusan. Dengan kereta pinjaman, saya tiba di Vatikan, berpakaian lengkap. Pejabat pertama yang saya temui - seorang prelat kecil - memberi nasihat kepada saya untuk tidak menunggu. Hari itu pasti tidak mungkin bertemu dengan Bapa Suci. Ada serombongan Kardinal akan menghadap hari itu, dan masih ada menteri-menteri, dan entah siapa lagi. Saya dianjurkan menunda kunjungan saya sampai permulaan tahun baru.”

”Sepeninggal prelat itu, Monsignor Barberini datang, dan saya menerangkan posisi saya dan mencelanya karena saya memperoleh kesulitan akibat kelupaannya. Ia agak tersipu karena celaan halus saya, tetapi mengakui kelupaannya, lalu ia mengajak saya ke ruang tamu. Karena mempunyai status sebagai prelat dan bangsawan, dengan segera saya masuk ke dalam kamar di samping kamar kerja Paus, kamar tempat para Kardinal, Uskup, prelat-prelat yang lain, dan para Menteri menanti giliran untuk beraudiensi.”

”Saya merasa gembira hari itu, meskipun saya berpuasa. Monsignor sekretaris adalah orang pertama yang dipanggil, tetapi saya tidak kecewa karena melihat tasnya yang besar berwarna ungu itu. Juga tidak (kecewa) karena melihat tas Kardinal Pacca, Prefek Kongregasi Para Uskup dan Regulir: tasnya tidak kalah penuhnya. Kasihan! Mungkin suatu hari nanti ganti giliran kita tertutup dalam tas itu, pikir saya.”

”Mereka masing-masing beraudiensi satu jam. Uskup Almoner, yang membagi-bagikan bantuan Paus dan imam yang menjadi pengurus rumah tangga istana menghadap hari itu, tetapi tidak lama.”

”Siapa yang akan dipanggil berikutnya? Pastor Jendral Dominikan - kasihan, ia kelihatan sangat lapar- sudah yakin sekali sekarang pasti gilirannya. Tetapi, tidak! Saya yang dipanggil. Dapat Pastor bayangkan betapa saya merasa terhormat. Memang, saya bersikap terhormat waktu menuju ke pintu tetapi segera saya tanggalkan sikap itu, dan tidak membawa diri seperti itu lagi sebelum keluar.”

”Paus menerima saya di dalam kamar tidurnya yang kecil. Ia duduk di kursi panjang dan di depannya sebuah meja. Ia bersandar pada meja itu. Waktu masuk, saya bertekuk lutut, seperti yang sudah menjadi kebiasaan. Tetapi, jarak antara pintu dan tempat ia duduk tidak memungkinkan saya bertekuk lutut untuk kedua kalinya. Maka, langsung saya berlutut di hadapannya…”

Sesudah pengantar yang demikian hidup dan terasa hangat itu, sebagai awal kisah audiensinya yang pertama dengan Paus Leo Xll, Pastor Eugenius meneruskan ceritanya kepada Pastor Tempier. Dari rasa gembiranya yang besar, dikatakannya  bahwa ramalan-ramalan pesimis para penasehatnya sama sekali jauh dari kenyataan. Mereka tidak melihat ada harapan bahwa Bapa Suci akan mengabulkan permintaannya, tetapi pada kenyataannya Bapa Suci menerimanya dengan sangat ramah dan sopan dalam audiensinya yang berlangsung hampir satu jam penuh sedangkan jatahnya hanya setengah jam.

Reaksi Paus

Pastor Eugenius de Mazenod menceritakan minat Paus waktu ia mengisahkan sejarah  berdirinya Misionaris dari Provence dan karya mereka selama tahun-tahun yang lampau. Lalu, dengan penuh kegembiraan, ia menceritakan reaksi Paus atas permohonannya agar Aturan-Aturan dan Konstitusi Kongregasi disetujui secara resmi. Tulisnya :

”Tampaknya Bapa Suci seperti hendak minta maaf karena tidak mengabulkan langsung dengan tanda tangannya apa yang saya tahu betul hanya dapat diberikan sesudah formalitas-formalitas panjang dan lengkap”.

”Pastor tahu,” katanya, dengan selalu bertutur dalam persona ke tiga, ”Pastor tahu adat kebiasaan Tahta Suci. Sekarang ini masih sama seperti seratus tahun yang lalu prosedurnya. Sekretaris Kongregasi harus membuat laporan dahulu kepada Paus tentang hal itu. Kemudian seorang Kardinal akan ditunjuk untuk menyelidikinya. Lagi, laporan harus disusun untuk Kongregasi itu. Dan tiap Kardinal akan memberikan suaranya…”

Pada akhir audiensinya dengan Bapa Suci, Eugenius bertanya kepada beliau, apakah nama serikatnya dapat diubah dari Oblat Santo Carolus menjadi Oblat Maria Imakulata ? Namun Bapa Suci tidak segera memberikan jawabannya.

Dua hari setelah kunjungan kepada Bapa Suci, Pastor Eugenius menerima kabar bahwa proses persetujuan dipercepat karena Bapa Suci amat tertarik dengan karya-karya tarekatnya. ”This Society pleases me. I want to favour it... - Kongregasi ini membuatku senang. Aku ingin mendukungnya...,” ucap Bapa Suci.

Dalam suratnya kepada Pastor Tempier pada tanggal 22 Desember 1825, Pastor Eugenius menulis :

”Marilah kita semua memperbaharui devosi kita kepada Santa Perawan Maria yang suci, agar kita menjadi Oblat Maria Imakulata yang sejati. Bukankah nama ini merupakan sebuah paspor menuju surga? Bagaimana mungkin kita tidak memikirkan nama ini sejak awal? … Kita semua melakukan sebuah kesalahan: kita tidak berbuat adil pada Bunda kita, Ratu kita, Pelindung kita, kepada dia yang dengan kuasa dari Puteranya bisa memberikan rahmat secara berlimpah kepada kita. Marilah kita gembira membawa namanya.”

Sungguh ini sebuah keberhasilan yang melampaui impian Pastor de Mazenod yang paling optimis sekalipun! Tetapi, ini baru permulaan. Proses sudah mulai berjalan, tetapi banyak hal masih harus dikerjakan sebelum akhirnya Bapa Suci akan memberikan cap persetujuan dan pengesahannya atas Aturan-Aturan dan Konstitusi Kongregasi.

Musim dingin tahun 1825 berganti musim semi tahun 1826. Natal berganti Prapaska. Prapaska berganti Paska, Pentakosta tinggal beberapa hari lagi. Pastor de Mazenod, seorang diri, masih harus menyelesaikan tugas raksasa menyelesaikan proyeknya melalui liku-liku protokoler dan formalitas hukum yang diatur untuk menghindarkan keputusan yang terakhir dari kemungkinan kekeliruan.

Dari Kardinal Penitensiaris Utama, ia pergi ke Kardinal-kardinal Kongregasi, dari Imam besar ke Auditor, berembuk, menyusun rencana, berwawancara, menyiapkan jawaban-jawaban tebal atas pertanyaan-pertanyaan yang banyak sekali. Kadang kala cuaca Roma di musim semi pun rupanya turut menghalanginya dengan membuat seorang Kardinal yang kehadirannya diperlukan jatuh sakit; kehadirannya penting sekali untuk penyelidikan-penyelidikan yang diperintahkan oleh Paus. Kadang kala proses juga terhambat oleh seorang pelayan utama yang enggan memperhatikan instruksi-instruksi imam sederhana dari Provence itu dalam jubahnya yang kumal dan sepatunya yang bertambal-tambal.

Tetapi, Pastor de Mazenod pantang menjadi kecil hati, kecewa atau segan. Kesabaran dan keteguhannya tak akan tergoyahkan.

”Tadi malam saya menghadap Sakramen Mahakudus,” tulisnya kepada Pastor Tempier. “Sakramen Mahakudus tetap ditahtakan selama dua malam kebaktian, Empat puluh jam.”

Gembira dalam Kemiskinan

Selama hari-hari yang melelahkan itu kegembiraan Pastor Eugenius de Mazenod tidak sedikit pun pudar. Kemiskinan hidup selama itu tentu menambah perasaan gelisah yang disebabkan oleh penundaan. Tetapi, Pastor Eugenius de Mazenod tetap mempunyai selera humor dalam surat-suratnya sehinggga pembaca akan tersenyum meskipun senyum yang dipaksakan.

”Saya tidak berani pergi ke Tarlonia untuk meminta sejumlah kecil uang sebanyak seratus kron Roma,” tulisnya, “maka saya minta dari M. Curani. Paman saya akan saya minta untuk membereskannya.”

”Uang itu saya gunakan untuk membayar hutang-hutang saya. Saya belum membayar dua bulan penginapan. Pakaian sungguh-sungguh menjadi masalah. Pastor perlu melihat bagaimana saya menjaga pakaian-pakaian supaya awet. Bila musim kering, saya pakai celana-celana tua saya sampai usang; banyak lubang di sana sini, di mana-mana, tetapi jubah saya menutupi semua lubang itu. Tetapi, bila hujan, jubah saya harus saya simpan, lalu compang-camping saya akan tampak. Seandainya saya tidak harus menghadap Kardinal-kardinal berkali-kali, jubah saya yang tua akan saya pakai terus, karena kerut-kerutnya akan tersembunyi di bawah mantel saya.”

 

Gereja Menyetujui Lahirnya Kongregasi OMI

Tetapi akhirnya segala jerih payah, segala pedih perih akibat kemiskinan, penundaan-penundaan, kekeliruan-kekeliruan, perlakuan yang tak menyenangkan berubah menjadi kegembiraan dan kebahagiaan besar.

Pada 15 Februari 1826 para Kardinal Kongregasi bertemu di Istana Kardinal Prefek untuk menyelesaikan perundingan-perundingan mereka. Pagi itu, di Gereja St. Maria di Compitelli, Pastor Eugenius de Mazenod mengikuti sembilan kali Misa berturut-turut. Sore harinya datang keputusan para Kardinal: Aturan-Aturan Kongregasi disepakati dengan suara bulat. Tiga hari kemudian Pastor Eugenius menulis:

”Sahabatku, saudara-saudaraku terkasih: Kemarin sore, tanggal 17 Februari 1826, Bapa Suci Leo Xl mengukuhkan keputusan Kongregasi para Kardinal, dan memberikan persetujuan khusus kepada Kongregasi, Aturan-Aturan dan Konstitusi para Misonaris Oblat Perawan Maria yang Tersuci dan Tak Bernoda.”

Sesudah persetujuan Bapa Suci, dan pemberian nama oleh Bapa Suci sendiri kepada Kongregasi - nama yang akan menjadi sebutan Kongregasi sejak waktu itu - pekerjaan Pastor Eugenius de Mazenod di Roma belumlah selesai. Formalitas demi formalitas masih harus dirampungkan, berupa sejumlah kunjugan dan sejumlah wawancara, pertemuan dengan para Sekretaris Panitia-Panitia yang berlangsung lama, waktu-waktu membuat transkips untuk menghemat biaya seorang penyalin yang profesional. Sampai pertengahan bulan Mei pun belum selesai. Setelah lebih dari setengah tahun meninggalkan Provence ke Roma, barulah Pastor Eugenius de Mazenod dapat berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya, para misionaris Oblat Maria Imakulata.

USKUP MISIONARIS

Seorang penulis riwayat hidup Eugenius de Mazenod menulis, ”Pastor de Mazenod bukan main gembiranya atas pengesahan Roma yang di luar perkiraannya itu. Proyek yang sangat diimpi-impikan dan dijunjungnya tinggi-tinggi itu telah mendapat kekuatan hukum. Namun dikarenakan serangkaian keadaan yang maknanya tak pernah diduga-duga, ia harus meninggalkan “pekerjaan”-nya sebagai misionaris dan memasuki bidang kerasulan yang lain.”

Kata ”meninggalkan” bukanlah kata yang sungguh tepat. Eugenius de Mazenod tetap mempunyai ikatan yang erat dan minat yang lestari terhadap Kongregasi yang didirikannya sampai hari terakhir hidupnya. Tetapi, memang benar bahwa dalam enam tahun sesudah pengesahan Tahta Suci, karyanya memperoleh dimensi baru. Karya hidupnya terjalin membentuk pola yang pada akhirnya membawanya ke tahap Uskup.

Pastor Eugenius diangkat menjadi Uskup pada tahun 1832. Paus yang menduduki tahta Petrus pada masa itu adalah Paus Gregorius XVI. Bapa Suci memanggil Pastor Eugenius de Mazenod, dan sekali lagi pendiri OMI berada di Roma. Ia dipanggil ke Roma sebab Bapa Suci ingin menyaksikan sendiri keserasian orang yang telah dianjurkan menjadi uskup pembantu yang cocok bagi Keuskupan Marseille.

Paus mendukung anjuran itu. Pastor Eugenius de Mazenod ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja St. Silvester, Roma, pada 14 Oktober 1832 dengan penugasan sebagai Uskup Tituler Ikosia di Afrika Utara.

Dalam Keadaan yang Sulit

Pengangkatan Monsignor de Mazenod menjadi Uskup ternyata menimbulkan dampak yang mengancam eksistensi tahta keuskupan sendiri. Penguasa-penguasa baru Perancis yang muncul pada tahun 1830 menyatakan berhak untuk mengubah dan menggariskan kembali batas-batas keuskupan-keuskupan Perancis. Sebenarnya memang ada sebuah Konkordat antara Perancis dan Tahta Suci yang mencantumkan persetujuan bahwa calon-calon Uskup di Perancis akan diajukan oleh Negara. Tetapi mengenai penunjukan seseorang menjadi  Uskup di Marseille juga telah dicantumkan beberapa pertimbangan lain yang istimewa.

Sesudah Revolusi 1830, penguasa-penguasa kota yang diangkat di bawah rejim baru mendakwa bahwa Uskup Marseille dan kaum imamnya telah melawan revolusi dan mendukung Pemerintah yang dijatuhkan. Sebagai balasan, mereka menuntut agar Tahta Keuskupan Marseille dihapuskan, dan memang, sebuah resolusi untuk itu dikeluarkan pada 1831 oleh Dewan Distrik Marseille dan kemudian disampaikan ke Pemerintah Pusat di Paris. Dalam keadaan seperti itu, Pemerintah Perancis kiranya akan mustahil mendukung pengangkatan Eugenius de Mazenod sebagai Uskup Pembantu Marseille (Eugenius de Mazenod adalah kemenakan Monsignor Fortune de Mazenod, Uskup yang sama sekali tidak disenangi oleh pihak penguasa pemerintahan).

Oleh karena itu dipandang perlu adanya kerahasiaan. Ikosia, nama salah satu daerah di Afrika Utara dipilih dengan sengaja sehingga dalam menghadapi serangan Pemerintah Perancis dapat dinyatakan bahwa Pastor de Mazenod bukannya diangkat menjadi Uskup di Perancis. Sebagai usaha berjaga-jaga lebih lanjut, pentahbisan Eugenius de Mazenod menjadi Uskup pun tidak diumumkan hampir selama satu tahun.

Tetapi, Uskup yang baru itu tidak luput juga dari serangan yang pahit. Ia dituduh menerima jabatan Uskup tanpa persetujuan Negara. Ia didakwa menjadi pemimpin suatu kelompok perlawanan terhadap Pemerintah. Tuduhan-tuduhan terhadap dirinya disalurkan lewat saluran-saluran diplomatik Vatikan. Tetapi, Bapa Suci, setelah mendengarkan pembelaan Uskup de Mazenod, menyatakan bahwa semua tuduhan itu tak berdasar. Sekali lagi Eugenius de Mazenod kembali dari Roma, berbesar hati karena persahabatan dan kepercayaan seorang Paus. Sekali lagi ia dapat mengingatkan saudara-saudaranya dalam Kongregasi yang telah didirikannya: ”Para Oblat adalah orang-orang Paus.”

Dengan pengangkatannya menjadi Uskup, riwayat hidup Eugenius de Mazenod terjalin dalam alur rangkap. Dengan kata-katanya yang sederhana, ia memberikan pengertiannya tentang tugas kewajiban seorang uskup:

”Dewasa ini,” tulisnya, ”jaranglah didapatkan suatu pengertian yang benar tentang apa artinya menjadi seorang Uskup menurut ajaran iman kita dan menurut maksud Penyelamat Ilahi kita. Sekarang ini, seorang Uskup hanyalah mengurung diri dalam kamar studinya, dengan menulis dispensasi-dispensasi atau membalas surat-surat. Kalau ia kadang muncul di sebuah Paroki, itu dikarenakan hanya dia yang dapat memberikan Sakramen Penguatan. Kalau tidak ada pemberian Sakramen Penguatan, ia hampir tak pernah kelihatan di tengah-tengah umatnya. Dan tidak mustahil terjadi, selama masa jabatan sebagai Uskup tak satu jiwa pun pernah melaporkan penuaian atau pengabaian tugas kepada wakil yang diutus Yesus Kristus untuk tinggal di tengah-tengah umatNya.”

Masa Jabatan yang Lama sebagai Uskup

Dua puluh sembilan tahun Eugenius de Mazenod menjadi Uskup Marseille dan selama itu pula ia benar-benar tinggal di tengah-tengah umat Allah. Ia memang mencintai ketenangan kamar studi dan perpustakaan, tetapi sekarang ia harus membuktikan dirinya kepada umat di keuskupannya. Ia hadir di gereja-gereja Marseille pada pelaksanaan tugas-tugas agung Gereja. Di jalan-jalan Marseille, khususnya di jalan-jalan dan lorong-lorong kampung yang miskin, ia berkeliling mengunjungi umatnya seperti pastor paroki yang sedang menunaikan tugas-tugas kegembalaannya. Bila diketahuinya di suatu rumah susun ada seorang anak yang akan meninggal, Uskup de Mazenod akan segera datang untuk membaptisnya, sekalipun harus menempuh malam yang dingin dan jalan-jalan yang gelap. Dia akan masuk ke jalan-jalan di sela-sela rumah-rumah reot untuk mencari seorang wanita tua yang terbaring lemah di tempat tidurnya dan ingin menerima Sakramen-Sakramen terakhir dari tangannya. Pada waktu Paska, di sebuah paroki yang masih harus menunggu penugasan seorang pastor baru, Uskup sendiri akan datang untuk melayani pemberian komuni kepada orang-orang yang sakit. Saat Marseiles dilanda wabah kolera pada abad ke-19, Monsignor de Mazenod terlihat di rumah sakit dan di tempat penampungan yang lain mendampingi orang-orang yang akan meninggal dunia. Dan bila ada orang yang meminta agar ia menjaga kesehatannya dan menyerahkan pekerjaan seperti itu kepada orang lain yang lebih muda, ia sudah siap dengan jawabannya:

”Kebahagiaan saya bila dapat melakukan tugas kegembalaan. Untuk itu saya menjadi uskup, bukan untuk menulis buku-buku, apalagi untuk berkunjung ke orang-orang besar atau membuang-buang waktu di tengah-tengah orang kaya. Saya akui,” ditambahkannya dengan tersenyum, “itu bukan caranya untuk menjadi seorang Kardinal; tetapi kalau orang lalu dapat menjadi seorang santo, bukankah itu lebih baik lagi?”

Tak akan ia lupakan kebulatan tekadnya dahulu bahwa orang-orang miskin di kalangan umatnya harus diberi Kabar Gembira (Injil) dalam bahasa yang dapat mereka pahami. Dalam semua kunjungan kegembalaannya ke gereja-gereja kota, ia selalu berkhotbah. Pada waktu ada penerimaan Sakramen Penguatan ia berkhotbah kepada anak-anak dan kepada orang-orang tua mereka dan membaptis mereka. Ia berkhotbah tiap hari Senin di kapelnya sendiri dan di semua gereja tempat ia mempersembahkan Misa atau memimpin upacara-upacara agama. Dan selama kunjungannya di kawasan Laut Tengah itu ia selalu mengingat pengkhotbah yang berkhotbah dengan bahasa Perancis dan gaya Paris yang indah-megah dan ia sendiri berkhotbah dalam bahasa Provence.

Angka-angka dan statistik tidaklah mengukur nilai atau arti masa jabatan seorang Uskup, tetapi dalam masanya itu memang merupakan kenyataan bahwa antara tahun 1823 sampai 1862 tidak kurang dari dua puluh dua paroki baru berdiri di keuskupannya; dua puluh enam gereja lainnya, termasuk Katedral sendiri, dibangun kembali, diperbesar, dan diperbaiki. Dalam masa jabatannya sebagai uskup itu pula mulai berdiri menjulang di atas pantai dan pelabuhan Marseille sebuah bangunan megah Basilika Notre-Dame de la Garde.

MISIONARIS KE SELURUH DUNIA

Misi-misi ke Luar Negeri: Canada

Jiwa dan semangat Eugenius de Mazenod tidak terbatas pada batas-batas wilayah keuskupannya, meskipun seluruh dirinya ia baktikan pada keuskupannya. Tidak lama kemudian, orang yang pada masa mudanya suka membaca kisah misi-misi Cina itu, mendapat tawaran.

Seorang tamu berkunjung ke Marseille dalam musim panas tahun 1841, yaitu Uskup Montreal, Kanada, Monsignor Bourget. Ia datang ke Eropa untuk mencari misionaris-misionaris yang sanggup bekerja di daerah misi yang sangat luas di Amerika Utara, di kalangan suku-suku bangsa Indian di wilayah Kanada. Secara kebetulan Monsignor Bourget bertemu dengan uskup de Mazenod. Uskup dari Kanada itu menerangkan maksud kedatangannya.

”Misionaris-misionaris untuk bekerja di tengah-tengah orang Indian?” tanya Uskup de Mazenod. ”Tetapi misi-misi ke luar negeri tidak termasuk rencana kami.  Selain itu, saya tidak mempunyai banyak imam yang dapat saya kirimkan sebagai misionaris…”

Meski demikian permintaan seperti itu tidak pernah ditolak oleh Eugenius de Mazenod. Sekali lagi, seperti dahulu datang panggilan dari antara orang-orang miskin di Aix, sekarang ini datang lagi panggilan dari orang-orang yang terlupakan di dunia ini, dan sekali lagi ia ingat akan ketetapan hatinya untuk memberitakan Injil kepada kaum miskin.

Pada hari itu juga permintaan Monsignor Bourget ia sampaikan kepada para Oblatnya. Dari ke 55 anggota Kongregasinya, semuanya siap diutus. Tetapi, hanya 6 orang yang dipilih, 4 orang Pastor dan 2 orang Bruder. Pada tanggal 22 Oktober 1841, pasukan kecil itu berangkat dari pelabuhan Le Havre. Dengan demikian dimulailah tahun-tahun karya berlimpah buah di padang-padang rumput dan padang-padang liar Kanada.

Karya yang dimulai dalam bulan Oktober 1841 itu, dengan jumlah pekerja yang sedemikian sedikit, tidak lama berselang mulai meluas. Empat tahun kemudian, pada tahun 1845, Uskup dari St. Bonifasius, Canada, menawarkan kepada OMI wilayah seluas Eropa. Tanpa ragu-ragu Eugenius de Mazenod menerima tugas besar untuk mengirim para misionaris ke wilayah itu.

”Saya tidak dapat menunda-nunda,” ucapnya. Pernyataan yang tegas ini menandakan permulaan karya Oblat yang penuh kepahlawanan di daerah-daerah yang baru itu. Mulanya perlahan-lahan, tetapi kemudian menjadi lebih cepat ketika para Misionaris  baru bergabung dengan barisan mereka. Para Oblat menyebar ke padang-padang rumput, bergerak terus ke gurun-gurun lengang nan menakutkan di wilayah Teluk Hudson, dan kemudian menetap di antara orang-orang Eskimo. Menjelang Agustus 1899, Pastor Grollier mencapai kawasan Arktik di Fort Good Hope, dan bergerak terus sampai di muara Sungai Mackenzie untuk menjadi, dalam kata-kata Pius IX, salah satu orang-orang pertama yang menjadi “Para Martir Udara Dingin”. Orang-orang Indian Sioux, Cris, Blackfeet dan dari suku-suku lainnya mengenang para misionaris yang mereka sebut Jubah Hitam Oblat dan Uskup-uskup Oblat yang di kalangan suku-suku bangsa Indian itu dikenal dengan nama “Penghulu-Penghulu Besar Doa”.

Karya yang dilakukan oleh putra-putra de Mazenod ini barangkali diringkaskan secara tepat oleh seorang musafir yang mengunjungi wilayah-wilayah barat dalam tahun 1890-an:

”Padang-padang rumput ditinggalkan di belakang, dan gunung-gemunung yang luas diterobos. Kendaraan-kendaraan Pasifik Kanada menderu dua kali tiap hari melewati sela-sela gunung; tetapi sepuluh tahun yang lalu tak seorangpun kulit putih menjejaki sela-sela  itu kecuali satu orang. Sementara kereta api melingkar-lingkar melewati lembah Frazer yang megah, di sana-sini di puncak-puncak gunung dapat terlihat sebuah salib kasar, hitam pada latar langit, tanda bahwa di sana telah dikubur seorang Indian Katolik. Pada setiap tahap perjalanan itu, dari Atlantik sampai Pasifik kelihatan bahwa Gereja Semesta mewujudkan gelarnya karena sifatnya yang mudah menyesuaikan diri dengan alam dan kebutuhan tiap jemaat yang beraneka warna. Gereja mengikuti tata cara ibadat yang tetap sama, dalam bahasa yang sama, bagi sekelompok kecil orang Indian Blackfeet, yang berlutut di sebuah pondok kayu di wilayah Barat Jauh, maupun bagi sebuah jemaat Perancis di Basilika Quebec, atau bagi imigran-imigran Irlandia yang beribadat di Katedral Toronto.”

Dari keberhasilan itu, para misionaris Oblat Maria Imakulata, para Misionaris dari Provence yang menjadi misionaris dunia, dapat merasa terhormat dan berbangga dalam Allah. Itulah sebabnya karya para putra de Mazenod menjadi pola untuk karya mereka di seluruh dunia.

Sri Lanka

Karya para Oblat di Sri Langka dimulai dengan permohonan Uskup Pembantu di Jaffna kepada Monsignor de Mazenod. Sang Pendiri OMI dimohon untuk mengirimkan para misionaris guna membantu dalam karya mempertobatkan lebih dari satu setengah juta penduduk kafir dan melayani 100.000 orang Katolik di pulau itu. Segera permohonan itu dipenuhi. Para Oblat pertama berangkat ke Sri Lanka pada tahun 1847. Dewasa ini terdapat ratusan misionaris Oblat yang bekerja di Sri Lanka.

”Saya ingin dapat menyediakan misionaris-misionaris untuk seluruh dunia,” demikian Uskup Marseille itu selalu berseru. Sesuai dengan kemampuannya dan kemampuan para Oblatnya, Eugenius selalu berusaha untuk memenuhi setiap permintaan akan misionaris. Semangat yang sama itu sampai sekarang tetap diwarisi oleh putra-putranya.

Afrika Selatan

Belum lama rombongan misionarisnya berangkat ke Sri Lanka, datanglah permintaan yang lain. Kali ini permintaan datang dari Prefek Propaganda, Kardinal Barnabo. Kardinal ini meminta imam-imam untuk bekerja di daerah misi Afrika Selatan. “Bagaimana kita dapat menolak apa yang datang dari suara Paus yang sah?” tulis Eugenius de Mazenod dalam buku hariannya pada waktu menerima permintaan itu. Dan sekali lagi ia memenuhi permintaan akan misionaris. Dalam musim gugur tahun 1851, Monsignor Allard, yang ditahbiskan di Marseille, naik kapal bersama tiga Pastor dan seorang Bruder berangkat ke pelabuhan Natal.

Demikianlah, wilayah-wilayah yang bertandakan Salib Oblat tersebar meliputi peta dunia. Sebelum Bapa Pendiri wafat pada tahun 1861, putra-putranya terdapat - dalam kata-kata Pastor Cooke - ”di pantai-pantai Atlantik yang besar, di tengah-tengah hutan pinus yang tertutup salju dan padang-padang rumput yang memilukan di wilayah Teluk Hudson, di dekat pantai-pantai Laut Kutub, di tengah-tengah pegunungan Rocky Mountains yang luas, di pesisir Pasifik, di dataran-dataran Texas, di tengah-tengah padang pasir Afrika Selatan yang membakar, di pulau termolek di antara pulau-pulau Lautan India, Sri Lanka. Saat Eugenius de Mazenod masih hidup, ia dapat menyaksikan rekan kerjanya se-Kongregasinya, Oblat Maria Imakulata, menyebar luas sampai ke daerah-daerah di Asia, Afrika, dan Amerika tersebut.”

Inggris, Irlandia, Skotlandia

Para Oblat pergi menyebarkan misi-misi mereka di kota-kota kecil dan kota-kota besar Inggris, Irlandia, dan Skotlandia. Kedatangan mereka di Dublin merupakan sejarah mereka yang khas. Pada tahun 1857, seorang Oblat Maria Imakulata berkhotbah di Dublin dan mencari izin dari Uskup Agung untuk memulai karya pastoral di Keuskupan Agung. Ia mendapat izin untuk bekerja di Distrik Inchicore. Di daerah ini lebih dari seribu keluarga pekerja PJKA hidup. Orang-orang yang tidak melalaikan kewajiban keagamaan mereka mengikuti Misa, mengaku dosa dan pergi ke gereja-gereja paroki-paroki yang berdekatan. Mereka tidak mempunyai gereja sendiri. Kepada mereka itu misionaris Oblat datang.

Hari-hari Terakhir

Melihat para Oblat, ”orang-orang Paus”, tersebar ke segala penjuru dunia, hati Sang Pendiri dipenuhi rasa gembira dan bahagia dalam saat-saat terakhir menjelang wafatnya. Pada suatu hari, saat jatuh sakit yang terakhir, sepucuk surat datang dari salah satu misinya di luar negeri. Menerima surat itu, ia bertanya apakah isi surat itu meminta bimbingan rohani ataukah petunjuk tentang masalah organisasi. Ia diberitahu bahwa surat itu hanyalah tentang rutinitas organisasi para misionaris. Mendengar informasi tersebut,  ia kemudian mengatakan bahwa soal organisasi sekarang ini sudah diserahkannya ke tangan orang-orang lain yang akan melanjutkan karya yang telah dimulainya. Pekerjaan mengatur dan menuntun para misionarisnya di segala penjuru dunia bukan lagi urusannya: ”Urusan saya satu-satunya sekarang adalah mempersiapkan diri untuk mati dengan baik,” katanya.

Beberapa waktu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia menyampaikan sebuah wasiat yang sangat berharga kepada para Oblat-nya: ”Praktekkanlah cinta kasih, cinta kasih, cinta kasih di antara kalian dan di luar, semangat yang menyala-nyala demi keselamatan jiwa-jiwa.”

Saat terbaring sakit keras, dari atas tempat pembaringannya, Ia juga berpesan kepada para Oblat yang berada di sekitar tempat tidurnya, ”Bila aku tertidur atau aku tampak makin parah, tolong bangunkan aku! Aku ingin mati dengan sadar bahwa aku sedang menyambut kematianku.”

Akhirnya pada suatu saat, ia mengajak setiap orang yang berada di sekelilingnya untuk bersamanya menyanyikan madah pujian kepada Maria, Salve Regina :

Salam ya Ratu,

bunda yang berbelas kasih,

hidup, hiburan dan harapan kami.

Kami semua memanjatkan permohonan.

Kami amat susah, mengeluh,

mengesah dalam lembah duka ini.

Ya ibunda, ya pelindung kami,

limpahkanlah kasih sayangmu

yang besar kepada kami,

dan Yesus Puteramu yang terpuji itu,

semoga kau tunjukkan kepada kami.

O Ratu, O Ibu, O Maria, Bunda Kristus.

Begitu lagu tersebut selesai dinyanyikan, sang gembala tua itu menghembuskan nafasnya yang terakhir dan wafat. Hari itu tanggal 21 Mei 1861. Ia beristirahat dalam damai!

Sampai wafatnya, Eugenius melaksanakan tugas gandanya sebagai Bapa Pendiri sekaligus Pemimpin Tertinggi Kongregasi Misionaris OMI dan Uskup Marseille. Pada saat itu, keluarga rohani yang ia dirikan, yang  awalnya hanya 6 orang, telah menjadi 411 orang; sementara umat keuskupan-nya yang awalnya berjumlah 120.000 orang telah menjadi 340.000 orang.  Selama menjadi Uskup Marseille, ia mendirikan 22 Paroki dan membangun 26 gereja.

Beatifikasi

Seratus empat belas tahun kemudian, tepatnya pada tanggal tanggal 19 Oktober 1975, Paus Paulus VI atas nama Gereja mengangkat Eugenius de Mazenod sebagai seorang Beato. Pada hari yang indah itu, Bapa Suci mengatakan bahwa Eugenius de Mazenod adalah orang yang dengan semangat berapi-api mencintai Yesus dan GerejaNya. Melihat kegoncangan iman yang melanda umat Allah di Perancis sebagai akibat revolusi Perancis, ia dengan semangat yang membara bertekad membaktikan seluruh hidupnya bagi Yesus dan GerejaNya dengan menjadi “Hamba dan Imam kaum miskin”. Dengan dijiwai oleh semangat misioner yang menyala-nyala, ia giat mewartakan injil kepada kaum miskin.

Menjadi Santo

Pada tanggal 3 Desember 1995, di Roma, Paus Yohanes Paulus II menyatakan Beato Eugenius de Mazenod sebagai seorang Santo.

Dalam refleksinya tentang Santo Eugenius de Mazenod, Paus Yohanes Paulus II antara lain menyatakan: “...Setiap tindakannya diinspirasikan oleh sebuah kesaksian yang dirangkumnya dalam kata-kata ini:  ’Mencintai Gereja berarti mencintai Kristus, demikian pula sebaliknya’. Pengaruhnya tidak terbatas pada zaman semasa ia hidup, tetapi terus berlangsung hingga zaman kita sekarang… Kerasulannya memperjuangkan  perubahan dunia berkat daya Injil Yesus Kristus. Apa yang Santo Eugenius ingin raih adalah bahwa di dalam Kristus, setiap orang dapat menjadi seorang pribadi yang sungguh utuh, seorang Kristen  sejati, seorang kudus yang dapat dipercaya...”

Dengan pengangkatannya sebagai salah satu Santo dalam Gereja Katolik,  Eugenius kini bukan hanya menjadi milik Kongregasi OMI dan orang-orang yang selama ini dilayani maupun ambil bagian dalam karya-karya misi mereka, tetapi menjadi milik seluruh Gereja semesta. Siapa saja boleh datang kepadanya, menimba inspirasi darinya, bahkan melibatkannya dalam doa-doa mereka.

Santo Eugenius de Mazenod, doakanlah kami!

(Sumber: Buku St. Eugenius de Mazenod, Imam-Misionaris-Uskup, Pendiri Kongregasi OMI, diterbitkan oleh Novisiat OMI Indonesia, Yogyakarta, 2011)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugenius de Mazenod sebagai ”penjala manusia”.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.