Panti Semadi Ndherek Dewi Maria

Dengan mengikuti “De Mazenod Experince” tahun 2008 di Perancis; selain saya lebih menghayati Spiritualitas OMI dan memahami Kharisma St. Eugenius de Mazenod, saya juga memperoleh banyak pengalaman yang antara lain menginspirasi keberadaan Panti Semadi Ndherek Dewi Maria.

Program “De Mazenod Experience” kami jalani selama tiga bulan dan secara umum dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

Spiritulitas OMI dan Kharisma Bapa Pendiri, St. Eugenius de Mazenod. Bagian ini secara penuh dilaksanakan di OMI Center, di kota Aix-en Provence. Di tempat inilah, untuk pertama kalinya St. Eugenius de Mazenod membentuk kelompok kecil, yang dikenal sebagai Misionaris dari Provence, yang merupakan cikal-bakal berdirinya Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata. Acaranya sendiri cukup santai, namun sangat bermakna. Sesi di kelas, adorasi bersama, makan bersama, sharing pengalaman, dll. Dalam rangka untuk lebih mendalami Spiritualitas dan Kharisma Bapa St. Eugenius de Mazenod, kami juga diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah: tempat Eugenius dan keluarganya tinggal, Napak Tilas (Foot-Steps) Eugenius de Mazenod, tempat-tempat pertama kali St. Eugenius de Mazenod bersama teman-temannya melaksanakan Misi Paroki dan tempat OMI pernah berkembang dan berkarya di masa lampau (Marseilles-Notre Dame de la Garde, Notre Dame du Laus, Grans, Barjols, Laurent du Verdon, dan Lourdes). Di Lourdes, kami menginap selama 3 hari.

Rertet Agung Oblat gaya Ignatian selama 30 hari. Saya sebut demikian karena memang Retretnya mengikuti cara retret Ignatian, namun diisi dengan spiritualitas Oblat. Kegiatan ini dilaksanakan di Notre-Dame de Lumiere, sekitar 50 km dari Aix-en Provence. Sebuah Rumah Retret yang mempunyai sejarah panjang OMI berkarya hingga saat ini.

Libur. Yang saya maksudkan dengan “libur” ialah:

Hari yang dijadwalkan sebagai libur. Ada dua kali hari libur. Yang pertama selama 5 hari. Dalam kesempatan ini, saya bersama beberapa teman pergi ke Roma dan menginap di Rumah Generalat. Selama tinggal di Roma, kami disambut sebagai keluarga dan merasakan hidup bersama komunitas Generalat. Selain itu juga kami berziarah ke Vatikan serta mengunjungi beberapa tempat penting di Roma. Liburan yang ke dua, saya bersama Romo Heru dan Romo Peter Huang - yang kelahiran Vietnam dan menjadi Oblat di Australia - mengunjungi Pastor Rene Collin OMI, yang pernah berkarya di Kalimantan Barat, yang pada waktu itu sudah kembali di Perancis dan berkarya di sebuah Paroki, tidak jauh dari kota Lyon. Pada kesempatan yang sama juga kami diajak untuk mengunjungi kota Ars, yaitu Paroki tempat St. Yohanes Maria Vianey berkarya. St. Yohanes Maria Vianney adalah seorang Pastor Diosesan, yang “dianggap bodoh” oleh Keuskupannya, dan ditempatkan di paroki miskin dan sangat terpencil, namun justru di situlah dia mempertobatkan banyak orang dan menjadi orang suci.

Hari Minggu. Selama kami tinggal di Aix en Provence, setiap hari Minggu, kami diberi kesempatan untuk ikut Misa Kudus di paroki sekitar biara. Demikian juga waktu senggang yang lain di hari Minggu, sering saya pergunakan untuk jalan-jalan baik sendirian maupun bersama teman. Sedangkan hari Minggu selama Retret di Notre Dame de Lumiere, kami selalu pergi bersama, baik untuk rekreasi maupun kunjungan ke biara, antara lain ke Avignon, Gordes, Biara Benedictine, Rosaline, Gunung Voaclose dll.

Waktu senggang yang lain. Memasuki musim dingin, bagi kami yang terbiasa hidup di daerah tropis, mengalami hal seperti ini merupakan tantangan tersendiri. Namun demikian justru saya pergunakan untuk lebih banyak berjalan kaki, baik sendiri maupun bersama teman. Di Aix-en-Provence saya pergunakan untuk jalan-jalan di sekitar biara, menyusuri lorong-lorong kota Aix en Provence. Sedangkan di Lumiere, saya kadang sendirian, kadang juga bersama teman, berjalan-jalan ke bukit, baik yang sebelah kanan, yang berhutan pinus dan ada Salib Misinya, maupun yang di sebelah kiri yang berbukit batu yang ada Jalan Salib dan kapel. St. Mikael. Selain itu, saya juga mengunjungi desa-desa terdekat.

 

Komunitas Internasional

 

Peserta “De Mazenod Experience” tahun 2008 berjumlah 17 Oblat, terdiri dari 15 imam dan dua bruder. Kami dibimbing oleh 3 pendamping tetap dan beberapa narasumber serta satu bruder sebagai tuan rumah yang mempersiapkan dan melayani kami dengan sangat baik. Kami datang dari Kanada, Amerika, Inggris, Spanyol, Lesotho, Bangladesh, India, Colombo, Srilangka, Vietnam, China, Philipina, Australia dan Indonesia.

 

Selama kurang lebih 3 bulan kami hidup sebagai Komunitas Internasional. Dalam kebersamaan, kami mengikuti semua program “De Mazenod Experience” . Di kelas, di ruang makan, di ruang meditasi, sharing pengalaman, berziarah, Napak Tilas (Foot-Steps) St. Eugenius de Mazenod, rekreasi baik di biara maupun rekreasi di tempat-tempat wisata.

Aix-en-Provence

Aix-en-Provence adalah kota kelahiran St. Eugenius de Mazenod yang lahir pada tahun 1782. Di kota inilah, tepatnya di Biara OMI Center, kami tinggal dan mendalami Spiritualitas OMI dan Kharisma St. Eugenius de Mazenod, sebagai Pendiri Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata.

Kota tua yang terpelihara dengan baik, dengan lorong-lorongnya di antara bangunan-bangunan tua yang sangat bagus. Terdapat banyak lorong-lorong seperti ini, yang rapi dan bersih, kita dapat berjalan-jalan dalam suasana aman.

 

Gereja Misi yang berada di ujung Jalan Mirabeau dan menyatu dengan Biara OMI Center. Di gereja inilah untuk pertama kalinya St. Eugenius de Mazenod membentuk Misionaris dari Provence dan melakukan Misi Paroki, yang untuk saat itu adalah sesuatu yang sangat baru karena menggunakan bahasa daerah setempat yang sangat menyentuh hati umat. Kaum muda pun dikumpulkan dan diutus untuk mewartakan Kabar Gembira.

Di samping kanan pintu gereja terdapat pintu masuk biara. Dan persis di samping anak kunci, terdapat papan nama yang bertuliskan: MISSIONAIRES O.M.I – FONDATION DE MAZENOD.

Selama kurang lebih satu setengah bulan saya tinggal di biara OMI Center Aix-en-Provence. Di ruang inilah kami setiap pagi dan sore mengadakan meditasi sambil mengenang kembali saat-saat pertama kali St. Eugenius de Mazenod bersama teman-temannya bermeditasi sekaligus menimba kekuatan Rahmat Allah untuk karya misi mereka.

 

 

 

Notre Dame de la Garde

Pada tahun 1831-1903, OMI pernah berkarya di sini, di atas sebuah bukit yang lebarnya 100 meter, berdiri sebuah Basilica dengan menara setinggi 60 meter, yang puncaknya adalah Patung St. Maria dan Kanak-Kanak Yesus. Tempat ini menjadi pusat perhatian para peziarah, khususnya para pelaut, yang datang ke sini untuk mohon perlindungan dari “Maria Bunda Yang Baik Hati”.


Sudah sejak abad ke XIII, telah dibangun tempat ziarah yang disebut Notre-Dame de la Garde. Dan pada tahun 1542, sewaktu Raja Charles V, dibangunlah benteng yang mengelilingi tempat itu. Namun demikian sampai menjelang Revolusi Perancis, tempat ini masih sering dikunjungi sebagai tempat devosi. Tahun 1802, fungsi Kapel dikembalikan sebagai tempat ibadah, diadakan Misa setiap hari Sabtu dan Minggu seperti di masa lalu.

Ketika Uskup Marseilles, menginginkan diadakan Misa harian di sini, sulit menemukan imam yang siap setiap hari naik turun bukit, berjalan kaki sekitar satu jam.

Kemudian Komunitas OMI, yang tinggal di biara Le Calvaire, diserahi tugas mengelola dan melaksanakan pelayanan di tempat ini. Para Oblat yang pernah menjadi Superior Rumah OMI di sini (1830-1862) adalah: Pastor Joseph Touche, Pastor Marius Bernard, Pastor Francois Noel Mareau, Pastor Jean Baptiste Honorat, Pastor Jacques Eymard, Pastor Etienne Semeria, Pastor Antoine Rolleri dan Pastor Jean Antoine Bernard (Bernard). Pastor Bernard inilah yang benar-benar mengembalikan tempat ini sebagai tempat Ziarah sejati. Warga Marseilles memanggil dia “Imam Bunda Kami Yang Baik Hati”. Dia seorang yang ramah, setia, pengkhotbah yang baik, melayani paroki-paroki dan menarik banyak umat untuk berziarah ke Notre Dame de la Garde.

Selama Revolusi Perancis, patung perak hilang. Pastor Bernard mengusahakan patung yang baru. Pada saat yang sama, diperoleh juga lonceng dari Lyon, lonceng paling berat di seluruh Perancis saat itu, 8.324 kg. Dibangunlah Kapel yang lebih besar. Dengan dukungan Uskup Marseilles, diperoleh dana dari Pemerintah dan peletakan batu pertama pada tanggal 11 September 1853 oleh Uskup dan Walikota setempat.

 

Di tahun-tahun berikutnya semakin banyak orang berziarah di tempat ini, bahkan sampai mencapai setengah juta setiap tahunnya. Peziarah datang bukan hanya dari Perancis saja, tetapi juga dari Italia, Belgia dan Spanyol.

Salah satu perayaan yang paling terkenal saat itu adalah prosesi “Corpus Christi”. Patung St. Maria “Bunda Yang Baik Hati” diarak berkeliling kota selama dua hari, dan bermalam di Le Calvaire. Tahun 1870 pemerintah kota melarang prosesi ini, dan sejak 1872 secara permanen dilarang diadakan prosesi “Corpus Christi”.

Walaupun demikian, para Misonaris OMI, tanpa kenal lelah menjalankan pelayanan-pelayanannya berupa Peziarahan, Misi Paroki, dan Retret.

Musibah terjadi pada tahun 1880, pemerintah yang radikal dan sektarian, memerintahkan pembubaran kongregasi religious di Perancis. Para Misionaris OMI diusir secara militer. Hanya Pastor Gigaud dan Pastor Bovis yang boleh tinggal di biara karena mereka statusnya sebagai pemilik rumah. Yang lainnya mengungsi di rumah-rumah umat yang ramah-ramah. Tahun 1903, properti disita. Tahun 1906, tempat ini dilelang. Namun setahun kemudian Uskup Lurent membeli kembali dengan harapan suatu hari nanti OMI bisa melayani kembali di tempat ini. Namun yang terjadi sesudahnya adalah bahwa harapan OMI berkarya di situ kembali pupus setelah para imam Keuskupan secara bulat menyatakan “menginginkan bahwa ke depannya Notre-Dame de la Garde dilayani para rohaniwan Keuskupan secara permanen”. Para Misionaris OMI memahami bahwa mereka sudah tidak ada harapan lagi untuk dapat memperoleh kembali sebuah tempat Ziarah Maria yang sangat mereka sayangi… (Sumber : www.omiworld.org)

 

Notre Dame de la Garde saat ini menjadi tempat wisata rohani. Banyak orang mengunjungi tempat ini untuk selain berdoa, juga untuk mengagumi bangunan yang indah, dengan ornament interior yang sangat mengagumkan. Orang tak jemu-jemunya memandang langit-langit dan dinding bagian dalam bangunan ini yang sangat indah. Sebagian kecil dari bangunan ini diubah menjadi restoran yang disediakan bagi para pengunjung. Restoran ini dikelola oleh salah satu ordo Suster yang bergerak dalam bidang pelayanan sosial.

 

 

Notre Dame de Lumiere

Retret Agung 30 hari dilaksanakan di Notre Dame de Lumiere, di sebuah desa yang bernama Lumiere. Tempat ini mempunyai sejarah panjang baik sebagai Tempat Ziarah, Karya Oblat, maupun sebagai Seminari Oblat yang telah menghasilkan Misionaris-misionaris Oblat tangguh. Tempat ini berjarak kurang lebih 50 km dari Aix-en Provence, masuk wilayah Paroki Goult Keuskupan Avignon.

 

Sejak abad ke-4, para pertapa Cassian telah menempati lokasi ini dan membangun sebuah Kapel yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Selama beberapa abad, tempat ini sangat baik digunakan oleh para pertapa. Namun semuanya hancur akibat perang agama pada abad 16. Pada bulan Agustus tahun 1661, terjadi mukjizat. Seorang umat dari paroki Goult, Anthony Nantes, menyeret dirinya yang lumpuh di atas reruntuhan bangunan, tiba-tiba dia melihat “cahaya yang besar, dan di tengah cahaya itu dia melihat seorang Anak yang indah tak terbayangkan, digendong oleh seorang perempuan dan dikelilingi wajah-wajah malaikat-malaikat kecil” dan sewaktu dia mengulurkan tangannya, penglihatan tersebut hilang, seketika itu juga dia menjadi sembuh. Pada tanggal 13 September 1669, tempat ini diberkati sebagai tempat Ziarah, dengan nama “Maria Bunda Cahaya Abadi”.


Banyak para peziarah disembuhkan. Tempat Ziarah ini sangat dikenal di kalangan umat sampai pecah Perang Revolusi Perancis. Dan pada tahun 1823, dibeli oleh Pertapa Trapist Aiguebelle, namun tidak lama kemudian di kembalikan kepada imam-imam Keuskupan.

Tahun 1837 Misionaris OMI mulai berkarya di Notre-Dame de Lumiere, sesuai saran Vikjen Avignon, Mgr. Magailan kepada Uskup De Mazenod, agar Misionaris dari Provence mengambil alih tanggungjawab dan pengelolaan Notre-Dame de Lumiere, dengan bahasa daerah setempat yaitu Bahasa Provencal. Sejak saat itu sampai tahun 1880, OMI betul-betul berkarya sekaligus membentuk misionaris-misionaris Oblat yang tangguh dengan membuka Seminari (Yuniorat, Novisiat, Skolastikat). Cukup banyak Oblat dari Seminari ini yang dikirim ke Kanada. Demikian juga Misi Paroki, Bimbingan Retret dan terutama Pelayanan Peziarah. Puncaknya pada tahun 1864, sekitar 20.000 peziarah hadir dalam perayaan Prosesi Obor menuju Kapel St. Mikael. Dalam peristiwa ini juga terjadi khotbah di alam terbuka, penyembuhan dan Sakramen Pengakuan Dosa. Selama puluhan tahun berikutnya, karya OMI terus berkembang, baik Seminari, pelayanan Retret, Misi paroki maupun Peziarahan. Pada tahun 1960, Yuniorat ditutup mengingat berkurangnya calon. Sejak Yuniorat ditutup, OMI memprioritaskan pelayanan-pelayanan: Retret, Persiapan Frater kaul kekal, Seminar Katekese, Pastoral, Pembekalan Dewan Paroki dari Keuskupan Avignon.

Sejak tahun 1972 ada perubahan yang signifikan, bangunan yang sudah tua direnovasi, demikian juga pelayanan lebih difocuskan pada tiga kegiatan: Ziarah, Misi Paroki (ada 16 paroki) dan 30 hari Retret De Mazenod Experience. Komunitas yang tinggal di sini, sebagian adalah para Oblat yang sudah pensiun. (Sumber:www.omiworld.org)

 

Dalam perjalanan waktu pihak OMI bekerjasama dengan Pengusaha, dan sebagian bangunan dijadikan Hotel, dengan nama HOTELLIRE NOTRE DAME DE LUMIERES.

 

Lokasi Notre Dame de Lumiere sangat strategis, tidak jauh dari Jalan Protokol (High Way), di sebuah lembah di antara dua bukit. Bukit sebelah kiri lebih banyak bebatuan sekaligus sebagai lokasi Jalan Salib dan bukit sebelah kanan berupa hutan pinus yang di puncaknya terdapat Salib Misi. Terdapat taman yang luas dengan pohon-pohon yang rindang dan menyambung dengan kebun anggur.

 

Notre-Dame du Laus

Di Notre-Dame du Laus OMI mempunyai sejarah panjang, sangat menarik, sangat membanggakan sekaligus “menyakitkan”.

Tahun 1660, untuk pertama kalinya, St. Perawan Maria menampakkan diri kepada seorang gembala muda, Benoite Rencural (1647-1718). Empat tahun kemudian, melalui penampakannya, St. Maria minta dihormati secara khusus di sebuah Kapel tua di desa Laus.

Tahun 1669, gedung gereja dibangun, dan dilayani oleh para imam “de Sainte Garde”. Antara tahun 1712 sampai 1791, banyak peziarah datang ke tempat ini.

Revolusi Perancis merusak kehidupan agama, para imam diusir, gereja dan biara dijual/dilelang.

Tahun 1805, Keuskupan Digne, melalui Uskupnya Mgr. Miolis membeli tempat ini. Keuskupan dengan imam yang begitu banyak, tidak ada seorangpun imam penduduk asli, termasuk untuk pelayanan di desa Laus. Mulailah awal misi OMI di tempat ini. Bapa Uskup mengundang Eugenius de Mazenod bersama kelompok kecilnya: Misionaris dari Provence. Mereka diundang untuk mengambil alih pelayanan di Laus dan menghidupkan kembali devosi kepada St. Maria. Secara resmi OMI mulai berkarya di sini tahun 1818. Kontrak dengan Keuskupan selama 29 tahun.

Pelayanan Ziarah sangat maju, demikian juga pelayanan pastoral. Antara 15.000 sampai 50.000 peziarah datang setiap tahunnya, antara tahun 1818 sampai tahun 1836. Para Misionaris dari Provence yang berkarya di situ, antara lain Pastor Tempier, Pastor Alexandre Dupuy, Pastor Guilbert dan Pastor Mille. Pelayanan mereka bukan hanya Ziarah, tetapi juga Khotbah di paroki-paroki, Retret bagi para imam Keuskupan Digne, dan Pengakuan Dosa. Banyak imam-imam yang beristirahat di tempat ini pada musim panas. Pastor Mille, menulis surat kepada Bapa Uskup, tgl. 24 September 1841, “Sebuah misi yang terus menerus sedang berlangsung di sini, di Laus. Ini adalah karya paling nyata dari Allah; banyak keajaiban terjadi di sini”

Misi di Laus memang luar biasa, mereka terus menerus bekerja keras, berkhotbah, membantu paroki-paroki, bahkan sampai menggantikan Pastor Paroki. Hampir 200 misi paroki yang mereka layani, walaupun demikian mereka mengatakan, kami tidak stress baik fisik maupun rohani.

Tahun 1823, Uskup Arbaud terpengaruh aliran Gallican dan Jansenist. Relasi dengan para Oblat berubah. Pihak Keuskupan dan para ulama sepertinya tidak sabar menunggu habisnya kontrak 29 tahun.

Tahun 1836 Uskup Arbaud meninggal, digantikan Uskup de La Crois d’Azolette, dan menulis surat kepada Bapa Pendiri, yang isinya secara halus, minta mempersingkat kontrak di Laus. Bapa pendiri menanggapi secara negatip. Uskup diganti dengan yang baru, Uskup Louis Rossat, Maret 1841. Pada bulan September, terjadi masalah besar : Uskup menempatkan seorang Pastor Paroki di Laus dan merampas semua hak-hak yurisdiksi para Misonaris OMI. Untuk menghindari skandal dan urusan pengadilan, Bapa Pendiri memutuskan untuk menarik misionarisnya dari Laus. Pastor Mille meninggalkan tempat itu pada bulan April tahun 1842.

Menerima Notre Dame du Laus tahun 1818 dengan ditandai adanya perkembangan Umat Allah di Perancis; meninggalkan Laus pada tahun 1841 bertepatan dimulainya perkembangan Umat Allah di seluruh dunia. Pada bulan Oktober 1841, para Misionaris OMI meninggalkan Laus untuk membuka misi di Kanada. Saat Keuskupan sedang mengunci pintu bagi semangat umat, sebuah kerasulan baru terbuka di dunia yang lebih luas. ( Sumber : www.omiworld.org)

Refleksi

Tentang Spiritualitas OMI dan Kharisma Bapa Pendiri, yang menjadi tujuan utama De Mazenod Experience, sudah pasti sangat berguna bagi saya sebagai imam OMI dan saya merasa tidak perlu disampaikan secara terperinci melalui artikel ini; misalnya tentang tema-tema pelajaran di kelas, Napak Tilas St. Eugenius, tema Retret, dll. Melalui artikel ini justru saya ingin menyampaikan sisi lain dari pengalaman saya selama di Perancis, baik yang ada kaitannya secara langsung dengan OMI maupun yang tidak ada kaitannya dengan OMI. Dalam hal ini ada 4 hal, yaitu :

Devosi kepada St. Maria.

Di Perancis, khususnya di tempat-tempat yang sempat saya kunjungi, hanya sebagian kecil saja dari Perancis, saya mendapat kesan bahwa Devosi kepada Bunda Maria sangat kuat. Selain dengan adanya tempat-tempat Ziarah yang sudah berabad-abad umurnya, seperti Notre-Dame de Lumiere, Notre-Dame de la Garde, Notre-Dame du Laus juga tempat Ziarah Bunda Maria yang mendunia dan tidak asing di telinga umat katolik Indonesia, yaitu Notre-Dame de Lourdes atau sering disingkat saja sesuai lidah kita Lourdes.

Devosi kepada Bunda Maria juga bukan hanya melalui tempat-tempat Ziarah, tetapi juga melalui penempatan patung-patung St. Maria di tempat-tempat umum.

 

Devosi kepada St. Maria sangat kuat di Perancis di waktu lampau, demikian juga sampai sekarang. Tempat-tempat patung St. Maria diletakkan, baik di tempat peziarahan maupun di tempat umum/pinggir jalan raya, masih terpelihara dengan baik sampai sekarang.

Tempat devosi kepada Bunda Maria.

Di tempat-tempat Peziarahan St. Maria yang sempat saya kunjungi, antara lain Lourdes, Notre-Dame de Laus, Notre-Dame de Lumiere dan Notre-Dame de la Garde, tidak semua berupa gua. Di Lourdes sendiri memang ada gua, tetapi sebenarnya tempat St. Maria menampakkan diri beberapa kali kepada St. Bernadete bukan di dalam gua, tetapi di lereng sebelah kanan gua. Di dalam guanya sendiri adalah tempat mukjizat mata air yang sampai sekarang dan seterusnya tetap mengalir tanpa henti. Bahwa tempat St. Maria menampakkan diri ditaruh patung St. Maria ada gua kecil/cekungan, menurut saya lebih untuk meletakkan patung supaya aman dan tidak jatuh.

 

 

Kompleks peziarahan Lourdes memang cukup luas dan setiap hari selalu didatangi para peziarah dari berbagai belahan penjuru dunia. Selain gedung gereja, juga halaman yang sangat luas sebagai tempat untuk prosesi lilin yang sangat terkenal itu.

Juga terdapat bangunan gereja yang berada di bawah tanah, di hari-hari tertentu dilaksanakan Prosesi Sakramen Mahakudus, yang dimulai dari seberang sungai menuju gereja bawah tanah dan dilanjutkan dengan Misa Penyembuhan.

Selain itu, juga dibangun gedung khusus untuk pelayanan Sakramen Tobat pribadi dengan berbagai macam bahasa, dan juga gedung tempat menginap para pasien. OMI juga mengutus beberapa Oblat untuk berkarya di Lourdes untuk melayani para Peziarah.

Dari pengalaman saya mengunjungi beberapa tempat Ziarah St. Maria, saya mendapat kesan bahwa tidak semua tempat ziarah berupa gua.

Di hampir setiap gedung gereja terdapat juga tempat-tempat devosi untuk para kudus, termasuk untuk St. Maria. Penempatannya selain di dinding, juga berupa kapel-kapel kecil di dalam gereja, samping kanan dan samping kiri bagian dalam gereja, berupa cekungan dengan bangku dan tempat lilin.

Pelestarian symbol devosi dan iman

Patung, gambar, lukisan adalah simbol2 devosi maupun iman. Bangunan-bangunan di Eropa hampir semua berdinding tebal, tidak banyak jendela, karena memang disesuaikan dengan cuaca dan musim yang ada. Yang paling menonjol sejauh saya lihat, selain patung, adalah Lukisan “glass-in-load” atau kaca patri, yang selalu ada di setiap gedung gereja. Bukan hanya gambar St. Maria, tetapi juga peristiwa-peristiwa penting para kudus maupun simbol Roh Kudus.

Lukisan kaca patri yang terdapat di banyak gereja.

Lukisan kaca patri atau glass-in-load memang sangat indah. Warna tidak berubah dalam perjalanan waktu. Selain itu memang cocok untuk penerang di siang hari.

 

Seni bangunan

Hampir semua bangunan gedung gereja maupun bangunan gerejani yang lain merupakan bangunan tua, yang bisa jadi umurnya sudah ratusan tahun. Baik itu di Perancis maupun di Roma. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa sarana ibadah berubah fungsi karena tiadanya umat maupun pelayan Gereja. Seperti misalnya bekas Istana Kepausan dan Katedral Avignon, sekarang menjadi tempat wisata dan semacam ruang pameran kesenian.

Di banyak tempat juga dibuat pilar-pilar sebagai pendukung megahnya bangunan.

 

Inspirasi

Berdasarkan pengalaman saya tinggal di Perancis selama kurang lebih tiga bulan, di samping Spiritualitas Oblat dan Kharisma Bapa Pendiri, St. Eugenius de Mazenod, yang terangkum dalam refleksi saya di atas, saya melihat 4 hal tersebut juga di Indonesia.

Devosi kepada St. Maria.

Di kalangan umat Katolik Indonesia, devosi kepada St. Maria juga sangat kuat. Doa Rosario menjadi doa yang sangat digemari oleh umat, entah sendiri atau kelompok. Pertemuan-pertemuan Lingkungan banyak diisi dengan doa Rosario. Umat sangat terbantu imannya dengan mengadakan Ziarah ke tempat-tempat Ziarah Gua Maria. Sering kita mendengar juga, Ziarah 9 gua Maria, baik dilakukan secara keluarga maupun kelompok umat. Kelompok Kategorial Legio Maria pun berkembang dengan baik di kalangan umat beriman. Hampir di setiap paroki, terdapat umat yang pernah mengikuti Legio Maria. Bahkan di paroki-paroki tertentu terdapat banyak Presidium Legio Maria. Setiap kali umat beriman membangun gedung gereja, juga selalu disertakan membangun tempat untuk devosi kepada St. Maria, berupa gua Maria atau dalam bentuk yang lain.

Tempat Devosi dan Ziarah St. Maria.

Sendangsono adalah tempat Ziarah Maria yang paling tua di Indonesia. Saya sendiri sampai umur SMP selalu ke Sendangsono pada bulan Mei. Dan belajar dari orang tua, walaupun jarak dari rumah cukup jauh, sekitar 10 km, kami berjalan kaki sampai lokasi Gua Maria. Di sekitar 1 km sebelum tiba di Sendangsono, kami selalu mendoakan doa Rosario. Di Indonesia, bukan hanya Sendangsono saja yang menjadi tujuan ziarah umat. Sekarang terdapat banyak tempat Ziarah Maria. Di Jawa sendiri banyak tempat Ziarah St. Maria. Hampir semua tempat disebut atau dinamakan Gua Maria: Gua Maria Sendangsono, Gua Maria Sriningsih, Gua Maria Jatiningsih, Gua Maria Kerep, Gua Maria Tritis, Gua Maria Lawangsih, Gua Maria Kaliori, Gua Maria Lourdes Poh Sarang Kediri, Gua Maria Kuningan, Gua Bunda Maria Ratu, Besokor, Weleri, Gua Maria Sumedang, Gua Maria Padang Bulan, Lampung…dll. Haruskah tempat Ziarah St. Maria berupa Gua? Tempat Ziarah Notre-dame de Lumiere di Perancis, yang pernah dibanjiri umat sampai 20.000 orang, tidak ada guanya. Yang ada adalah sebuah kapel. Demikian juga tempat ziarah Notre-Dame de Laus, tidak ada gua, yang ada adalah padang gembala dan ruang adorasi, bahkan di Notre Dame la Garde Marseilles, yang pernah didatangi para peziarah hampir 500 ribu orang setiap tahunnya, tidak ada gua, yang ada justru menara Basilika di atas bukit, yang merupakan menara paling tinggi di seluruh Marseilles. Maka menurut saya, tempat Devosi atau Ziarah kepada St. Maria tidak harus berupa gua, tetapi bisa berbentuk bangunan tertentu, yang penting umat dapat berdoa secara khusyuk di depan Bunda Maria.

Pelestarian symbol devosi

Seni lukis kaca patri atau “glass-in-load” sebenarnya sudah sangat umum, di Indonesia juga biasa dipakai. Di banyak gereja, sering kali juga dipakai untuk menggambar pelindung gereja ataupun gambar-gambar orang kudus lain. Di Gereja Trinitas, Cengkareng, Jakarta, simbol Allah Tri Tunggal juga dilukis dengan kaca patri. Demikian juga peristiwa-peristiwa penting dalam Injil. Di Gereja Stasi St. Maria Immakulata, di Paroki yang sama, peristiwa-peristiwa penting St. Maria juga dilukis dengan kaca patri. Di Gereja St. Maria Immakulata Tarakan, Kalimantan Timur, empat pengarang Injil juga dilukis dengan kaca patri, dengan ornament khas Dayak. Satu hal lagi yang menarik bagi saya adalah gambar-gambar yang ada di langit-langit Kapel “Bunda Maria Cahaya Abadi” di Notre-Dame de Lumiere, dibuat bukan dengan kaca patri tetapi lukisan biasa, sangat sederhana, setengah karikatur, namun sangat bermakna bagi umat. Dengan duduk dan melihat gambar-gambar itu, kita dengan cepat akan dihantar untuk merenungkan perjalanan iman St. Maria, mulai dari menerima kabar dari Malaikat Gabriel sampai St. Maria diangkat ke sorga.

Seni bangunan

Hal ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup beriman atau hal-hal yang berhubungan dengan Gereja atau Ziarah. Saya hanya mengagumi bangunan-bangunan kuno, yang dibangun ratusan tahun yang lampau. Baik itu gedung gereja, biara maupun bangunan-bangunan yang lainnya. Selama saya tinggal di Perancis, sering kali pada jam-jam di luar jadwal komunitas, sambil mengusir cuaca dingin, saya jalan-jalan, baik sendiri maupun bersama teman. Salah satu hal yang saya kagumi adalah adanya pilar-pilar dan plengkung/lorong-lorong yang indah. Seperti di lapangan St. Petrus Vatican, lorong di serambi Katedral Latheran dan di tempat-tempat lainnya.

 

Lagu “Ndherek Dewi Maria”

Selain gambar, lukisan dan patung, menurut saya lagu juga bisa disebut sebagai pelestarian simbol devosi. Di Jawa khususnya, dan juga di daerah lain, ada banyak lagu rohani yang sangat membantu penghayatan iman atau mengungkapkan pengalaman devosi, melalui bahasa setempat. Lagu “Ndherek Dewi Maria” sudah sangat populer di kalangan umat yang berbahasa Jawa. Bahkan Umat yang tidak lancar berbahasa Jawa pun, kelompok-kelompok Paduan Suara sering menyanyikan lagu ini. Namun yang menarik adalah bahwa lagu ini mudah dihafal dan makna kata-katanya sangat mendalam dan mengena di hati umat beriman, khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menurut bahasa sekarang, lagu Nderek Dewi Maria itu ibarat “lagu legendaris”, yang tak kenal zaman, selalu enak didengar, dinyanyikan dan dihayati maknanya. Beberapa tahun terakhir ini lagu Ndherek Dewi Maria dipopulerkan oleh para Penyanyi dan Seniman Top Indonesia, antara lain Lisa A. Riyanto, Group Band Jikustik dan Djaduk Ferianto. Dalam Album Lisa A. Riyanto, disebutkan Pengarang lagu ini adalah A. Sukardjana Pr.

Lirik Lagu “Ndherek Dewi Maria”

Ndherek Dewi Maria, temtu geng kang manah.
Boten yen kuwatosa, ibu njangkung tansah.
Kanjeng ratu ing swarga, amba sumarah samya.
Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.
Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.

Nadyan manah getera, dipun godha setan.
Nanging batos engetnya, wonten pitulungan.
Wit sang Puteri Maria, mangsa tega anilar.
Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.
Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.

Menggah saking apesnya, ngantos kelu setan.
Boten yen ta ngantosa, klantur babar pisan.
Ugeripun nyenyuwun, ibu tansah tetulung.
Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.
Sang Dewi, Sang Dewi mangestonana.

 

Versi Bahasa Indonesia

Meneladan Maria, hati ‘kan gembira

tidak akan kecewa, ibu ‘kan bersama

ya Maria, ratu surga, kami menyerah semua

O ibu, o ibu, tolonglah kami (2x)

Walau hati tertekan, digodai setan

Tapi kami percaya akan pertolongan

karna ibu Maria akan beserta kita

O Ibu, o ibu, tolonglah kami (2x)

Jika karna lemahnya dicobai setan

Tidak akan khawatir akan pertolongan

asal kita meminta, ibu akan terbuka

O ibu, o ibu, tolonglah kami (2x)

 

Versi bahasa Inggris

Following the Virgin Mary, our heart is joyful

No need to worry, Mother stays beside us

Oh Mary, Queen of Heaven, we all surrender before you.

The Goodness, The Goodness bless us

The Goodness, The Goodness bless us

If our heart is fidgety tempted by the satan

We believe there will be assistance

Because the Virgin Mary never leaves us alone

The Goodness, The Goodness bless us

The Goodness, The Goodness bless us

Until we’re unluckily gone with the satan

We’re not going to pieces

If we beg, Mother definitely helps us

The Goodness, The Goodness bless us

The Goodness, The Goodness bless us

 

Sarana Devosi kepada St. Maria di Paroki Banyumas

Pada pertengahan tahun 2012, di Paroki Banyumas diadakan Renovasi Pastoran. Di awal pengerjaan renovasi, tidak ada terlintas sedikit pun untuk membangun tempat devosi kepada St. Maria yang baru karena memang sudah ada Gua Maria sederhana yang terdapat di pojok taman kecil di antara Pastoran dan gereja.

Devosi kepada St. Maria

Pelindung Paroki Banyumas adalah St. Maria Immakulata. Devosi kepada St. Maria selayaknya mendapat tempat yang lebih di hati umat. Doa Rosario selalu diadakan di Gua Maria pada bulan-bulan Maria (Mei dan Oktober). Selain itu pada saat-saat tertentu juga selalu ada umat baik sendiri maupun keluarga yang berdoa di tempat yang sama. Lagu “Ndherek Dewi Maria” juga sudah sangat akrab di hati umat Banyumas. Dalam perayaan-perayaan besar, pemberkatan Perkawinan dan misa Lingkungan, sering dinyanyikan lagu ini. Maka selayaknya juga Gua Maria sederhana juga ikut direnovasi. Setelah diadakan rapat bersama wakil umat, baik Dewan Paroki maupun tokoh umat, disepakati untuk dibangun Tempat Devosi kepada St. Maria, menggantikan Gua Maria yang sudah ada, di lokasi yang sama.

Tempat Devosi.

Tempat Devosi kepada St. Maria diputuskan tidak berbentuk gua. Gua yang ada dimodifikasi menjadi relief air mancur.

Pelestarian Simbol Devosi.

Riwayat Hidup St. Maria.

Kata “Ndherek Dewi Maria” sendiri artinya “mengikuti… meneladan St. Maria”. Kalau kita mengikuti dalam rangka ingin meneladan seseorang, tentunya selayaknya kita mengenal dengan baik orang yang kita ikuti dan kita teladani. Dalam hal ini saya teringat dengan 7 Lukisan peristiwa penting dalam hidup St. Maria yang ada di Kapel “Maria Bunda Cahaya Abadi” di Notre-Dame de Lumiere, Perancis. Dalam waktu singkat, beramaan dengan pengerjaan renovasi pastoran, sebelas peristiwa penting dalam hidup St. Maria kiranya akan mengantar umat untuk lebih mengenal St. Maria. Memang secara liturgis, kita sudah merayakan hal itu di hari-hari perayaan St. Maria. Namun kebanyakan umat tidak mengikuti secara rutin dan berurutan, karena hampir semua pererayaan St. Maria mengikuti tanggal, dan jatuh pada hari biasa. 11 peristiwa tersebut adalah : 1. Maria kecil bersama keluarga St. Yoakim dan St. Anna, 2. Maria menerima Kabar dari Malaikat Gabriel, 3. Maria Mengunjungi Elizabeth, 4. Maria melahirkan Yesus, 5. Maria Mempersembahkan Bayi Yesus, 6. Maria menemukan Yesus umur 12 tahun di Bait Allah, 7. Maria hadir dalam Pesta Perkawinan di Kana, 8. Maria di bawah Salib. 9. Maria memangku Jenasah Yesus, 10. Maria diangkat ke Sorga, dan 11. Maria dimahkotai di Sorga.

Patung St. Maria.

Selain sebelas gambar peristiwa penting dalam hidup St. Maria, tentu saja yang lebih penting dari itu semua adalah Patung St. Maria. Patung St. Maria sedapat mungkin menggambarkan pribadi yang terungkap melalui lagu “Ndherek Dewi Maria”. Maria yang menolong, Maria yang melindungi, Maria yang memberikan rasa nyaman, di hadapan Maria rasa cemas menjadi hilang dll. Maka Patung Maria adalah Maria sebagai Ibu yang tersenyum, dengan tangan terbuka, berdiri di atas bola dunia sambil menginjak ular. “No Color”, tanpa warna-warni, warna polos cream muda, dengan tujuan agar “diwarnai” oleh imajinasi yang hidup dalam diri umat yang datang menghadap Bunda Maria / peziarah.

Bentuk bangunan.

Dalam tradisi dan budaya Jawa, khususnya Banyumasan, terdapat tiga jenis rumah yang menunjukkan strata kehidupan dalam masyarakat. Yang pertama “Gubug”, yaitu bangunan sederhana agak memanjang dengan 4 tiang pokok, dengan dua sisi atap yang lurus, ke kanan dan ke kiri. Ini bangunan yang paling sederhana yang biasa dimiliki masyarakat sederhana. Yang ke dua “Strotong”, adalah bangunan rumah Gubug dengan ditambah sayap ke kanan dan ke kiri. Yang ke tiga adalah “Limasan atau Joglo”, adalah bangunan rumah segi empat dengan 4 tiang utama di tengah dan dengan atap ke empat penjuru. St. Maria adalah pribadi yang saleh, beriman dan sederhana. Dalam Kidung Maria (Luk.1: 46-55) ), Maria bersama dan mewakili Kaum Anawim, yaitu Kaum Sederhana, memuji Keagungan Tuhan sekaligus percaya akan segala Karya Tuhan. Dan Maria juga selalu ingin dekat dengan Kaum Sederhana. Maka tempat atau bentuk bangunan yang layak dan cocok untuk Devosi kepada St. Maria di Banyumas adalah GUBUG BERATAP GENTENG

Lalu bagimana dengan 11 peristiwa penting dalam hidup St. Maria, mau diletakkan di mana dan dalam bentuk apa? Luas tanah sangat terbatas, hanya 5 x 11 meter. Gambar-gambar terbuat dari lukisan kaca patri, dengan ukuran masing-masing 1x2 meter,sebagai langit-langit, sedikit melengkung, lima sebelah kanan, lima sebelah kiri, dan satu gambar terakhir (Maria dimahkotai di sorga) berbentuk bulat ada di dinding atas bagian depan. Di antara masing-masing gambar, didirikan pilar sebagai tiang penyangga. Untuk sekedar menambah anggunnya bangunan, masing-masing dudukan terdiri dari dua pilar. Maka jadiah 12 dudukan pilar, 6 sebelah kanan dan 6 sebelah kiri. Sedangkan patung Maria diletakkan di ujung dalam cekungan di dinding, dan ditahtakan di atas dudukan dan diapit dua buah pilar dan plengkung di atasnya.. Dari depan kita akan melihat gambar Maria dimahkotai di sorga. Setelah masuk dan melihat ke atas, kita akan langsung diajak merenungkan riwayat hidup St. Maria, melalui 11 peristiwa penting dalam hidup St. Maria.

Apa namanya tempat Devosi ini?

Cukup lama saya mencari nama untuk tempat devosi ini. Tempat Devosi kepada St. Maria ini bukan Gua, bukan juga Kapel. Karena terinspirasi dari Lagu “Ndherek Dewi Maria”, yang berbahasa Jawa, maka tempat ini diberi nama “PANTI SEMADI NDHEREK DEWI MARIA”.

PANTI SEMADI NDHEREK DEWI MARIA

“Panti” artinya tempat. “Semadi” artinya memusatkan pikiran dan perasaan. “Ndherek Dewi Maria” artinya mengikuti dan meneladan Santa Perawan Maria. “Panti Semadi Ndherek Dewi Maria” adalah Tempat di mana kita dapat dengan tenang memusatkan pikiran dan perasaan dalam terang iman, mengikuti dan meneladan Santa Perawan Maria.

 


 

Novena Ndherek Dewi Maria

Setiap tahun di tempat ini dilaksanakan Misa Novena Ndherek Dewi Maria, yaitu pada setiap hari Sabtu sore dan berakhir pada hari Sabtu terakhir bulan Oktober. Di luar hari-hari Novena, umat tetap bebas bedoa, baik Doa Rosario seperti biasa maupun doa spontan/ibadat yang lainnya. Di tempat ini juga disediakan dua bentuk doa. Sambil melihat 11 gambar peristiwa penting dalam hidup St. Maria, kita bisa mendoakan “33 untaian Salam Maria yang dipersembahkan kepada St. Maria Yang Terkandung Tanpa Noda”. Yang ke dua adalah “Doa Novena Ndherek Dewi Maria”.

Doa dan berkat bagi yang sakit

Hal yang khusus dalam Novena Ndherek Dewi Maria ini adalah dilaksanakannya “Doa dan Berkat bagi Yang Sakit”. Khusus untuk umat Paroki Banyumas, Panitia Novena menjemput mereka di rumah masing-masing. Hal ini membuat mereka sangat bahagia dan sungguh merasa diperhatikan. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Amsal 17:22).

Misa Novena Perdana telah dimulai pada Sabtu terakhir bulan Agustus dan berakhir sabtu terakhir bulan Oktober tahun 2013, dihadiri cukup banyak umat, baik umat paroki Banyumas sendiri maupun umat dari Stasi dan Paroki lain.

Kesaksian :

Bpk. Yosep Suparto – Banyumas : “Dengan mengikuti Novena Ndherek Dewi Maria, walaupun penyakit saya belum sembuh, namun sudah ada perkembangan yang bagus dan iman saya lebih dikuatkan. Saya lebih tenang dan pasrah menghadapi penyakit saya”.

Ibu Matilda Salia – Banyumas : “Dengan mengikuti Novena Ndherek Dewi Maria ini, saya menjadi sembuh. Pendarahan yang sudah berlangsung beberapa tahun, sekarang mampet. Syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada Bunda Maria”.

Bpk. Warsono – Stasi Karangrau, Banyumas : “Dengan mengikuti Novena Ndherek Dewi Maria ini, walaupun saya belum bisa berjalan dan masih memakai tongkat, namun saya sungguh dikuatkan, mendapat penghiburan dan perhatian dari banyak umat. Terima kasih Bunda Maria”. (Bpk. Warsono sudah beberapa tahun tidak bisa berjalan, akibat jatuh dari pohon kelapa, sebagian syaraf tulang punggung menjadi terganggu, sehingga kedua kakinya menjadi lumpuh)

Ibu Sarijah – Stasi Jeruk Legi, Paroki Cilacap : “Kanthi ndherek Novena Ndherek Dewi Maria punika, kula sapunika sampun saget mlampah sekedhik-sekedhik, mboten ngangge teken malih.. Wonten nggriya kula ugi sampun saget masak piyambak. Saestu…kula bingah sanget…Matur sembah nuwun dhumateng Gusti Yesus sarta Ibu Maria”. ( Dengan mengikuti Novena Ndherek Dewi Maria ini, sekarang saya sedikit-sedikit sudah bisa berjalan, tidak pakai tongkat lagi. Di rumah, saya sudah bisa memasak sendiri. Sungguh…saya sangat bahagia. Terima kasih Tuhan Yesus dan Bunda Maria)

DOA NOVENA “NDHEREK DEWI MARIA”

Ya Maria, Bunda kami. Dengan meneladan engkau, hati kami selalu bergembira. Kami tidak akan kecewa, karena ibu senantiasa bersama kami. Wajahmu tenang dan sabar, tunduk dan runduk, memantulkan jiwa keibuan yang teduh.

Ya Maria, Bunda kami. Walau hati ini tertekan digoda setan, namun kami percaya akan pertolonganmu ya Bunda, karena ibu senantiasa menopang kami. Sorot matamu tajam, memahami galaunya hati kami.

Ya Maria, Bunda kami. Jika karena lemahnya iman , kami terjerumus dalam cobaan setan, kami tidak pernah khawatir akan pertolonganmu. Kedua tanganmu selalu terbuka, mengundang, menerima dan menjemput siapa saja yang datang kepadamu.

Kini kami datang kepadamu, ya Bunda Maria. Engkaulah pembimbing dan penolong kami. Engkaulah pembicara dan pengacara kami, untuk maksud dan ujud kami kepada Bapa melalui Yesus puteramu, yaitu :………….

Ya Maria, Bunda Pengantara segala rahmat. Kami percayakan ujud-ujud kami, untuk kauhaturkan kepada Yesus puteramu yang kiranya berkenan dan sesuai dengan kehendak Bapa, yang akan menjadi kebahagiaan kami.

Bapa Kami…; Salam Maria…; Kemuliaan….; Terpujilah…..

 

PANTI SEMADI NDHEREK DEWI MARIA

Jln. Karangsawah No. 507, Banyumas, Jawa Tengah. 53192

Tlp. 0281-796 141. E-mail : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

(Artikel adalah tulisan dari Pastor F.X. Sudirman, OMI, Pastor Paroki St. Maria Imakulata, Banyumas, Jawa Tengah)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.