Meditasi Kaul Pertama 07: Kaul Kemiskinan

Sebagai pengantar dari meditasi ini, kita berefleksi tentang sukacita Bapa Pendiri dan Pastor Tempier dalam hidup miskin:

Di tahun 1831, saat perayaan hari pertama hidup dalam komunitas, Bapa Pendiri berkata: “Meja yang mengisi ruang makan kami adalah sebuah papan yang disusun bersebelahan satu dengan yang lainnya di atas dua tong kayu tua. Kami belum pernah merasa begitu sukacita karena menjadi begitu miskin sejak kami berkaul kemiskinan…” (Surat Bapa Pendiri kepada komunitas di Billens, 24 Januari 1831)

Selama misi ke Rognag di tahun 1819, para misionaris harus membuat tempat tidur dari jerami.  Pastor Tempier menulis: “Aku tidak percaya bahwa Beato Liguori akan menemukan sesuatu yang tidak berguna baik di furniture kami atau di sumber daya biasa kami […]  dan kami sangat bahagia dengan cara hidup kami […] untuk mengikuti jejak para orang kudus dan menjadi misionaris sekali dan untuk selamanya.”

 

Cita-cita Injili ini akan segera ditorehkan dalam Aturan Misionaris Provence. Pertama sebagai kebajikan – Aturan Hidup tahun 1818 berbicara tentang semangat kemiskinan, berdasarkan ringkasan satu bab dari buku “Praktik Kesempurnaan Kristiani” yang ditulis oleh Rodriguez, seorang penulis yang telah membaur ke dalam diri Bapa Pendiri sejak di Saint Sulpice. (Histoire de nos Regles par Consentino, T1, Hal 186-189)  Aturan hidup itu mengatakan: “Untuk saat ini, alasan keadaan telah mengalihkan kita dari pemikiran ini (kemiskinan sukarela). Kami serahkan pada Kapitel Umum, yang akan segera berlangsung, untuk menyempurnakan poin Aturan kami ini.  Sementara itu, kami akan mencoba, tanpa terikat kaul lebih lanjut, untuk lebih memahami semangat dari kebajikan yang berharga ini.” Dan paragraf diakhiri dengan kata-kata ini, “Sampai Aturan ini dapat ditegakkan, dalam arti yang tepat, kami akan mengerahkan diri untuk membuatnya terbiasa dalam praktik. Para Superior akan menguji saudara-saudara dalam hal ini, bukan dengan membiarkan mereka kekurangan apa yang diperlukan, tetapi dengan memberikan mereka kesempatan untuk merasakan sedikit privasi, dan menyadari bahwa orang miskin tidak selalu merasa nyaman dan memiliki semua yang mereka inginkan.” (Règle de 1818, Bibliothèque Oblate texte 1, Ottawa 1943)

Kita tahu, lewat tulisan-tulisan Bapa Pendiri, bahwa Bapa Pendiri ingin menambahkan Kaul Kemiskinan: “Aku bertanya-tanya mengapa pada kaul kemurnian dan kaul ketaatan yang kuucapkan sebelumnya, aku tidak menambahkan kaul kemiskinan...” (Lih. DVO ‘la pauvreté’, note N° 36, Hal. 699)

Pada akhir retret di awal November 1820, Pastor Tempier mengucapkan kaul kemisinan, dalam keadaan yang disetujui oleh Bapa Pendiri. “Aku tidak tahu apakah engkau akan menyetujui aku, Bapaku terkasih.  Aku telah mengucapkan kaul kemiskinan saat pembaruan kaul kami; aku lakukan hal ini dengan kondisi jika engkau mengesahkannya.  Tuhan Yang Mahabaik memberikan padaku rahmat untuk menghormati kebajikan ini saat retret berlangsung, rahmat yang begitu besar hingga aku tidak kuasa menolak kaul kemiskinan. […] tanpa berkaul kemiskinan, mereka semua ingin melucuti segala yang mereka miliki dan menganggap segalanya itu hal biasa.”(Surat Pastor Tempier kepada Bapa Pendiri, 23 November 1820, Ecrit Oblats II, 2 Roma 1987, Hal. 234)

Bapa Pendiri tidak langsung menyetujui inisiatif ini, tetapi hal ini mempengaruhi Kapitel Umum tahun 1821 yang mengambil keputusan untuk berkaul kemiskinan bagi Kongregasi: “Bapa Superior Jenderal memberikan berbagai penjelasan mengenai praktik kaul kemiskinan… Bapa Pendiri, memutuskan, seketika itu juga, dan memasukkan ke dalam Aturan, bahwa kaul kemiskinan adalah keharusan di dalam lembaga.” (Etudes Oblats 1968, Hal. 27)

Pastor Beaudouin berkata bahwa kemiskinan Pastor Tempier terlihat jelas di antara para novis dan skolastik, dan hamper saja membuat keterkejutan saat ia tiba di Marseilles sebagai Vikaris Jenderal di tahun 1823. (Ecrit Oblats II, 1 Roma 1987, Hal. 209)

Ke dalam kaul kemiskinan kita tambahkan semangat kesederhanaan dan pengorbanan diri Pastor Tempier.  Ia menghidupinya sepanjang hidupnya, tetapi lewat cara yang sangat special, pada waktu penggati Bapa Pendiri sebagai Uskup Marseilles, Mgr.Cruice, tidak mengenali wasiat Bapa Pendiri.  Pada mulanya, demi perdamaian, Pastor Tempier dan Pastor Fabre menandatangani kesepakatan awal.  Tetapi Mgr. Cruice bertindak terlalu jauh dengan mengancam akan membubarkan Kongregasi. Pastor Tempier dengan bijaksana berangkat ke Roma.  Setelah Kapitel Umum tahun 1862, Bapa Uskup mengancam akan menutup rumah Oblat di Perancis jika perjanjian yang baru tidak ditanda-tangani, dan menuntut 3 rumah Oblat dikembalian ke Keuskupan Marseilles.  Demi meredakan ketegangan, Pastor Fabre memutuskan untuk memindahkan skolastikat dari Montolivet ke Autun dan menjual rumah Oblat itu ke Keuskupan.

Pastor Fabre menulis dalam Obituari Pastor Tempier: “Meninggalkan tanah asal, langit Provence yang indah dan meninggalkan makam tempat para Bapa tercinta beristirahat - dan ini, pada saat perubahan begitu menyakitkan dan adaptasi kepada iklim yang baru begitu sulit, bukanlah menjauh dari Montolivet adalah suatu pengasingan, dengan segala penderitaan, segala rasa sakit? Ya, dan Pastor Tempier menerima segalanya.  Tuhan bergumul dengan sosok yang tidak mementingkan diri sendiri, yang seperti Yakub, dan sosok yang rela berkorban itu muncul sebagai pemenang. Montolivet akhirnya dibeli oleh administrasi Keuskupan Marseilles. Siapakah orang yang pergi untuk menyelesaikan formalitas, secara pribadi menyerahkan rumah induknya, menandatangani akta penjualan dan menyerahkan kunci? Pastor Tempier.” (Notices nécrologiques II, du P. Tempier Hal. 24-25)

Mendengarkan Pastor Fabre menggambarkan saat istimewa dalam hidup Pastor Tempier, kita dapat bertanya pada diri kita tentang kesiap-sediaan Kita bagi misi Tuhan.

Di peringatan 200 tahun kaul kemiskinan, kami mengajak kita semua – seluruh anggota Kongregasi - untuk mengambil kesempatan berefleksi tentang kaul kemiskinan.

Selain itu, kami sarankan Anda juga berefleksi tentang kesaksian di komunitas kita, dalam terang komentar Pastor Jette tentang Konstitusi # 21: “Roh Kudus yang menggerakkan kita adalah Dia yang menuntun para umat Kristiani awal.  Dia mengundang kita untuk berbagi segalanya, untuk mengumpulkan segalanya bersama.  Hidup kita menjadi mudah.  Kita bahkan menganggapnya ‘penting sekali’, bagi Lembaga kita, ‘untuk memberikan kesaksian bersama atas melepaskan secara Injili ini.” (Lih. O.M.I. Homme Apostolique, Rome 1992, Hal. 157)

 

Komite Umum untuk Para Bruder OMI

(Bruder Benoit H. Dosquet, OMI)

 

(diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Meditations to Prepare for the Anniversaryof the First Vows of November 1, 1818" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.