Sekilas Sejarah Penggelaran Kudus St. Eugenius de Mazenod

Proses pertama dimulai di Marseilles dari tahun 1926–1929. Ada 14 saksi mata dan 41 saksi yang dimintai keterangan. Eugenius de Mazenod dijuluki “Hamba Allah”.

Proses penggelaran Beato dibuka oleh Kongregasi Suci untuk Ritus pada 15 Januari 1935 di Roma. Antara tahun 1936–1937 ada 15 saksi yang dimintai keterangan. Dari tahun 1947–1968 penyelidikan sejarah dilaksanakan atas 418 arsip di 5 negara berbeda.  Pada tanggal 26 Mei 1970, Kongregasi Suci untuk Penggelaran Kudus mengakui “Keutamaan Heroik” Eugenius de Mazenod.  Ia dijuluki Venerabilis.

 

DAVID SHELTON, OMI

DAVID SHELTON, OMI

 

Nama panggilan:  Pastor David

Lahir:  Stourport, Inggris, 25 Juni 1941

Kaul Pertama: 29 September 1959

Kaul Kekal: 29 September 1962

Tahbisan Imamat: Birmingham, 11 Februari 1968

Wafat:  Camberwell, Australia, 12 Desember 2019

 

Pastor David Shelton, OMI tutup usia dengan damai di rumah sakit pada 12 Desember 2019. Pastor David terdeteksi Limfoma – kanker yang menyerang sel darah putih.  Pada hari wafatnya, Beliau baru saja masuk ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi.

Pastor David adalah Oblat Misionaris dari Provinsi Inggris-Irlandia yang menjadi anugerah besar bagi Provinsi Australia dan Gereja.  Lahir di Stourport, Inggris pada 25 Juni 1941, Pastor David yang mempunyai seorang kakak perempuan ini mengenyam pendidikan di St. Mary’s Colwyn Bay, Wales.  Beliau bergabung ke dalam Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata pada tahun 1958 di Cahermoyle, Irlandia, menjalani pendidikan formasi di Belmont dan Pilton, dan ditahbiskan pada 11 Februari 1968 di Birmingham.

 

OBLATIO DAN KEMARTIRAN

Konferensi “Oblatio dan Kemartiran” yang akan diselenggarakan di bulan Mei di Pozuelo, Spanyol, mengundang kita untuk merefleksikan dimensi fundamental dari panggilan Oblat kita:  Kemartiran.

 

Alexius Reynard, OMI

Martir pertama dari antara para Oblat adalah Alexius Reynard yang dibunuh di tahun 1875 di Kanada oleh para pemandu perjalanan misinya ke Nativite.  Sepuluh tahun kemudian, pada 02 April 1885, Leon Fafard dan Felix Marchand dibunuh di Frog Lake.  Uskup Grandin menulis kata-kata bermakna dalam surat kepada orangtua Pastor Fafard:  “..... Yang Terkasih Nyonya Fafard, Anda dapat dengan baik membandingkan perasaan sedih yang Anda alami sekarang ini dengan yang dialami oleh Perawan Terberkati, bahkan juga dengan mereka yang berduka bagi Korban Kalvari:  seorang martir terkasih telah wafat untuk keselamatan saudara-saudaranya dan untuk keselamatan para pembunuhnya.”  Kepada orangtua Bruder Marchand, Uskup Grandin menulis:  “saling mendukung dalam segala kesulitan yang dihadapi, mereka berdua menjadi kurban dari dedikasi mereka dan menjadi martir bagi cinta kasih....”  Di tahun 1913, dua orang imam Oblat yang mempersembahkan hidup mereka untuk karya misi juga menjadi martir:  Jean-Baptiste Rouviere dan Gullaume Le Roux, keduanya dibunuh di tahun 1913 di Coppermine.

 


Kita juga perlu mengenang para martir dari Spanyol, Jerman, Bolivia, Cile, Sri Lanka, Filipina, dan Laos.  Menjadi seorang Oblat berarti menjadi siap sedia untuk kemartiran.  Inilah tema dari tulisan-tulisan Bapa Pendiri dan para Oblat generasi pertama.

Berikut ini adalah beberapa contohnya:

Di masa penghujung masa novisiatnya, Vital Grandin menulis kepada saudara laki-lakinya, pada 05 Desember 1852:  “Nama Oblat yang harus kusandang secara cemerlang menjelaskan komitmenku.  Aku harus menjadi korban, dan bukan hanya korban dari sebuah peristiwa, tetapi menjadi korban setiap hari.  Inilah arti sejati dari salib yang akan digantungkan di leherku.  Inilah yang akan setiap waktu mengingatkanku bahwa jalan Oblat adalah jalan pengorbananan dan terus menjadi korban...  Hingga sekarang ini, tidak ada martir dalam Kongregasi kami.  Oh!  Betapa sukacitanya aku jika bisa menjadi martir pertama Oblat!”

Dalam retret tahun 1888, dari tempat misinya di Saskatchewan, Ovide Charlebois menulis: “... Yang kuminta dariMu (ya Tuhan) adalah untuk menerima setiap saat dari hidupku sebagai aksi-aksi kecil kemartiran.  Jika aku tidak pantas untuk bersimbah darah bagiMu, semoga seluruh hidupku menjadi kemartiran yang tiada hentinya.  Ya, Tuhanku, sejak saat ini aku ingin hidup seperti seorang martir.  Oleh karenanya aku mempersembahkan kepadaMu kemartiran hidupku, Yesusku yang baik, dan aku menandainya dengan darahku, supaya Engkau tidak dapat menolakku.  Aku ingin bukan saja penderitaan fisik sebagai kontribusi kemartiranku, tetapi juga di atas segalanya, penderitaan moralku: godaan-godaan, kekeringan, dan gangguan-gangguang saat berdoa, kesombonganku, dan lainnya.... Aku ingin semua ini menjadi aksiku sekarang; aku memulai untuk hidup sebagai seorang martir.  O Hati Kudus, ajar aku untuk hidup di jalan ini, karena keseluruhan hidupMu adalah kemartiran yang tiada hentinya.”  Di tahun yang sama, Ovide Charlebois menemukan realitanya: “Sejak retret terakhirku, sebuah pemikiran saleh memenuhiku...., menjadi seorang martir -bukanlah tuntutan yang kecil.  Engkau tentunya akan bertanya: siapakah para pembunuhku?  Sangat mudah: nyamuk-nyamuk, Pierric-ku (seorang bocah yatim piatu Indian yang karena nasihat Uskup Grandin, diterima Pastor Ovide agar menghindarinya hidup sendirian di tanah misi), murid-murid sekolahku, kesalahan-kesalahanku, godaan-godaanku, segala kegelisahanku, kerja keras yang harus kuhadapi, dan lain-lain, dan lain-lain.  Kesemuanya itu bukanlah kemartiran kecil untuk beberapa waktu yang kuinginkan, tetapi menjadi kemartiran yang bertahan seumur hidupku, karena tidak ada saat yang berlalu tanpa penderitaan.  Aku katakan pada diriku sendiri:  kenapa tidak menerima segalanya dalam terang kemartiran?  Apakah hal demikian tidak dapat diterima Tuhan sebagai penderitaan sesaat dari martir-martir sejati?  Karenanya, aku merasa seperti ada di atas kompor arang yang pelan-pelan membakarku tetapi membuatku tetap hidup selama mungkin.”

Pada tahun 1866, Alexandre Tache mengenang kembali kedatangannya di tanah misi Riviere Rouge di tahun 1845.  Mengingat para misionaris pertama yang dibantai Suku Indian Sioux di tahun 1736, ia menulis:  “...marilah kita berdoa untuk para rasul yang penuh semangat ini, agar mereka menginspirasi kita dengan semangat untuk menghabiskan hidup kita dalam pelayanan yang kudus ini, dan jika perlu, menumpahkan darah kita untuk pelayanan suci ini juga.”

Hasrat kemartiran menjadi suatu realita bagi banyak Oblat.

 

Pemikiran tentang kemartiran paling menonjol ada pada diri Beato Mario Borzaga sejak tahun-tahun awal formasinya.  Hal ini terlihat konstan dari catatan hariannya:  Februari 19, 1957 – “Saat Jalan Salib, dengan salibku ditangan, aku sungguh-sungguh memikirkan betapa Yesus telah memilihku untuk melanjutkan Jalan SalibNya: memanggul Salib, seorang imam.... Seluruh hidup Kristus adalah salib dan kemartiran.  Aku adalah Kristus yang lain, jadi... aku juga telah dipilih untuk kemartiran.  Jika aku ingin menjadi imam yang kudus, aku tak perlu lagi memohon, karena inilah misteri yang ada di tanganku, setiap hari: misteri darah, misteri pengurbanan, misteri penyerahan diri seutuhnya, misteri ketidakbersalahan saat ditolak, misteri kerendahan hati dihadapan keagungan Ilahi.”  19 April 1957 – “Jumat Agung.  Para martir harusnya dicontoh, bukan dipuja!”  26 Juni 1957 – “Hari ini adalah Pesta para martir Yohanes dan Paulus... inilah para martir yang membangun Gereja, hanya para martir...”

 

Maurice Lefebvre dibunuh pada tahun 1971 di La Paz, Bolivia.  Di bulan Desember 1967, Pastor Maurice menulis: “kita juga akan melihat dan menerima yang harus kita tanggung sebagai murid-murid Kristus di tahun 1968.... Menjadi murid Kristus bukanlah sekedar kata-kata belaka; lebih dari sekedar angan-angan; lebih dari terjemahan teks-teks tertentu dari para Bapa Suci dan Reformis.”

 

Michael Paul Rodrigo dibunuh pada 10 November 1987 di Sri Lanka.  Pada 28 September 1987, ia menulid kepada Hilda, kakak perempuannya: “... Salib bukanlah sesuatu yang kita gantung di dinding atau di leher kita.  Yesus yang pertama digantung di sana... jadi kita harus siap untuk mati bagi sesama kita di saat waktunya datang.”

Hampir 100 Oblat meninggal secara tragis selama menunaikan karya pelayanan mereka.  Sekitar 30 dari mereka telah dinyatakan sebagai terberkati dan diakui sebagai martir iman.  Jumlah yang sangat kecil mengingat ada 15.000 Oblat yang saling menggantikan selama kurun waktu 200 tahun.  Namun mereka adalah tanda radikalitas yang diperlukan setiap orang mulai dari oblatio (persembahan diri) kepada Tuhan, Gereja, dan kaum miskin.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel “Oblation and Martyrdom” yang ditulis oleh Pastor Fabio Ciardi, OMI, www.omiworld.org)

 

The Bearer of St. Eugene's Mission Cross

On September 28, 2010 Fr. Louis Lougen, O.M.I. was elected the Superior General of the Missionary Oblates.  Immediately after the election, Fr. Lougen was presented one of the most treasured symbols in the congregation, the Oblate Cross that had belonged to St. Eugene De Mazenod, founder of the Missionary Oblates.

As the 12th successor of St. Eugene, Fr. Lougen has brought the cross to dozens of countries to remind Oblates and their co-missionaries of the connection they have to St. Eugene.  Here, Fr. Lougen writes about the honor of being the caretaker of the first Oblate Cross:

If you watch the video of me being elected Superior General, you will see me looking like I am about to faint.  That was especially true when my predecessor, Fr. Wilhelm Steckling, O.M.I. presented me with the cross that had belonged to our founder, St. Eugene De Mazenod.

Father Steckling held up the cross and placed it before my lips so that I could kiss the figure of Christ Crucified.  After kissing the cross to express my oblation, Fr. Steckling then placed the cross in my hands.  This was a very moving experience for me, and I felt a deep bond to the charism of St. Eugene, his legacy and his very person.

 

John Francis O'DOHERTY, OMI

 

Nama Panggilan
Pastor "Big" John
Lahir : Brisbane, Australia, 27 April 1934
Kaul Pertama : 1961
Kaul Kekal : 1964
Nomor Oblatio : 11019
Tahbisan Imamat : Melbourne, Australia, 22 Juli 1967
Wafat : Brisbane, Australia, 31 Juli 2018 karena stroke

 

Pastor John O'Doherty, OMI biasa dipanggil "Big John" oleh rekan-rekan Oblat yang lain karena bertinggi badan 196 cm. Ia mudah dikenali dalam jajaran foto-foto komunitas karena postur tingginya itu. Ia lahir dan besar di Brisbane, Queensland, Australia. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, John muda meniti karier di dunia asuransi selama tidak kurang dari 10 tahun. Karier professional ditinggalkannya sejak ia berjumpa dengan para Oblat di kota Casino, di negara bagian New South Wales, Australia.  Saat itu ia melihat dari dekat misi para Oblat dan menjadi semakin tertarik untuk bergabung.

Pada tahun 1960, John muda bertekat bulat dengan pilihannya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergabung ke dalam Komunitas Oblat Maria Imakulata Australia. Seperti semua Oblat yang lain, ia memulai masa formasi sebagai seorang calon Imam Oblat Maria Imakulata.  Masa Novisiat dijalaninya di Sorrento, Victoria.  Kemudian ia berangkat ke Afrika Selatan untuk studi Filsafat di Institut St. Joseph di Cedara. Lalu ia kembali ke Australia untuk studi Teologi di Corpus Christi College, Glen Waverly, Victoria. Tahbisan Imamat diterimanya pada 22 Juli 1967 di Katedral St. Patrick, Melbourne, Victoria.


Setelah ditahbiskan, Pastor John ditugaskan untuk berkarya di Paroki Hillcrest, Adelaide, Australia Selatan (1968-1970).  Kemudian ia ditarik ke karya formasi untuk pendidikan calon-calon Oblat Australia. Ia menjadi Magister Novis selama 9 tahun di Melbourne (1970-1979).  Sambil membimbing calon-calon Oblat, atas inisatifnya sendiri, ia menjalani studi lanjut di Monash University. Di kampus itulah Pastor John mulai mengenal Indonesia. Ia mengambil studi tentang Indonesia dan jatuh hati pada misi Indonesia.  Ia tertarik untuk menjadi seorang misionaris di Indonesia namun sedikit pesimis karena usianya yang tidak lagi muda. Tetapi ternyata leinginannya terkabulkan.Pada tahun 1982, di usia 48 tahun, Pastor John dikirim bergabung dengan para misionaris Australia di Indonesia. "Tadinya saya berpikir saya tidak mungkin dikirim ke luar Australia karena usia saya.  Ternyata, saya masih dipercaya untuk menjadi seorang misionaris," begitu kenang Pastor John.

Pastor John bergabung dengan rekan-rekan Oblat yang telah lebih dahulu menapakkan kaki di tanah Jawa. Tahun-tahun pertamany adihabiskan untuk berkarya di Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian ia berkarya di Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat (1984-1985) dan kembali untuk kedua kalinya di Paroki yang sama pada tahun 1997-2002 sebagai Pastor Paroki. Mengapa demikian? Sebab pada saat itu ada kebutuhan di bidang formasi, yakni merintis Novisiat OMI di Yogyakarta. Pengalaman Pastor John selama 9 tahun sebagai Magister Novis di Australia menjadi modal berharga untuk mengembangkan karya formasi di Indonesia.

Pada 15 Juli 1985 Pastor John memulai Novisiat perdana dengan 12 novis di kompleks Seminari Tinggi OMI, Condongcatur, Yogyakarta. Baru pada tahun 1990 Pastor John memboyong para novis untuk menghuni Novisiat di Blotan. Setelah hampir 9 tahun menjadi Magister Novis, Pastor John memulai karya baru sebagai Bendahara Provinsi Muda OMI Indonesia yang baru saja terbentuk. Untuk sementara waktu ia menjadi Bendahara sekaligus Pastor Paroki Trinitas, Cengkareng.  Kemudian ia menjadi Pastor di Paroki Kalvari, Lubang Buaya pada tahun 2002- 2005.

Selain merintis Novisiat, Pastor John juga merintis kelompok awam OMI yang dikenal dengan nama AMMI (Asosiasi Misionaris Maria Imakulata) baik di Jakarta maupun di Cilacap. Ia juga menjadi Direktur AMMI selama beberapa tahun dan berjasa pula dalam menerbitkan aneka buku untuk memperkenalkan jiwa dan semangat Oblat. Sejak kembali ke karya formasi pada tahun 2005, Pastor John mulai merintis keberadaan Keluarga Besar OMI dan Sahabat Seminari OMI - dua kelompok awam yang dekat dan peduli dengan karya dan formasi OMI Indonesia. Pastor John dikenal sebagai formator yang paling gigih menyemangati - kadang memaksa - para novis, frater dan bruder untuk menguasai Bahasa Inggris.   Ia menetap di SeminariTinggi OMI sampai saat kembali ke Australia pada tahun 2011 karena alasan kesehatan.

Sering Pastor John sampaikan saat dalam obrolan harian bahwa karya misinya di Indonesia tidaklah genap 28 tahun karena ia harus meninggalkan Indonesia selama 3 bulan dalam rentang 6 tahun (1999-2004) untuk menjadi Animator de Mazenod Experience di Aix-en-Provence, Perancis. "Saya selalu merasa bersalah untuk meninggalkan tugas dan pekerjaan saya selama 3 bulan setiap tahunnya, tapi ada juga terpikir bahwa hal ini adalah suatu kesempatan baik bagi umat maupun Dewan Paroki untuk dapat menjadi 'self-responsible' bertanggungjawab pada diri sendiri....," kata Pastor John.

Pada tahun 2007, saat memperingati 40 tahun Tahbisan Imamatnya, Pastor John menceritakan pengalaman spiritual yang membekas di hatinya, yakni saat ia menemani Pastor Mario Bertoli, OMI (Provinsial Pertama OMI Indonesia) di Italia pada hari-hari terakhir hidupnya. "Karena sakitnya, Pastor Mario mempersembahkan Misa Kudus di kamarnya. Kata-kata Konsekrasi menjadi begitu bermakna dalam buat saya, 'Inilah tubuhKu yang diserahkan padamu.' Pastor Mario telah menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk karya misionaris dan hal itu terus berlangsung hingga saat-saat akhirnya.  Itulah yang saya rasakan akan saya lakukan juga.  Maka sejak saat itu saya pun mengambil kata-kata Konsekrasi itu sebagai kata-kata imamat saya: 'Inilah tubuhku yang diserahkan bagimu...'," begitu kenang Pastor John dengan mata berkaca-kaca.

Kembali ke Australia, Pastor John masih terus berkarya. Ia diutus untuk menjadi Pastor di Paroki St. Pius X, Dernancourt, Adelaide, Australia Selatan dan menjadi Pastor Pendamping Kelompok Katolik Indonesia-Adelaide (KKIA).  Beberapa kali Pastor John masih berkunjung ke Indonesia untuk sekedar temu kangen dan turut hadir dalam perayaan-perayaan penting Provinsi OMI Indonesia.  Kunjungan terakhir ke Indonesia dilakukannya pada 16 Mei-06 Juni 2018.  "Tentu lebih enak di Australia, tetapi di Indonesia-lah hati saya selalu berada," ujar Pastor John. Itulah hati seorang misionaris, selaras dengan hobinya untuk berlayar, Pastor John mempunyai hati seluas dunia!  Ia berani mengarungi dunia untuk menjumpai jiwa-jiwa yang dikasihinya, bahkan di hari terakhir dalam hidupnya, ia baru saja menghadiri pemakaman sahabatnya dan mengunjungi sekolah "Iona College" yang dikelola oleh para Oblat di Brisbane.  Di saat itulah ia jatuh terkulai terkena stroke parah. Ia tak sadarkan diri selama beberapa hari sampai dinyatakan sang misionaris besar telah mengangkat sauhnya untuk berlayar ke Rumah Bapa.

Sail, Sail, Sail..., entering into the promised Eternal Life! Selamat Jalan Pastor John!

 

(Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI dengan informasi yang diambil dari berbagai sumber)

 

Page 1 of 12

«StartPrev12345678910NextEnd»

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.