The Bearer of St. Eugene's Mission Cross

On September 28, 2010 Fr. Louis Lougen, O.M.I. was elected the Superior General of the Missionary Oblates.  Immediately after the election, Fr. Lougen was presented one of the most treasured symbols in the congregation, the Oblate Cross that had belonged to St. Eugene De Mazenod, founder of the Missionary Oblates.

As the 12th successor of St. Eugene, Fr. Lougen has brought the cross to dozens of countries to remind Oblates and their co-missionaries of the connection they have to St. Eugene.  Here, Fr. Lougen writes about the honor of being the caretaker of the first Oblate Cross:

If you watch the video of me being elected Superior General, you will see me looking like I am about to faint.  That was especially true when my predecessor, Fr. Wilhelm Steckling, O.M.I. presented me with the cross that had belonged to our founder, St. Eugene De Mazenod.

Father Steckling held up the cross and placed it before my lips so that I could kiss the figure of Christ Crucified.  After kissing the cross to express my oblation, Fr. Steckling then placed the cross in my hands.  This was a very moving experience for me, and I felt a deep bond to the charism of St. Eugene, his legacy and his very person.

 

John Francis O'DOHERTY, OMI

 

Nama Panggilan
Pastor "Big" John
Lahir : Brisbane, Australia, 27 April 1934
Kaul Pertama : 1961
Kaul Kekal : 1964
Nomor Oblatio : 11019
Tahbisan Imamat : Melbourne, Australia, 22 Juli 1967
Wafat : Brisbane, Australia, 31 Juli 2018 karena stroke

 

Pastor John O'Doherty, OMI biasa dipanggil "Big John" oleh rekan-rekan Oblat yang lain karena bertinggi badan 196 cm. Ia mudah dikenali dalam jajaran foto-foto komunitas karena postur tingginya itu. Ia lahir dan besar di Brisbane, Queensland, Australia. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, John muda meniti karier di dunia asuransi selama tidak kurang dari 10 tahun. Karier professional ditinggalkannya sejak ia berjumpa dengan para Oblat di kota Casino, di negara bagian New South Wales, Australia.  Saat itu ia melihat dari dekat misi para Oblat dan menjadi semakin tertarik untuk bergabung.

Pada tahun 1960, John muda bertekat bulat dengan pilihannya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergabung ke dalam Komunitas Oblat Maria Imakulata Australia. Seperti semua Oblat yang lain, ia memulai masa formasi sebagai seorang calon Imam Oblat Maria Imakulata.  Masa Novisiat dijalaninya di Sorrento, Victoria.  Kemudian ia berangkat ke Afrika Selatan untuk studi Filsafat di Institut St. Joseph di Cedara. Lalu ia kembali ke Australia untuk studi Teologi di Corpus Christi College, Glen Waverly, Victoria. Tahbisan Imamat diterimanya pada 22 Juli 1967 di Katedral St. Patrick, Melbourne, Victoria.


Setelah ditahbiskan, Pastor John ditugaskan untuk berkarya di Paroki Hillcrest, Adelaide, Australia Selatan (1968-1970).  Kemudian ia ditarik ke karya formasi untuk pendidikan calon-calon Oblat Australia. Ia menjadi Magister Novis selama 9 tahun di Melbourne (1970-1979).  Sambil membimbing calon-calon Oblat, atas inisatifnya sendiri, ia menjalani studi lanjut di Monash University. Di kampus itulah Pastor John mulai mengenal Indonesia. Ia mengambil studi tentang Indonesia dan jatuh hati pada misi Indonesia.  Ia tertarik untuk menjadi seorang misionaris di Indonesia namun sedikit pesimis karena usianya yang tidak lagi muda. Tetapi ternyata leinginannya terkabulkan.Pada tahun 1982, di usia 48 tahun, Pastor John dikirim bergabung dengan para misionaris Australia di Indonesia. "Tadinya saya berpikir saya tidak mungkin dikirim ke luar Australia karena usia saya.  Ternyata, saya masih dipercaya untuk menjadi seorang misionaris," begitu kenang Pastor John.

Pastor John bergabung dengan rekan-rekan Oblat yang telah lebih dahulu menapakkan kaki di tanah Jawa. Tahun-tahun pertamany adihabiskan untuk berkarya di Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian ia berkarya di Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat (1984-1985) dan kembali untuk kedua kalinya di Paroki yang sama pada tahun 1997-2002 sebagai Pastor Paroki. Mengapa demikian? Sebab pada saat itu ada kebutuhan di bidang formasi, yakni merintis Novisiat OMI di Yogyakarta. Pengalaman Pastor John selama 9 tahun sebagai Magister Novis di Australia menjadi modal berharga untuk mengembangkan karya formasi di Indonesia.

Pada 15 Juli 1985 Pastor John memulai Novisiat perdana dengan 12 novis di kompleks Seminari Tinggi OMI, Condongcatur, Yogyakarta. Baru pada tahun 1990 Pastor John memboyong para novis untuk menghuni Novisiat di Blotan. Setelah hampir 9 tahun menjadi Magister Novis, Pastor John memulai karya baru sebagai Bendahara Provinsi Muda OMI Indonesia yang baru saja terbentuk. Untuk sementara waktu ia menjadi Bendahara sekaligus Pastor Paroki Trinitas, Cengkareng.  Kemudian ia menjadi Pastor di Paroki Kalvari, Lubang Buaya pada tahun 2002- 2005.

Selain merintis Novisiat, Pastor John juga merintis kelompok awam OMI yang dikenal dengan nama AMMI (Asosiasi Misionaris Maria Imakulata) baik di Jakarta maupun di Cilacap. Ia juga menjadi Direktur AMMI selama beberapa tahun dan berjasa pula dalam menerbitkan aneka buku untuk memperkenalkan jiwa dan semangat Oblat. Sejak kembali ke karya formasi pada tahun 2005, Pastor John mulai merintis keberadaan Keluarga Besar OMI dan Sahabat Seminari OMI - dua kelompok awam yang dekat dan peduli dengan karya dan formasi OMI Indonesia. Pastor John dikenal sebagai formator yang paling gigih menyemangati - kadang memaksa - para novis, frater dan bruder untuk menguasai Bahasa Inggris.   Ia menetap di SeminariTinggi OMI sampai saat kembali ke Australia pada tahun 2011 karena alasan kesehatan.

Sering Pastor John sampaikan saat dalam obrolan harian bahwa karya misinya di Indonesia tidaklah genap 28 tahun karena ia harus meninggalkan Indonesia selama 3 bulan dalam rentang 6 tahun (1999-2004) untuk menjadi Animator de Mazenod Experience di Aix-en-Provence, Perancis. "Saya selalu merasa bersalah untuk meninggalkan tugas dan pekerjaan saya selama 3 bulan setiap tahunnya, tapi ada juga terpikir bahwa hal ini adalah suatu kesempatan baik bagi umat maupun Dewan Paroki untuk dapat menjadi 'self-responsible' bertanggungjawab pada diri sendiri....," kata Pastor John.

Pada tahun 2007, saat memperingati 40 tahun Tahbisan Imamatnya, Pastor John menceritakan pengalaman spiritual yang membekas di hatinya, yakni saat ia menemani Pastor Mario Bertoli, OMI (Provinsial Pertama OMI Indonesia) di Italia pada hari-hari terakhir hidupnya. "Karena sakitnya, Pastor Mario mempersembahkan Misa Kudus di kamarnya. Kata-kata Konsekrasi menjadi begitu bermakna dalam buat saya, 'Inilah tubuhKu yang diserahkan padamu.' Pastor Mario telah menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk karya misionaris dan hal itu terus berlangsung hingga saat-saat akhirnya.  Itulah yang saya rasakan akan saya lakukan juga.  Maka sejak saat itu saya pun mengambil kata-kata Konsekrasi itu sebagai kata-kata imamat saya: 'Inilah tubuhku yang diserahkan bagimu...'," begitu kenang Pastor John dengan mata berkaca-kaca.

Kembali ke Australia, Pastor John masih terus berkarya. Ia diutus untuk menjadi Pastor di Paroki St. Pius X, Dernancourt, Adelaide, Australia Selatan dan menjadi Pastor Pendamping Kelompok Katolik Indonesia-Adelaide (KKIA).  Beberapa kali Pastor John masih berkunjung ke Indonesia untuk sekedar temu kangen dan turut hadir dalam perayaan-perayaan penting Provinsi OMI Indonesia.  Kunjungan terakhir ke Indonesia dilakukannya pada 16 Mei-06 Juni 2018.  "Tentu lebih enak di Australia, tetapi di Indonesia-lah hati saya selalu berada," ujar Pastor John. Itulah hati seorang misionaris, selaras dengan hobinya untuk berlayar, Pastor John mempunyai hati seluas dunia!  Ia berani mengarungi dunia untuk menjumpai jiwa-jiwa yang dikasihinya, bahkan di hari terakhir dalam hidupnya, ia baru saja menghadiri pemakaman sahabatnya dan mengunjungi sekolah "Iona College" yang dikelola oleh para Oblat di Brisbane.  Di saat itulah ia jatuh terkulai terkena stroke parah. Ia tak sadarkan diri selama beberapa hari sampai dinyatakan sang misionaris besar telah mengangkat sauhnya untuk berlayar ke Rumah Bapa.

Sail, Sail, Sail..., entering into the promised Eternal Life! Selamat Jalan Pastor John!

 

(Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI dengan informasi yang diambil dari berbagai sumber)

 

Servant of God Victor Lelievre, OMI

Servant of God Victor Lelivre

1876-1956

A man in tune with Gods love

Born in Brittany on 4th March 1876, he died in Quebec on 29 November 1956.

He was an imposing, strong man; broad shouldered and well built, his gait was somewhat heavy but firm. His head was round and seemed to rest directly on his shoulders. His small eyes were attentive and very lively. His voice was rather high-pitched but it exuded will-power and also gentleness and kindness. As with St John Vianney, the Cure of Ars, Victor was neither scholarly nor well-read, but it was evident that he was a man of God.

Victim of the religious persecution in France during the beginning of the century, this Breton, cast in a simple mould, left for Quebec in 1903. Immediately on his arrival he began preaching the Gospel - doing so aptly and sometimes inappropriately. A powerful orator, he knew how to bring to the fore the Oblate motto: He sent me to evangelize the poor. His profound faith enabled him to draw enormous crowds yearly and to have the whole of the city of Quebec on the move for procession on the feast of the Sacred Heart. Drawing inspiration from the Gospel that he knew in depth, he could hold the attention for hours of workers, youths, priests, cloistered nuns and others.

For twenty-five years every first Friday of the month, this apostle of the Sacred Heart succeeded in assembling for one hour of adoration nearly two thousand workers in dungarees or blue overalls - a remarkable achievement. In 1923 he founded the retreat house 'Jesus-the-Worker' where, until his death, he would meet thousands of men and youths. He had the talent to captivate them and to win them over to Jesus Christ - very often he would turn them into veritable apostles. An incomplete list reveals the names of 80 priests in whom he awakened the awareness of a vocation, about 30 men religious and more than 100 women religious. This was Victor Lelivre: the man, the priest, the extraordinary Oblate.

 

Servant of God Bishop Pierre Fallaize, OMI

Bishop Pierre Fallaize (1887-1964) was a pure-blooded Norman. He was born in Gonneville-sur-Honfleur (Calvados, France). Orphaned of father and mother, he entered the minor seminary of Lisieux in 1899.

He did his military service and upon being discharged, he followed the steps of his countryman, Bishop Arsne TURQUETIL, the legendary missionary bishop of the Polar Regions. He applied to enter the Missionary Oblates and, without awaiting a reply, presented himself at Bestin (Belgium) to begin his novitiate on 8 December 1906. He made his first vows on 25 December 1907 and was ordained a priest in 1912. The following year, he was sent to the polar missions of Mackenzie, considered then as the most difficult.

He was ordained a bishop on 13 September 1931 at the age of 44.

Eight years later, he had to submit his resignation because of almost total blindness which he accepted with heroic patience. The Inuit or Eskimos called him Ink Ilaranaikor (the man who never gets angry).

He went back to his homeland and exchanged his episcopal crosier for the white cane of the blind and the sled of a guide-dog. For many years, he was a faithful confessor for the Carmelites and the many pilgrims that go to Lisieux: the Carmel and the basilica of Saint Therese of the Child Jesus, his fellow country woman, friend and patronthese would be his new mission fields.

In his old age, he let himself be seduced by missionary nostalgia and he decided to go back to the North Pole where he would give his soul back to God three years later, in Fort Smith, on 10 August 1964. (Joaqun MARTNEZ VEGA)

(Source: www.omiworld.org)

 

HATI SELUAS DUNIA (14 - Tamat) - Kasih, Kasih, Kasih...

02 Oktober 1815, Eugenius membeli sebuah biara tua Karmel. Ia kemudian mengundang sahabat-sahabat pertamanya: Icard, Tempier, Deblieu, Mie, Maunier.
25 Januari 1816, pendirian Misionaris Provence, sebuah komunitas misionaris untuk mewartakan Kabar Baik di wilayah Provence.
Bersama para sahabatnya, Eugenius bermisi ke Grans, Fauveau, Marignane, hingga Pengunungan Alpen. Sebanyak lebih kurang 40 misi dilaksanakan sejak 1816-1823.
 

Page 2 of 12

«StartPrev12345678910NextEnd»

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.