Upacara Tahbisan Imamat 3 Oblat Putera Indonesia

Tiga Imam Oblat Putera Indonesia yang baru (dari kiri ke kanan): Pastor Norbertus Soleman, OMI, Pastor Carolus Adi Nugroho, OMI, Pastor Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI

 

Puji syukur dan sukacita mendalam mewarnai rangkaian Upacara Tahbisan Imamat dari 3 Oblat Putera Indonesia ke-36, 37, dan 38 yang dilaksanakan di Lengkenat, Kalimantan Barat, terlebih bersaman dengan acara tahbisan imamat tersebut dirayakan pula ulangtahun Paroki St. Petrus dan Andreas, Sepauk, yang ke-40.

Upacara pembukaan Perayaan Syukur Ulang Tahun ke-40 Paroki St. Petrus dan Andreas Sepauk dan Upacara Tahbisan Imamat 3 Oblat Indonesia dilaksanakan di Gereja Stasi Paroki St. Petrus dan Andreas Sepauk di Langkenat dengan dihadiri sekitar 2.000 undangan.  Seluruh kompleks gereja tempat acara berlangsung penuh sesak. Kursi yang disediakan panitia  semua terpakai, bahkan sebagian umat terpaksa menduduki anak tangga bangunan yang di puncaknya terletak patung Maria Pieta yang hari itu juga akan diberkati oleh Bapa Uskup Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin.

Acara dimulai sekitar pkl. 15.00, diawali sambutan selamat datang kepada Uskup dan rombongan di depan pintu gerbang kawasan gereja. Mula-mula seorang penari pakaian adat lengkap menarikan tarian adat,  lalu Bapa Uskup dipersilahkan memotong tali yang telah dihiasi karangan bunga yang dibentangkan  sebagai pemisah antara wilayah luar dan dalam gereja. Bapa Uskup kemudian memotong bentangan karangan bunga itu sebagai lambang harapan semoga semua penghalang dijauhkan dari acara yang diselenggarakan tersebut.

Rombongan tamu yang dimulai dari Bapa Uskup Sintang - Mgr. Samuel Oton Sidin, Provinsial OMI Indonesia – Pastor Tarsisius Eko Saktio, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod” – Pastor Antonius Widiatmoko, OMI,  para Pejabat Pemerintah setempat, hingga keluarga dari para calon tertahbis,  kemudian dikalungi selendang kecil.  Pengalungan ini melambangkan harapan semoga ikatan persaudaraan terjalin antara tamu dan umat yang menjadi tuan rumah. Para tamu kemudian disuguhi secangkir air kehidupan, yaitu tuak - minuman adat Dayak.  Dengan meminum tuak ini, terkandung harapan semoga setelah mengalami kepenatan menempuh perjalanan jauh ke tempat upacara,  semua tamu memperoleh kesegaran kembali.

Begitu memasuki halaman gereja, ketiga Diakon calon tertahbis diminta untuk menginjak telur yang ditempatkan di atas nampan kayu keras.  Nampan dari kayu keras melambangkan niat yang teguh dan usaha manusia untuk memperoleh suatu manfaat serta tujuan hidup. Telur ayam kampung yang berisi kehidupan ini tercurah ke bumi pertiwi dan akan membawa kesuburan serta kesejahteraan bagi semua, khususnya ketiga Diakon.  Usai ritual adat itu, dimulai perarakan menuju altar yang  didahului oleh kelompok penari adat Dayak yang terdiri dari pemuda-pemudi umat paroki setempat. Di kiri dan kanan jalan menuju Altar berdiri belasan anak perempuan kecil yang menaburkan serpihan kertas warna-warni menyambut rombongan perarakan.

Dalam Homilinya, Bapa Uskup Sintang antara lain mengatakan bahwa jika mengandalkan kekuatan sendiri, maka tak seorang pun yang mampu mewartakan Kasih.  Oleh karenannya, setiap Imam harus mengandalkan Yesus dalam melaksanakan tugas perutusannya sebagai gembala bagi umat.

Usai Homili dari Bapa Uskup Sintang, Upacara Tahbisan Imamat pun dimulai.  Ketiga Diakon calon tertahbis dipanggil ke depan Altar.  Mereka adalah Diakon  Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI dari Paroki St. Fransiskus Asisi - Seribudolok, Sumatera Utara; Diakon Norbertus Soleman, OMI dari Paroki St. Yohanes Penginjil - Dangkan Silat, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; dan Diakon Carolus Adi Nugroho, OMI dari Paroki St. Stephanus, Cilacap, Jawa Tengah.  Ketiga Diakon tersebut diserahkan orangtua mereka kepada Bapa Uskup untuk ditahbiskan.

Berikutnya adalah Peneguhan Janji Setia dan Ketaatan Calon.  Litani para Kudus dinyanyikan saat calon imam bertiarap di depan Bapa Uskup. Setelah Litani, Bapa Uskup berdiri dan mendoakan ketiga calon imam dan kemudian ketiganya maju ke hadapan Bapa Uskup untuk menerima tumpangan tangan.  Bapa Uskup mengawali penumpangan tangan yang diikuti penumpangan tangan oleh 40 Imam yang terdiri dari 18 Imam OMI dan 22 Imam dari berbagai Paroki sekitar di Keuskupan Sintang.

Usai penumpangan tangan, calon imam berlutut di hadapan Bapa Uskup yang kemudian memanjatkan Doa Tahbisan.   Didampingi orangtua masing-masing, satu demi satu imam baru berlutut dihadapan Bapa Uskup. Orangtua mengambil Kasula dan Stola yang dibawa Putra Altar dan menyerahkannya kepada Bapa Uskup. Kemudian Bapa Uskup menyerahkan Kasula kepada imam baru.  Dengan dibantu oleh orangtua masing-masing, imam baru mengenakan Stola dan Kasula. Kasula yang dikenakan imam baru diberi tiga corak tenunan Dayak, ulos Batak, dan batik Jawa.

Dibantu oleh Pastor Eko sebagai Konselebran, Bapa Uskup mengurapi imam baru secara bergiliran.  Imam baru berlutut sambil mengulurkan telapak tangan ke hadapan Uskup.  Kedua belah telapak tangan imam baru lalu diolesi minyak krisma oleh Bapa Uskup sambil mendoakan mereka.  Setelah pengurapan, masih dalam posisi berlutut, imam baru secara bergiliran menerima piala dan patena dari Bapa Uskup.  Piala dan patena tersebut diserahkan oleh orangtua masing-masing kepada Uskup untuk kemudian diserahkan kepada imam baru. Dengan penyerahan piala dan patena kepada imam baru, Upacara Tahbisan Imamat selesai.  Umat  bertepuk tangan tanda sukacita. Bapa Uskup dan para imam memberi ucapan selamat kepada ketiga imam baru.

Perarakan meriah kembali berlangsung sewaktu kelompok penari dengan pakaian adat bermanik-manik dengan corak warna-warni khas Dayak menyambut petugas persembahan.  Persembahan yang dibawa, selain Roti dan Anggur,  juga disertakan dua botol tuak, sekeranjang buah, jajanan khas setempat, dan daging babi yang sudah dimasak. Kelompok penari bergerak menjemput petugas persembahan dalam irama tarian adat, dan kemudian berbalik arah menuju Altar dengan gerak tarian adat pula, memandu petugas persembahan tersebut.

Sebelum memberikan Berkat Penutup Perayaan Ekaristi, Bapa Uskup Sintang memberkati Patung Maria Pieta yang berada di Gereja Stasi Lengkenat tempat Upacara Tahbisan Imamat berlangsung.  Setelah Perayaan Ekaristi selesai, acara diteruskan dengan ramah-tamah dan syukuran ulangtahun Gereja St. Petrus dan Andreas ke-40.

Beberapa Kata Sambutan mengawali rangkaian acara setelah Misa Kudus.  Bupati Sintang, Bapak Jarot Winarno, dalam Kata Sambutannya antara lain mengatakan bahwa pentahbisan 3 imam baru ini dapat membantu Pemerintah Kabupaten Sintang untuk mewujudkan masyarakat yang religius, apalagi jika salah satu dari antara imam baru ini dapat ditempatkan di Paroki Sepauk.  Harapan Bapak Jarot ini kontan mendapat tepuk tangan meriah dari hadirin.  Beliau juga mengucapkan selamat ulangtahun kepada Paroki Sepauk. Dikatakannya bahwa selama 40 tahun umat Katolik di Sepauk selalu memberi kontribusi luar biasa dan menjadi contoh dalam peranserta masyarakat untuk membangun kesejahteraan umum di Kabupaten Sintang.

Lagu “Selamat Ulang Tahun” dinyanyikan kemudian yang dilanjutkan dengan pemotongan kue oleh Pastor Jacques Chapuis, OMI yang telah bertugas di Paroki ini selama 18 tahun.  Potongan kue pertama diberikan kepada Bapa Uskup Samuel Oton Sidin.  Malam itu, umat Sepauk dan undangan memang bersukacita dan berpesta.  Umat dan undangan bersantap makan malam bersama. Menurut salah seorang panitia, untuk peristiwa sukacita itu dipotong 300 ekor ayam, serta 800 kg babi.  Meskipun ada daging babi, Panitia tetap menyediakan masakan halal untuk undangan yang karena kepercayaan atau alasan lain memang tidak boleh mengkonsumsi makanan yang tidak halal.  Selain itu, disediakan pula tuak sebanyak 20 jerigen ditambah dengan tuak yang belum tertampung dalam jerigen!

Salah satu acara menarik adalah nyuling, yaitu dua orang berpasangan mengisap tuak dari tempayan dengan batang bambu kecil yang berfungsi sebagai sedotan.  Ada tiga tempayan yang disediakan, sehingga enam orang bisa mengisap tuak sekali giliran yang dibagi dalam tiga pasang.  Tuak diisi ke tempayan oleh seseorang yang ditugaskan, lalu kedua orang yang berpasangan itu duduk berhadapan, lalu mengisap tuak sampai habis melalui bambu. Tuak akan ditambah sampai dianggap cukup.  Acara nyuling dimulai dari para tamu kehormatan, seperti Bapa Uskup Sintang, Provinsial OMI Indonesia, Rektor Seminari Tinggi OMI, dan para pejabat tinggi Kabupaten Sintang.  Selanjutnya, para umat mendapat kesempatan untuk nyuling.

Ramah-tamah dan makan bersama menjadi semakin meriah dengan diiringi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi setempat.  Untuk memeriahkan suasana, Pastor Petrus Hamonangan Sidabalok, OMI  didaulat untukmenyanyikan lagu asal daerahnya, Alusi Au, bersama beberapa anggota keluarganya.  Suasana semakin meriah ketika beberapa kaum muda mulai ikut menari di depan panggung.  Mereka menari bersukacita mengikuti irama nyanyian yang disenandungkan oleh para penyanyi.   Kegembiran mereka berlanjut hingga tengah malam.

 

(Disarikan oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel-artikel yang terbit di https://mazenodianjogja.blogspot.com/)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.