Novena Panggilan Oblat 2019 (2)

PEKAN DOA PANGGILAN OBLAT, 21-29 MEI 2019

BAGIAN 2: HARI 4 - HARI 6

 

HARI KEEMPAT, 24 MEI 2019

Sukacita (CCRR # 39)

Bacaan Injil:  Lukas 10:17-20

Kemudian ke tujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi namaMu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.  Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.  Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”

Teks Oblat:  CCRR # 39

Komunitas-komunitas kita ditandai dengan semangat kesederhanaan dan kegembiraan. Dengan saling berbagi diri dan apa yang kita miliki, kita mendapat sambutan dan dukungan. Masing-masing membagikan anugerah persahabatan dan bakat-bakat pemberian Allah untuk melayani seluruh anggota komunitas. Semangat berbagai itulah yang memperteguh hidup rohani, perkembangan intelektual dan karya kerasulan kita.  Demi tanggungjawab yang satu akan yang lain, kita mempraktekkan koreksi persaudaraan dan pengampunan dalam suasana kerendah-hatian dan kekuatan  kasih.

Kesaksian: Pastor Giovanni Nova, OMI – Venezuela

“Senantiasa bersukacita di dalam Tuhan”, demikian ditulis dalam Surat untuk jemaat di Filipi.  Kita tahu bahwa kebahagiaan dan sukacita adalah sikap yang pantas ada dalam diri seorang Kristiani; Paus Fransiskus mengingatkan kita akan hal ini.  Bagiku sebagai seorang Oblat, menjadi gembira dan sukacita adalah arti dari Kongregasi kita.  Hal itu menjadi ukuran yang menunjukkan kepadaku apakah aku telah menghidupi panggilanku secara penuh dan apakah aku telah menjawab panggilan Tuhan padaku.  Aku akan menceritakan beberapa peristiwa yang menjadi sumber sukacitaku dan yang telah meneguhkan dan memelihara panggilanku.

Pertemuan dengan saudara-saudaraku, meski tidak selalu mudah, telah menjadi sumber sukacitaku karena aku menemukan keluargaku bersama mereka.  Memang aku ditemani dan didukung, meski tidak terlalu jelas dinyatakan.  Ikatan dan kasih yang hilang karena meninggalkan keluarga seseorang, ditemukan kembali di dalam komunitas yang menerimanya dengan senang hati.

Pengalaman sukacita ini selalu didukung oleh rahmat Tuhan yang terwujud lewat saudara-saudaraku.  Mereka mengajarkanku untuk mencintai, khususnya di saat keletihan dan kepenatan dalam berbagai kesempatan berbeda menghalangiku untuk mencintai.  Konstitusi # 39 mengundang kita untuk menemukan sukacita dan berkat di dalam hidup berkomunitas, karena para saudara kita itu diubah menjadi sumber dan berkat untuk melanjutkan menghidupi petualangan hidup misionaris.

Tanpa ragu aku katakan bahwa aku memiliki masa-masa godaan datang untuk keluar dari komunitas, tetapi pada akhirnya aku menyadari bahwa di luar rumah kami, aku tak akan menemukan dukungan seperti yang diberikan oleh saudara-saudaraku.

Bertemu dengan orang-orang sederhana yang dari padanya aku belajar banyak untuk bertumbuh sebagai pribadi dan sebagai Oblat, juga menjadi tempat aku mengalami sukacita.   Mereka adalah wajah-wajah Kristus bagi waktu dan kekuatanku, yang tanpa ragu juga menyita pikiranku, tetapi pada akhirnya, mereka memberiku kepuasan penuh karena aku menyadari bahwa lebih berharga untuk menyita pikiranku, memberikan waktuku dan perhatianku bagi satu sama lainnya tanpa mengharapkan hasil yang hebat, tetapi cukup hanya memberikan diri satu dengan yang lainnya.  Hanya dalam waktu-waktu itulah aku merasa sukacitaku menjadi seorang Oblat.

Sukacita juga berarti kemampuan untuk mencintai – satu hal yang Tuhan berikan padaku – dan juga yang membuatku memberikan diriku sedikit demi sedikit dan setiap hari, khususnya di saat aku mengalami kesusahan-kesusahan besar dan di saat aku merasa tidak ada gairah lagi untuk melanjutkannya.  Di saat itulah, dengan kerendahan hati dan di dalam doa, aku mengenali Tuhan yang membuat diriNya hadir, meski rasanya Dia sepertinya absen.  Hal ini membuat hatiku dipenuhi harapan, hatiku dipulihkan, dan aku merasakan sukacita.

Aku selalu harus bersyukur pada Tuhan untuk memanggilku menjadi seorang Oblat, untuk memastikan aku bahagia setiap harinya, sehingga hidupku berguna dan penuh dengan sukacita Oblat.

Doa:

Tuhan Yesus, berikan kami kebebasan hati yang diberdayakan oleh hembusan Roh, untuk mewartakan keindahan pertemuan denganMu.  Bantu kami untuk merasakan kehadiranMu yang mesra.  Buka mata kami, buatlah hati kami terbakar, agar kami melihat diri kami “terbakar dengan karya misi”.  Biarkan kami bermimpi denganMu akan kepenuhan hidup manusia, senang untuk dipenuhi oleh kasih, untuk bangun, untuk pergi, dan untuk tidak menjadi takut.  Perawan Maria, saudara dalam iman, buatlah kami dengan cepat berkata “Inilah aku” dan aturlah bagi kami perjalanan seperti yang kau lakukan, untuk menjadi pewarta kasih Injil. Amin.

 

HARI KELIMA, 25 MEI 2019

Pelayanan Kaum Miskin (CCRR # 08)

Bacaan Injil: Lukas 4:16-19

Ia datang ke Nazareth tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.  KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukaNya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada oragn-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Teks Oblat:

Aku baru saja pulang dari memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit untuk seorang yang tinggal di Jalan de l”Echelle.  Meski aku sudah terbiasa dengan sambutan yang kuterima di mana-mana setiap kali aku memberikan Sakramen bagi orang miskin, tetapi kali ini ungkapan terima kasih yang kudapat begitu menyentuh dan universal sehingga aku rasa aku harus menyebutkannya di sini sekali lagi.  Orang-orang berlomba untuk memastikan aku tidak terjatuh.  Mereka berdiri di depan pintu untuk menerima berkatku.  Mereka terkesima dan mengungkapkan rasa bahagia dan terima kasih dengan suara keras saat melihat aku datang untuk mengunjungi daerah yang menyedihkan ini.  Di rumah si sakit, semua tetangga dekatnya telah berkumpul untuk menyambutku.  Yang sakit sangat bersukacita melihat seorang uskup tidak terhalang datang ke daerah orang miskin.  Sedikit yang ibu ini tahu bahwa aku sama bahagianya seperti dia kala aku menghampiri anak-anakku yang paling miskin dan dapat memenuhi tugas-tugas pelayananku di antara orang-orang yang tidak beruntung.  Mereka lebih menarik di mataku dibandingkan orang-orang kaya dan yang paling punya kuasa di dunia ini.

Kesaksian: Pastor Kim Ha Jong Vincenzo Bordo, OMI - Korea

Karena berkeinginan untuk mengikuti Yesus, aku masuk Seminari Diosesan di Viterbo.  Tetapi semakin aku maju dalam studi teologi, semakin aku sadari bahwa jalanku berbeda, aku ingin mewartakan kasih Tuhan kepada kaum miskin di negara-negara yang belum mengenal Dia.  Saat aku bertemu dengan OMI dan karismanya untuk “mewartakan Injil kepada kaum miskin”, aku memutuskan untuk masuk ke Kongregasi ini dan mempersembahkan seluruh hidupku bagi kaum miskin.  Maka di tahun 1990, aku mendarat di Korea.

Dengan bantuan seorang Imam Korea, aku menemukan sebuah kota dengan tantangan marginal yang besar.  Tahun 1992 aku tiba di Kota Seong Nam, sebuah kota metropolis dengan satu juta penduduk yang letaknya di pinggiran Kota Seoul.  Aku mulai mengunjungi keluarga-keluarga miskin di perkampungan miskin di kota itu.  Aku ingat dalam salah satu kunjunganku itu, aku bertemu dengan seorang laki-laki tua lumpuh yang tinggal di lantai dasar.  Aroma di tempat yang kecil dan agak gelap itu sudah membuatku merasa sakit.  Bapak tua yang lumpuh itu bercerita: saat ia muda, ia mengalami kecelakaan saat bekerja yang membuatnya lumpuh.  Tinggal sendirian dan tidak mampu secara ekonomi, ia memulai cobaan beratnya.  Pada awalnya orang-orang  membantunya.  Tetapi lama-kelamaan, mereka mulai melupakannya.  Ia makan kalau ada seseorang yang ingat untuk membawakannya makanan.  Ia menghabiskan setiap harinya sendirian dan  melakukan kebutuhan fisiologisnya di gubuk itu.  Di ruangan yang setengah gelap, kotor, bau dan penuh dengan sampah, aku mendengarkan dia bercerita selama 2 jam.  Aku mencoba membereskan ruangan itu dan menyiapkan makanan.  Sebelum pergi, aku menghampiri dan memeluk dia.  Pada saat itu, bau menyengat kencing dan kotoran langsung membuatku ingin muntah.  Tetapi pada saat yang bermakna itu, aku mendengar suara yang berkata kepadaku: “Jangan takut, ini Aku.”  Sejak saat itu, yakin akan perwahyuan yang luar biasa itu, aku mulai petualanganku bersama kaum miskin dan terlantar dalam masyarakat.

Pada tahun 1993, dengan bantuan Paroki yang terdekat, kami mulai pelayanan pemberian makanan setiap hari untuk kaum miskin dan orangtua yang hidup sendirian yang dinamakan “Rumah Damai”.

Pada tahun 1998, krisis ekonomi yang serius melanda Timur Jauh.  Di Korea, hari demi hari, ribuan orang mulai kehilangan pekerjaan - tanpa gaji yang dapat mendukung keluarga mereka.

Diberikan panggilan baru dan lebih mendesak yang menusuk hati nurani kami, dengan bantuan beberapa awam yang baik dan murah hati, kami memulai karya pelayanan “Rumah Anna”.  Kami mulai dengan pelayanan makan malam di sebuah gudang tua yang kecil, terabaikan, dan kotor.  Paroki terdekat dengan senang hati membuatnya tersedia untuk kami.  Kami hanya dapat menyediakan 80 porsi makanan, tiga kali dalam seminggu.

Sekarang “Rumah Anna” mampu menyediakan 550 porsi makanan setiap harinya, juga menyediakan jasa mandi, potong rambut, dan pembagian pakaian, kesemuanya itu adalah untuk menjawab kebutuhan dasar dari mereka yang tinggal di jalanan. Dalam perjalanan panjangku bersama dengan kaum miskin, aku belajar sangat banyak dari mereka.

Mereka mengajarkanku bahwa hidup adalah sebuah karunia, meski ada kesusahan dan masalah.  Aku banyak menyaksikan bunuh diri di kalangan orang berada, tetapi aku tidak pernah menemukan kasus bunuh diri pada kaum miskin.  “Hidup adalah karunia berharga,” itu yang selalu mereka katakan padaku.  Mereka juga mengajarkan padaku bahwa penderitaan bukanlah hukuman dari Tuhan tetapi sebuah kesempatan bagi pertumbuhan manusia dan imannya.  Sekali kita mengalami rasa sakit, kita tidak akan menjadi sama lagi: mungkin kita menjadi lebih baik dan dimurnikan oleh rasa sakit itu, atau, kita menjadi marah dan lebihtertekan lagi.  Akhirnya, kaum miskin membantuku untuk menemukan wajah lain dari Tuhan, sebuah kehadiran yang baru dan lebih otentik dari Tuhan.  Ya, dalam hidup yang panjang ini, 28 tahun bukanlah rentang waktu yang pendek.  Dalam rentang waktu tersebut, berdampingan dengan kaum miskin, aku telah bertemu Tuhan bersama dengan mereka.  Allah itu Kasih dan aku bersaksi untuk hal ini.

Doa

Bapa Yang Berbelaskasih, yang telah memberikan PuteraNya untuk penebusan kami dan yang selalu menopang kami dengan karunia-karunia RohMu, berikanlah kepada kami komunitas Kristiani yang hidup, bersemangat dan sukacita, yang menjadi sumber-sumber hidup persaudaraan.  Bangkitkan dalam diri kaum muda semangat untuk mempersembahkan diri mereka bagiMu dan bagi pewartaan Kabar Baik.  Bantu mereka dalam usaha-usaha untuk mempersembahkan katekese panggilan yang memadai dan jalan panggilan yang khusus.  Berikanlah kepada mereka kebijaksanaan dalam discernment utama atas panggilan  mereka,  sehingga dalam segalanya hanyalah keagungan cintaMu yang berbelaskasih yang bersinar terus.  Maria, Bunda dan guru Yesus, jadilah pengantara bagi setiap komunitas Kristiani sehingga karena campur tangan Roh Kudus yang membuatnya menjadi berbuah, komunitas kami dapat menjadi sumber panggilan-panggilan sejati yang melayani orang-orang kudusNya. Amin.

 

HARI KEENAM, 26 MEI 2019

Menjadi Saksi (CCRR # 09)

Bacaan Kitab Suci:  Kitab Kisah Para Rasul 1:6-8

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” JawabNya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya.  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Teks Oblat:  CCRR # 09

Sebagai anggota Gereja profetis, para Oblat harus menjadi saksi keadilan dan kekudusan Allah, sambil tetap sadar atas kebutuhan dirinya akan pertobatan.  Kita memaklumkan kehadiran Kristus yang memerdekakan dan dunia baru yang dilahirkan dari kebangkitan-Nya. Kita mendengarkan dan menyuarakan seruan orang-orang yang tak bersuara;  seruan kepada Allah yang menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahta mereka dan yang mengangkat yang hina dina (lih. Luk 1:52). Kita melaksanakan misi profetis ini dalam persekutuan gerejani, selaras dengan pedoman hierarki dan bergantung kepada para pimpinan kita.

Kesaksian:  Pastor Giovanni Zevola, OMI – China

“Engkau akan menjadi saksi sampai akhir zaman” adalah kata-kata yang menemaniku selama tahun-tahun hidup misionaris di berbagai negara, budaya dan agama yang paling beragam.  Yang menjadi pusat perhatian oleh karenanya adalah kata “saksi” dan jika terus membacanya, “hingga akhir zaman”, yang bagi masing-masing dari kita  punya wajah dan cerita yang khusus.  Inilah hasrat, semangat menyala-nyala dan gairah dari Eugenius sendiri: “keinginan suci untuk memeluk luasnya dunia” seperti yang ditulis dalam Prakata Konstitusi pertama kita.

Saksi dari apa?  “Dari yang kita dengar dan lihat, dari yang kita kontemplasikan dan jamah.  Dari hal-hal itulah kita menjadi saksinya”; Maka dapat dikatakan bahwa kita menjadi saksi yang mencakup segalanya yang merefleksikan “seluruh dunia” dari pengalaman batin kita akan “cinta pertama” (dicintai oleh Tuhan) dan menceritakan pertemuan nyata kita dengan mereka yang  telah menjadi sesama kita dalam saat kita melangkah kepada akhir zaman dengan melampaui segala batas.

Berikut adalah kesaksian misionarisku yang bermula dari “Yerusalem” (segala yang dikenal dan diketahui), melewati “Samaria” (perbedaan dan yang asing) untuk mencapai akhir zaman.

Aku pergi dari rumah pagi-pagi untuk bersepeda.  Perhentian pertama: aku mencapai pusat Roundabout (sebuah organisasi sosial) untuk menghadiri pembukaan toko mereka yang baru.  Ada banyak orang di sana, kebanyakan orang-orang China dan mereka yang punya relasi dengan organisasi-organisasi sosial lokal lainnya.  Becky, Presiden Roundabout, datang kepadaku dengan senyum, dan setelah menciumku (dalam gaya Italia) berkata kepadaku: “Giovanni, mengenai donasi, aku sudah menemukan cara untuk memberikannya kepadamu tanpa ada masalah.”  Sekolah Inggris di Beijing telah menggalang cukup banyak dana untuk pusat edukasi anak-anak migran kami, juga mereka mengirimkan kepada kami murid-murid mereka untuk melakukan pelayanan sukarela di setiap Sabtu.

Perhentian kedua:  mengunjungi  toko Jenny Wang,  tempat aku mendapatkan makanan-makanan yang diperlukan saat aku rindu makanan Mediteranea (minyak zaitun, pasta, dan anggur); kali ini aku bertemu langsung dengan si pemilik toko. “Jenny, sudah lama aku ingin bicara denganmu.  Aku berencana ingin membuka bank makanan.  Apakah engkau tertarik?”  Setelah melihat brosur kegiatan tersebut, dengan tersenyum ia berkata kepadaku: “Giovanni, aku senang bisa membantumu.  Bagaimana jika aku minta anak laki-lakiku menjadi tenaga sukarela di sana selama musim panas?  Apakah engkau perlu baju dan mainan untuk anak-anak itu?”   Sekarang kita sedang ada dalam bisnis...., “bisnis amal”.  Demikianlah!

Perhentian ketiga: dalam perjalanan menuju toko lokal di desa Gucheng untuk menikmati sup daging keledai.  Seorang ibu berteriak padaku: “Giovanni, stop sebentar....”  Istri dari Ely, seorang Palestina yang bekerja di Mercedes Benz mengingatkanku bahwa mereka akan segera meninggalkan China: “Kami punya banyak baju dan barang-barang lainnya; Bisakah engkau katakan pada kami apa yang dapat jadi berguna untuk karya pelayananmu?  Dengan senang hati kami mau membantumu.”  Bola mata birunya menarik perhatianku; aku tak tahu apakah bola mata itu mengingatkanku pada langit yang biru atau laut biru yang dalam...

Apa yang harus kukatakan lagi?  Dalam perjalanan misionaris kita, apakah kita dapat mengenali kebaikan dalam cara-cara lain, dan menjadi saksi bukan saja dari apa yang kita berikan, tetapi juga dari apa yang kita terima dalam cara-cara baru dan mengejutkan?

Tentu tidaklah mudah.  Hal demikian tentulah sangat menantang, dan di banyak waktu bahkan hal demikian menjadi mengasyikkan.  Lalu, aku meneruskan mengayuh sepedaku, menunggu kejutan-kejutan di lain waktu.

Doa

Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik, Engkau menyerahkan hidupMu bagi keselamatan kami semua; berikanlah kepada kami kepenuhan KebenaranMu dan buatlah kami mampu untuk menjadi saksi akan kebenaranMu dan mengkomunikasikannya kepada sesama kami.  Tuhan Yesus, berikanlah Roh KudusMu kepada semua orang, khususnya kepada kaum muda yang Engkau panggil masuk ke dalam pelayananMu; Terangi pilihan-pilihan mereka; Bantu mereka dalam kesulitan-kesulitannya.  Buatlah mereka siap dan berani mempersembahkan hidupnya seturut dengan teladanMu sehingga banyak lagi orang yang dapat bertemu denganMu, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Amin.

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel yang terbit di www.omiworld.org)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.