Deprecated: Call-time pass-by-reference has been deprecated in /home/omiindonesia/public_html/plugins/content/jw_disqus.php on line 40

Deprecated: Call-time pass-by-reference has been deprecated in /home/omiindonesia/public_html/plugins/content/jw_disqus.php on line 40

Jean SUBRA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

JEAN SUBRA, OMI

 

Nama Panggilan : Pastor Subra
Lahir : Perancis, 22 Februari 1923
Kaul Pertama : 1942
Kaul Kekal : 1946
Nomor Oblatio : 7632
Tahbisan Imamat     
: Perancis, 04 Juli 1948
Wafat :   
Perancis (Fougeres), 09 Februari 2000 karena sakit

 

 

Pada tahun 1975, Pastor Subra datang ke Indonesia untuk mencari informasi tentang kemungkinan dibukanya misi para Oblat Perancis. Pada Agustus 1976 diputuskan oleh Administrasi Jenderal untuk mengabulkan permohonan Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat, yang meminta tenaga para Oblat. Maka dibentuklah kelompok voluntir berjumlah 7 orang: (1) Pastor Jean Subra, umur 53 tahun, 26 tahun berkarya di Laos, melayani Suku Kmhmu; (2) Pastor Lucien Bouchard, umur 47 tahun, 10 tahun berkarya di Laos, melayani pengungsi di daerah pegunungan selama 14 tahun; (3) Pastor Jean-Pierre Meichel, umur 40 tahun, 11 tahun berkarya di Laos, di tengah-tengah penganut agama Buddha dan animisme; (4) Pastor Andre Hebting, 39 tahun, 9 tahun berkarya di Laos, melayani Suku Kmhmu; (5) Pastor Rene Colin, umur 37 tahun, 6 tahun berkarya di Laos, melayani 1 paroki yang terdiri dari orang-orang Suku Lao yang menganut agama Katolik; (6) Pastor Jacques Chapuis, umur 36 tahun, 7 tahun berkarya di Laos, terlibat dalam kalangan orang muda dan dalam dialog bersama penganut agama Buddha selama 3 tahun; (7) Pastor Bernard Keradec, umur 30 tahun, mendapat kesempatan belajar bahasa selama 2 tahun di antara Thailand dan Laos. Mereka tiba di Bandara Kemayoran pada tanggal 29 Januari 1977 dan disambut oleh Pastor David Shelton, seorang Oblat Australia yang telah lebih dahulu berkarya di Indonesia.


Kelompok Oblat Perancis ini kemudian tinggal di Bandung untuk belajar Bahasa Indonesia dari awal Februari sampai pertengahan Mei 1977. Mereka kemudian tinggal di komunitas para Oblat Australia di Keuskupan Purwokerto.  Pastor Bernard, Jean-Pierre, dan Jacques tinggal di Paroki St.Yosef, Purwokerto Timur, sementara Pastor Subra, Lucien, Rene dan Andre tinggal di Cilacap.

 

Pada akhir Agustus 1977, 7 Oblat Perancis ini berangkat ke Kalimantan Barat lewar Pontianak dan langsung menuju Sintang.  Pada pertengahan September tahun yang sama, mereka sudah membagi diri masuk ke medan karya. Pastor Rene dan Jacques berkarya di Sejiram, lalu Pastor Bernard dan Jean-Pierre di Benua Martinus,  Pastor Lucien di Bika Nazaret, Pastor Subra di Putusibau, dan Pastor Andre di wilayah Sepauk dan Tempunak.

 

Pada bulan Agustus 1979, Mgr. Isak Doera, Uskup Sintang, memutuskan dengan SK No.197/Par/1979 untuk memekarkan paroki - dari 7 atau 8 paroki induk menjadi 34 paroki.  Karena pemekaran itu, Pastor Subra menjadi Pastor Paroki Suit-Melapi (anak paroki dari Paroki Putusibau). Pastor Subra mengunjungi umatnya dengan tinggal di daerah-daerah yang sulit. Mereka adalah Suku Bukat dan Punan yang hidup di Hulu Sungai Kapuas. Banyak riam yang mengerikan harus dilewati untuk mengunjungi mereka yang berada di Kampung Keriao, Matalunai, dan Nanga Bungan. Pastor Subra merasa aga sulit untuk pergi ke Nanga Bungan, karena Beliau pernah mengalami perahu karam di Hulu Kapuas.

 

Pada bulan September 1983 ada rotasi dan penempatan baru bagi para Oblat Perancis. Pastor Subra dan Bernard ditempatkan di Paroki Sejiram. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada bulan Aprl 1986, ketika Pastor Subra sudah akan berangkat cuti ke Perancis minggu depannya, Beliau terjatuh.  Awalnya diduga pinggulnya terkilir, maka Beliau dilarikan ke Rumah Sakit Pontianak dan dirawat selama satu bulan.  Analisa awal retak tulang paha, tetapi ternyata terjadi adalah lebih parah.  Karena tidak ada perkembangan, akhirnya Pastor Subra berangkat ke Perancis, dioperasi dan dipasang ‘pen’.  Setelah keluar dari rumah sakit, Beliau pergi ke pusat rehabilitasi untuk latihan dan fisioterapi seperlunya selama beberapa bulan.


Pada bulan Januari 1987 Pastor Subra kembali ke Indonesia dan mulai berkarya lagi di Sejiram. Namun ternyata setelah beberapa minggu, Beliau sadar kurang mampu lagi; Beliau sulit sekali untuk jalan kaki dari kampung ke kampung dan melaksanakan pelayanan umat seperti sedia kala. Pada tanggal 16-22 Februari, para Oblat Perancis mengadakan rapat delegasi di Bika Nazaret.  Salah satu pokok pembicaraan adalah permohonan tenaga dari  Oblat Australia yang mengurus pendidikan calon-calon OMI di Yogyakarta. Mereka memohon agar Pastor Subra dapat bergabung dengan Tim Formator di “Wisma de Mazenod” di Yogyakarta.


Secara kebetulan juga, Pastor Subra telah diminta untuk memimpin retret bagi para skolastik dan novis di Yogyakarta. Maka setelah selesai dengan retret itu, Pastor Subra langsung diberi tugas baru menjadi Socius yang membantu Magister Novis kala itu, Pastor John O’Doherty. Pastor Subra melaksanakan tugasnya selama 5 tahun (1987-1992).  Pada tahun 1992, Beliau kembali ke Perancis dengan rencana menjadi Socius Magister Novis di sana.  Tetapi karena jumlah novis yang kurang memadai,  maka Beliau ditempatkan di Notre Dame de Peyragude, sebuah tempat ziarah regional. Akhirnya pada bulan Juni 1999, Pastor Subra pindah ke rumah pastor jompo di Pontmain, tempat penampakan Bunda Maria pada tanggal 17 Januari 1871.  Di sana Pastor Subra meninggal pada tanggal 09 Februari 2000. Beliau dikebumikan di Makam Oblat di Pontmain untuk beristirahat selamanya setelah pengabdian yang luarbiasa di sepanjang hidupnya sebagai seorang Oblat Maria Imakulata.


(Dikompilasi oleh Pastor Henricus Asodo, OMI dari Buku Kenangan 20 Tahun OMI Provinsi Indonesia dan keterangan dari berbagai sumber.)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.