Kasih Yesus Mengubah Hidupku

Oleh: Fr. Alya Denny Haloho, OMI

Permenungan atas perikop Injil Lukas 7:36-50

Dalam tayangan persidangan korupsi, hampir semua koruptor yang mengikuti sidang pembacaan keputusan perkara atau ketika mereka membacakan pledoi - pembelaan diri - ada yang menangis. Dengan tangisan tersebut seolah-olah mereka menyesali kejahatan yang telah mereka lakukan dan berusaha mendapakan belas kasihan atas dirinya. Dalam kutipan Injil kali ini juga kita mendapat cerita seorang pendosa yang menangis di kaki Yesus ketika Yesus sedang makan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Perempuan itu menangis di kaki Yesus dan air matanya jatuh becucuran di kaki Yesus. Perempuan itu menyeka kaki Yesus yang basah karena air matanya dengan rambutnya. Ditambahkan lagi, kemudian perempuan itu mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Perempuan itu dengan berani masuk ke rumah orang dan menunjukkan rasa penyesalan dan pertobatannya. Tindakan yang memalukan tersebut terjadi karena perempuan itu mempunyai iman yang besar kepada Yesus bahwa Yesus akan menerima dia dengan belas kasih.

Tindakan perempuan berdosa tersebut sangat bertolak belakang dengan Simon, orang Farisi yang menjamu Yesus dalam rumahnya. Simon menganggap rendah perempuan itu dan melihat Yesus adalah bukan seorang nabi karena membiarkan seorang pendosa dekat denganNya. Simon merasa sebagai orang yang benar yang sedang menghakimi seorang penjahat. Namun Simon lupa bahwa dia sendiri mempunyai kekurangan. Dengan perumpamaan yang diberikan, Yesus dengan sangat jelas menunjukkan bahwa sebenarnya Simon-pun bukanlah orang yang sangat benar. Yesus membandingkan apa yang dilakukan oleh perempuan berdosa itu dengan Simon yang tidak berbuat apa-apa ketika menyambut kedatangan Yesus: Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.

Imannya yang besar dan keyakinan bahwa Yesus akan menerima dia membuat perempuan berdosa itu melakukan banyak perbuatan kasih kepada Yesus. Pengalaman akan kasih membuat perempuan itu melakukan perbuatan kasih yang lebih besar. Hidup kita pun bisa kita bandingkan dengan perempuan berdosa itu. Kita yang mempunyai kekurangan di sana sini namun tetap dipanggil oleh Yesus untuk menjadi rekan sepekerjaNya. Maka kita-pun perlu selalu menanggapi kasih Yesus kepada diri kita dengan berusaha semakin hari semakin berkembang.

Semoga semua niat baik dan harapan akan perkembangan dalam diri kita dapat kita wujudkan dan semakin membuat kita menjadi orang-orang yang siap mewartakan kasih Allah sehingga semakin banyak orang yang juga berbuat kasih karena menyadari bahwa mereka dikasihi Allah melalui diri kita.

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.