MISIONARIS OBLAT PUTRA INDONESIA KE-32 DITAHBISKAN !

 

Pada Rabu, 30 Oktober 2013, bertempat di Gereja St. Yohanes Penginjil, Stasi Entibab, Paroki Dangkan Silat, Kalimantan Barat, Bapa Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus Pr, menerimakan Tahbisan Imamat kepada Diakon Robertus Heru Setyo Suhartono, OMI.

 

Romo Robert, begitu beliau biasa disapa, menjadi Oblat putera asli Indonesia ke-32 yang ditahbiskan. Dengan mengambil motto tahbisan: “Kristuslah yang hidup dalam diriku” (Gal 2:20), Romo Robert mengungkapkan kesiapannya untuk membaktikan diri seutuh dan sepenuhnya bagi Kerajaan Allah. Begitu juga dengan perutusan pertama yang dterima dari Pemimpin Tertinggi, yang akan dijalaninya di Paroki Dangkan Silat, Kalimantan Barat, Romo Robert berujar: “Saya siap mengabdikan diri bagi Gereja Dangkan Silat. Saya ingin membawa Kristus kepada lebih banyak lagi umat, membawa mereka untuk mencintai dan mengimani Yesus Kristus. Saya ingin menghidupi dalam diri umat iman seperti yang dikatakan Yesus Kristus kepada Rasul Thomas: Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. “

Proficiat kepada Romo Robertus Heru Setyo Suhartono, OMI.

 

 

BIODATA ROMO ROBERTUS HERU SETYO SUHARTONO, OMI

Lahir di Wlingi, Blitar, Jawa Timur, 10 Desember 1974.

Putera ke-5 dari 6 bersaudara dalam keluarga Bapak Vincentius Salip dan Ibu Anastasia Supadmi.

Asal Paroki St. Petrus-Paulus, Wlingi, Blitar, Keuskupan Surabaya.

 

1980-1993:

Menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas di Wlingi, Blitar, Jawa Timur.

1993-1994:

Masuk Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo, Garum, Blitar, Jawa Timur

1994-1995:

Bekerja dan hidup komunitas di Paroki Gembala Baik, Kebumen dan Paroki St. Perawan Maria, Purworejo.

1995-1997:

Seminari Menengah Stella Maris, Bogor, Keuskupan Bogor, Jawa Barat

1997-1998:

Sebagai Frater MSC, studi di STF Seminari Pineleng, Manado, Sulawesi Utara

1998-2000:

Masuk Novisiat MSC Sanata Sela, Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah

2000-2002:

Menjadi volunteer (tenaga sukarela) di Institut Sosial Jakarta. Bekerja di PT Bukit Sentul Tbk, Bogor, dan PT Nusantara Sakti Tbk, Jakarta.

2003-2005:

Masuk Novisiat OMI Beato Joseph Gerard di Blotan, Yogyakarta

2005-2009:

Studi di Fakultas Teologi Wedabhakti (FTW). Menerima pelantikan sebagai Lektor dan Akolit di Paroki St Stephanus, Cilacap.

2010-2011:

Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yohanes Penginjil, Dangkan Silat, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat.

2011-2012:

Studi Lanjut Program Imamat di FTW, Yogyakarta

Maret-April 2013:

Hidup berkomunitas di St. Mary Seminary, Melbourne, Australia

21 Mei 2013:

Kaul Kekal di Seminari Tinggi, OMI, Yogyakarta

24 Mei 2013:

Tahbisan Diakonat dari Mgr. Julius Sunarka, Uskup Purwokerto, di Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta.

Juni-Oktober 2013:

Menjalani Masa Diakonat di Paroki St. Yohanes Penginjil, Dangkan-Silat, Kalimantan Barat

30 Oktober 2013:

Tahbisan Imamat dari Mgr. Agustinus Agus, Uskup Sintang, di Paroki St. Yohanes Penginjil, Dangkan Silat, Kalimantan Barat.

 

 

 

Berikut adalah Refleksi Panggilan seperti yang ditulis Romo Robert:

Berefleksi tentang panggilan khusus, saya mengimani Allah yang merajai hidupku. Aneka rahmat yang kuterima dalam hidupku melalui begitu banyak orang yang mengasihiku. Sejak kecil, sebagai seorang anak laki-laki yang dididik dengan kedisiplinan dan kebebasan yang bertanggungjawab menggerakkanku untuk belajar hidup dan menemukan makna hidupku. Setiap bangun dari tidur, saya berkata dalam hati: “Ya Tuhan, hari ini kuterima dariMu. Aku akan melakukan segala sesuatu yang terbaik hari ini. Bekerjalah dalam diriku, ya Tuhan, dan dimuliakanlah Engkau sepanjang masa.”

Panggilan menjadi seorang imam berawal dari gerakan hati untuk semakin dekat dengan Tuhan yang mengasihi. Tuhan menyapaku setiap hari. Dia memberiku nafas kehidupan dan aku ingin mengisi kehidupanku dengan Roh Tuhan sendiri. Kebiasaan keluargaku: berdoa bersama, bersyukur atas rejeki kehidupan, berbagi tugas dalam keluarga, ikut Misa harian dan tidak pernah absen dalam doa lingkungan seminggu sekali mendorongku untuk semakin dekat dengan Altar Tuhan. Bahkan sepulang dari sekolah saya sering berkunjung ke pastoran. Saya datang ke pastoran sekedar ingin mengenal pastor dan berdoa sejenak di dalam gereja. Di hari Minggu, saya ikut pergi ke stasi-stasi untuk sekedar ikut Misa dalam bahasa Jawa. Ternyata, lama-kelamaan saya tertarik untuk ikut melayani umat di stasi-stasi dengan menjadi misdinar. Semakin dekat dengan Altar dan umat, mulai dari memberanikan diri menjadi lektor, bermazmur, aktif koor, sampai aktif dalam aneka kegiatan Paroki. Komitmenku waktu itu, stasi ini dapat menjadi Paroki teladan, apalagi kerjasama imam CM dan diosesan Surabaya cukup baik. Di tambah lagi, begitu banyak kegiatan di Paroki yang memungkinkanku ambil bagian di dalamnya.

Berawal dari kecintaanku mendoakan orang lain dan membaca Kitab Suci menghantarku pada keinginan kuat melayani Tuhan dan sesame di seputar Altar. Kegiatan Mudika (sekarang OMK) dan menjadi misdinar semakin mendorongku untuk menjadi pastor. Di hari Sabtu/Minggu dan di saat liburan sekolah, saya ikut pastor ke stasi-stasi. Tampak olehku, betapa kehadiran pastor didambakan umat, apalagi pastornya mencintai umat beserta tugas perutusannya. Kulihat, betapa pastor dengan setia dan penuh semangat melayani, berkunjung ke stasi-stasi baik pegunungan maupun pantai, bahkan di waktu hujan pun pastor – yang begitu sabar mendengarkan sharing/curhat tentang aneka masalah kehidupan kepadanya. Bahkan tidak jarang, pastor merasa nyaman diganggu saat istirahat, hanya demi keselamatan jiwa-jiwa umatnya. Sampai pada suatu hari, saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya: “Bagaimana menjadi seorang imam itu?” Jawabnya: “Masuklah seminari.”

Masuk Seminari

Setelah tamat SMU, keinginan masuk seminari saya wujudkan. Meskipun orang tua belum menyetujui keinginanku toh saya berangkat juga. Aku hendak menjawab kerinduanku untuk memimpin perayaan Ekaristi dan menjadi saluran rahmat kepada sesama khususnya mereka yang miskin. Di seminari, saya ber-discernment antara menjadi pastor atau membangun keluarga. Selanjutnya saya bekerja, masuk lagi Seminari Menengah Bogor, lalu masuk Kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Di masa Novisiat, saya justru ingin menjadi seorang Yesuit (SJ) – tidak akan mungkin diterima sebab saya pernah di-formatio MSC.

Selanjutnya saya memutuskan bekerja di Bogor dan Jakarta. Sambil bekerja, saya sungguh-sungguh memantapkan diri untuk hidup berkeluarga. Akan tetapi, usikan Allah sangat kuat dan mendalam; meskipun saya mendapatkan banyak relasi, uang, dan jabatan yang mulus, namun dalam diri ada kehampaan (ada sesuatu yang kurang). Akhirnya, saya tetap rajin mengikuti Misa Harian – kalau memungkinkan – sambil berkontak dengan OMI. Sebulan sekali saya mengikuti rekoleksi di Minggu pertama dalam bulan di Yogyakarta, sampai akhirnya Allah menangkapku kembali.

 

Menjadi Oblat

Bagiku, memilih sebuah kongregasi/tarekat/ordo bagaikan seorang kekasih memilih pasangan hidupnya. Oleh karena itu, dengan doa yang panjang dan permenungan yang mendalam, aku mantap memilih menjadi Misionaris Oblat. Mengapa demikian? Jawabanku: yang khas dalam OMI ialah “mewartakan kabar gembira kepada orang miskin”, apalagi dikenal dengan sebutan “Misionaris bagi daerah-daerah yang sulit”. Pengenalanku terhadap OMI mulai kuhidupi selama di seminari, dalam studi dan karya pastoral sambil menguji diri apakah saya memang cocok hidup sebagai Misionaris Oblat. Setahap demi setahap, kumantapkan diriku dengan menghidupi Kristus yang tersalib dalam kehidupan sehari-hari.

Selama formation, saya pernah mengalami kerapuhan justru di saat-saat terakhir masa studi. Saat itu, saya tetap percaya akan kuasa Allah yang menyelamatkanku. Juga dukungan dan bantuan teman-teman Oblat terhadapku: kehadiran, keakraban dan doa-doa mereka menjadi penolong bagiku untuk maju melangkah menuju imamat. Sampai akhirnya, Kongregasi OMI memperkenankan saya mengikrarkan kaul kekal dan menerima tahbisan diakon. Hal ini sebagai sebuah anugerah sukacita disertai syukur mendalam akan kuasa Allah yang menyertai dan menghidupiku. Sebagai seorang Oblat, saya menyediakan diri untuk dipakai Allah sebagai saluran rahmatNya bagi sesama. Kini, kusadari begitu banyak doa, begitu banyak bantuan dan dukungan orang-orang di sekitarku sehingga aku diperkenankan menerima tahbisan suci ini. Semoga Allah menganugerahkan rahmat kepada mereka semua dan aku pun setia – mantap hidup sebagai seorang Imam Misionaris Oblat. Amin.

(Tim Website OMI Indonesia dengan refleksi Romo Robert disalin dari Buku Kenangan Tahbisan Imamat - Dokumentasi: Seminari Tinggi OMI)

 

 

 

 

 

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.