Novena Panggilan Oblat 2019 (1)

PEKAN DOA PANGGILAN OBLAT, 21-29 MEI 2019

Bagian 1: Hari 1 -  Hari 3

 

Hari Pertama, 21 Mei 2019 – Pesta St. Eugenius de Mazenod

Keramahan Oblat (CCRR # 41)

Bacaan Injil: Matius 10:40-42

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.  Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.

Teks Oblat: CCRR, R. 41a

Rumah dan hati kita terbuka bagi semua yang membutuhkan bantuan atau nasihat. Kita menyambut dengan gembira para imam, religius, dan pelayan Injil lainnya yang ingin berbagi dengan kita roti persahabatan, doa, dan refleksi. Pada waktu yang sama, komunitas juga menghormati kebutuhandan hak hidup pribadi dari tiap-tiap anggotanya.

Kesaksian: Pastor Vlastimil Kadlec, OMI - Republik Ceko

 

Pada saat aku belajar linguistik di masa mudaku, salah seorang guru mengatakan kepada kami bahwa untuk kehidupan suatu bahasa, diperlukan sistim relatif terbuka dan relatif tertutup; jika benar-benar ditutup atau jika dibuka dengan bahasa serupa lainnya, maka bahasa itu akan mati.  Menurut saya, hal ini berlaku pada setiap organisme yang hidup.  Entah itu ada keseimbangan atau kematian.  Namun kekristenan itu sama sekali tidak seimbang, apalagi Karisma Oblat.  Yesus tidaklah seimbang, Dia tidak moderat, Yesus menerima manusia tanpa syarat dan Dia melakukannya untuk “mati”!  Dan Eugenius?  Disambut oleh Yesus Yang Tersalib, Eugenius menghabiskan hidupnya untuk meneruskan misi Yesus: untuk berada dekat dengan kaum miskin dan membawa bagi mereka Kabar Baik.

Saat aku mencoba untuk menghidupi hidup dan misi bersama kaum muda, aku mengerti lebih dan lebih lagi bahwa Karisma kita dapat disimpulkan dalam satu kata:  kedekatan.  Dan kedekatan itu adalah kedekatan yang radikal.  Kedekatan yang bisa mengorbankan hidupmu.  Hidup dalam kedekatan berarti membuka diri bagi sesama dan dalam arti tertentu, meruntuhkan tembok-tembok antara engkau dan aku sama seperti yang dilakukan pertama kalinya oleh Yesus.

Menyambut kaum muda masa ini berarti pertama-tama kita pergi ke luar untuk bertemu mereka di tempat mereka berada dan bukan di tempat kita ingin bertemu dengan mereka; lalu melihat mereka seperti mereka apa adanya dan bukan seperti yang ingin kita lihat.  Maka itu berarti menyambut mereka: dengan segala kelemahannya, ketidak-dewasaannya, karunia-karunianya, talenta-talentanya.  Menyambut kaum muda berarti mendengarkan mereka tanpa berprasangka dan membiarkan mereka masuk ke rumah kita, pribadi kita, dan hidup komunitas kita, juga beresiko mengubah cara-cara kita bekerja dan berpikir, memasak dan berdoa.... dalam arti tertentu, cara kita mati.

Kedekatan Oblat itu berbahaya: mudah untuk jatuh; mudah untuk membuat kesalahan-kesalahan, menjadi terluka, beresiko kematianmu.  Tetapi itu persis seperti saat aku mati bagi diriku sendiri untuk menyambut sesama sehingga hidup baru terlahir.  Inilah hukum Kabar Baik.  Jika kita tinggal dalam tertutup dan terbuka yang relatif, kita mungkin akan hidup untuk sekian waktu, tenang, dan aman, dan suatu hari kita mati.  Tetapi jika kita mengambil resiko untuk membuka pintu-pintu, mungkin kita akan mati juga, tetapi untuk hidup!

Doa

Bapa Yang Kudus, kami datang kepadaMu karena Yesus meminta kami untuk berdoa supaya Engkau mengirim para pekerja ke dalam tuaianMu.  Maka, kirimkanlah kepada kami pemuda-pemuda yang murah hati, penuh cinta pada Yesus, mau memakai seluruh hidupnya untuk persembahan diri yang total kepadaMu, untuk menjadi dekat dengan kaum yang paling miskin dan yang paling terlantar, dan untuk mewartakan Injil.  Semoga mereka dibakar dengan api yang sama yang Engkau nyalakan dalam diri Santo Eugenius; semoga mereka datang untuk menjadi bagian dalam keluarga St. Eugenius, dan bersama seluruh Oblat, semoga mereka terus bekerja bagi Penebusan.  Maria Imakulata, yang pertama-tama memberikan Yesus kepada dunia, ada bersama kami saat kami berdoa.  Amin.

 

HARI KEDUA, 22 MEI 2019

Komunitas (CCRR # 3)

Bacaan Injil:  Matius 18:19-20

Dan lagi Aku berkata kepadamu:  Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di sorga.  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.

Teks Oblat: Surat kepada Pastor Tempier, 12 Agustus 1817

Sahabatku terkasih dan saudaraku, jika surat-suratku memberikan sukacita seperti yang aku alami pada saat menerima suratmu, aku bayangkan engkau berharap untuk menerima suratku lebih sering lagi.  Bagiku, aku ingin merasakan sukacita menerima suratmu setiap hari.  Aku bosan saat berpisah darimu dan rindu untuk pulang.  Tidak ada di dunia ini yang paling berharga selain sukacita tinggal di rumah kita bersama saudara-saudara yang baik seperti dirimu.  Belum pernah aku menghargai begitu banyaknya “quam dulce et quam habitare fratres in unum” – betapa manis dan menyenangkannya saudara-saudara tinggal bersama-sama dalam kesatuan.  Hal ini menyerangku sering-sering karena aku melihat dengan mataku sendiri.  Tidaklah terjadi pada semua komunitas untuk mencicipi kebahagiaan demikian, lebih sulit untuk menemukan daripada yang dipikirkan di dunia ini.  Marilah kita berdoa pada Tuhan untuk menjaga bagi kita berkat yang berharga ini yang tidak bisa direbut orang dari kita kecuali karena kesalahan kita....  Semoga hal ini menjadi dasar dari Serikat kecil kita ini, yang dikombinasikan dengan semangat yang sungguh murni bagi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa, dan cinta di antara kita yang paling mesra, penuh kasih, dan tulus.  Kesemuanya ini akan membuat rumah kita seperti surga di bumi dan akan membentuk komunitas kita lebih kuat daripada semua perintah dan hukum yang ada.

Kesaksian: Pastor Bonga Thami, OMI - Perancis

Untukku, komunitas adalah tempat yang tepat untuk “hidup secara penuh dan mewartakan misteri Salib.”  Salib, Komunitas, dan Misi ada di jantung panggilan Oblatku.

Aku adalah seorang Oblat dari Afrika Selatan.  Aku masih sangat muda saat merasakan dalam diriku keinginan untuk menjadi seorang imam.  Tetapi seperti kebanyakan anak muda, aku malahan lari dari Gereja.  Aku bertemu para Oblat pada tahun universitasku, temanku mengundangku untuk ikut sebuah pertemuan kaum muda.  Kenangan perasaan damai yang mendalam dan sukacita yang kuat hidup dalam diriku.  Di sanalah aku  memutuskan untuk memberikan hidupku bagi Tuhan sebagai seorang Oblat karena aku telah menemukan yang selama ini kucari, juga tertarik pada Salib Oblat yang dikenakan oleh para imam di parokiku.

Pengalaman berkomunitasku sungguh kaya dan positif.  Aku selalu merasakan saling memiliki yang dalam di komunitas; aku temukan dukungan dan pemberian semangat; aku dibantu untuk bertumbuh sebagai pribadi dan seorang Oblat; aku menemukan maksud dan arti hidupku serta panggilanku.

Salah satu aspek penting dari hidup berkomunitas adalah kemampuan untuk berbicara sebagai saudara; untuk secara terbuka mengatakan kepada yang lain apa yang aku pikirkan, bahkan hal-hal yang tidak menyenangkan.  Kesemuanya dikatakan dengan kasih, kelembutan, dan kerendahan hati.  Untuk mencapai hal ini, doa-doa yang nyata menjadi sangat penting: berdoa bagi seorang saudara akan mendatangkan mukjizat bagi hidup persaudaraan dalam komunitas.

Dalam komunitas, aku merasa dicintai dan dihargai, tetapi aku juga mengalami terluka dan dihakimi; dan juga dari diriku sendiri ada pengalaman melukai saudaraku.  Dalam hal ini, komunitas menjadi tempat bagi pengampunan, tempat seseorang mengalami belas kasih Tuhan secara nyata. Hidup dalam komunitas membantuku untuk mengetahui batasku, rentannya aku sebagai seorang manusia; hal ini membuatku sadar kebutuhanku akan sesama, kebutuhanku akan Tuhan.  Tantangan-tantangan yang kuhadapi salah satunya adalah menjadi seorang misionaris, mewartakan dan menghidupi Injil belas kasih dan pengampunan pertama-tama di dalam komunitasku sendiri.

Dari semua hal itu, yang membuatku takjub adalah perasaan sukacita yang mendalam yang selalu ada dalam diriku.  Hal ini menjadi penghiburanku; menjadi kekuatanku dan mendorongku untuk keluar dan hadir menyebarkan hidup pada saudara-saudaraku.  Inilah karunia Roh Kudus yang memberikanku keyakinan akan kehadiran Tuhan dalam perjalananku setiap harinya.  Dalam hal ini termasuk juga pilihan-pilihanku, keyakinanku, kebebasanku, dan sukacitaku pada saat aku memeluk salibku dan karya misiku.  Itulah sebabnya salib, komunitas, dan misi menjadi tiga hal yang menjadi jantung panggilan Oblatku.

Satu hal yang harus kupelajari dari hidup berkomunitas – tentu aku masih terus belajar – adalah “mengetahui bagaimana untuk kalah.”  - “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.  Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yohanes 12:24-25)

Aku sering mendengar seruan Paus Fransiskus dalam diriku:  hidup berkomunitas “perlu ditemukan, dicintai, dialami, diwartakan, dan dibuktikan.”  Tetapi hanyalah karena kasih yang diberikan Tuhan yang memampukan kita untuk menyambut dan hidup dalam komunitas secara penuh. Aku yakin dengan rahmat Tuhan, hidup berkomunitas akan menjadi mungkin.

Refleksi ini memberikan perasaan syukur yang mendalam dalam hatiku.  Aku bersyukur pada Tuhan atas karunia komunitasku; aku ingin menjadikan kata-kata dalam Mazmur 116  (Mzm 116:12-13) sebagai kata-kataku: “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikanNya kepadaku?  Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Tuhan.” (Pastor Bonga Thami, OMI - Perancis)

Doa

Yesus Yang Baik, Engkau melihat dalam diri kami pertumbuhan misterius dari biji yang baik yang Engkau tanam ke dalam hidup kami dan gandum yang tumbuh bersamaan dengan ilalang: biarkan kami menjadi lahan subur dan dahan kuat untuk menghasilkan buah yang Engkau harapkan.  Engkau melihat ragi tersembunyi dalam diri kami untuk dicampurkan ke dalam adonan dunia dan air sederhana yang dapat menjadi anggur baru: biarkan kami menjadi ragi hidup dan bermakna guna yang bersamaMu memenuhi orang banyak di zaman kami sehingga mereka dapat mencicipi baiknya dan sukacitanya rasa dari persekutuan dan karunia diri.  Engkau melihat harta tersembunyi dalam diri kami yang baginya Engkau telah menyerahkan segala yang Kau miliki dan mutiara berharga yang engkau beli dengan darahMu:  biarkan kami merindukan dan mencari kekudusan sebagai kekayaan yang tak terukur dari hidup kami.  Tuhan Yesus, tahirkan pandangan kami sehingga dalam dunia nyata, kami dana melihat Yang Tak Kelihatan yang telah memanggil kami untuk menjadi murid-muridMu:  jadilah Terang bagi mata kami sehingga kami semua mengenali dan memilih keindahan dari panggilan kami.  Amin.

 

HARI KETIGA, 23 MEI 2019

Mendunia (CCRR # 5)

Bacaan Injil: Matius 20:25-28

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.  Tidaklah demikian di antara kamu.  Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Teks Oblat:  CCRR # 5

Kongregasi kita sepenuhnya bersifat misioner. Pelayanan utama kita dalam Gereja adalah mewartakan Kristus dan Kerajaan-Nya kepada orang-orang yang paling terlantar. Kita membawa Kabar Gembira kepada orang-orang yang belum menerimanya dan membantu mereka menemukan nilai-nilai hidup mereka sendiri dalam terang Injil. Di tempat dimana Gereja sudah mapan, para Oblat membaktikan diri bagi kelompok-kelompok yang paling jarang dijangkau oleh Gereja. Di mana pun kita berkarya, perutusan kita terutama adalah bagi orang-orang yang keadaannya berseru membutuhkan keselamatan dan pengharapan yang hanya dapat dipenuhi oleh Kristus. Mereka-lah kaum miskin dengan bermacam wajah; kita berpihak kepada mereka.

Kesaksian:  Pastor Eduardo Nunez-Yepez, OMI - Irlandia

Saat aku diterima sebagai saudara dan sahabat, sebagai sesama, sebagai seseorang yang hanya mencari untuk berbagi, mencinta dan membiarkan dirinya dicintai, saat aku hanya mencari untuk melayani dan bukan dilayani, pada saat demikianlah saya percaya dapat hidup dalam kedinamikan Kerajaan Bapa Yang Berbelaskasih yang diwartakan oleh Yesus.  Tuhan Yesus sendiri yang membuka diriNya sendiri dalam kerendahan hati, dimulai dari kepada seorang pribadi, dan lalu membawa kita untuk mengalami kasih bersamaNya dan dengan sesama.

Aku telah bekerja selama 2 tahun di sebuah komunitas kecil di pinggiran kota Dublin, Bluebell.  Aku dapat menggambarkan komunitas ini sebagai sebuah komunitas yang sederhana, baik hati, pekerja keras, dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Kristiani yang kuat, siap menyambut para misionaris, murah hati dengan waktu dan pelayanan mereka, bersedia membagun komunitas.

Aku harus katakan bahwa dari awal mulanya, yang memikat hatiku adalah penerimaan mereka; aku menemukan bahwa cinta mereka datang dari hati; murni. Mereka menerima aku sebagai seorang anak laki-laki dan seorang saudara.

Meninggalkan negerimu, sahabatmu dan keluargamu, harus belajar bahasa baru sudah tentu merupakah sebuah tantangan besar.  Seringkali aku mengalami takut dan kesepian; aku ada di luar “duniaku”, di luar zona nyamanku.  Tiba-tiba sepertinya engkau berada dalam “kehampaan” dan pada waktu yang sama engkau mengalami “kepenuhan” – kepenuhan yang berupa Tuhan dan komunitas.  Aku percaya dan yakin bahwa komunitas menyelamatkan kita dan membawa kita mengerti kehendak Tuhan dalam segala yang kita lakukan sebagai misionaris; Tanpa komunitas, panggilan Oblatku tidak akan berguna.  Di dalam komunitas Tuhan memanggil kita dan ke dalam komunitas kita diutus.

Satu aspek khusus yang aku hargai dalam komunitas yang kulayani adalah atmosfir kekeluargaan.  Ayat dari Injil Markus terlintas di benakku saat Yesus diberitahu bahwa ibuNya dan saudara-saudaraNya sedang menunggu Dia.  Yesus menjawab mereka: “Siapakah ibuKu dan siapakah saudara-saudaraKu?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekelilingNya itu dan berkata: “Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu!” (Markus 3:31-34)

Dalam komunitas ini aku temukan dinamika baru bagi relasi imam/awam.  Di sini aku bukan seorang imam dan mereka membiarkan aku untuk mengetahuinya.  Di sini aku adalah seorang saudara, saudara mereka yang berjalan bersama mereka, bersama-sama mencari cara-cara baru sehingga setiap anggota keluarga ini merasa dicintai dan diterima.

Yesus menerima kita sebagai saudara; Dialah yang pertama-tama mengatakan tentang Bapa semua orang, BapaNya yang berbelas kasih.  Karena kita semua di dalam Yesus adalah saudara, menjadi mungkin bagi kita untuk hidup dalam “bangunan” identitas yang konstan yang melampaui ikatan tali darah.  Dari pengalamanku, keinginan untuk menjadi “saudara” dan “sahabat” adalah syarat pertama untuk membangun sebuah komunitas.

Pada saat ini, aku dapat menyaksikan perhatian nyata dari para anggota komunitas pada saudara-saudara yang lemah dan sakit.  90% dari anggota aktif komunitas ini adalah orang tua: umur rata-rata mereka adalah 70 tahun.  Mereka memiliki kebijaksanaan dalam hatinya, mereka tahu cara membuat gembira harimu; mereka tahu caranya memberi yang sungguh-sungguh diperlukan.  Hidup bersama mereka, minum teh bersama setelah Perayaan Ekaristi memenuhi jiwaku.  Mereka tidak tahu caranya membiarkan engkau “tidak punya jam minum teh”.  Mereka tidak akan memaafkanmu.  Saat waktu minum teh tiba, mereka akan memastikan engkau dapat secangkir teh yang dibuat manis oleh kehadiran mereka.  Sungguh sebuah pengalaman akan Tuhan yang indah!

Di sekeliling meja jamuan teh, kami meneruskan Perayaan Ekaristi; tidak ada yang ditinggalkan, semuanya diundang, tidak peduli apakah engkau dikenal atau tidak dikenal, tidak masalah jika pada hari itu engkau tidak mengenakan pakaian yang pantas atau engkau sedang bingung.  Mereka menerima diri mereka apa adanya, mereka kenal satu dengan yang lainnya, mereka saling memperhatikan, mereka “menunggu”.  Ya, aku secara sadar mengalami berkomunitas di sini, dalam Ekaristi hidup sehari-hari saat kami berbagi hidup.

Aku sangat terinspirasi dengan cara Yesus memperlakukan para muridNya; Dia memanggil mereka “sahabat” bukan subyek atau pelayan.  Dia tidak pernah merendahkan mereka.  Hanya seseorang yang punya sedikit rasa percaya diri dalam dirinya yang butuh untuk mendominasi orang lain.  Yesus tidak perlu melakukan hal itu.  Dia hidup dalam keyakinan menjadi Putera dari Allah yang mengundangNya untuk membangun tahtaNya atas keadilan bagi laki-laki dan perempuan.  Yesus yakin pada diriNya sendiri; maka satu-satunya otoritas Yesus adalah melayani dan Dia memperlakukan murid-muridNya sebagai sahabat-sahabatNya.

Jika saja ada karakteristik yang mendasar dan fitur utama dalam komunitas Oblat kita, itu hanya akan menjadi “universalitas pelayanan”, dengan satu-satunya niat untuk menjadi “sahabat” – yaitu hanya mencari kebaikan dari saudaraku; hanya membiarkan dia tahu bahwa ia dirindukan, bahwa ia dicintai, bahwa ia dihormati dan diterima.

Sebagai seorang Oblat yang masih membuat jalannya dalam komunitas, aku merasa diundang untuk membagikan secara sederhana pengalamanku bertemu Yesus yang kemudian akan dipraktekkan lewat pelayanan dengan segala keterbatasanku, luka-lukaku, dan kontradiksi.  Karena caraku berelasi dengan sesama, aku merasa diundang untuk menjadi seperti cermin, citra dari bumi baru yang dimaklumkan oleh Yesus.

 

Doa

Bapa Yang Baik, Yang mengasihi segala ciptaan dan Yang ingin berdiam di dalam segala ciptaan, berikanlah kepada kami hati yang mendengarkan, yang mampu untuk beristirahat dalam hati Yesus dan berdetak dengan irama hidupMu.  Tuhan Yesus, Pencinta kehidupan, buatlah hati kami seluas HatiMu; beritahukan kami yang Engkau inginkan dan buatlah itu terjadi dalam tubuh kami.  Kuatkan kami dengan kekuatan KebangkitanMu dan resapkan kami dengan hidul kekal.  Roh Kudus, Tamu yang ditunggu-tunggu, datang dan tunjukkan kepada kami keindahan hidup yang sepenuhnya milik Kristus.  Kepadamu, Maria, Bunda yang senantiasa hadir, kami percayakan hasrat kepenuhan untuk dinyatakan dalam hati banyak orang muda.  Engkau yang menyambut Yang Tak Terbayangkan, bangkitkan dalam diri kami keberanian untuk menjawab “ya” seperti engkau. Amin.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel yang terbit di www.omiworld.org)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.