Novena Panggilan Oblat 2019 (3)

PEKAN DOA PANGGILAN OBLAT, 21-29 MEI 2019

BAGIAN 3: HARI 7 - HARI 9

 

HARI KETUJUH, 27 MEI 2019

Misionaris (CCRR # 04)

Bacaan Injil: Markus 16:15-18

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.  Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Teks Oblat:  CCRR Tahun 1818, Bagian I, Pasal 1, Paragraf 3

Karena sekarang jumlah kita masih kecil dan melihat kebutuhan mendesak dari orang-orang di sekitar kita,  kita harus membatasi, untuk saat ini, jangkauan semangat kita  pada orang-orang miskin di kampung-kampung sekitar, namun, dengan hasrat mulia,  kita  harus  membentangkan diri merengkuh seluruh bumi.

Kesaksian:  Pastor Antonio Messeri, OMI – Uruguai

Tidaklah mudah untuk mengekspresikan dengan kata-kata realitas dari dimensi misionaris.  Jika kita pikirkan tentang hal itu, maka kata itu sama seperti hidup itu sendiri, yaitu kesaksian tentang realita.  Dalam pengalamanku sebagai seorang misionaris di Uruguai (aku sudah melayani selama 15 tahun dan 10 bulan di sini), aku dapat katakan bahwa menjadi seorang misionaris itu secara sederhana berarti hidup dengan menjawab panggilan dari Tuhan dan sesama.  Panggilan yang memintamu “keluar” dari dirimu untuk bertemu dengan sesama.  Sebuah pengalaman yang tumbuh lagi dan lagi, yang memberi karakter pada hidupmu, cara hidupmu, dan relasi dengan sesama.

Adalah normal bawah semuanya merupakan sebuah perjalanan, bukan sesuatu yang sudah pasti.  Dimensi misionaris tumbuh bersama dengan orangnya.  Jika engkau memperhatikan yang ada di sekelilingmu, jika engkau merasa ditemani dengan kehadiran Yesus, menghidupi misi adalah engkau yang berkata “ya” dan menyelam ke dalam kehidupan.

Mengapa sekarang aku berbicara tentang pengalaman misionaris?  Karena bukan hanya 15 tahun dan 10 bulan aku menjadi misionaris, tetapi sudah 28 tahun aku menaruhnya di dalam hatiku.

Semuanya bermula dari pertemuanku dengan misi saat aku berusia 21 tahun; lalu hal itu menjadi pusat discernment-ku dan akhirnya menjadi hidupku.  Di saat realita mencapai bagian terdalam dari dirimu, ia akan menjadi mesin yang menyala dan menggerakkan segalanya.

Di Uruguai, aku belajar untuk “melebur diriku” dengan orang banyak, melihat realita dengan mata baruku, bertanya pada diriku sendiri mengapa terjadi demikian dan bukan seperti yang kubayangkan.  Memang benar bahwa misionaris itu adalah panggilan seseorang untuk memberi; ia diutus  dan diundang untuk menolong; di atas segalanya, ia dipanggil untuk berdialog dengan sesama, dengan budaya mereka, dengan dunia mereka.

Untuk menghidupi dimensi misionaris bagiku berarti pertama-tama menjadi ada, menjadi di pinggir dan bukan di tengah, memiliki perilaku mendasar dari melayani, dan, sesekali, bahkan hanya beberapa kata dapat menolong.

Bagi kita sebagai Oblat, karya misi adalah hidup kita seperti yang dikatakan oleh St. Eugenius, dan harus dihidupi dalam 2 dimensi: dimensi apostolik dan dimensi komunal.  Inilah jalan yang aku ikuti dan aku mengundang yang lainnya untuk ada bersamaku di jalan ini;  Sesekali memang sedikit sulit dan kering tetapi membuatmu penuh dengan sukacita.  Lebih lagi, itulah jalan yang sama yang dilalui oleh Yesus yang terus menjadi teladan dan tujuan dari setiap misionaris.

Doa

Allah, Bapa segala ciptaan, kami telah menerima dariMu kehidupan sebagai karunia yang luar biasa: buatlah kami murah hati dalam menjawab panggilanMu untuk berbagi bersama saudara-saudara kami “roti” yang telah kami terima.  Kristus Yesus, Saudara kami, yang telah menjadi bagi kami Roh Kehidupan, perbaharuilah mukjizat penggandaan roti dan buatlah keberadaan kami menjadi sebuah karunia dan syukur yang tak berkesudahan.  Roh Kudus, Sahabat Setia dalam perjalanan kami, bantu kami dengan kekuatan cintaMu untuk mewartakan dan memberikan kesaksian di jalan-jalan di dunia ini tentang keindahan hidup panggilan.  Allah Tritunggal Mahakudus, Kasih yang kekal dan tak berkesudahan, bantulah komunitas-komunitas kami untuk menyambut Injil Panggilan, untuk berdoa dan bersukacita dengan kehadiran kaum muda yang melangkah maju dalam pelayanan tahbisan dan hidup bakti.  Amin.

 

HARI KEDELAPAN, 28 MEI 2019

Kemantapan (CCRR # 29)

Bacaan Injil:  Markus 13:9-13

Tetapi kamu ini, hati-hatilah!  Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.  Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.  Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.  Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.  Kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu.  Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.

Teks Oblat:  Surat kepada Uskup Arbaud di Gap, 13 Agustus 1826

Kaul-kaul kita sama kekalnya seperti kaul-kaul yang paling mulia di dunia.  Pada saat kita berkaul Kemantapan, kita berkeinginan untuk mengharuskan diri kita hidup dan mati bagi Kongregasi yang telah menerima komitmen kita.  Bukan terserah pada pribadi untuk menjalankannya sesuai dengan rencana dan pola tingkah masing-masing - sedikitnya untuk melihat kemungkinan bagi dispensasi.  Hal demikian tidaklah diperbolehkan baik sebelum maupun setelah pengucapan Kaul.  Dalam Kongregasi kita, dispensasi dianggap sebagai bencana besar sehingga kita sebaiknya berpikir bahwa hal demikian tidak akan pernah terjadi, apalagi sekarang setelah kita diakui oleh Gereja dan ditempatkan sejajar dengan para Lazaris, Pasionis, dan Redemptoris....

Kesaksian:  Pastor Cristian Fini, OMI – Australia

Kita semua memulai sesuatu yang baru: olahraga, belajar bahasa, atau ikut program penurunan berat badan, dan tidak pernah sungguh-sungguh menyelesaikannya.  Kegembiraan dan keinginan telah memotivasi kita untuk membayar biayanya, mendaftarkan diri dan membeli barang-barang, tetapi setelah beberapa saat yang pendek, setelah ketertarikan kita berubah dan biaya pribadi yang dikeluarkan untuk kegiatan itu ternyata melebihi keuntungan yang kita dapat, maka komitmen kita menjadi goyah.

Ada beberapa contoh keberhasilan kita berkomitmen; kegembiraan dan keinginan berubah menjadi antusiasme dan semangat menyala-nyala.  Tak peduli tantangan apa pun yang kita hadapi, kita dapat melampauinya dan bertahan.  Komitmen seumur hidup yang penting pada panggilan seperti dalam hidup bakti, perkawinan, imamat, dan hidup sendirian membutuhkan kemantapan, untuk membuat kita mampu melampaui tantangan-tantangan hidup yang tak terelakkan.

Jika hampir semua Kongregasi Religius mengucapkan 3 Kaul: Kemiskinan, Kemurnian, dan Ketaatan, maka Oblat Maria Imakulata memiliki Kaul yang keempat: Kemantapan.  Bagi para Oblat, Kaul Kemantapan memiliki 2 efek yang penting: (1) Kaul Kemantapan adalah sebuah keputusan yang sadar dari seseorang bahwa dia telah hijrah dari kesenangan dan keinginan kepada antusiasme dan semangat yang menyala-nyala bagi Karisma Oblat; (2)  Kaul Kemantapan juga menciptakan rasa stabilitas bagi Kongregasi yang dikatakan St. Eugenius sebagai “keluarga yang paling bersatu di dunia”.

Para Oblat bukanlah asosiasi pribadi-pribadi tetapi “menghimpun dalam komunitas apostolik, para imam dan bruder yang mengikatkan diri kepada Allah melalui kaul-kaul religius.” (CCRR # 01)    Karena OMI dibentuk oleh sekelompok Imam Diosesan, maka Aturan atau kewajiban dari Kaul Kemantapan mendahului Kaul-Kaul lainnya.

Pada awalnya, dalam Aturan tahun 1816, di saat lima Oblat pertama berkumpul, Aturan ini mencakup juga “Para misionaris harus berketetapan, di saat mereka memasuki Serikat ini, gigih berjuang untuk tetap ada di dalamnya selama hidupnya”.  Di kemudian hari, hal ini menjadi Kaul di dalam Aturan tahun 1818; selanjutnya, keempat Kaul dimasukkan ke dalam Aturan pada saat Kongregasi disetujui Bapa Suci pada 17 Februari 1826.  Meski Kemantapan dapat diaplikasikan pada Kaul-Kaul yang lain: Kemiskinan, Kemurnian, dan Ketaatan, Kaul Kemantapan menjadi penegasan secara publik bahwa setiap Oblat berkomitmen untuk menciptakan “keterikatan yang mendalam kepada keluarga religius kita”.

Doa

Bapa Yang Kudus, Sumber Keberadaan dan Kasih yang konstan, Yang menunjukkan pada pria dan wanita kemegahan kemuliaanMu, dan menanamkan benih-benih panggilanMu ke dalam hati mereka, jangan biarkan siapa pun, yang karena kelalaian kami, mengabaikan atau kehilangan karunia ini tetapi biarkan kami semua berjalan dengan penuh kemurahan hati menuju realisasi cintaMu.  Tuhan Yesus, Yang dalam peziarahanMu melewati jalan-jalan di Palestina, memilih dan memanggil para rasul dan mempercayakan kepada mereka tugas mewartakan Injil, memberi makan orang beriman, merayakan ibadah Ilahi, berikanlah – bahkan sekarang ini – agar GerejaMu terus menginginkan banyak imam suci, yang membawa bagi semua orang buah-buah dari kematian dan kebangkitanMu.  Perawan Maria, puteri muda Israel, topanglah kami dengan cinta keibuanmu, juga kaum muda yang kepadanya Bapa membuat SabdaNya terdengar; topanglah mereka yang telah dikuduskan.  Biarlah kami mengulang bersamamu “Ya” dari karunia yang membahagiakan dan tak terbatalkan. Amin.

 

 

HARI KESEMBILAN, 29 MEI 2019 – PERAYAAN BEATO JOSEPH GERARD

Cinta Bagi Maria (CCRR # 10)

Bacaan Injil Lukas 1:45-48

“Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. “  Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya.  Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.”

Teks Oblat: Surat kepada Pastor Tempier, 22-24 Desember 1825

Marilah kita memperbaharui diri kita khususnya dalam berdevosi kepada Perawan Terkudus dan memberikan diri kita layak menjadi Oblat Maria Imakulata.  Inilah paspor ke Surga!  Kenapa kita tidak memikirkannya lebih dulu?  Sebuah sumpah yang mulia dan menghibur bagi kita untuk dikuduskan baginya secara khusus dan untuk menanggung namanya.  Oblat Maria!  Nama ini memuaskan hati dan telinga.

Kesaksian:  Pastor Edicarlos Alves, OMI - Brazil

Sewaktu aku masuk Kongregasi, seorang imam tua yang bijaksana memberikan aku tiga nasihat.  Salah satu nasihat itu adalah: “Kuduskan panggilanmu pada Maria”.  Tahun-tahun berlalu, kami menjalani retret untuk persiapan Kaul Kekal.  Saat Oraison, aku melihat gambar kecil dari Madonna di ruang itu, dan seperti di dalam sebuah film, aku melihat seluruh cerita hidupku, sepertinya aku tiba-tiba mendapat rahmat untuk kembali ke masa laluku.  Aku melihat diriku selagi kecil: doa keluargaku, doa orang banyak, Bunda Yang Berdukacita.

Dalam waktu itu, aku ingat akan kata-kata dalam Injil Yohanes: “Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kataNya kepada murid-muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19:26-27)  Kata-kata ini bergaung di dalam hatiku, memberikanku kenyamanan dan sukacita.

Aku tinggalkan retret itu dengan sintensis hidupku: Bunda selalu ada di antara umatku, menemani perjuangan mereka, mimpi-mimpi dan harapan mereka, bergembira bersama mereka seperti di Kana yang di Galilea.

Dalam komunitas kami, Bunda Yang Baik hadir.  Dialah yang tersenyum pada Bapa Pendiri kita pada saat Bapa Pendiri membutuhkan penegasan untuk melanjutkan karya misinya, untuk menaikkan karisma yang baru di dalam Gereja.  Dialah yang sama yang sekarang ini mengawasi kita, menjaga kita – seluruh keluarga Oblat.

Dari pengalaman yang tak terlupakan itu, lahirlah wawasan bagi tahbisan imamatku:  Seperti Maria yang dekat dengan semua salib sejarah.  Sejak itu, dalam masa suka maupun masa terombang-ambing, aku yang sekarang hidup di pinggiran kota peringkat kedua yang paling miskin dan paling banyak kejahatannya, aku  konsentrasikan karya pelayananku kepada Bunda Yang Baik, karena Bunda adalah penjaga panggilan Oblat kita.  Satu dalam doa.

Doa

Perawan yang selamanya dipersembahkan kepada Tuhan, kami persembahkan hati kami.  Ajar kami Cinta.  Perawan yang rendah hati dan penuh perhatian, penjaga Sang Sabda, bukalah pikiran kami supaya kami dapat mengetahui cara menyambut Kebenaran.  Perawan yang Berdoa, bersamamu kami berdoa: buatlah kami menjadi saksi-saksi keindahan panggilanNya.  Bunda yang Berziarah, yang berjalan dalam langkah-langkah Yesus, penuntun sejati kami, tunjukkan pada kami jalan kepada Injil.  Perawan, hamba Allah yang patuh, bantu kami untuk berkata “ya”, tanamkan hal ini pada tanah subur hati kami sehingga tersentuh oleh keindahannya, kami dapat menghasilkan buah hidup baru.  Amin.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel yang terbit di www.omiworld.org)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.