Panggilan Kita Adalah Menyempurnakan Cinta

Ada berbagai macam bentuk panggilan dalam hidup ini.  Ada panggilan menjadi orangtua, menjadi pertapa, menjadi biarawan atau biarawati, menjadi imam atau guru spiritual dan banyak lagi yang lainnya.

Namun pada dasarnya, panggilan hidup yang beraneka itu mempunyai tujuan yang sama, yaitu memurnikan cinta.  Suami istri menikah untuk memurnikan cinta mereka.  Demikian juga para imam menempuh jalan sebagai imam, selibat demi pelayanan, bertujuan untuk memurnikan cinta mereka.

Pemurnian cinta terjadi justru melalui tantangan dan badai relasi yang membuat cinta itu menjadi makin murni.  Sebagaimana emas dimurnikan dalam api, cinta dimurnikan oleh hambatan, tantangan dan onak duri dalam relasi.

 

Mengalah Bukan Kalah

Liberté, Égalité, Fraternité”; tiga kata bak mantra yang menjadi amunisi perjuangan panjang rakyat Perancis untuk bisa hidup sejajar satu dengan yang lain sebagai sesama warga negara. Kaum revolusioner mengobarkan perang besar melawan diskriminasi dan ketimpangan dalam hidup bernegara. Mereka yakin bahwa manusia harus sederajat, tidak boleh ada pengistimewaan atau pembedaan berdasarkan kelas, jabatan, kekayaan, atau garis keturunan. Manusia lahir dan hidup sedejarat dengan yang lain; semua memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada yang diistimewakan, dan tidak ada yang memperkerjakan yang lain demi kelas yang lebih tinggi. Singkatnya, semua adalah saudara yang sederajat dan merdeka.

Revolusi demi revolusi terjadi untuk makin mempertajam kesetaraan dan kebebasan.  Satu yang menjadi puncak revolusi kebebasan dan kesetaraan adalah ungkapan “Il est interdit d’interdire” - sebuah slogan yang awalnya diluncurkan oleh Jean Yanne (1933-2003).  Slogan yang berarti “Dilarang untuk Melarang” ini begitu cepat menyebar di kalangan masyarakat Perancis dan Eropa di penghujung era enam puluhan. Bisa dibayangkan apa yang ada diimpikan dengan slogan itu.  Liberté (kebebasan) dan Egalité (kesetaraan) yang absolut, tanpa batas! Itulah yang diinginkan.  Itulah yang didambakan.  Aku menjadi nomer satu, Ego menjadi prioritas. Ungkapan “Perbuatlah apa yang dikatakan hatimu” seperti yang diucapkan almarhum Puteri Diana dipelesetkan menjadi “perbuatlah apa saja yang kamu inginkan.”   Ukurannya adalah “yang diperbuat adalah yang seturut hatiku, kemauanku dan yang kupikir baik untukku.”  Ego menjadi panutan dan tidak jarang diyakini sebagai sumber kebenaran.

 

Jika Biji Gandum Tidak Jatuh ke Tanah dan Mati

Ada seorang ibu yang mengindap penyakit insomnia (susah tidur). Dia telah pergi ke banyak dokter dan rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Dia juga banyak berdoa Novena dan Rosario di berbagai tempat peziarahan Maria, namun semuanya itu sepertinya sia-sia. Dia menjadi begitu lelah dengan penyakitnya, frustasi dan marah dengan Tuhan karena doa dan permohonannya untuk sembuh tidak pernah Dia dengarkan. Pada akhirnya, sambil bersimpuh di sebuah tempat peziarahan Maria, ibu itu berteriak kepada Tuhan, “Tuhan, aku sudah capai dengan penyakitku ini. Sekarang terserah Engkau. Aku siap kalau Engkau mau mencabut nyawaku atau menyembuhkan aku.” Ibu itu kemudian pulang dan tidak peduli lagi dengan yang akan terjadi pada dirinya. Setelah sampai di rumah, dia masuk ke kamarnya dan berbaring kecapaian. Dia tertidur dengan lelap dan baru hari berikutnya bangun dengan badan segar. Dia sembuh dari sakit yang sudah dia derita begitu lama justru ketika dia menyerah.

 

Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini!

Banyak orang bertanya, “Mengapa di dunia ini banyak terjadi konflik agama?; Bukankah agama mengajarkan kebenaran dan kebaikan? Mengapa Allah diam saja melihat banyak orang yang saling membunuh dan menghancurkan demi keyakinan kepada-Nya? Apa yang salah dengan iman dan agama?” Kita semua sering dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kenyataan yang ada di sekitar kita menunjukkan bahwa orang dapat menjadi sangat fanatik karena agama, bahkan sampai memusuhi tetangga kiri dan kanannya, meledakkan diri dengan bom dan melukai banyak orang.

 

Christ, Temple of God, Our Saviour

I would like to begin the homily with the first reading from the Book of Exodus:

In those days, on the Sinai, God spoke the following words: ‘I am the Lord your God, who brought you out of the land of Egypt, from the house of slavery. You will not no other gods in front of me. You will not make any idol, no image of what is up there in the heavens, or down on the earth, or in the waters beneath the earth.’"

Who, among us, believes in God 100%, without doubting? Who does not have an idol?

"Remember the sabbath day to sanctify it. For six days you will work and do all your work, but the seventh day is the day of rest, Sabbath in honor of the Lord your God: you will not do any work, neither you, nor your son, nor your daughter, nor your male servant, nor your female servant, nor your cattle, nor the immigrant who is in your city: for in six days the Lord made heaven, earth, sea, and all that they contain, but He rested on the seventh day, which is why the Lord blessed the Sabbath day and sanctified it."

Who, among us, respects the Sabbath? Who spends a day of rest for God?

 

Page 9 of 36

«StartPrev12345678910NextEnd»

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.