40 Tahun Tahbisan Imamat Romo Bernard Keradec, OMI

Artikel - Karya & Misi

Pada 29 Mei 2011 yang lalu, Romo Bernard Keradec, OMI yang biasa disapa “Romo Bernard” merayakan 40 tahun Tahbisan Imamatnya.  Misa Syukur dan perayaan sederhana bagi Romo Bernard dilaksanakan di Seminari Tinggi OMI di Yogyakarta.  Pada saat itu, Romo Bernard memang sedang berada di Indonesia – menjadi Pembimbing Retret para Imam Oblat Maria Imakulata (OMI) Provinsi Indonesia.

Romo Bernard Keradec, OMI pernah berkarya selama 28 tahun di Indonesia.  Beliau diutus untuk berkarya di Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat, bersama 6 Oblat lainnya: Romo Andre Hebting, OMI, Alm. Romo Jean Subra, OMI, Romo Jean-Pierre Meichel, OMI, Romo Jacques Chapuis, OMI, Romo Rene Colin, OMI, dan Romo Lucien Bourchard, OMI.  Kelompok ini adalah para Misionaris Oblat yang terusir dari Laos dan pulang ke Perancis untuk kemudian diutus bermisi ke Indonesia.  Menarik mengikuti perjalanan karya-karya Romo Bernard selama 40 tahun hidup imamatnya.  Bersyukur sekali kalau Romo Bernard mau meluangkan waktunya untuk bersama Sabitah berbagi kenangan dan rasa sukacitanya sebagai seorang Oblat.

Tentang pandangan akan 40 tahun hidup imamatnya:

“Dalam rangka persiapan diri untuk menerima tahbisan imamat, saya diminta memilih sebuah motto yang akan dicetak di bagian belakang kartu kenangan pentahbisan. Maka saya memilih ayat dari Injil Lukas 9:62 - “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”   Menurut saya pada saat itu, pernyataan Yesus ini memberi ‘lihat dan rasa’ yang paling jelas  - pilihan hidup saya baik sebagai religius misionaris maupun seorang imam. Menjadi suatu cara dan irama hidup yang dikuasai sepenuhnya oleh pelayanan Kerajaan Allah,  atau dengan kata lain, berani memberikan pelayanan Kabar Baik di tengah dunia, apa pun medannya. Kesetiaan dalam kenekatan demi Kerajaan Allah yang dituntut Yesus dirasakan menjadi milik saya pada saat itu. Pokoknya, siap dan nekad tanpa syarat! Apalagi dengan watak yang diwarisi dari orang tua saya – ayah saya seorang perwira angkat laut dan ibu saya adalah guru di perguruan tinggi.  Cocok, deh! Hebat pula!

Lalu, seperti para murid Yesus, saya harus belajar banyak hingga syarat Yesus tadi semakin terwujud dengan sesungguhnya dalam hidup saya, bukan karena jasa saya melainkan sebagai hasil rahmat Tuhan melulu. Saya menjadi semakin sadar bahwa cita-cita yang terungkap dalam ayat Injil yang saya pilih 40 tahun yang lalu itu takkan pernah saya gapai dengan tenaga saya sendiri. Yang boleh saya persembahkan sekarang ini ialah kemiskinan saya dan bersyukur atas pertolongan Tuhan yang tak henti-hentinya memanggil saya dengan tekun agar saya tetap terarah kepada Kerajaan Allah.  Pertolongan serta rahmat Tuhan ini disalurkan lewat sekian banyak manusia yang dijumpai dan peristiwa yang dialami baik di Perancis dan Italia maupun di Thailand, Laos dan Indonesia.   Secara ringkas dapat saya katakan demikian: Pilihlah dalam terang Roh Kudus suatu motto yang bagus bunyinya, tetapi sediakanlah dirimu dibentuk ibarat batu pantai yang menjadi halus karena dikikis oleh air, dan dikikis habis kalau perlu!”

 

Tentang misi dan pelayanannya di Indonesia:

“Setelah ditahbiskan menjadi Imam dan menyelesaikan kurikulum studi di Seminari Tinggi OMI di Perancis, saya diutus ke Roma untuk melanjutkan studi Teologi lagi. Pada saat itu, saya sudah termasuk dalam OMI Provinsi Laos dan oleh Provinsialnya, Romo René Charrier, OMI, saya diberi waktu hanya 2 tahun untuk menyelesaikan program Master 2 di bidang Teologi Dogmatik. Selesai studi di Universitas Gregoriana pada tahun 1973, saya berangkat ke Thaïland dan mulai belajar Bahasa Thai selama 6 bulan. Sayangnya, Kantor Imigrasi setempat tidak berkenan memberi izin tinggal sehingga terpaksa saya pindah ke negara tetangganya, Laos. Pada masa itu, tidak sulit bagi orang berkewarganegaraan Perancis untuk masuk dan tinggal di Laos. Tetapi keadaan politik di Laos terbawa dalam kekacauan perang Vietnam dan seluruh Semenanjung Indocina pada periode itu.  Pada bulan Juli 1975, tentara Komunis dinyatakan menang.  Pemerintah Komunis yang didukung sepenuhnya oleh Vietnam Utara langsung berkuasa penuh. Maka semua orang asing, termasuk para Misionaris OMI, diusir entah secara halus atau juga secara kasar. Oleh karena berasal dari Perancis, kebanyakan kembali untuk sementara waktu ke negeri asalnya, tetapi banyak di antara mereka berkeinginan untuk melanjutkan karya kerasulannya di Asia. Kenapa? Karena sudah terlanjur jatuh cinta kepada orang Asia.  Itu jelas!  Selain juga ingin terus bisa menyampaikan Kabar Baik kepada mereka!

Selama tahun 1976, saya diminta menjadi semacam “Wakil Provinsial” Perancis untuk rombongan Misionaris OMI mantan Provinsi Laos. Maksudnya, membantu mereka entah berangkat lagi atau menetap di Perancis sesuai dengan keadaan pribadi masing-masing dan permintaan baru dari Uskup-Uskup kepada Administrasi Jenderal kami di Roma.   Maka sampailah kepada kami, sekelompok Misionaris OMI mantan Provinsi Laos, permintaan dari beberapa tempat seperti dari dari Honduras (Amerika Selatan) dan Indonesia (Asia). Dari Indonesia ada dua permintaan yakni dari Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Sintang. Setelah mengutus dua orang dari kelompok kami untuk meninjau tempat-tempat itu, maka diputuskan untuk mengabulkan permintaan Keuskupan Sintang (Kalimantan Barat) dan kami pun mempersiapkan diri untuk berangkat ke Indonesia.

Sebetulnya kami – kecuali Alm. Romo Jean Subra, OMI  – sama sekali tidak mengenal Indonesia,  apalagi Kalimantan Barat. Malah di mana terletaknya di bagian Asia pun kami tak tahu! Shame on us! (malu sekali! – Red)  Tetapi yang menarik perhatian kami ialah medan karya di pedalaman Kalimantan, di tengah suku-suku Dayak yang terpencil dan maksud permintaan Uskup setempat, Mgr I. Doera, Pr yang menginginkan kami menjalankan karya evangelisasi pertama  - yaitu kepada orang-orang yang sama sekali tidak mengenal Kristus - dan juga membantu/mendampingi komunitas-komunitas Kristiani di Keuskupannya untuk berdikari. Sungguh, inilah yang merupakan daya tarik tersendiri bagi kami, membuat Gereja berdiri dan semakin bertumbuh dalam iman Kristianinya hingga berdikari dalam semua bidang. Dan tujuan karya ini akan tetap menjiwai kami dalam karya kerasulan – termasuk saya tentunya – apa pun misi dan tugas kami masing-masing.

Kebersamaan dalam kelompok kami untuk memelihara hidup berkomunitas adalah sangat kuat.  Bersama kami pikirkan dan putuskan proyek-proyek misi, saling mendukung lewat irama hidup yang terbagi atas saat kehadiran bersama di pastoran (hidup, berdoa, berbagi pengalaman) dan masa berkeliling dari komunitas ke komunitas Kristiani selama beberapa minggu.  Dana penunjang misi kami cari bersama dan penggunaannya pun kami putuskan bersama sehingga semangat berbagi sungguh kuat antar kami. Semangat ini tetap hidup dan diwarisi kepada para OMI Indonesia yang sekarang berkarya di Dangkan Silat dan Sepauk.

Itulah sukacita hidup bersama orang-orang Dayak dan Cina - entah ia seorang Kristiani atau belum - yang berlangsung sekian tahun lamanya. Sekarang, dari rombongan kami itu, tinggal Romo Jacques Chapuis, OMI yang masih berkarya di daerah Sepauk.”

Romo Bernard kemudian mengingat-ingat secara kronologis semua karyanya di Indonesia:  Tiba di Jakarta pada 07 Januari 1977 dan disambut oleh Romo Kevin Casey, OMI.  Hingga April di tahun yang sama, Beliau belajar Bahasa Indonesia di Bandung, lalu mencoba mempraktekkannya di Purwokerto sampai bulan Agustus.  Tiba di Kalimantan Barat di bulan September, Beliau mulai berkarya sebagai Pastor Pembantu di Paroki Benua Martinus hingga tahun 1978.  Dipindah ke Paroki Bika, Beliau mengajar sekaligus menjadi Pastor Paroki hingga tahun 1982.  Lalu di tahun 1983, Beliau berkarya di Paroki Dangkan Silat sebagai Pastor Paroki sambil mengajar.  Pada tahun 1990 hingga 1995, Romo Bernard menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Sintang serta Pastor Paroki Katedral Sintang.  Di tahun 1996, Beliau bertugas di Paroki Semitau sebagai Pastor Paroki.  Sejak tahun 1996 hingga 2002, Romo Bernard berkarya sebagai Rektor Seminari Tinggi OMI di Yogyakarta sambil juga memberi seminar-seminar di Fakultas Teologi Wedhabakti di kota yang sama.  Tahun 2002, Beliau menjalani Tahun Sabatikal, dan lalu hingga tahun 2004 menjadi Komisaris Kapitel Umum OMI di Roma.  Pada bulan November 2004, Romo Bernard kembali ke Indonesia namun tanpa tugas.  Selama karya panjangnya di Indonesia, Beliau banyak memberikan Rekoleksi, Retret dan Pendampingan kepada umat maupun kongregasi baik di Kalimantan Barat maupun di tempat dan kota lainnya.


Tentang karyanya di Indonesia yang paling berkesan:

“Wah, sulit sekali menjatuhkan pilihan karena semua tugas dan karya saya adalah mengesankan meski tidak semuanya sama disukai. Tetapi kalaupun harus menjatuhkan pilihan, ada dua jenis karya, yaitu: (a) Karya Pastoral di pedalaman Kalimantan Barat, khususnya Karya Formasi para Pemimpin Umat dan Katekis.  Saya diberi kesempatan – dan sekaligus menjadi rahmat – untuk menyaksikan karya Roh Kudus dalam hati para peserta sesi-sesi dan kursus-kursus itu. Kalau Gereja berdiri dan hidup sekarang ini di pedalaman Kalimantan Barat - khususnya di Keuskupan Sintang - bukanlah pertama-tama karena jasa Uskup atau para Imam, melainkan berkat bakti para Pemimpin Umat, tenaga awam yang kerap kali berjuang tanpa pamrih demi hidup komunitas Kristiani setempat di kampung ataupun wilayah mereka. Ini sungguh mengesankan. (b) Pelayanan demi masa depan OMI Provinsi Indonesia.  Saya berpartisipasi aktif dalam pembentukan OMI Provinsi Indonesia. Pada tahun 1993, tiga Delegasi  yaitu Australia, Italia dan Perancis, menyatu menjadi satu Provinsi: OMI Indonesia yang diresmikan oleh Alm. Superior Jenderal Marcello Zago, OMI. Berdirinya OMI Provinsi Indonesia ini tentunya didahului banyak pembicaraan dan rapat kerja bersama para konfrater baik dari Indonesia maupun pihak Administrasi Jenderal di Roma. Saya lalu ikut melayani Provinsi ini sebagai Anggota Dewan.  Lalu Karya Formasi bagi para frater OMI di Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta. Meski rumit dan penuh tantangan, tugas formator ini memang mempunyai kesan tersendiri. Salah satunya ialah kegembiraan karena boleh ikut – namun dengan sangat hati-hati dan penuh iman serta harapan – membantu para calon OMI untuk memekarkan dalam diri mereka semangat rasuli yang asli dan ke arah yang tepat.”

Tentang keputusannya untuk kembali ke Perancis:

“Pada akhir tahun 2005 saya memutuskan kembali ke Europa, persisnya ke OMI Provinsi Perancis. Ada 3 alasan penting untuk keputusan ini:  (a)  Ada permintaan dari OMI Provinsi Perancis untuk menangani Rumah Formasi di Lyon. Pada Kapitel Umum 2004, Romo Provinsial Perancis menyampaikan kepada saya betapa diperlukan seorang Formator di Skolastikat Interprovinsi di Lyon (Perancis), jika seandainya saya bermaksud pulang ke Europa, inilah suatu kebutuhan yang riil dan mendesak; (b)  Pada saat itu, personalia OMI asli Indonesia yang lebih muda semakin meningkat jumlahnya dan berpartisipasi semakin aktif ke dalam karya misioner. Maka saya menilai bahwa OMI asli Indonesia ini perlu diberi peranan yang lebih luas terutama sebagai penanggungjawab sepenuhnya di tempatnya sendiri tanpa mengikat mereka dengan karya-karya yang sudah berlangsung, selama kontrak karya dengan Keuskupan-Keuskupan tetap dihormati. Selalu ada yang berpikir bahwa konfrater lebih muda ini belum siap.  Kendati saya menghormati penilaian tersebut, tetapi saya tetap pada pendirian bahwa sudah tiba waktunya buat OMI asli Indonesia yang lebih muda untuk bertanggungjawab sepenuhnya tanpa adanya “penyangga-penyangga” yang tak jarang bisa menjadi rintangan - meski tak diakui secara terang-terangan; (c) Saat kembali dari Roma setelah selesai tugas sebagai Komisaris dan Anggota Kapitel Umum 2004, saya tidak diberi tugas apa pun oleh Provinsial Indonesia dan Dewannya semasa itu. Maka, setelah mengembara tanpa tugas tertentu selama beberapa bulan antara Yogyakarta, Jakarta dan Pontianak, saya mohon secara tertulis kepada Superior Jendral OMI, Romo W. Steckling, agar saya diperbolehkan pindah Provinsi, dari Indonesia ke Perancis. Permintaan saya dikabulkan oleh semua pihak, dan pada bulan September 2005 saya tiba di Skolastikat Interprovinsi di Lyon, Perancis, tempat saya berkarya sampai sekarang ini.”

Tentang harapannya untuk karya-karya OMI Provinsi Indonesia:

“Kalau boleh, saya akan membagi harapan-harapan saya menjadi dua, yaitu harapan buat para OMI Indonesia, dan, harapan untuk karya-karya OMI Indonesia.  saya ingin membedakan antara orang dan karya, dengan alasan yang dapat kita temukan terumus amat tepat dalam Injil Matius: ‘Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?’ (Mat 16:26). Bagi kami para OMI, ‘nyawa’ ini boleh dilihat sebagai ‘panggilan hidup sesuai dengan karisma St. Eugenius de Mazenod’, sedangkan ‘perolehan seluruh dunia’ dapat menyimbolkan karya-karya yang boleh saja diimpikan besar dan hebat, namun yang paling utama ialah kualitas pribadi kita sebagai seorang Kristiani yang telah memilih untuk hidup sebagai Religius Missioner OMI. Apa pun karya yang dijalankan, bobot pribadi kita akan tetap mempengaruhinya.

Harapan saya buat para OMI Indonesia adalah agar mereka tetap menjaga dan meningkatkan kualitas hidup mereka sebagai Religius Misionaris OMI. Saya mengajak mereka menimba dari tulisan Superior Jenderal, Romo Louis Lougen, OMI: ‘A temptation is to presume that we are doing God’s will because we are doing good work and religious actions.  We have lost the sense of mission when we do the same thing we have done for years because we like it, the people like us, it is going well, etc.’ - Adalah sebuah godaan bagi kita untuk menganggap bahwa kita telah melakukan kehendak Tuhan karena kita melakukan karya-karya dan aktivitas religius yang baik.  Kita telah kehilangan semangat misi saat kita melakukan hal yang sama yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun hanya karena kita menyukainya, karena orang-orang senang dengan kita, karena semua berjalan dengan mulus, dan seterusnya.

Harapan saya untuk karya-karya OMI Indonesia adalah agar karya-karya OMI ini dipilih, dijalankan dan dievaluasi bersama konfrater dalam Komunitas dan Provinsi, juga dengan orang-orang awam yang berkarya bersama mereka – AMMI atau yang lainnya yang telah membuktikan betapa hebat dedikasi mereka.  Semoga selalu diingat baik-baik bahwa sebuah karya – kecil atau besar – bukanlah kesempatan untuk memamerkan kehebatan pribadi, juga bukan sarana untuk merealisasikan mimpi-mimpi pribadi, dan bukan menjadi peluang untuk membentuk sarang berkedok alasan suci.”

Tentang harapannya untuk kelanjutan karya-karyanya:

“Tak perlu kuatir, kesempatan untuk berkarya dalam arti melayani Kerajaan Allah tak pernah akan berkurang. Tinggal bagaimana caranya untuk  menunaikan tugas, yaitu dengan semangat pelayanan, semangat doa dan hidup rohani yang dalam, belajar terus dari pengalaman, dari orang-orang yang saya layani, dan jangan lupa dengan senantiasa menuntut ilmu.

Kebetulan sekali saya diminta membimbing para Frater yang berstudi di Fakultas Teologi di kota Lyon, Perancis. Mereka berasal dari manca negara, Vietnam, Chad, Kamerun, Namibia, Nigeria, Haiti - sayangnya, malahan dari Perancis tidak ada! - dan beberapa dari mereka sangat membutuhkan pertolongan. Maka saya berusaha menjelaskan secara lebih sederhana isi materi kuliah yang kadang kala terlalu rumit buat mereka yang tidak berkebudayaan Eropa Barat.

Selain itu, saya ikut membantu di sebuah Paroki yang luas di bagian Utara kota Lyon. Pelayanan sebagai Romo Rekan di Paroki ini menuntut waktu dan kesediaan untuk bergaul dengan masyarakat luas, mendengarkan mereka, menjawab pertanyaan dan harapan mereka. Di sini situasi masyarakat jauh berbeda dengan Indonesia, apalagi di bidang agama. Perancis terkenal sebagai negara bermentalitas sekuler bahkan anti agama dan secara lebih luas anti institusi manapun. Misalnya, kaum muda yang begitu sulit didekati oleh Gereja meski kenyataannya ada lebih dari 1 juta OMK berpartisipasi dalam World Youth Day di Madrid di bulan Agustus.

Juga, saya ikut menangani satu majalah yang bernama ‘Spiritus’, majalah penilitian teologi dan pengalaman misioner. Majalah ini diterbitkan setiap tiga bulan dan menuntut banyak kerja baik untuk mencari penulis-penulis berbobot, menterjemahkan artikel atau membuat ulasan pers, buku-buku, dll. Majalah yang berpusat di Paris ini bukan milik OMI tetapi disponsori oleh 12 Kongregasi Misioner. Untunglah, berkat internet saya sempat mengerjakan 90% tugas-tugas saya di majalah itu dari  Lyon dan hanya perlu bertatap muka dengan Tim Redaksi selama tiga atau empat hari setiap tiga bulan saja.

Akhirnya, oleh karena dipilih menjadi Penasehat Pertama dalam Dewan OMI Provinsi Perancis, saya harus meluangkan waktu dan tenaga lumayan banyaknya demi konfrater dan karya misioner OMI di Perancis. Jumlah anggota OMI  Provinsi Perancis memang banyak, ada 190 Oblat, tetapi kebanyakan sudah berumur dan menuntut penangan dan pelayanan khusus. Karya OMI di Perancis mencakup karya parokial, tempat ziarah Gua Maria dan beberapa karya kategorial yang melibatkan beberapa Oblat yang lebih muda. OMI Provinsi Perancis juga menangani suatu misi di Vietnam yang berkembang dengan baik, banyak panggilan terjadi dan mereka mulai berkarya dengan penuh semangat. Syukur!  Saya juga masih diminta untuk memberi makalah Teologi dan Kitab Suci atau rekoleksi, retret dan menjadi pemandu kongres atau kapitel-kapitel kongregasi.  Pokoknya, saya tidak kuatir untuk penggunaan waktu saya selanjutnya: 24 jam sehari tak mencukupi!  Tetapi asal saya sehat saja, kan...

Saya ambil kesempatan ini untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada Majalah Sabitah atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi sejenak dengan seluruh Pembacanya. Juga banyak terima kasih kepada Romo A. Andri Atmaka, OMI, Provinsial OMI Indonesia, dan teman-teman Oblat serta para awam yang turut berpartisiasi dalam perayaan 40 tahun Tahbisan Imamat saya di Wisma de Mazenod, Condongcatur, Yogyakarta. Bagi saya, perayaan ini sungguh sebuah kejutan besar dan tentunya mempunyai kesan tersendiri!  Doa saya menyertai Anda sekalian di Indonesia!” (disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Romo Bernard Keradec, OMI/tis)

Sumber: Majalah Sabitah, Media Komunikasi Paroki Trinitas, Cengkareng, Jakarta. Edisi 50/Sept-Okt 2011


Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.