Romo Daniel LeBlanc, OMI ditunjuk untuk menjadi wakil Tarekatnya, Oblat Maria Imakulata, duduk di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).  Karya Romo Daniel di forum dunia ini tentulah membawa pengaruh positif bagi hidup dari jutaan penduduk dunia.  Mau tak mau, Romo Daniel masuk dalam lingkungan kerja yang hiruk-pikuk dan penuh beban.  Banyak waktunya dalam sehari dihabiskan untuk rapat dengan orang-orang dari berbagai bagian dunia ini untuk mengkaji masalah-masalah penting yang sedang terjadi  di dunia ini: pemberantasan kemiskinan, memperkenalkan hak-hak suku pribumi (indigenous people) , melawan perdagangan manusia khususnya perempuan dan anak-anak, dan mengurangi dampak dari pemanasan global.

Untuk waktu yang lama,  Romo Daniel berkarya di Komisi JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation – Keadilan, Perdamaian, dan Integritas Ciptaan) OMI di Amerika Latin.  Sebagai Anggota yang lalu menjadi Ketua Komisi ini, Romo Daniel banyak membantu korban-korban terorisme, menyelidiki kuburan massal dan membawa para pelaku kejahatan ini untuk dapat diadili.  Romo Daniel sendiri menjadi korban serangan teroris.  Pada 5 Juni 1992, bom seberat 600 kilo yang dibawa sebuah mobil meledak di depan sebuah stasiun televisi yang letaknya tepat di seberang Rumah Provinsial OMI.  Romo Daniel saat itu sedang tidur.  Beliau menderita luka-luka serius yang membuatnya berhari-hari tidak sadarkan diri.

“Waktu itu mereka sudah katakan saya mati, tetapi ternyata pernyataan itu terlalu buru-buru.  Ada 70 ribu orang yang terbunuh selama 20 tahun perang sipil di Peru, tetapi saya tidak termasuk satu di antaranya…,” begitu Romo Daniel berujar sambil berkelakar.  Dari kejadian bom bunuh diri itu, Romo Daniel kehilangan sebelah penglihatannya.

Pertengahan September lalu, Romo Daniel datang ke Jakarta untuk mengikuti Pertemuan VIVAT International di Ruteng, Nusa Tenggara Timur.  VIVAT International adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang beranggotakan 7 Kongregasi Imam dan Suster (SSpS, SVD, MSHR, OMI, CMS, CSSP, MCC).  LSM ini bergerak dalam bidang keadilan sosial, pembangunan, perdamaian, dan ekologi.  Beruntung Tim Website OMI Indoensia mendapat kesempatan bertemu dan berbincang santai dengan Romo Daniel beberapa jam sebelum keberangkatannya pulang ke New York.  Berikut adalah cuplikan dari bincang-bincang tersebut:

 

 

Tentang lingkup kerja seorang Oblat di PBB:

“Saya bekerja dalam 2 area: Pertama, bekerjasama sebanyak mungkin dengan seluruh Oblat di dunia ini.  Hal ini tidaklah mudah dan akan menjadi lebih mudah jika mereka kenal saya.  Kalau sudah saling kenal, maka kami bisa mulai berkomunikasi dan saling bertukar cerita tentang orang-orang yang dilayani mereka di bagian-bagian dunia ini.  Area kedua lebih kepada peranserta langsung relasi saya dengan LSM-LSM dalam beragam masalah.  Ada 12 orang wakil Tarekat di PBB dan hanya saya sendiri seorang Oblat.  Kami bekerja dalam bidang-bidang tugas yang berbeda.  Bidang tugas saya lebih ke pembangunan, sosial, imigrasi, suku pribumi, pembangunan berkelanjutan, dan pembiayaan pembangunan.  Selain itu, saya juga menjadi Sekreataris atau Ketua dari bermacam-macam Komisi.  Hari-hari saya penuh dengan rapat, selalu begitu, tetapi amat sangat menarik.  Seperti untuk Indonesia, kami banyak membicarakan tentang  efek pertambangan bagi masyarakat setempat.  Secara ekonomi, sumber dari bumi terus diambil, masyarakat menjadi miskin dan bertambah miskin, bahkan kesehatan mereka pun terancam.  Orang-orang yang bekerja di pertambangan cenderung memiliki masa hidup lebih pendek.  Ini baru permasalahan di Indonesia.  Kami bekerja bersama para Fransiskan dan Imam SVD.  Kami juga akan bekerja lebih erat lagi untuk masalah imigrasi, khususnya perdagangan manusia.  Kebanyakan yang diperdagangkan adalah perempuan, tetapi ada juga laki-laki yang diperdagangkan, baik dari Indonesia ke luar negeri, maupun sebaliknya.”

Tentang mulai berkarya di PBB:

“Saya mulai berkarya di PBB sejak tahun 2004.  Sudah cukup lama, ya…. Tetapi saya menikmatinya.  Saya ditempatkan di PBB karena situasi di Peru – tempat saya berkarya sebelumnya – tidak mendukung.  Saya lalu belajar lagi, bidang Hukum.  Saya sendiri adalah seorang Pengacara.  Waktu itu, saya coba praktek kerja di PBB, dan ternyata, setelah selesai masa praktek kerja itu, Kongregasi malah menugaskan saya untuk menjadi wakil OMI di PBB.  Itulah cerita saya bisa berada di PBB.”

“Seperti yang digariskan oleh Bapa Pendiri OMI, St. Eugenius de Mazenod, kami harus menjadi advokat bagi hak-hak kaum miskin, untuk ada hadir di tempat-tempat diambilnya keputusan-keputasan yang mempengaruhi banyak jiwa.  Perutusan saya di PBB adalah sebuah pemenuhan atas salah satu mata Konstitusi OMI: kami menjadi penyuara kaum miskin, dan PBB adalah tempat yang kami yakini dapat mendengarkan suara-suara mereka. ”

“Saya senang berkarya di PBB bersama sejumlah besar orang, perwakilan LSM, perwakilan negara-negara di dunia ini yang bersatu dalam satu wadah.  Kami memang tidak selalu setuju satu dengan yang lainnya, tetapi terkadang para Duta Besar yang bekerja bersama kami mengatakan bahwa mereka setuju dengan wacana yang kami kemukakan, tetapi mereka harus menjalankan apa yang menjadi kebijakan Pemerintahnya.  Maka terkadang kami tidak sepaham, tetapi tetap bersahabat baik dengan para Duta Besar dari berbagai negara.  Sebagai Imam Katolik, saya memilihi situasi yang menarik, karena banyak Duta Besar dari negara Muslim, yang datang dari keluarga berkecukupan di negaranya, mengecap pendidikan di sekolah-sekolah Katolik.  Maka, para Duta Besar ini dapat berelasi dengan mudah bersama saya.  Meski mereka bukan seorang Katolik, mereka mengetahui dan memahami Katolik, sehingga kami dapat bekerjasama dengan sangat dekat.  Itulah nilai positifnya.”

 

 

Tentang pengalaman yang tak terlupakan:

“Yang paling besar adalah menjadi terbiasa untuk menunggu dalam waktu lama buat sesuatu untuk terjadi.  Kami bekerja keras untuk jangka yang panjang.  Seperti misalnya, berkarya bagi suku-suku pribumi.  Saya ikuti keadaan mereka sejak awal, kami ajukan hak-hak bagi mereka, dan kami harus menunggu hingga 23 tahun untuk menjadi kenyataan.  Sungguh sebuah waktu yang panjang.  Kami bisa berbicara di depan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB, terkadang malah kami mengemukan saran-saran.  Seringnya, usulan kami tidak mendapat respon cepat, terkadang kami harus menunggu 4-5 tahun, dan kami harus terus menyuarakan usul-usul itu hingga negara-negara mempertimbangkannya. “

“4 tahun lalu, kami dari VIVAT International, menyarankan agar semua negara di dunia ini harus mencapai kesepakatan untuk mengurangi anggaran militer mereka sebanyak 5%.  Usulan ini kami ajukan setelah kami mempelajari fakta dan angka-angka.  Sekiranya semua negara bisa melakukan hal ini, maka mereka akan memiliki sumber dana untuk memberi rakyatnya keadaan pendidikan dan kesehatan yang baik.  Waktu kami ajukan usulan itu, semua Duta Besar memandang kami dengan raut wajah yang lucu.  Tetapi sekarang, setelah 4 tahun berlalu, banyak negara yang mulai memikirkan untuk menjalankan usulan itu, karena mereka memiliki rakyat miskin tetapi mereka menggunakan uang negara untuk kebutuhan militer – bukan kebutuhan rakyatnya.  Maka saya berharap, semoga semua negara akan menjalankan usulan kami itu dalam 20 tahun ke depan!  Kita harus menjadi sangat bersabar dalam menunggu….”

“Tadi sudah saya katakan bahwa dalam Konstitusi OMI ada disebutkan kami perlu berada di tempat-tempat dilakukannya pengambilan keputusan yang dapat mempengaruhi kaum miskin.  Kami harus juga masuk ke dalamnya, bukan sebagai pejabat yang dipilih, tetapi lewat wakil-wakil Kongregasi – para Oblat - yang ada di setiap negara.  Kami harus mendorong Pemerintah negara itu terus-menerus untuk melakukan hal-hal yang benar.”

“Jika ada orang-orang yang memberi uang dan mengatakan untuk melakukan yang dia kehendaki, seringkali tidak ada orang-orang yang mau mengatakan supaya kita berbuat hal-hal yang benar.  Saya pikir kita harus sering selalu ada di situasi-situasi demikian itu.  Tidak perlu harus seorang Oblat, tetapi umat dan awam yang berkarya bersama para Oblat di Paroki atau Komunitas, kita perlu lebih masuk ke permasalahan yang sedang terjadi sehingga Pemerintah kita akan melakukan hal-hal yang benar.  Terkadang kita melupakan hal ini.  Kita lebih memilih untuk berdiam diri di rumah atau di Paroki dan melakukan sesuatu yang menyenangkan hati kita, lupa bahwa kita tidak menyerukan orang-orang untuk berbuat hal yang benar.  Mungkin sesuatu yang baik yang belum dilakukan tetapi yagn perlu dilakukan.  Kami mencoba untuk mempromosikan usulan ini.”

“Semua negara, Indonesia misalnya, ikut mengambil keputusan yang bagus di PBB, tetapi mungkin keputusan itu tidak diterapkan di Indonesia karena tidak ada orang yang mengingatkan Pemerintah bahwa mereka telah mengambil keputusan di PBB tetapi kenapa tidak diterapkan di Indonesia.  Tidak ada orang yang mendorong Pemerintah untuk apa yang mereka katakan akan mereka lakukan.   Memang mudah untuk tidak berbuat apa-apa.  Maka kita perlu untuk membangun relasi-relasi untuk bisa menolong satu sama lainnya.  Sangat sring terjadi, yang perlu dilakukan, perlu dilakukan di negara ini.  Kami dapat katakan ke Duta Besar, tetapi yang dapat dilakukan mereka adalah memberitahu Pemerintah mereka bahwa seseorang di PBB bertanya kenapa Pemerintah tidak lakukan hal yang sudah disepakati.  Begitu saja.  Tetapi jika ada 10 ribu orang yang memberitahu Pemerintah hal yang sama, itu pasti akan banyak menolong.”

Tentang menjadi frustasi:

“Terkadang saya memang frustasi.  Kita suka mendapatkan jawaban-jawaban yang bagus-bagus.  Khususnya bagi mereka yang sangat membutuhkan jawaban bagus itu dan yang sering merasa mereka tidak memiliki kemungkinan untuk berkata-kata pada siapa pun.  Bukan berarti kami dapat berbicara untuk mewakili orang-orang ini, tetapi terkadang saya pikir hal-hal demikian dapat membantu.  Saya berpikir tentang karya saya sebelum di PBB.  Kami bekerja untuk memberi daya bagi masyarakat sehingga mereka bisa melakukan sesuatu untuk mereka sendiri.  Tetapi saat saya bekerja di PBB, orang miskin yang bekerja di pertambangan di Kalimantan tidak dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.  Mungkin dia bisa menulis kepada Duta Besarnya di PBB, tetapi mungkin dia tidak tahu bahwa dia bisa lakukan hal itu.  Maka kita perlu menolong mereka.  Mereka memiliki kekuatan jika mereka mau menggunakannya.  Kita memang masih harus berjalan sangat sangat jauh lagi, tetapi saya pikir kita telah berada di jalan yang benar.”

Tentang harapannya di bidang JPIC:

“Kita pasti punya sejumlah harapan. Bukan seorang Katolik namanya kalau kita tidak berpengharapan!  Tetapi, bagaimana caranya kita menggapai harapan itu?  Semuanya tergantung dari tempat kita berada, bukan?!  Situasi akan berbeda untuk setiap tempat.  Di sini, misalnya, ada Pepulih yang digalakkan oleh Romo Peter.  Ini adalah contoh usaha lokal yang sangat penting, karena masyarakat akan belajar hal-hal yang dapat dilakukan sebaliknya.  Dan kalau masyarakat sudah tahu, mereka tidak akan melupakannya.  Mereka akan melakukannya secara otomatis.  Usaha demikian akan membantu dalam 2 hal: kita menjadi warga negara yang lebih baik lagi, dan kita juga membantu diri kita sendiri untuk menjadi bagian yang lebih baik dari lingkungan tempat kita hidup.  Sudah terlalu lama kita berpikir bahwa kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan kepada lingkungan hidup kita.  Kita tidak bisa berlaku demikian, karena kita adalah bagian dari lingkungan hidup kita sendiri.  Jika kita tidak belajar untuk hidup bersama lingkungan kita - tumbuh-tumbuhan, udara, hewan, air, semuanya - maka kita akan menghancurkan dunia kita.  Segala upaya – baik yang dilakukan di sekolah, saat guru-guru mengajarkan anak-anak didiknya untuk memisahkan sampah, jangan membuang sampah di jalanan – sepertinya adalah hal-hal yang sangat kecil, tetapi sangat penting, hal-hal yang dapat mengubah cara berpikir seseorang, mengubah mentalitas seseorang, bahwa kita semua akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi untuk kita tinggal.”

Tentang mimpinya:

“Mimpi?  Banyak sekali!  Rasanya saya tak akan hidup lama untuk membuat semua mimpi saya menjadi nyata, tetapi banyak orang lain yang dapat meneruskannya.  Ya, saya punya banyak mimpi.  Saya ingin kita semua mencapai satu titik yang sama, titik tidak adanya orang yang harus mati karena sakit yang dapat disembuhkan, karena perang, karena kekerasan.  Kekerasan dapat terjadi bahkan di dalam rumah, di lingkungan tempat kita tinggal, bahkan terkadang juga di Paroki kita.”

“Saya juga mewakili Kongregasi dalam The International Union of Superior Generals (IUSG) di Komisi Dialog Antaragama.  Saya suka sekali.  Saya belum lama datang di Indonesia, belum banyak tahu tentang apa pun di sini, tetapi saya senang melihat orang-orang di sini dalam bekerjasama dengan baik dan bebas, menolong satu sama lain tanpa membeda-bedakan agama.   Banyak negara yang mengalami situasi sulit.  Tentu kita semua berharap bahwa setiap orang dapat menerima sesamanya apa adanya, hidup rukun bersama.  Tidak ada alasan untuk menyakiti sesame.  Tidak pernah ada alasan tepat.  Kita selalu dapat mencapai titik temu kesepakatan bersama jika ada keinginan dari kita.  Setiap agama punya ritual yang berbeda – cara berdoa, cara menjalankannya, tetapi kita semua memiliki satu persamaan.  Dalam Bahasa Inggris, kita katakana “Golden Rule”  - lakukan kepada sesama apa yang engkau mau mereka lakukan padamu.  Semua agama kenal akan hal ini.  Pasti.  Dengan adanya pemahaman yang sama ini, maka setidaknya kita bisa saling bicara dalam kerangka paham yang sama, baru kemudian mulai melakukan hal-hal lainnya.  Ini sangat amat penting.  Indonesia sudah memulainya dengan baik.  Mungkin karena saya melihat masyarakat beda agama di sini dapat bekerja bersama, hidup berdampingan dalam lingkungan yang sama, berteman.  Keluarga dapat menjadi teman bagi keluarga lainnya.  Ini sungguh sangat membantu.” (disusun berdasarkan wawancara dengan Fr. Daniel LeBlanc, OMI/Tim Website OMI Indonesia; Foto-Foto: Istimewa)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.