Sosialisasi Triennium di Kalimantan Utara

Dalam rangka sosialisasi kegiatan Triennium menjelang usia 200 tahun Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI), 2 anggota Tim Triennium Pusat: Bapak Gregorius Sukadi dan Bapak Jaya Supeno, mengunjungi Distrik OMI di Kalimantan Utara.  Secara kebetulan, pada saat yang sama, Pastor Reynold Sombolayuk, OMI juga merayakan Misa Syukur Tahbisan Imamatnya di Distrik tersebut.

Tiba di Bandara Juwata, Tarakan pada Jumat, 12 September 2014, Pak Sukadi dan Pak Jaya dijemput oleh Pastor Dominikus Pareta, OMI dan Pastor Reynold, OMI yang sudah tiba beberapa jam sebelumnya. Rombongan kemudian beristirahat siang di pastoran Paroki Maria Imakulata, Tarakan.

Sore harinya, tepat pkl. 18.30, Pastor Reynold, OMI mempersembahkan Misa Syukur Tahbisan Imamatnya di Gereja Maria Imakulata, Tarakan, dengan didampingi oleh Pastor Dominikus Pareta, OMI (Pastor Paroki) dan Pastor Hendra Limbong Allo, Pr (Pastor Rekan).  Meskipun bukan hari Minggu, Gereja yang berkapasitas lebih dari 1.000 orang itu hampir separuh terisi oleh umat yang sangat antusias menyambut Pastor yang baru ditahbiskan.

Misa Syukur Tahbisan Imamat Pastor Reynold, OMI di Tarakan, Kalimantan Utara

 

Seusai Misa, acara dilanjutkan dengan santap malam bersama di Aula Leopoldo Girelli. Macam-macam menu disediakan oleh umat. Semuanya enak, tetapi yang paling laris adalah “RW” yang dimasak kering, cara masak favorit orang Toraja.  Acara mengisi perut ini diteruskan dengan acara memanaskan kepala. Karena keterbatasan waktu, Pak Jaya secara singkat memaparkan kegiatan Triennium menjelang 200 tahun usia Kongregasi OMI. Sosialisasi Triennium ini bukanlah yang pertama kali bagi Distrik Tarakan karena Panitia Triennium Distrik sudah terbentuk. Bahkan kaum muda dengan penuh semangat memperkenalkan theme song Triennium “Misionaris Sejati” lengkap dengan gerakannya.

Pastor Domi tampaknya tidak mau menyia-nyiakan kemampuan kedua tokoh awam OMI tamunya ini. Meskipun sudah pkl. 21.00, acara tetap diteruskan dengan dua agenda berbeda yang dilaksanakan secara berbarengan. Para prodiakon dan pemimpin doa mengikuti latihan Public Speaking bersama Pak Sukadi, sedangkan kaum muda mengikuti latihan jurnalistik bersama Pak Jaya.  Mereka semua dengan penuh semangat dan “perjuangan” mengikuti kegiatan yang baru selesai pada pkl. 23. 00. Belakangan baru diketahui bahwa para pembicara handal ini masih berpatokan pada jam tangan mereka yang menggunakan Waktu Indonesia bagian Barat - yang satu jam lebih lambat dari jam di Tarakan yang menggunakan Waktu Indonesia bagian Tengah.

Pak Jaya sedang memaparkan kegiatan Triennium

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Paroki OMI yang lain, yaitu Paroki St. Stefanus, Malinau. Dengan pesawat Kalstar dari Tarakan, perjalanan berlangsung selama 20 menit. Di Malinau, Pastor Bernardus Rukmono, OMI  sudah siap menjemput. Bandara kecil Malinau ini agak unik, karena penjemput bisa masuk langsung ke tempat pengambilan bagasi.

Sama seperti Pastor Domi, Pastor Rukmono juga “mencuri” keuntungan dari kemampuan Tim Triennium dari pusat ini. Sabtu sore, Pak Sukadi memberikan materi Public Speaking kepada anak-anak Antiokhia Paroki Malinau, dan Pak Jaya menerangkan cara pembuatan majalah paroki kepada Tim Komsos Paroki Malinau. Sedangkan Pastor Rukmono dan Pastor Reynold berkunjung ke Stasi Respen untuk merayakan Misa di sana.

Minggu pagi, kegiatan berfokus pada perayaan Misa Syukur Tahbisan Imamat Pastor Reynold di Gereja St. Stefanus, Malinau.  Gereja terisi penuh, bahkan cukup banyak yang terpaksa duduk di luar.  Memang Gereja Paroki ini mengalami perkembangan jumlah umat yang cukup pesat sehingga bangunan gereja sudah tidak memadai lagi.  Untungnya pembangunan gedung gereja baru sudah mulai berjalan. Menariknya, selain tidak ada persoalanan tanah dan izin, anggaran pembangunan gedung gereja sebesar Rp 8 milyar ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten.

Setelah Misa di Gereja Paroki, Pastor Rukmono dan Pastor Reynold melanjutkan kunjungan ke Stasi Tajan. Pak Sukadi yang tidak memiliki acara khusus siap untuk ikut serta. Perjalanan ke Stasi ini ditempuh selama 30 menit.  Memang,  jalan yang dilalui lebih jelek dibandingkan jalan–jalan lain di Kabupaten Malinau karena belum diaspal. Namun jalan ke Stasi ini sudah bisa dilalui dengan mobil tanpa terkendala cuaca. Di Stasi ini kami masih bisa menikmati sisa panen buah raya, yaitu durian, lae, dan langsat. Sayang sekali, meski sangat enak, semua buah itu tidak bisa dimakan habis karena kapasitas perut yang terbatas.

Para peserta sosialisasi Triennium di Tarakan tampak antusias

Sore hari, sosialisasi Triennium disampaikan oleh Pak Sukadi dan Pak Jaya kepada tokoh-tokoh umat di Paroki dan Stasi serta Panitia Teramo 2015. Sosialisasi ini lebih singkat dari yang direncanakan karena Paroki Pulau Sapi memajukan jadwal sosialisasi dari Senin sore ke Minggu malam. Akhirnya disepakati bahwa setelah acara di Malinau selesai pada pkl. 19.00, Kedua anggota Tim Triennium Pusat ini langsung menuju ke Pulau Sapi yang berjarak tempuh sekitar 30 menit. Selesai acara di Pulau Sapi, Pak Sukadi dan Pak Jaya langsung kembali ke Malinau. Meski ada kesalahpahaman tentang jadwal, tetapi acara tetap berjalan lancer di Pulau Sapi. Hal ini tidak terlepas dari sikap terbuka Pak Sukadi dan Pak Jaya terhadap perubahan acara.

Senin, 15 September 2014, masih ada satu acara yang disiapkan, yaitu kursus jurnalistik dan latihan pembuatan majalah paroki. Kegiatan ini diisi oleh Pak Jaya bersama anak-anak asrama dan kaum muda di Paroki Malinau. Pak Sukadi menggunakan waktunya untuk jalan-jalan ke Paroki Pulau Sapi karena hari sebelumnya tidak dapat menikmati pemandangan karena gelap. Dengan berjalan kaki, Beliau mengunjungi beberapa rumah di sekitar gereja dan menyapa orang-orang di sekitar tempat itu. Karena keramahannya, Beliau dihadiahi buah rambutan.

Perubahan-perubahan ternyata belum cukup, Senin malam, Pastor Rukmono mendapat kabar bahwa pesawat Susi Air yang akan membawa Pak Sukadi dan Pak Jaya kembali ke Tarakan tidak dapat diberangkatkan.   Maka untuk mengejar pesawat yang akan mereka tumpangi dari Tarakan ke Yogyakarta sekitar pkl. 12. 30 pada hari yang sama, kedua Bapak akhirnya naik speedboat yang berangkat paling pagi dari Malinau ke Tarakan.  Syukur pada Allah, meski terjadi banyak perubahan, tetapi segala sesuatu bisa tetap berjalan dengan baik.

Pak Sukadi sedang memaparkan kegiatan Triennium di Pulau Sapi

Perjalanan ke Distrik Kalimantan Utara yang dilakukan oleh Pak Sukadi dan Pak Jaya tidak hanya mensosialisasikan Triennium melalui kata-kata, tetapi terutama lewat tindakan dan pengalaman mereka.  Kesiapan dan kesediaan mereka meninggalkan rutinitas, kesibukan, dan kenyamanan di Yogyakarta menuju Tarakan, Malinau, dan Pulau Sapi menunjukkan semangat misioner kaum awam yang tinggi.

Mereka juga senang hal-hal baru, bertemu orang-orang yang baru, mengunjungi daerah yang baru, dan mencoba makanan yang baru - termasuk naik speedboat yang sesak dan lama. Tanpa kenal lelah, mereka membagikan yang mereka miliki kepada orang-orang yang dijumpai.  Mereka juga berani dan terbuka untuk menyesuaikan diri terhadap segala perubahan yang merupakan hal yang biasa terjadi di Kalimantan.  Kedua tokoh awam OMI yang usianya tidak lagi muda ini memperlihatkan kharisma OMI sekaligus menantang kami - para Oblat MI - untuk lebih setia lagi pada kharisma yang dihidupinya.

(Kontribusi: Pastor Reynold A. Sombolayuk, OMI)

Paroki Rasul Yohanes, Pulau Sapi, Malinau

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.