John Kevin CASEY, OMI

John Kevin CASEY, OMI

Nama Panggilan
Romo Yohanes
Lahir : Colac (Victoria - Australia), 10 Juni 1036
Kaul Pertama : 1956
Kaul Kekal : 1959
No. Oblatio : 10085
Tahbisan Imam : Durban, Afrika Selatan, 03 Februari 1961
Wafat : Cilacap, 15 Mei 2013, karena sakit

 

Saat para Oblat tengah sibuk mempersiapkan diri menyongsong usia 20 tahun berdirinya Provinsi OMI Indonesia, berita duka datang dari Paroki St. Stephanus, Cilacap, Jawa Tengah. Telah berpulang dalam damai, Pastor John Kevin Casey, OMI (biasa dipanggil: Romo Yohanes), Rabu, 15 Mei 2013, pkl. 00.15 WIB di Cilacap, dalam usia 77 tahun, karena sakit.

Jenazah disemayamkan di Paroki St. Stephanus Cilacap, Rabu-Kamis, 15-16 Mei 2013. Pada Kamis, 16 Mei 2013, jenazah diberangkatkan ke Banyumas, disemayamkan semalam di Paroki Sta. Maria Imakulata, Banyumas. Pemakaman diselenggarakan Jumat, 17 Mei 2013, di Kolumbarum Para Romo, Kaliori, Jawa Tengah.

Romo Yohanes lahir di Colac, sebuah kota kecil di sebelah barat negara bagian Victoria, Australia, 10 Juni 1936 dari pasangan John Joseph Casey dan Eileen Mary. Beliau mempunyai seorang adik. Pendidikan Sekolah Dasar ditamatkannya di Colac, kemudian beliau melanjutkan dengan masuk Seminari Menengah St. Yoseph di Geelong, kota kedua terbesar di negara bagian Victoria, Australia. Awalnya, beliau ingin menjadi Imam Diosesan, tetapi berubah pikiran setelah bertemu dengan seorang Oblat yang datang ke Parokinya untuk berkhotbah dan memberikan informasi tentang OMI. Pada tahun 1955, Beliau masuk Novisiat OMI di Sorrento, Australia, lalu dikirim ke Cedara, Natal, Afrika Selatan, untuk belajar Filsafat dan Teologi.

 

LAKUKANLAH, MAKA ENGKAU AKAN HIDUP

 

Pada 17 Februari 1826, Bapa Suci Paus Leo XII memberikan persetujuan resminya yang menguatkan keputusan Kongregasi Para Kardinal atas Lembaga, Konstitusi dan Aturan Hidup Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI).

Konstitusi dan Aturan Hidup wajib dimiliki oleh sebuah Kongregasi Imam Religius untuk mendapat pengesahan keberadaan Kongregasi di tingkat Keuskupan maupun Kepausan. Konstitusi dan Aturan Hidup mewadahi seluruh karisma Kongregasi sehingga menjadi pegangan dan pedoman bagi seluruh anggota Kongregasi dalam bertindak dan berlaku.

Dalam literatur keagamaan dari abad pertama, kata “Aturan” (Regula) diartikan sebagai cara hidup menurut model yang telah ditentukan, gaya hidup biarawan atau guru spiritual, tetapi di atas segalanya, “Aturan” mengacu pada kehidupan Yesus Kristus dan para rasulNya. Dalam masa yang lebih baru – Abad ke-16 - “Aturan Hidup” sebuah Kongregasi dapat dipahami sebagai ekspresi dan inspirasi asli, pengalaman spiritual dan pastoral dari kelompok inti Pendiri Kongregasi. Konstitusi akan selalu berdampingan dengan Aturan Hidup karena yang terakhir menjelaskan arti dasar dan adaptasi dari Konstitusi ke dalam keadaan konkrit yang sedang berlangsung.

 

 

Martyrs of Laos

During Easter time in 1953, while guerrillas stormed Sam Neua, Laos, many missionaries retreated to safety. Joseph Thao Tìen, a young Laotian priest ordained in 1949, had decided otherwise: ‘I am staying for my people. I am ready to lay down my life for my Laotian brothers and sisters.” He was marched to the prison camp in Talang; people knelt along the way, weeping. He told them: Do not be sad, III come back. I am going to study... Make sure that your village keeps improving.” One year later, on June 2, 1954, Joseph Tien was condemned and shot to death. One time too many he had refused to give up his priesthood and get married.

In the meantime at the other end of the country, Fr. John Baptist Malo, a former missionary to China, had been detained with four companions. Soon after—in 1954—on his way to the prison camp, he would die from exhaustion and iII-treatment in a remote valley of Central Vietnam. In 1959 his confrere René Dubroux, a former prisoner of war in 1940, was betrayed by a dose associate- and eliminated as a mere hindrance in the guerrilla’s way. That year the HoIy See had given strict instructions: “All clergy and religious personnel—excepting obviously the elderly and sick—must remain in their place of duty unless and until they are expelled.’”

All missionaries adhered joyfully to this command; far a number of them it meant a verdict of death. In 1960, a young Hmong catechist, Thoj Xyooj, went together with Fr. Mario Borzaga OMI on an apostolic trip to some villages; they never carne back. In April and May 1961, Frs. Louis Leroy OMI, Michael Coquelet OMI and Vìncen tL’Hénoret OMI were snatched from their stations in the Province of Xieng Khouang and savagely put to death. In Southern Laos Fr. Noël Tenaud and his faithful catechist Outhay were taken and killed. Fr. Marcel Denis was kept prisoner for a while but ended in the same way. One of their confreres wrote: “All of them were praiseworthy missionaries, ready for any kind of sacrifice. They lived in utter poverty and their dedication knew no limit. In those troubled times all of us, to some degree, aspired to martyrdom, wishing to surrender our lives totally to Christ. We did not fear exposing our Iives. All of us endeavoured to reach the poorest of the poor, to visit their villages, to take care of the sick, and especially to announce the Good News of Jesus...”

 

Beato Joseph Gerard, OMI

BEATO JOSEPH GERARD: MISIONARIS OBLAT, BAPA GEREJA LESOTHO

Pastor Joseph Gerad lahir pada 12 Maret 1831 di Bouxieres-Chenes, Perancis. Anak sulung dari pasangan John Gerard dan Ursule Stofflet, Joseph kecil mendapat pendidikan dasar dan menengah yang sederhana. Pada 1851, Joseph masuk Kongregasi Oblat Maria Imakulata di Notre-Dame de l'Osier, Perancis. Formasi teologinya dimulai di Seminari Tinggi Nancy, diteruskan di Marsielles dan ditamatkannya di Lesotho, Afrika Selatan.

Pastor Joseph bertumbuh dalam keluarga Kristiani yang taat. Formasi dasar spiritualnya terjadi di dalam keluarganya, juga lewat komunitas Kristiani dan sekolah Katolik tempat ia dididik. Masih cukup muda, ia telah mendengar panggilan Kristus untuk menjadi imamNya. Saat ia mempersiapkan tahbisannya, ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang misionaris, maka ia memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Oblat Maria Imakulata yang kala itu masih termasuk Kongregasi baru yang dibentuk oleh St. Eugenius de Mazenod, Uskup Marseilles, Perancis.

Di tahun 1852, masih sebagai Diakon, ia meninggalkan Eropa menuju Afrika. Ia tidak pernah kembali untuk menjenguk keluarganya maupun menginjak tanah Eropa lagi. Setelah menerima tahbisan imamat dari Uskup setempat di tahun 1854, ia berkarya di tengah-tengah suku Zulu, di Natal, negara kecil koloni Inggris di Afrika bagian selatan. Kala itu, Natal masih berbentuk Vikariat Apostolik. Pada tahun 1862, Pastor Joseph diutus ke Kerajaan Lesotho untuk membuka karya misi baru di sana. Bersama Uskup Allard yang mentahbiskannya dan Bruder Bernard, mereka diterima oleh Raja Moshoeshoe I. Komunitas Katolik pertama terbentuk sudah di Lesotho yang diberi nama "Desa Bunda Kristus" (sekarang tempat ini dikenal dengan nama "Roma Valley" (Lembah Roma). 14 tahun menjadi pionir misi Katolik di Lembah Roma, Pastor Joseph membuka misi baru di utara Lesotho yang diberi nama Paroki Sta. Monika. Dalam misi barunya ini, ia sungguh mempersembahkan dirinya untuk melayani jiwa-jiwa yang merindukan Kristus lewat kunjungan ke daerah-daerah di sekitar tanah misinya, menjenguk umat Katolik yang tersebar di sana, mewartakan Kabar Baik khususnya kepada kaum Basotho (penduduk asli Lesotho) yang tinggal di peternakan. 21 tahun berkarya di antara dan bersama kaum Basotho, Pastor Joseph kemudian kembali ke Lembah Roma di tahun 1898 , meneruskan karya pelayanannya di sana hingga wafatnya pada 29 Mei 1914 dalam usia 83 tahun.

 

Praying with the Missionary Oblates of Mary Immaculate

"Tap into the Spiritual Tradition which can Enrich Your Prayer Life"

Written by Fr. Louis Lougen, OMI, The Superior General, as appeared in the catholicdigest.com, July-August 2011 edition.

I was visiting an Oblate house when the parish secretary called one of the Oblates. “Father Marty,” she said, “the family of a deceased woman just came in and they can’t find any church that will do the burial. Will you speak with them?” Father Marty immediately went to the family. The secretary told me the Oblate parish was a place of welcome, healing, and prayer for many people, especially for those who had no church or who died alone.

This small incident reveals the spirituality of the Missionary Oblates of Mary Immaculate. Our founder, St. Eugene de Mazenod, was overwhelmed by God’s unconditional love for him as he knelt before the cross on Good Friday in 1807. This experience thrust him into the search for holiness and began his mission to preach the Gospel to the poor. In some way, at the core of our spirituality, all Oblates have experienced being undeservedly saved and loved by a compassionate God.

 

 

Page 12 of 12

«StartPrev1112NextEnd»

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.