Gereja Katolik St. Maria Dari Fatima, Penajam

Gereja Katolik St. Maria dari Fatima Penajam, berlokasi di Jalan Suka Maju No. 62, RT 04, Gunung Seteleng, Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Perkembangan jumlah umat Katolik di wilayah Paroki Penajam dari tahun ke tahun terus bertambah dikarenakan perkembangan kota dan penduduk Penajam yang meningkat sangat cepat. Saat ini di Paroki Penajam sedang dilaksanakan pembangunan gedung gereja baru karena kondisi bangunan rumah - yang kemudian dimodifikasi menjadi gereja pada tahun 1989 dengan bahan dasar kayu berukuran 8 x 12 meter - telah semakin memburuk. Banyak bagian yang lapuk dan terserang rayap. Di samping itu, jumlah umat yang semakin berkembang menjadikan kapasitas rumah ibadah ini tidak lagi mencukupi untuk menampung umat yang datang beribadah. Pada hari-hari Minggu biasa, jumlah umat yang datang ada sekitar 400 orang (orang tua dan anak-anak), tempat di dalam gereja tak mencukupi lagi, apalagi pada saat Perayaan Natal dan Paskah.

Berdasarkan pengakuan umat Katolik yang ada dan informasi dari beberapa tokoh jemaat Gereja lain, Sejak tahun 1980-an, di Penajam sudah ada beberapa keluarga Katolik yang berasal dari Tanah Toraja maupun dari Pulau Jawa. Dengan alasan kurangnya pelayanan Gereja Katolik, maka beberapa keluarga umat Katolik yang ada mengikuti ibadah mingguan di Gereja lain (Gereja Toraja dan Gereja Pantekosta Bethel Indonesia). Bahkan ada juga yang kemudian beralih ke agama lain. Akibat lain dari kurangnya tenaga pelayanan Gereja Katolik menjadi alasan bagi pencarian calon pasangan hidup yang seiman, sehingga pemudi Katolik dengan terpaksa mengikuti tuntutan keinginan calon suami untuk menikah di Gereja non-Katolik. Saat itu sudah ada usaha dari Paroki Dahor - Balikpapan bagi masa depan Gereja Katolik di Penajam dengan membeli sebidang tanah untuk lokasi Gereja Katolik yang terletak di RT 06, Kelurahan Gunung Seteleng. Selain itu, Pastor Paroki juga sudah membeli rumah di Kerok, RT 01 Kelurahan Gunung Seteleng untuk menampung material bagi gedung gereja yang akan dibangun. Untuk sementara, rumah itu dapat difungsikan sebagai tempat beribadah, meskipun tidak rutin setiap minggu sebab sangat tergantung pada ada atau tidaknya tenaga pelayanan dari Paroki. Guna menghindari reaksi kurang simpati masyarakat sekitar, maka Paroki juga mencantumkan SK Walikota Kotamadya Balikpapan sebagai petunjuk legalitas penggunaan rumah tempat tinggal sebagai tempat ibadah sementara dalam bentuk papan petunjuk di atas pintu masuk tempat ibadah. Sejak minggu kedua bulan Oktober 1984, rumah ini sudah rutin difungsikan sebagai tempat ibadah sampai dengan tahun 1998, saat umat mulai beribadah di lokasi yang sekarang ini di Jl. Suka Maju, RW 01/ RT 03, Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam (Balikpapan seberang), Kotamadya Balikpapan yang sekarang telah menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara.

 

Perjalanan Paroki St.Maria Dari Fatima Penajam

 

Pada waktu sebelum menjadi Paroki, pelayanan ibadat dan Misa oleh para Pastor OMI Balikpapan dan katekis di mulai dari tahun 1980. Konsolidasi stasi-stasi seberang/Balikpapan Seberang dimulai dari tahun 1998–2000. Pada masa itu dilaksanakan masa penjajakan pelayanan pastoral dari Paroki Dahor kepada stasi-stasi yang termasuk juga wilayah Paroki St. Theresia Prapatan dan Paroki St. Petrus dan Paulus Dahor.

Akhirnya, dengan berkembangnya umat, maka Uskup Samarinda berkenan pula meresmikan pendirian Paroki St. Maria dari Fatima Penajam pada 11 Juni 2000 dan peresmiannya dilaksanakan pada 15 Oktober 2000.

Misi dari Paroki Penajam adalah (1) Memantapkan Paroki Penajam sebagai Paroki Diaspora; (2) Menjalin persaudaraan antar umat katolik yang berdiaspora; (3) Memantapkan identitas gereja Katolik di masyarakat wilayah seberang (Penajam Paser Utara); dan (4) Membentuk umat stasi yang dewasa, mandiri. Diaspora karena umat menyebar di seluruh wilayah seberang Balikpapan, dengan 4 Kecamatan, yaitu Babulu Darat, Waru, Penajam, Sepaku.

Pada tahun 2002, ada pengembangan wilayah pemerintahan. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) resmi didirikan sehingga wilayah pelayanan Paroki St. Maria dari Fatima Penajam pun berkembang meliputi seluruh Kabupaten PPU. Untuk melaksanakan tugas penggembalaan, maka Gereja memakai pola pelayanan pastoral ”Turney Pastor” untuk proses pembentukan stasi yang mandiri baik di bidang tenaga maupun dana. Dalam hal ini, maka kepengurusan stasi menjadi kekuatan Paroki.

Program-program kerja di fokuskan pada kegiatan-kegiatan pastoral yang menyatukan dan membangun persaudaraan, seperti pelatihan-pelatihan (pemimpin ibadat) dan pengutusan umat untuk mengikuti kegiatan di tingkat Keuskupan dan nasional dalam rangka kemandirian tenaga; kegiatan penyadaran pentingnya pelaporan keuangan stasi dan Paroki secara rutin dan transparan sebagai langkah kemandirian dana; kegiatan liturgi bersama seperti perayaan ulang tahun Paroki, Natal dan Paskah Paroki untuk membangun persaudaraan umat Katolik dan hubungan antar umat beragama di tengah masyarakat Kabupaten PPU.


Daerah pelayanan pastoral dari awal pendirian Paroki pada tahun 2000 hingga tahun 2013:

Stasi St. Petrus Sebakung

Stasi Keluarga Kudus Gunung Intan

Stasi St. Yohanes Petung

Pusat Paroki St. Maria dari Fatima Penajam

Stasi St. Eugenius de Mazenod Sotek

Stasi Hati Kudus Yesus Jenebora

Stasi St. Maria Imakulata Waru

Stasi St. Mikael ITCI

Lokasi Perkebunan Bintang Timur RIKO

Lokasi Perkebunan Majapahit

Lokasi Perkebunan Mega Hijau

Lokasi Perkebunan Marianggau

Jumlah umat keseluruhan Daerah Pelayanan Pastoral ada 1700 jiwa umat (data tahun 2012). Di Pusat Paroki Penajam, umat beragam asal-usul (Jawa, Toraja, Batak, NTT) dan pekerjaan, namun mayoritas pekerjaan umat adalah sebagai guru dan pegawai pemerintah (40 KK/218 Jiwa). Berikut adalah data jumlah umat di Stasi-Stasi yang ada di Paroki Penajam:

Stasi Petung, umat mayoritas adalah warga transmigrasi bedhol desa dari Bantul, Jogjakarta (36 KK/89 Jiwa).

Stasi Waru WKP, umat adalah pekerja perkebunan sawit yang mayoritas berasal dari NTT (27 KK/157 Jiwa).

Stasi Gunung Intan memiliki umat mayoritas warga transmigrasi dari Klepu, Jogjakarta (11 KK, 44 Jiwa).

Stasi Sebakung III memiliki umat mayoritas warga transmigrasi dari NTT (23 KK, 115 Jiwa). Stasi Jenebora dengan umat mayoritas warga Toraja yang bekerja buruh pabrik Kayu lapis (24 KK/78 Jiwa).

Stasi Sotek memiliki umat mayoritas dari NTT yang bekerja sebagai buruh kebun sawit, penebangan kayu, tukang / tidak menetap (76 KK/325 Jiwa).

Stasi ITCI dengan umat campuran Jawa, Toraja, Manado, Dayak yang dulu bekerja di perusahaan pengolahan kayu (147 KK /540 Jiwa).

Lokasi Riko dengan umat mayoritas dari NTT bekerja sebagai buruh perkebunan sawit ( 47 KK / 205 Jiwa).

Lokasi Mega Hijau memiliki umat mayoritas dari NTT bekerja sebagai buruh perkebunan sawit ( 21 KK / 67 Jiwa).

Lokasi Majapahit dengan umat mayoritas dari NTT bekerja sebagai buruh perkebunan karet ( 16 KK / 54 Jiwa).

Lokasi Marianggau memiliki umat mayoritas dari NTT bekerja sebagai buruh perkebunan sawit (20 KK / 86 Jiwa.

TURNEY PASTOR sebagai pola pelayanan dimulai sejak Jumat sore hingga Minggu Malam/Senin Pagi. Setiap minggunya, Pastor melayani 4 stasi dan 1 lokasi (disebut lokasi karena belum resmi menjadi stasi dan dilayani Misa pada Jumat, 1 x sebulan). Sementara setiap Stasi mendapat kunjungan dan Misa 2 x sebulan. Di 8 Stasi terdapat 7 kapel. Satu stasi (Waru) belum mempunyai tempat ibadah. Demikian pula di lokasi-lokasi, Misa dilaksanakan di barak pekerja. Karena lokasi memiliki jalan yang belum permanen, maka kendaraan yang paling efektif adalah motor trail. Pastor mendapat pinjaman jenis motor tersebut dari umat.

Misi yang selama ini dijalankan, tampak memiliki buah-buah yang dapat dilihat dari indikasi-indikasi sebagai berikut:

Paroki sebagai institusi Gereja Katolik di PPU makin dikenal keberadaannya;

Pengurus Stasi cukup aktif dalam menjalankan tugas dan peran;

Umat terlibat untuk menyatu dengan umat stasi lain dalam kegiatan bersama;

Kesadaran umat untuk bertanggungjawab atas kegiatan stasi;

Ada banyak yang terpanggil aktif dalam kepemimpinan maupun pelayanan;

Terbentuknya Kelompok Kategorial : Komka, Guru-guru, Msidinar, WKRI;

Partisipasi umat dalam pendanaan cukup baik, sesuai dengan kemampuan ekonomi, termasuk di dalamnya peran serta umat dalam pembangunan gereja pusat paroki;

Kas Stasi kuat dengan laporan tiap tahun;

Penataan harta benda Gereja (tanah dan bangunan) berjalan baik.

 

Pembangunan Gedung Gereja Yang Baru


Pembangunan Gereja Katolik St. Maria dari Fatima Penajam yang dimaksudkan dalam hal ini pada dasarnya adalah untuk menggantikan rumah ibadah yang sekarang dengan sebuah bangunan lain yang lebih besar dengan kondisi yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan nyata. Pembangunan dilakukan di lokasi yang sama. Rancangan awal dibuat dengan mempertimbangakan situasi lokasi dan kondisi lahan, kebutuhan kapasitas dan fungsi bangunan, yang secara ringkas adalah sebagai berikut :

Bangunan Gereja yang baru akan dibuat dengan beton dan tembok bata dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran sebelumnya. Sehingga dalam penggunaanya dapat lebih optimal. Bangunan Gereja yang baru akan berukuran 19 x 32 meter. Rangka dan atap bangunan Gereja yang baru akan menggunakan baja dengan atap aspal. Didalam bangunan gereja akan ditambahkan ruang Sakristi, ruang Pengakuan Dosa dan Altar yang lebih luas.

Perkiraan anggaran biaya untuk proyek pembangunan ini adalah Rp. 1,502.325.000,-. Pendanaan untuk anggaran biaya tersebut didapat dari Kas Pembangunan Paroki, sumbangan swadaya umat Stasi Penajam dan para donatur. Sampai saat ini, pembangunan gereja masih terus berlangsung dengan dana yang terkumpul dan telah dibelanjakan sebesar Rp. 1.152.000.000,-.

Harapan kami, tulisan ini dapat meningkatkan kehidupan beriman umat Katolik, khususnya di Penajam, dan sekaligus ikut mewujudkan Gereja Katolik universal yang membawa terang, kedamaian dan sukacita kepada semua orang. Dengan sukacita kami ingin juga mengabarkan bahwa meskipun pembangunan gereja belum sepenuhnya rampung, Bapa Uskup Samarinda berkenan memberkati gedung gereja yang baru tersebut pada 15 Mei 2014 mendatang. Lewat kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan partisipasi dan dukungan nyata dalam pembangunan gereja Paroki Penajam. Semoga kita semua selalu dilimpahi berkat dan cinta kasih Allah.

(Kontribusi: Pastor Agustinus Adeodatus Wiyono, OMI, Pastor Paroki St. Maria Dari Fatima, Penajam, Kalimantan Timur)

** Pembangunan gedung gereja baru dilaksanakan dengan kerja bakti seluruh umat - orang dewasa maupun anak-anak, semua turun ke lapangan dan dengan sukacita memberikan bantuan tenaga mereka demi segera terbangunnya gedung gereja impian mereka. **

 

 

 

 

 

 

 

 

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.