NOVENA PANGGILAN OBLAT 2021 (Bagian 02)

HARI KELIMA: KERAMAHAN

Bacaan Injil: Lukas 24:13-17, 25-27

Seringnya, seperti para murid yang berjalan ke Emaus, kita gagal untuk melihat Tuhan dalam diri orang-orang yang kita temui, dalam hal-hal yang kita kerjakan, dalam doa-doa yang kita daraskan.  Kita lalu mulai berpikir kita ini sendirian.  Padahal, dalam peziarahan kita, Yesus sendiri yang menghampiri kita dan berjalan bersama kita, mengikuti kita, dan mencoba untuk menghapus kekecewaan dan kesedihan kita dengan berkata, “Jangan kuatir, jangan takut.”  Kata-kata itu adalah kata-kata yang sama yang membuat Yosef percaya kepada Tuhan dan mengenali kehadiran Tuhan dalam hidupnya.  Yosef menyambut kehadiran Tuhan dalam keringkihan cerita hidup pribadinya, dan sekarang kita diundang untuk melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat Yosef, mengenali kehadiran Tuhan dalam diri kita dan menjadikan hal itu sebagai Sejarah Yang Kudus.

Paus Fransiskus menulis:  Dalam hidup kita, menerima dan menyambut dapat menjadi ekspresi dari Karunia Keperkasaan dari Roh Kudus.  Hanya Tuhan yang dapat memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk menerima hidup ini seperti adanya, dengan segala permasalahannya, frustasinya, kekecewaannya. […] Seperti Allah berbicara kepada Santo kita: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut!” (Mat 1:20), demikian juga Dia mengulangi pada kita; “Jangan takut!” Perlulah mengesampingkan segala kemarahan dan kekecewaan serta memberi ruang, tanpa kepasrahan duniawi tetapi dengan kekuatan penuh harapan, pada apa yang tidak kita pilih, namun ada. Menerima kehidupan secara demikian memperkenalkan kepada kita makna tersembunyi. Hidup kita masing-masing dapat dilahirkan kembali secara menakjubkan jika kita menemukan keberanian untuk menjalaninya sesuai dengan apa yang dikatakan Injil kepada kita. Tidak menjadi masalah jika saat ini segala sesuatu tampak berjalan tidak semestinya dan jika beberapa hal sekarang tidak dapat diperbaiki

Dalam realita hidup, Yosef hidup dengan mengenali kehadiran Tuhan yang berjalan bersamanya, yang mendukungnya dan yang teru-menerus berkata kepadanya, “Jangan takut.”  Di saat kita mendengarkan cerita hidup kita sendiri, kiranya kita menemukan juga “segala yang mengarah kepadaNya.”

 

Karisma Oblat berkata kepada kita:

Aku mencari kebahagiaan di luar Allah dan setelah sekian lama yang kutemukan hanyalah penderitaan. Betapa sering di masa lalu hatiku tercabik, tersiksa, memohon bantuan kepada Allah yang telah kutinggalkan. […]  Aku dalam keadaan berdosa berat dan inilah yang membuat hatiku amat sedih.  Kemudian, di lain kesempatan, aku dapat merasakan perbedaannya.  Belum pernah jiwaku merasa sebegitu lega, belum pernah jiwaku merasa lebih berbahagia.  Ini semua hanya karena, di sela-sela banjir airmata, meskipun sedih atau lebih tepatnya, berkat kesedihanku,

jiwaku melompat sampai pada tujuan akhirnya, yaitu Allah, satu-satunya Tujuan, yang bila sampai hilang akan amat terasa.

 

Marilah kita mohon pengantaraan St. Yosef, semoga ia menemani para pemuda yang sedang mencari dan yang sedang dalam perjalanan tanpa tujuan yang jelas.  Semoga para pemuda ini menemukan saksi-saksi sejati dari kasih Kristus, yang membantu mereka untuk kembali membaca cerita hidup mereka dalam terang rencana kasih Tuhan.

Bapa yang kudus, kami datang kepadamu karena Yesus meminta kami untuk berdoa agar Engkau mengirim para pekerja ke ladang tuaianMu.  Kami mohon, kirimkanlah kepada kami para pemuda yang murah hati, yang berhasrat pada Yesus, mau menjadikan seluruh hidupnya sebagai persembahan paripurna kepadaMu.  Untuk menjadi dekat dengan kaum yang paling miskin dan yang paling terlantar, dan untuk mewartakan Injil.  Semoga mereka dibakar dengan api yang sama yang telah Engkau nyalakan dalam diri St. Eugenius; semoga mereka menjadi bagian dari keluarga St. Eugenius, dan bersama semua Oblat, semoga mereka meneruskan karya Sang Penebus.  Bunda Maria Imakulata, engkau yang pertama-tama memberikan Yesus kepada dunia, sertai kami selalu. Amin.

 

HARI KEENAM: KEPERKASAAN, KREATIVITAS, DAN KEBERANIAN

Bacaan Injil:  Yohanes 6:4-9

Berapa sering kita menemukan diri kita ada dalam situasi seperti ini?  Di satu sisi, “sekumpulan besar” orang yang lapar, di sisi lain “lima roti dan dua ikan”.  Apa yang harus kita lakukan?  Kita harus keluar dari hitung-hitungan secara logika.  Kita harus membiarkan diri kita untuk tergerak dan menjawab situasi demikian dengan keberanian yang kreatif.  Dalam kata-kata Bapa Suci Fransiskus, “hal ini timbul khususnya dalam cara kita mengatasi kesukaran-kesukaran,” sama seperti tukang kayu dari Nazareth, “yang mampu untuk mengubah persoalan menjadi kemungkinan dengan selalu percaya pada Penyelenggaraan Ilahi.”  Seperti anak dalam Bacaan Injil yang menawarkan sedikit yang ia punyai sehingga dapat menjadi berkelimpahan untuk semua orang, begitu juga St. Yosef, seorang yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk dengan berani merawat Sang Anak dan ibuNya pada permulaan sejarah keselamatan dan untuk memberikan segala yang dapat ia lakukan.

Kita mungkin berpikir kita ini tidak mampu, tetapi seringnya, “kesusahan-kesusahan yang kita hadapi membuat sumber-sumber daya keluar, sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan ada pada diri kita.  Mukjizat-mukjizat setiap hari menjadi bukti jika kita berpikir tentang saat-saat dalam hidup kita sewaktu kita berkata-kata, memberikan sentuhan kasih, “memberi makan” jiwa-jiwa yang ada di dekat kita!  Pada saat tertentu dalam kisah hidupnya, Yosef dipanggil untuk menerima kehendak Tuhan, untuk merencanakan, untuk bekerja, untuk menemukan jalan guna memelihara dan melindungi miliknya.  Kita juga dapat mengambil yang kita miliki dan mempersembahkan dengan keberanian, kreativitas, dan keperkasaan misionaris untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang lapar akan Yesus Kristus.  Melihat keberanian Yosef, kita menjadi sadar bahwa semuanya hanyalah masalah pertimbangan akan segala hal, hanyalah masalah mencoba dan mencoba lagi, menemukan jalan dan kembali menemukan jalan yang selaras dengan orang banyak, dengan tempat-tempat, dengan keadaan-keadaan yang mendesak, dan bukan yang lainnya. Hal itu adalah sebuah pertanyaan, apakah kita mau menjadi ada bagi aksi Rahmat Ilahi yang dapat melakukan segalanya jika Ia mendapatkan segalanya dari kita, bahkan jika segalanya itu terasa kecil untuk kita.

 

Karisma Oblat berkata kepada kita:

Hal ini bukanlah sesuatu yang dicoba untuk sementara waktu.  Engkau harus pergi ke sana dengan kemantapan untuk mengatasi rintangan-rintangan, pergi ke sana untuk menetap, berakar di sana!  Mengapa engkau ragu-ragu?  Tidak ada misi yang lebih indah daripada misi ini! […] Bawalah semua keberanianmu di dalam genggamanmu…. Hanya dengan cara demikianlah engkau akan mendapatkan berkat dari Tuhan bagi dirimu.

Hal ini hanyalah masalah menggandakan semangat menyala-nyala dalam diri seseorang.  Kembalilah ke kenangan di saat kami hanya berempat saja, itulah saat Kongregasi ini dimulai dan kami menyemangati satu sama lain.  Sekarang giliranmu untuk menunjukkan pada dirimu sendiri dengan segala kemurahan hati dan giat.  Seseorang tidak pernah boleh mundur dari karyanya, jangan pernah terintimidasi.  Tuhan Yang Mahabaik ada untuk menginspirasi kita dan Bunda kita yang baik ada untuk membantu kita.

 

Dalam hari-hari Novena Panggilan Oblat ini, kita berdoa dengan tkun kepada Santo Yosef agar ia menginspirasi hati kaum muda agar punya keinginan untuk menjadi anak-anak yang dengan sedikit roti dan ikan yang dibawanya, dengan berani memilih untuk mempercayakan segala yang mereka miliki ke dalam tangan Yesus sehingga dapat diubah oleh Yesus menjadi makanan untuk banyak orang.

Bapa yang kudus, kami datang kepadamu karena Yesus meminta kami untuk berdoa agar Engkau mengirim para pekerja ke ladang tuaianMu.  Kami mohon, kirimkanlah kepada kami para pemuda yang murah hati, yang berhasrat pada Yesus, mau menjadikan seluruh hidupnya sebagai persembahan paripurna kepadaMu.  Untuk menjadi dekat dengan kaum yang paling miskin dan yang paling terlantar, dan untuk mewartakan Injil.  Semoga mereka dibakar dengan api yang sama yang telah Engkau nyalakan dalam diri St. Eugenius; semoga mereka menjadi bagian dari keluarga St. Eugenius, dan bersama semua Oblat, semoga mereka meneruskan karya Sang Penebus.  Bunda Maria Imakulata, engkau yang pertama-tama memberikan Yesus kepada dunia, sertai kami selalu. Amin.

 

 

HARI KETUJUH: BEKERJA UNTUK KERAJAAN ALLAH

Bacaan Injil: Yohanes 4:31-38

Apakah “kerja” menurut Yesus?  Dan untukku, sekarang ini, apa artinya kerja?  Apakah kita terlalu banyak kerja atau terlalu sedikit?  Paus Fransiskus menulis: “Kerja merupakan partisipasi dalam karya keselamatan, suatu peluang untuk mempercepat datangnya Kerajaan, untuk meningkatkan potensi dan kualitas seseorang, dengan menempatkannya pada pelayanan masyarakat dan komunitas. […] Pekerjaan Santo Yusuf mengingatkan kita bahwa Allah sendiri dengan menjadi manusia tidak meremehkan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan yang berdampak pada banyak saudara dan saudari, dan yang telah meningkat baru-baru ini akibat pandemi Covid-19, harus mengingatkan kita untuk meninjau kembali prioritas-prioritas kita.”   Yesus memilih para penangkap ikan dan membuat mereka menjadi “penjala” manusia.  Betapa bermartabatnya hal ini – melalui panggilan – Yesus mengenali dan, di saat yang sama, menganugerahkan kepada manusia dan tindakannya, rahmat bekerja!  Buah dari bekerja biasanya adalah makanan: “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah orang itu makan,” kata St. Paulus kepada jemaat di Tesalonika.  Makanan Yesus adalah “melakukan kehendak Dia yang mengutusNya an untuk menyelesaikan karyaNya.”  Inilah martabat pekerjaan Yesus, dan oleh karenanya, dalam “pekerjaan” di mana kita dipanggil: kehendak dan pekerjaan Tuhan.

 

Karisma Oblat berkata kepada kita:

Eugenius de Mazenod sering menyurati para misionarisnya, mengingatkan mereka betapa kerja dan istirahat haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Siang dan malam, kerja dari para imam kita ada dalam pikiranku dan aku tidak dapat berhenti memikirkannya.  Tidak mungkin mereka menahannya: hal ini mengujiku dengan sungguh-sungguh dan dengan kejam. Berapa lama Yobel ini akan bertahan di dalam kota Aix yang terberkati?  Aku melihat Suzanne dari sini yang sedang memaksakan suaranya di Gereja Agung Sang Juruselamat. Bagaimana mungkin dadanya tidak menderita karenanya? Dan Courtes, bukankah dia juga memaksa dirinya sendiri, meski berkhotbah di gereja yang kurang luas? Setidaknya jangan biarkan ada yang berpikir untuk menggabungkan kerja.  Buatlah perencanaanmu ke depan; hal itu sangat diperlukan dan aku benar-benar berharap mereka beristirahat sebulan penuh setelah kelelahan yang berlebihan. Ketika aku mengatakan istirahat, yang kumaksudkan adalah berhenti total dari berkhotbah bagi mereka yang melakukannya untuk waktu yang lama dan bagi mereka yang lelah karena pekerjaan yang lebih singkat tetapi masih di atas kekuatan mereka.  Engkau hanya harus menolak permintaan pelayanan apa pun dan tidak takut untuk memberikan alasannya, mereka semua harus memahami bahwa manusia tidak terbuat dari besi dan bahkan besi pun dapat menjadi aus.

 

Apakah kita bekerja terlalu sedikit, atau terlalu banyak?  Dalam apa atau dalam siapa kita percayakan harapan kita?  Apa sebenarnya “kerja” kita itu?  Marilah kita berdoa, seperti Santo Yosef, supaya segala kegiatan kita setiap harinya, kerja kita, dan usaha-usaha kita selaras dengan kehendak Tuhan.  Dengan kerendahan hati dan dedikasi, kita sadar bahwa Tuhan adalah awal dan akhir dari segalanya dan Tuhan-lah yang telah memilih kita untuk menjadi sepekerja dalam karyaNya.

Bapa yang kudus, kami datang kepadamu karena Yesus meminta kami untuk berdoa agar Engkau mengirim para pekerja ke ladang tuaianMu.  Kami mohon, kirimkanlah kepada kami para pemuda yang murah hati, yang berhasrat pada Yesus, mau menjadikan seluruh hidupnya sebagai persembahan paripurna kepadaMu.  Untuk menjadi dekat dengan kaum yang paling miskin dan yang paling terlantar, dan untuk mewartakan Injil.  Semoga mereka dibakar dengan api yang sama yang telah Engkau nyalakan dalam diri St. Eugenius; semoga mereka menjadi bagian dari keluarga St. Eugenius, dan bersama semua Oblat, semoga mereka meneruskan karya Sang Penebus.  Bunda Maria Imakulata, engkau yang pertama-tama memberikan Yesus kepada dunia, sertai kami selalu. Amin.

 

 

HARI KEDELAPAN: PERSEMBUNYIAN

Bacaan Injil:  Lukas 2:40; 2:52; 3:23

Paus Fransiskus menulis:  Para bapak tidak dilahirkan, tetapi diciptakan. […] Kapanpun seseorang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain, dalam arti tertentu ia menjalankan peran kebapaannya terhadap orang itu. […] Menjadi seorang bapak berarti mengenalkan anak kepada pengalaman hidup, kepada realitas. Jangan menahannya, jangan memenjarakannya, jangan memilikinya, melainkan buatlah ia mampu memilih, bebas, dan pergi. Barangkali inilah sebabnya, selain penyebutan sebagai bapak, tradisi juga telah menempatkan Santo Yusuf sebagai bapak “yang amat suci.” Sebutan ini bukan hanya petanda emosional, melainkan sintesis dari suatu sikap yang berlawanan dengan sikap posesif. […] Hanya bila kasih itu murni, maka kasih itu sejati.  Cinta yang ingin memiliki pada akhirnya selalu menjadi berbahaya, memenjara, mencekik, membuat kita tidak bahagia. Allah sendiri mengasihi manusia dengan kasih murni, dengan membiarkannya bebas bahkan sampai berbuat kesalahan dan menentang-Nya. Ketersembunyian adalah seperti kesederhanaan Yosef dan seperti kerendahan hati dan ketaatan Yesus.

 

Karisma Oblat berkata kepada kita:

Dalam retretnya saat masuk ke Seminari, Eugenius mendapatkan kesadaran akan kekecilannya, dan dengan energi Provencal-nya, dengan semangat seorang pemuda, serta dengan keingin radikal yang mendalam akan Tuhan, ia menulis:

Pengabdian mutlak pada perintah atasan, ketundukan sempurna pada perintah terkecil mereka, betapapun kekanak-kanakannya bagi seseorang yang telah hidup hingga 26 tahun dalam kemerdekaan penuh, bahkan dalam hal kesalehan. Ketaatan yang cermat pada aturan, meskipun aku mungkin tampak terlalu teliti di mata rekan-rekanku. Sebuah amal yang ramah dan murah hati terhadap semua saudaraku, menghormati semua atasan, percaya pada banyak dari mereka. Aku akan lebih mengkritik diri sendiri dan mencoba meniru saudara-saudaraku yang paling kuat dan teliti. Aku akan menunjukkan rasa hormat yang khusus, setidaknya dalam pikiranku, terhadap mereka yang imamat, dan secara umum aku akan memegang karakter luhur ini dengan rasa hormat yang paling dalam, menjadi rendah hati setiap kali aku bertemu dengan seorang imam, yaitu dengan cara menyatakan dan mengakui dengan rendah hati di hadapan Tuhan bahwa aku tidak layak untuk berpakaian dengan karakter yang begitu mengagumkan setidaknya bagi seseorang yang telah mengalami kemalangan untuk hidup begitu lama dalam kelupaan akan Tuhan. Kerendahan hati, di atas segalanya, kerendahan hati, harus menjadi fondasi pembangunan keselamatanku.

 

Marilah kita berdoa seperti Yesus dan St. Yosef.  Semoga kita mau belajar untuk hidup tersembunyi jika diperlukan untuk kita; Semoga kita menjadi “ayah” dan “ibu” satu sama lainnya sehingga kita dapat menjadi saksi cinta kasih Kristus di dunia.

Bapa yang kudus, kami datang kepadamu karena Yesus meminta kami untuk berdoa agar Engkau mengirim para pekerja ke ladang tuaianMu.  Kami mohon, kirimkanlah kepada kami para pemuda yang murah hati, yang berhasrat pada Yesus, mau menjadikan seluruh hidupnya sebagai persembahan paripurna kepadaMu.  Untuk menjadi dekat dengan kaum yang paling miskin dan yang paling terlantar, dan untuk mewartakan Injil.  Semoga mereka dibakar dengan api yang sama yang telah Engkau nyalakan dalam diri St. Eugenius; semoga mereka menjadi bagian dari keluarga St. Eugenius, dan bersama semua Oblat, semoga mereka meneruskan karya Sang Penebus.  Bunda Maria Imakulata, engkau yang pertama-tama memberikan Yesus kepada dunia, sertai kami selalu. Amin.

 

 

HARI KESEMBILAN: KEKUDUSAN

Dari Seruan Apostolik Paus Fransiskus “Gaudete et Exsultate”:

Seorang Kristiani tidak dapat memikirkan perutusannya di bumi ini tanpa memandangnya sebagai jalan kekudusan, karena “inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tes 4:3). Setiap orang kudus adalah sebuah perutusan, sebuah rencana Bapa untuk mencerminkan dan mewujudkan, pada setiap peristiwa tertentu dalam sejarah, unsur tertentu dari Injil.  Perutusan tersebut mendapatkan kepenuhan maknanya di dalam Kristus, dan bisa dipahami hanya melalui Dia. Pada dasarnya, kekudusan berarti bersatu dengan Kristus menghayati misteri hidup-Nya. Hal ini mencakup menyatukan diri dengan wafat serta kebangkitan Tuhan secara khas dan personal; mati dan bangkit terus-menerus bersama dengan-Nya. Akan tetapi, hal itu juga menuntut agar kita menghasilkan kembali dalam keberadaan kita berbagai aspek hidup Yesus di dunia: hidup tersembunyi, hidup berkomunitas, kedekatan dengan mereka yang terpinggirkan, kemiskinan-Nya dan berbagai perwujudan pemberian rian diri-Nya demi kasih.

Kita dipanggil untuk menjadi kudus!  Ya!  Semua dari kita, setiap dari kita dipanggil untuk menjadi kudus!  Santo Eugenius sangat jelas mengenai hal ini.  Hanya melalui hidup yang kuduslah kita dapat memberikan kesaksian dan membangunkan dalam diri kaum muda keinginan dan keindahan pemberian hidupnya bagi Tuhan.  Hal ini bukan berarti melakukan sesuatu yang besar, hal-hal yang mulia, tetapi melakukan tugas-tugas keseharian kita secara sempurna dengan melakukan misi yang Tuhan percayakan kepada kita.  Seperti Paus Fransiskus mengingatkan kita, “Setiap orang kudus adalah sebuah perutusan” dan memanglah demikian karena ia menjelmakan aspek Injil dengan menempatkan Tuhan pada pusat hidupnya secara penuh.  St. Yosef punya perutusan:  Bekerjasama sebagai suami Maria dan ayah duniawi Yesus, dalam Misteri Inkarnasi.  Memang benar tidak ada perutusan yang lebih tinggi atau lebih mulia selain yang diminta Tuhan kepada St. Yosef dan ia melaksanakan perutusan itu dengan ketaatan yang penuh bakti, merangkul dan menerima segalanya dengan kerendahan hati yang sungguh besar.  St. Yosef menjadi orang kudus dengan merengkuh kehendak Ilahi waktu demi waktu.  Ia ada di Bethlehem untuk melakukan sensus dan kelahiran Sang Juruselamat; ia melindungi Yesus dan Maria dari kejaran Herodes dengan membawa mereka ke Mesir; ia menghidupi sisa hidupnya dalam kesederhanaan di Nazareth, menjaga dan mencintai Yesus dan Maria.  Bagi kita, panggilan tidak ada bedanya.  Kita dipanggil kepada kekudusan; kita dipanggil untuk  menjadi sepekerja Sang Juruselamat dalam komunitas kita, dalam tugas-tugas harian kita.  Kesemuanya kita kerjakan dan persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Baik, satu-satunya keselamatan, ialah Yesus Kristus Sang Juruselamat.

 

Karisma Oblat berbicara kepada kita:

Kita adalah Lembaga.  Baru saja aku dapat mengatakan kepadamu dengan tenang apa yang akan aku katakan kepadamu dengan lantang saat pengarahan disampaikan: ketahuilah martabatmu, berhati-hatilah untuk tidak menghormati Ibumu yang baru saja dinobatkan dan diakui sebagai Ratu dalam rumah tangga Pasangannya, yang kasih karuniaNya akan membuatnya cukup subur untuk melahirkan sejumlah besar anak, jika kita setia dan tidak menimba kemandulan yang memalukan melalui pengingkaran kita. Dalam nama Tuhan, marilah kita menjadi orang-orang kudus.

 

Marilah kita berdoa seturut teladan St. Yosef.  Semoga kita menjadi patuh dan taat dalam mendengarkan suara Allah Bapa.  Semoga kita berkomitmen dalam melangkah di jalan menuju kekudusan yang telah Dia tetapkan bagi kita dan memanggil kita untuk menjadi saki-saksi kasihNya dengan sukacita dan kesederhanaan.

Bapa yang kudus, kami datang kepadamu karena Yesus meminta kami untuk berdoa agar Engkau mengirim para pekerja ke ladang tuaianMu.  Kami mohon, kirimkanlah kepada kami para pemuda yang murah hati, yang berhasrat pada Yesus, mau menjadikan seluruh hidupnya sebagai persembahan paripurna kepadaMu.  Untuk menjadi dekat dengan kaum yang paling miskin dan yang paling terlantar, dan untuk mewartakan Injil.  Semoga mereka dibakar dengan api yang sama yang telah Engkau nyalakan dalam diri St. Eugenius; semoga mereka menjadi bagian dari keluarga St. Eugenius, dan bersama semua Oblat, semoga mereka meneruskan karya Sang Penebus.  Bunda Maria Imakulata, engkau yang pertama-tama memberikan Yesus kepada dunia, sertai kami selalu. Amin.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari booklet "Vocation Novena 2021" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.